Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_17. Cara Lain Mengurangi Mual


__ADS_3

Sesuai rencana, setelah sarapan Bisma mengantar Karina pergi ke rumah sakit. Karena belum membuat janji, mereka menunggu agak lama.


Dokter cantik itu tersenyum saat melihat Karina yang masuk bersama Bisma. Meskipun tidak tahu detail nya, kejadian beberapa hari yang lalu saat terakhir Karina datang ia juga mengetahuinya. Apalagi Nara yang saat itu juga menceritakannya dengan semangat.


“Selamat pagi nyonya Karina.” Sapa dokter Kania hangat.


“Selamat pagi dokter.” Karina tersenyum.


“Apa ada keluhan yang dirasakan?” Tanya dokter Kania. Karina baru beberapa hari yang lalu datang. Dan semuanya baik-baik saja saat terakhir ia periksa.


“Itu dokter, mual-mual saya tidak berkurang sama sekali meskipun saya minum obatnya.” Jawab Karina jujur.


“Ooh... Selain itu ada keluhan lain?”


Karina berpikir sejenak sebelum menggelengkan kepalanya. “Tidak dok.”


“Baiklah. Mari saya periksa dulu.”


“Tuan Bisma tolong bantu nyonya Karina naik ke atas ranjang.” Dokter Kania memberi isyarat agar asisten yang membantunya menyingkir.


Bisma segera beranjak dan menghampiri Karina yang berdiri di depan ranjang periksa yang tinggi. Sebenarnya Ada tangga kecil di bawahnya untuk memudahkan naik. Tapi akan lebih aman jika ada yang membantu saat naik ke atasnya.


Tangan kecil Karina digenggam erat oleh Bisma. Sebelah tangan Bisma memegang pinggang Karina. Keduanya sama-sama dalam keadaan canggung. Mereka terdiam beberapa saat. Bingung harus bagaimana melakukannya.


“Bagaimana ini?” tanya Karina yang ikut bingung.


“Begini saja.”


“Ah!” pekik Karina terkejut saat tubuhnya melayang. Ia reflek melingkarkan tangannya di leher Bisma. Matanya menutup dengan rapat. Detak jantung nya semakin cepat bukan lagi karena rasa canggungnya berada sangat dekat dengan Bisma melainkan karena ia terkejut dan juga takut.


“Ehem. Aduh kalian ini membuat iri saja.” Ucapan Dokter Kania menyadarkan Bisma yang tidak kunjung meletakkan tubuh Karina di atas ranjang. Pria itu malah sibuk memperhatikan wajah terkejut Karina yang terlihat lucu di matanya.


Dengan perlahan Bisma membaringakan Karina di atas ranjang. Ia agak membungkuk karena Karina yang tidak kunjung melepaskan lehernya yang dipegang erat oleh istrinya itu.


“Sudah. Lepaskan Tangannya.” Tangan Bisma melepaskan tangan Karina di lehernya.


“Sudah turun?” tanya Karina takut.


“Sudah. Makanya buka matanya.” Ucap Bisma. Tangan Karina yang melingkar di lehernya cukup suit dilepaskan.


Kelopak mata Karina terbuka dengan perlahan. Saat ia menyadari bahwa Bisma tepat berada di atasnya, dengan reflek mendorong dada Bisma.

__ADS_1


“Kenapa kamu mendorongku?!” tanya Bisma kesal. Memang siapa yang tidak mau dilepas tadi?


“Maaf. Habisnya kamu kenapa tadi begitu?”


“Itu karena kamu yang tidak mau melepaskan leherku.” Balas Bisma tidak terima.


“Siapa suruh menggendongku. Aku kan takut jatuh.”


“Memangnya aku pernah menjatuhkan ku?” geram Bisma.


Karina menggeleng. “Dokter Kania kan bilang untuk membantuku naik. Bukan menggendongku.”


“Sudah-sudah. Yang terpenting saat ini pemeriksaanya bisa dimulai kan? Tidak penting bagaimana naiknya tadi.” Dokter Kania menengahi. Ia merasa lucu melihat pasangan di depannya ini.


“Benar. Dokter silahkan mulai pemeriksaannya.” Bisma menyingkir. Ia melihat wajah Karina yang merah dengan bibir yang mengerucut.


“Memang wanita itu makhluk yang merepotkan.” Gumam Bisma dalam hati.


Asisten dokter Kania segera melakukan tugasnya. Menarik selimut Karina sampai batas pusar. Setelah itu, ia menyibak kaos yang dipakai Karina. Dokter Kania meraba perut Karina bagian bawah. Mencari letak janin yang dikandung Kania. Setelah itu, Dokter Kania segera mengoleskan krim yang terasa dingin di permukaan perut Karina sebelum menggerakkan tranduser di atasnya.


“Nah lihat, bayi tuan dan nyonya tumbuh dengan sehat.” Bisma dan Karina menatap layar hitam putih itu dengan haru. Saat ini, bintik hitam yang dulu sangat kecil itu sudah cukup besar.


“Melihat kondisinya itu tidak terlalu berpengaruh. Janin ini menyerap nutrisi dengan baik. Tapi jika kondisi ini terus berlanjut, bisa berakibat fatal.”


“Lalu bagaimana solusinya dok?”


“Saya akan mengganti obat mualnya nanti.” Dokter Kania menyuruh membersihkan perut Karina dari gel sekaligus membatu Karina turun dari ranjang. Ia khawatir jika meminta Bisma yang melakukannya lagi, pria itu akan menggendong Karina alih-alih memapahnya.


“Sebenarnya ada cara lain yang bisa dicoba meskipun hal ini tidak ada penelitian yang mendukung.” Kata dokter Kania sedikit ragu.


Sebelumnya ia mengira jika Bisma dan Karina ini seperti pasangan lainnya yang saling mencintai. Namun setelah Nara menjelaskan apa yang terjadi pada keduanya, ia akhirnya memperkirakan apa yang terjadi pada keduanya.


“Cara apa itu dok?” tanya Karina bersemangat. Ia sangat ingin bebas dari rasa mual yang selalu ia rasakan. Setiap hari harus berdiri lama di depan wastafel untuk memuntahkan isi perutnya sungguh tidak menyenangkan.


“Cobalah tidur dengan saling memeluk.” Jawab dokter Kania dengan senyum yang mengembang. Matanya mengawasi perubahan ekspresi pasangan muda di depannya.


Perkataan dokter Kania terngiang di telinga Karina sepanjang perjalanan pulang. Bahkan ia sampai melamun sepanjang hari.


Dering ponsel Karina menggema di dalam apartemen. Bi Eni sedang ada di dapur memasak untuk makan malam. Karina sedang duduk di pinggir kolam saat mendengar suara ponselnya yang ia tinggal di ruang televisi.


Dengan segera Karina mengambil ponselnya dan melihat nama Bisma ada di layar sedang menghubunginya dengan panggilan Vidio.

__ADS_1


Karina segera menggeser gambar berwarna hijau untuk menerima panggilan. Seketika, wajah tampan Bisma memenuhi layar. Pria itu masih ada di kantor. Duduk di kursinya dengan setumpuk dokumen yang menunggu ia selesaikan.


“Ada apa?” tanya Karina. Jujur, ia masih canggung saat melihat Bisma. Apalagi kata-kata dokter Kania yang meminta merek tidur berpelukan terngiang di telinga nya. Lagi-lagi, wajahnya memerah. Ia segera memalingkan wajahnya.


“Aku hanya mau bilang aku lembur di kantor. Jadi kau makan malam dulu saja. Tidak perlu menungguku.” Ucap Bisma serius. Ia mengamati wajah Karina yang terlihat memerah. Ia pun juga sama.


“Oh begitu. Baiklah tidak apa-apa.”


“Minta bi Eni untuk tinggal lebih lama nanti. Katakan padanya untuk pulang setelah kamu tidur.”


“Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Kalau menunggu aku tidur akan kemalaman nanti.”


“Tidak boleh. Aku tidak akan tenang. Rumah bi Eni juga Tidak begitu jauh.” Tolak Bisma.


“Tapi kasihan bi Eni nanti. Bagaimana pun berjalan sendirian di malam hari itu tetap berbahaya.”


“Huh! Begini saja. Nanti biar pulangnya aku antar. Bisa begitu?”


“Kalau begitu baru bisa.”


“Baiklah. Katakan padanya seperti itu.” Karina mengangguk puas.


“Jangan lupa minum vitamin dan obatnya. Aku harap kali ini obatnya manjur.”


“Iya. Rasanya aku sudah lelah harus muntah setiap hari.”


“Apa kamu mau mencoba cara yang diberitahu dokter Kania? Siapa tahu jika kita tidur dengan...”


Belum sempat Bisma menyelesaikan kalimatnya, Karina sudah memutuskan nya sepihak. Bisma sempat melihat wajah panik Karina yang menggemaskan.


“Dasar wanita aneh.” Decak Bisma. Ia menggelengkan kepalanya pelan.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩


Jangan lupa klik jempolnya ya.....

__ADS_1


__ADS_2