
Karina sudah dirias dengan cantiknya. Kebaya putih melekat pas di tubuhnya. Perut Karina masih datar, jadi tidak akan ada yang tahu jika wanita itu sedang hamil jika tidak bertanya.
Riasan sederhana yang malah membuat Karina semakin bersinar, rambut disanggul dengan anggun. Melihat pantulan dirinya di cermin, Karina tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka akan berubah secantik ini.
Nadia dan Nara masuk ke dalam kamar saat Karina sudah selesai dirias. Keduanya sempat pangling melihat perubahan wajah Karina yang sangat drastis.
“Wow Karina, kamu terlihat sangat cantik.” Puji Nara yang jarang memuji kecantikan wanita lain.
“Terima kasih Nara. Aku juga tidak menyangka aku bisa dirias dengan begitu cantik.” Ucap Karina sambil terus memandang pantulan dirinya di cermin. Rasanya tak jemu melihat wajahnya sendiri.
“Kamu memang sudah cantik awalnya sayang. Riasan ini hanya menegaskan kecantikanmu saja.” Puji Nadia.
“Bu Nadia benar. Mbak Karina ini memang sudah cantik pada dasarnya. Jadi dirias sedikit saja sudah keluar aura cantiknya.” Perias itu membenarkan ucapan Nadia.
“Ayo Karina, kita buat foto.” Nara duduk di sebelah Karina. Nadia juga mengambil posisi berdiri di belakang keduanya. Mereka mengambil cukup banyak foto.
“Ma, kata papa kak Karina suruh keluar sekarang.” Dini yang melongokkan kepalanya masuk setelah mengetuk pintu segera menyampaikan pesan papanya.
“Iya. Ayo sayang mama bantu kamu berdiri.”
“Wow kak Karina cantik banget.” Puji Dini tulus. Dia satu server dengan kakak perempuannya. Keduanya jarang sekali memuji kecantikan perempuan lainnya.
“Terima kasih Dini.” Balas Karina sambil tersenyum.
Nadia menggandeng tangan Karina saat menuju ruang tamu dimana acara ijab Kabul akan dilaksanakan.
Tidak banyak orang yang diundang. Hanya pak ustadz, ketua RT yang menjadi saksi dan juga petugas dari kantor KUA. Ada juga Andi yang harus tahu. Selain itu, semua yang hadir adalah keluarga. Dari pihak Karina sendiri tidak ada yang datang. Dia dan neneknya hidup berdua saja sejak Karina masih kecil. Tidak memiliki sanak saudara. Dan teman satu-satunya yang ia miliki hanya Fania yang berada jauh di Lombok. Jadi tidak mungkin baginya untuk mengundang sahabatnya itu meskipun sebenarnya Bisma bisa melakukannya.
Dengan perlahan Karina didudukkan di samping Bisma. Keduanya saling memandang sesaat. Kerudung putih yang disampirkan Nadia membuat keduanya tersadar dan saling berpaling.
“Apakah mempelai pria sudah siap?” tanya pak ustad yang diundang untuk menikahkan keduanya.
Bisma mengangguk dan menyambut uluran tangan pak ustadz dengan mantap. Mengucapkan ijab Kabul dengan lancar. Suasana haru dan bahagia bercampur menjadi satu setelah kata sah terdengar.
“Mulai sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Semoga rumah tangga kalian langgeng, sakinah, mawaddah wa Rohmah. Aamiin.” Ucap petugas dari KUA setelah Karina dan Bisma selesai menanda tangani buku nikah mereka. Ucapan itu segera diaminkan oleh semua orang.
“Mbak Karina bisa Salim suaminya.” Karina mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Bisma dengan takdzim. Kemudian, Bisma mencium kening Karina.
Saat keduanya melakukan hal itu, jantung mereka seperti berdetak lebih cepat. Bahkan rasa berdebar sebelum acara ijab kabul tadi tidak ada apa-apa nya dibandingkan rasa yang baru saja mereka rasakan.
__ADS_1
Nadia menghampiri kedua mempelai yang baru saja menikah. Menatap keduanya dengan bahagia. Menepuk bahu Bisma dengan bangga.
“Mama tidak menyangka anak mama sudah dewasa. Mama rasa tugas mama untuk menjagamu sudah berakhir. Mulai saat ini, istrimu Karina yang akan menjagamu. Sayangi dan hormati dia dengan semestinya. Jangan sakiti dia apapun yang terjadi. Bahagiakan dia seperti kamu membahagiakan mama sebelumnya.” Ucap Nadia menahan air matanya.
“Mama.” Bisma memeluk Nadia erat.
“Mamamu Dian pasti juga sangat bangga padamu di atas sana. Ia pasti bahagia melihat kamu sudah menikah.” Ucap Nadia sambil berderai air mata. Bisma mengangguk mendengar ucapan Nadia.
Nadia melepaskan pelukannya. Ia mendekati Karina dan memeluknya juga. “Mulai hari ini, putra mama yang nakal ini mama serahkan padamu. Jika dia salah ingatkan dia. Mulai saat ini kamulah yang lebih berhak atas Bisma dari pada siapapun. Kalau dia mengganggumu atau menyakitimu, kamu bisa bilang sama mama, biar mama yang akan membantumu memukulnya.”
“Terima kasih ma. Tapi Mama tidak boleh berbicara seperti itu. Sampai kapanpun Bisma adalah putra mama. Selamanya, seorang anak akan menjadi milik ibunya.” Balas Karina.
“Hem. Kamu memang gadis istimewa. Di saat gadis lain akan mencoba menjauhkan mertuanya, kamu bahkan bisa berkata seperti itu.” Nadia tersenyum senang.
“Kruyuuuk.” Suasana melankolis seketika berubah canggung saat Nadia mendengar suara perut Karina.
“Ayo makan. Jangan biarkan cucu mama kelaparan di dalam.” Nadia menggandeng Karina sambil mengelus perut menantunya.
Setelah acara selesai, Bisma membawa Karina pulang ke apartemen nya. Mulai saat itu juga, ia akan tinggal bersama Karina di apartemen. Awalnya Nadia menolaknya. Tapi setelah Nathan memberinya penjelasan agar Nadia memberi waktu Bisma bersama Karina, Nadia pun mengizinkan.
Saat keduanya kembali ke apartemen, mereka langsung masuk ke dalam kamar. Mereka harus membahas beberapa hal.
“Ini apa?” tanya Bisma heran.
“Surat perjanjian.” Jawab Karina. Bisma membaca isi surat perjanjian dengan serius.
“Surat perjanjian ini berisi beberapa poin. Poin pertama, aku tidak mau ada kontak fisik.”
“Kenapa?”
“Karena kita tidak saling mencintai.” Jawab Karina sambil menundukkan kepalanya.
“Baiklah tidak masalah.”
“Yang kedua, jika kita berpisah nanti, aku ingin hak asuh anak ini.”
“Karina, sebenarnya kita tidak perlu melakukan semua ini. Semuanya yang terjadi padamu adalah salahku. Aku juga tahu kita menikah hanya untuk anak di dalam kandungan mu. Karina, aku tidak berharap suatu saat nanti akan berpisah dengan mu. Tapi demi kenyamananmu, aku setuju. Biar aku tanda tangani surat ini.” Bisma segera menandatangi surat perjanjian yang diberikan Bisma. Kemudian memberikannya kembali pada Karina.
“Terima kasih Bisma.”
__ADS_1
“Sama-sama. Kamu istirahat lah dulu. Aku akan pergi ke kantor.” Bisma mengambil jasnya dari dalam lemari.
“Kamu tidak cuti?” tanya Karina penasaran. Hari ini adalah hari pernikahan mereka, dan Bisma masih harus pergi bekerja. Ini sungguh tidak masuk akal.
“Tidak. Ada banyak pekerjaan di kantor.”
“Oh. Baiklah. Hati-hati di jalan.”
“Hem.” Bisma mengangguk. “Mungkin aku akan pulang terlambat. Kamu tidak perlu menungguku untuk makan malam nanti. Kamu juga bisa tidur di kamar seperti biasanya. Aku bisa tidur di ruang tamu.”
“Baiklah.”
“Hem.”
“Bisma.”
“Apa lagi?” Bisma yang sudah hampir membuka pintu membalik tubuhnya lagi. Karina berjalan mendekatinya.
“Aku selalu melihat istri yang mencium tangan suaminya jika akan pergi bekerja. Apa aku perlu melakukan itu juga?” tanya Karina polos setelah ia menghampiri Bisma.
“Tentu saja.” Bisma mengulurkan tangannya. Karina tersenyum sebelum mencium tangan Bisma. Setelah Karina mencium tangannya dengan takdzim, Bisma mencium kening Karina sebagai balasan.
“Kenapa! Kenapa kamu melakukannya?” ucap Karina panik. Ia menyentuh keningnya dimana bibir hangat Bisma menempel di sana.
“Kenapa? bukankah memang seharusnya begitu. Apa kamu tidak pernah melihat jika istri mencium tangan suami, suami juga harus mencium kening istri?” Bisma mengernyitkan alisnya.
“Oh begitu. Baiklah.” Karina mengangguk paham. Bisma tersenyum sebelum membuka pintu dan keluar dari kamar. Karina kembali ke atas ranjang dan segera berbaring di sana. Hari ini ia lelah.
Bisma memang tidak mencintai Karina saat ini. Tapi ia selalu mengingat nasihat Nadia yang memintanya untuk tidak mempermainkan perasaan seorang wanita. Selain itu Bisma juga hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Jika memang Karina yang ditakdirkan untuk menjadi istrinya, itu pasti yang terbaik untuk dirinya.
Belajar menerima dan mencintai Karina sebagai istrinya adalah hal yang paling utama saat ini. Dan yang tidak kalah penting, ia juga harus membuat Karina mencintainya. Benar kata Karina, rumah tangga tanpa cinta hanya akan membuat menderita.
Mungkin cara untuk mengikat Karina untuk bersedia tinggal bersamanya selamanya adalah dengan kebiasaan-kebiasaan pasangan lainnya. Kebiasaan sederhana yang bermakna. Dengan begitu Karina sedikit demi sedikit akan mau menerimanya. Ya. Gadis ini memang sederhana.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😘