
Alea memperhatiakn raut wajah suaminya serta dua wanita yang tadi ia tinggalkan di dalam living room speadboat. Suaminya tidak banyak berubah. Wajah datar tanpa ekspresi memang kerap kali ia tunjukan. Namun, berbeda dengan dua wanita yang tadi bergenit-genit dan merayu suaminya.
Kenapa dengan dua perempuan itu? Bukannya tadi mereka berhasil merayu Mas Ravka? Kenapa sekarang wajahnya jadi aneh begitu? - Batin Alea saat melihat raut wajah Hesti dan Diva yang sedang menuruni speadboat. Mereka seolah-olah berkejaran dengan waktu dan ingin buru-buru meninggalkan tempat ini. Ekspresi wajahnya pun tidak bisa terbaca sama sekali, entah marah, kesal, malu seolah bercampur menjadi satu.
Alea kemudian ikut menyusul di belakang suaminya. Dengan takut-rakut Alea menuruni speadboat. Beruntung kali ini Nino sedikit menunjukkan sifat gentle-nya. Ia membantu Alea ketika menuruni speadboat dan menawari gadis itu untuk membawa koper yang sedang ia geret. Keduanya kemudian bergegas mengejar Ravka yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju resor tempat acara akan dilangsungkan nanti malam.
"Kalian kenapa baru sampai? Kakekmu sudah menanyakan keberadaan mu sejak tadi siang," Kedatangan Ravka bersama Alea dan Nino di lobi resor langsung disambut kemarahan Ibunya. "Cepat temui kakekmu sekarang," Lanjut Dilla.
Ravka bergegas mengikuti perintah Ibunya. Meski Kakek orang tua yang baik dan penuh pengertian, tapi ia adalah orang yang sangat tegas. Jadi lebih baik mengikuti kemauannya dari pada harus melihat orang tua itu mengamuk. Lagipula Jika kakek samapi menunggu kedatangannya, pastilah ada hal penting yang akan disampaikan oleh Kakeknya.
"Nino kamu disini saja," Seru Dilla saat melihat Nino hendak mengejar Ravka setelah menyerahkan pegangan koper kepada Alea.
"Baik Bu," Jawab Nino sembari membungkuk kepada Dilla sebagai tanda penghormatan.
"Kamu kenapa berpakaian seperti ini? Memangnya Bi Mimah tidak memberitahu kalau hari ini kamu harus menghadiri acara penting?" Tanya Dilla sembari menyipitkan matanya menyelisik penampilan menantunya yang tampak biasa saja.
__ADS_1
"Maaf, saya hanya punya ini yang bisa saya kenakan," Ucap Alea canggung. Dia masih belum terbiasa menghadapi mertuanya. Hingga membuat gadis itu kikuk tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan Ibu mertuanya itu.
Dilla mengerutkan keningnya heran. Paman Alea adalah salah satu pengusaha terkenal di Jakarta. Jadi seharusnya, gadis itu juga turut bergelimang harta walau stratanya jauh di bawah keluarga Dinata. Namun nyatanya menantunya ini bahkan tidak memiliki baju yang pantas untuk menghadiri acara yang cukup penting.
"Masih cukup waktu hingga acara di mulai. Nino, kamu bawa Alea ke butiq di resor ini. Temui Shanti, dia tau apa yang harus di lakukan pada Alea. Setelah itu segera bawa Alea ke ballroom," Dilla memberikan istruksi. "Oh iya, ini kunci kamar kamu," Tambah Dilla sembari menyerahkan kunci kamar hotel ke tangan Alea. Wanita paruh baya itu kemudian bergegas meninggalkan Alea yang masih mematung di tempatnya berdiri.
"Hayo, kita ga punya waktu banyak," Ucap Nino menarik lengan Alea. Ia terlebih dahulu memanggil roomboy, memerintahkannya untuk membawa koper Alea ke kamarnya dan meberikan kunci yang tadi diberikan oleh Dilla kepada Alea. Nino sempat terperangah menyadari kamar yang diberikan kepada Alea merupakan salah satu kamar eksklusif di resor ini. Membuat pemuda itu semakin penasaran ada hubungan apa antara Alea dengan keluarga Dinata.
****************
"Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah sampai sini. Duduklah, Kakek ingin membicarakan sesuatu denganmu," Ucap Bayu Seraya menunjuk sofa tak jauh dari sofa yang tengah didudukinya menggunakan tongkat kayu yang selalu menemaninya beberapa tahun belakang.
"Baik Kek," Jawab Ravka yang kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa yang tadi ditunjukkan oleh Kakeknya.
"Kakek tidak akan berbasa-basi. Kakek akan langsung bicara pada pokok permasalahannya," Ucap Bayu seraya menghela nafas panjang.
__ADS_1
Dihadapan Bayu, Ravka menunggu Pria sepuh itu melanjutkan ucapannya dengan degup jantung tidak beraturan. Ia dapat merasakan ketegangan Kakeknya yang menular kepadanya. Ia tidak dapat menebak hal apa yang ingin disampaikan pria yang selalu melimpahkan kasih sayang kepadanya. Namun, melihat raut wajah laki-laki yang sudah memasuki usia delapan puluh tahun itu, membuat Ravka merasa sesuatu akan menghantam ulu hatinya melalui perkataan yang keluar dari mulut Sang Kakek.
"Kamu tahu bahwa acara hari ini bukan hanya sekedar lelang amal seperti yang biasa Dinata Group adakan," Lanjut Bayu setelah beberapa saat terdiam tanpa kata.
"Sudah banyak yang mendengar, baik rekan ataupun pesaing bisnis kita, bahwa pada kesempatan ini Kakek akan mengumumkan penerus yang akan memimpin perusahaan," Bayu kembali menghentikan bicaranya. Menyelisik wajah datar yang dilayangkan cucunya. Tak ada tanggapan yang Ravka berikan, membuat Pria yang sudah memasuki usia uzurnya itu kembali melanjutkan apa yang hendak ia sampaikan.
"Sebetulnya kamu memang sudah Kakek siapkan untuk memegang tampuk kepemimpinan. Kakek percaya kamu dapat menggiring perusahaan melesat naik dan meninggalkan segala badai yang dapt menerpa perusahaan. Hanya saja saat ini seluruh bisnis di dunia sedang ditempa badai. Tidak sedikit perusahaan yang menyerah dan jatuh pada titik terbawah hingga tak lagi mampu untuk bangkit," Lanjut Bayu sembari menerawang. Mengingat bahwa beberapa perusahaan koleganya ikut tersapu badai, terpuruk dan tidak bisa bangkit lagi.
"Kakek jangan khawatir, saat ini perusahaan dibawah naungan Dinata Group masih dalam kondisi stabil. Apalagi dengan dukungan yang diberikan oleh Sanjaya Group, membuat kita akan semakin kuat menghadapi guncangan yang akan datang," Ravka berucap dengan mantap. Selama ini dia sudah berusaha sangat keras untuk membuat perusahaan bisa melewati badai krisis ekonomi yang menerjang dunia. Ravka yakin sepenuhnya bahwa ia akan mampu mempertahankan perusahaan yang sudah diperjuangkan oleh Kakeknya sejak ia masih sangat belia.
"Disitu masalahnya, Nak," Sambar Bayu. Ia kembali menarik nafas panjang yang untuk kesekian kalinya ia lakukan dalam beberapa menit belakangan. "Ferdian Sanjaya memberikan bantuan kepada kita tidak cuma-cuma. Ada syarat yang menyertai di dalamnya,"
"Saya mengerti Kakek. Bukankah Kakek sudah menyampaikan hal ini kepada saya?" Jawab Ravka mantap, mulai memahami arah pembicaraan Kakeknya.
"Ia, untuk itulah Kakek menjodohkan kamu dengan anak gadis dia satu-satunya. Hanya saja, ternyata Allah berkehendak lain. Dia sudah memiliki rencananya sendiri untuk dirimu," Bayu meraih tangan Ravka menggenggamnya demi menyalurkan dukungan kepada cucunya itu.
__ADS_1
Ravka hanya membalas dengan senyuman apa yang Kakeknya lakukan. Bagaimanapun orang tua dihadapannya ini sudah banyak memberikan kebahagian dalam hidupnya dan ribuan orang di luaran sana. Ia tidak ingin Kakeknya sampai merisaukan kehidupannya yang sudah kacau di masa tua Sang Kakek. Ia harus terlihat kuat dan baik-baik saja di hadapan Kakek Bayu.