Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_40. Cara Memuaskan Istri


__ADS_3

Karina sudah menunggu kepulangan Bisma sejak tadi. Ia baru saja menerima telepon dari Fania bahwa gadis itu akan segera menikah. Dan yang lebih membuat Karina bahagia adalah karena Fania akan menikah dengan Tora. Laki-laki yang memang dicintai oleh Fania.


Dari telepon tadi sangat jelas dilihat bahwa Fania sangat senang. Setelah ia berusaha mengejar cinta Tora dengan membuat laki-laki tampan itu mencintainya akhirnya membuahkan hasil. Mereka sudah berpacaran selama dua bulan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah.


Sebagai sahabat, jiwa kepo Karina meronta-ronta ingin mendengar proses kisah cinta keduanya. Jadi ia akan meminta Bisma untuk menghadiri pernikahan Fania dua minggu lagi.


Sudah hampir satu jam Karina menunggu kepulangan Bisma, tetapi laki-laki itu tidak pulang di jam biasanya. Bi Eni yang melihat Karina mondar mandir hampir satu jam menasehatinya agar menunggu Bisma sambil duduk menonton televisi. Namun Karina tidak mau. Dia tetap mengulangi kegiatannya. Duduk di ruang tamu, lalu berdiri dan membuka pintu apartemen. Menengok ke arah lift dan kembali ke dalam duduk lagi. Begitu seterusnya hingga Bisma akhirnya pulan satu setengah jam kemudian.


Saat Bisma pulang, Karina segera menyambutnya dengan senang. Menarik Bisma untuk segera duduk. Ia sudah tidak sabar untuk memberitahu Biama kabar yang membuatnya begitu bahagia hari ini.


"Akhirnya kamu pulang mas. Aku sudah menunggumu saangaat lama." Meskipun Karina sudah tidak sabar, ia tak lupa untuk mengeluh dan mengomel. Tak lupa ia juga memperlihatkan  bibirnya yang mengerucut. Dia sudah menunggu sangat lama. Dan Bisma harus tahu hal itu.


"Maaf ya di kantor ada sedikit masalah tadi. Jadi agak telat pulangnya." Ucap Bisma sambik mengelus kepala Karina dengan lembut.


"Tidak apa. Yang penting kamu sudah pulang sekarang."  Bisma tersenyum melihat perubahan Karina yang dspat berubah dalam seketika.


"Memangnya apa yang membuatmu sampai menunggu sangat lama? Kalau ada hal penting kan bisa telepon. Biar aku bisa pulang."


"Aku takut menganggumu kerja mas. Lagipula sebenarnya ini juga tidak begitu mendesak."


"Kenapa? Apa kamu kangen?" Karina segera menjauhkan kepalanya dari kepala Bisma yang mendekat. Pria itu tersenyum menjengkelkan. Bahkan mengedipkan sebelah matanya.


"Narsis. Siapa yang kangen?" Cibir Karina.


"Lalu apa yang ingin kamu katakan padaku?" Bisma menarik kambali tubuh Karina. Melingkarkan tangannya dan mengelus perut Karina.


Karina menjauhkan tangan Bisma yang bergerak di pertnya dan membuatnya merinding. "Sebentar ah mas. Aku mau bicara ini." Sungut Karina kesal.


"Bicara ya tinggal bicara saja sayang. Aku kan tidak menutup mulutmu." Bisma malah semakin jahil dan menciumi leher Karina.


"Kalau mas begini aku gimana bisa bicara?" Kata Karina frustasi. Ia mencoba melepaskan diri dari pelukan Bisma. Tetapi suaminya itu malah memeluknya dengan semakin erat saja.


"Maaas malu ada bi Eni." Karina yang kembali mendapatkan kesadaranya baru teringat jika bi Eni ada di dapur sekarang. Dan pembicaraan mereka yang ambigu itu pasti membuat canggung


"Ah baiklah. Aku akan melepaskanmu kali ini." Bisma tersenyum penuh minat memandang Karina. Ia juga menghentikan tangan dan bibirnya yang nakal menggoda Karina. "Sekarang beritahu aku apa yang akan kamu katakan dari tadi?"

__ADS_1


"Mas ayo ke Lombok lagi." Ucap Karina langsung.


"Kenapa? Mau baby moon lagi? Apa mau mengingat kembali kenangan pertama kita di sana?" Bisma kembali menghujani leher Karina dengan kecupannua.


"Ish mas! Kenapa kamu jadi berubah gini sih?"


"Ya itu salahkan kamu. Kenapa kamu begitu menggoda?"


"Capek bicara sama mas. Ujung-ujungnya pasti ngarah ke situ terus."


"Maaf-maaf. Jangan marah dong!" Bisma akhirnya diam. Menatap Karina dengan tatapan rasa bersalah.


"Huh! Dengarkan aku baik-baik." Bisma mengangguk patuh. "Fania akan menikah dengan Tora dua minggu lagi. Dan dia mengundang kita untuk datang." Lanjut Karina dengan semangat.


"Tora?"


"Iya Tora. Mas pernah ketemu dengannya di depan rumah."


"Oh laki-laki yang itu?"


"Iya. Aku sudah kama tahu kalau Fania ternyata menaruh hati pada Tora. Tapi aku tidak tahu kenapa Fania tidak mengatakannya pada Tora saja sejak dulu. Mungkin mereka bisa menikah sejak lama."


"Maksudnya?"


"Tora itu menyukaimu. Kamu ini benar-benar tidak tahu apa pura-pura tidak tahu?"


"Jangan mengada-ngada deh mas. Aku dan Tora saja jarang bicara. Kalau tidak sengata ketemu juga cuma saling menyapa karena saling mengenal. Dari mana bisa ia menyukaiku?"


"Orang lain yang melihat tatapan matanya padamu saja akan langsung tahu jika dia menyukaimu. Tapi kamu yang ditatap dengan penuh cinta malah tidak tahu. Aku benar-benar tidak habis pikir."


"Tapi yang aku lihat tidak begitu."


"Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Kamu yang seperti ini malah akan membuat keadaan lebih baik. Fania dan Tora tidak akan canggung saat mereka bertemu denganmu nanti."


"Jadi mas mengantarkanku kesana?" Tanya Karina berbinar senang.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu padamu."


"Apa?"


"Rahasia."


"Jangan main rahasia-rahasiaan deh mas. Bikin aku penasaran saja deh."


"Kamu benaran ingin tahu?" Karina mengangguk dengan semangat.


"Boleh. Tapi ada syaratnya." Bisma tersenyum misterius.


"Apa?"


"Malam nanti berikan aku servis terbaikmu." Bisma ternyum cabul mamandang Karina.


"Tidak jadi. Lupakan saja." Karina dengan sgera berdiri dan berjalan meninggalkan Bisma yang menggaruk belakang lehernya.


"Kenapa Karina seperti menghindariku? Apa aku menakutkan sehingga dia langsung kehilangan minatnya saat tahu syaratnya adalah itu?" Bisma juga beranjak dan pergi ke dalam kamar untuk berganti baju.


Ketika di dalam kamar, Bisma berpikir dengan keras. Bisma memikirkan dirinya yang hasr2tnya untuk melakukan hal itu dengan Karina meskipun hanya dengan melihatnya saja. Bisma berpikir jika hal itu pasti sama dengan Karina yang merasakan hal itu. Tapi selama ini, hanya Bisma yang memulai dan berinisiatif. Sedangkan Karina sepertinya hanya menurut saja.


Apa mungkin Karina tidak mencintainya? Tanya Bisma dalam hati. Tapi dengan segera ia menyangkalnya. Bisma merasa jika dirinya adalah pria tertampan yang pernah ditemui Karina. Apalagi mereka sudah lama tinggal bersama. Dan yang paling penting, Karina tidak pernah menolaknya jika ia meminta haknya. Sebaliknya, meskipun tidak mengambil inisiatif, dapat dilihat jika Karina juga menikmati pelayanan yang ia berikan.


Atau jangan-jangan Karia tidak puas dengan penampilannya saat melakukan hal itu?


Setelah berpikir cukup lama akhirnya Bisma berlikir jika itu mungkin saja terjadi. Bisma selalu bergerak sesuai intuisinya saja. Dia tidak tahu bagaimana yang dirasakan Karina. Apa itu sama dengan yang ia rasakan atau tidak?


"Aku sebaiknya googling dan mencari referensi dari sana. Dan Karina, aku berjanji kamu tidak akan megeluh lagi setelah malam ini." Gumam Bisma sambil mengambil ponselnya dan segera menulis kata kunci 'cara memuaskan istri'


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😊


Maaf ya kemarin tidak bisa update karena ada acara berpergian mendadak. Jadi tidak ada waktu buat menghalu ria.....


__ADS_2