Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_30. Masih ingin Menipu?


__ADS_3

Bisma dan Karina menjemput Fania untuk membayar hutang orang tuanya. Ibu dan ayah Fania awalnya juga ingin ikut, tapi Fania melarangnya karena takut jika kedua orang tuanya akan dipengaruhi oleh orang-orang licik itu. Karina juga berpikir hal yang sama. Jadi ia ikut membantu Fania untuk memberi pengertian pada ayah dan ibunya.


Rumah rentenir itu ada di desa yang tidak begiu jauh dari desa Karina. Di desa-desa sekitarnya, orang bernama Herman itu memang sudah terkenal sebagai orang yang memberikan hutang pada orang lain. Tidak sulit menemukan rumah orang itu. Meskipun Fania hanya mendengar ciri-ciri dan lokasinya, ia dapat dengan mudah menunjukkannya pada Bisma yang mengendarai mobil untuk mereka.


"Itu rumahnya?" Tanya Bisma saat Fania memintanya berhenti di depan sebuah rumah yang paling mewah di desa itu. Ada dua buah mobil yang terparkir di depan. Garasi tempat memarkirkan mobil itu sengaja dibangun lebih tinggi agar dua buah mobil berwarna hitam dan merah itu akan kelihatan dari jauh. Menunjukkan pada semua orang bahwa mereka lah orang terkaya di desa itu.


"Benar." Fania tersenyum. Ia mengingat bagaimana tetangganya menderskripsikan rumah Herman dengan sangat berlebihan. Rumah itu memang mewah. Tetapi dibandingkan dengan rumah yang ada di kota yang pernah ia lihat itu sebenarnya tidak ada apa-apanya.


"Baiklah ayo kita turun. Jadi kita bisa melemparkan uang ini ke wajahnya." Ucap Karina bersemangat menoleh pada Fania yang duduk di kursi belakang. Ia menepuk tas berisi uang tunai sebanyak seratus juta.


"Nanti kamu diam saja. Jangan pikirkan apa yang erjadi di sana nanti." Bisma memegang lengan Karina.


"Kenapa?"


"Orang-orang seperti itu pasti sangat sombong dan berbicara sesuka hatinya." Bisma memicingkan matanya. Bisma sudah melihat banyak orang di dunia ini. Orang yang akan ditemuinya ini tidak ada bedanya dengan orang-orang yang memandang dirinya terlalu tinggi. Mereka akan cenderung meninggikan mereka dan berkata yang merendahkan orang lain.


"Aku sudah banyak melihat orang seperti itu."


"Kamu saat ini sedang hamil. Jangan biarkan baby kita mendengar mamanya berkata macam-macam." Bisma berbicara sambil mengelus perut Karina. Fania melihat keduanya yang terlihat mesra senang tenang. Saat ia mendengar bahwa Karina menjadi korban pemerkosaan ia begitu marah. Apalagi saat Karina hamil dan dengan terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak dicintai dan mencintai sahabatnya itu. Ia khawatir temannya tidak akan bahagia dalam pernikahannya. Namun saat melihat keduanya saat ini, Fania merasa lega.


"Kalian ini mau pamer kemesraan di depanku ya?" Fania bertanya sambil tersenyum. Dua orang di depannya yang sedang berbicara tanpa memperdulikannya langsung menoleh padanya.


Bisma segera berdehem dan mencabut kunci mobil dan memasukkannya dalam saku. Sedangan Karina dengan gelagapan mengajak mereka untuk segera turun.

__ADS_1


Tas berisi uang yang dibawa Karina diminta oleh Bisma. Dibawanya dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk memeluk pinggang Karina. Fania berjalan di samping Karina. Ketiga orang itu berjalan masuk menuju pintu yang terlihat besar dan mewah. Pintu bercat putih dengan ukiran berwarna emas itu terlihat sesuai dengan bangunan rumah.


Fania mengetuk pintu itu tiga kali. Lalu terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka dan seorang wanit paruh baya keluar dari balik pintu.


"Màaf, ada perlu apa?" Tanyanya pada tiga orang muda yang berdiri di depan pintu.


"Kami mencari pak Herman." Fania yang menjawab.


"Ooh. Silahkan masuk. Saya akan panggilkan tuan saya." Bibi itu mempersilahkan Fania dan yang lainnya untuk masuk. Bekerja selama bertahun-tahun pada Hendra, bibi itu sudah terbiasa menerima tamu yang datang untuk menemui tuannya.


Bisma, Karina dan Fania duduk dalam satu kursi panjang. Tas yang dibawa Bisma ia letakkan di samping Fania. Mata Karina dan Fania berkeliling untuk memperhatikan isi rumah itu. Dibandingkan rumah orang-orang di desa mereka memang rumah ini kayak mendapat predikat sebagai rumah termewah. Semua barang pajangan di sana terlihat berkilau. Tapi Fania dan Karina sudah pernah melihat barang-barang yang lebih baik dari itu. Jadi mereka hanya sekedar mengagumi.


"Oh rupanya calon menantuku yang datang." Seorang pria dengan rambut yang setengah memutih tersenyum melihat Fania. Pria itu turun dari lantai dua rumahnya.seorang wanita yang terlihat serasi dengannya juga ikut turun dan berjalan di sampingnya.


Fania yang mendengar ucapan kedua orang itu hanya bisa tersenyum dengan dingin. Kedua orang ini begitu pintar berakting. Kedua orang itu pasti sudah tahu jika Fania datang dengan menggunakan mobil. Dari penamlilan Bisma dan Karina juga dapat dilihat bahwa dua orang teman Fania bukan orang desa. Mereka harus memberinya muka.


Tapi Fania sudah pernah bertemu dengan dua orang ini sebelumnya. Mereka pernah datang ke rumahnya untuk memintanya menikah dengan putra mereka yang terkenal brengs3k. Tetapi lamaran mereka lebih terlihat seperti pemaksaan dan penghinaan. Mereka berkata dengan terus terang bahwa mereka menikahkan Fania hanya untuk mendapatkan keturunan darinya.


Fania dari dulu terkenal sebagai anak berprestasi dan anak mereka sebaliknya, jadi mereka berharap jika anaknya menikah dengan Fania, cucu-cucu mereka akan mewarisi kepintaran Fania. Terlebih lagi penampilan Fania adalah yang terbaik di antara gadis desa pada umumnya.


"Kami tidak akan berbasa basi. Kami mewakili orang tua Fania untuk membatalkan pernikahan ini." Bisma berkata dengan tegas. Ia menatap pasangan di depannya dengan tajam.


"Oh...membatalkan pernikahan." Herman berkata dengan mengejek.

__ADS_1


"Huh! Apa kalian pikir kalau kaian bilang akan membatalkan pernikahan maka akan batal begitu saja? Mimpi!" Istri Herman juga berkata dengan sombong. Sikap sopannya tadi sudah berganti menjadi arogan dalam sekali kedip.


"Saya bersedia menikah waktu itu karena terpaksa. Karena hutang yang dimiliki orang tua saya pada anda. Tapi saya datang kemari untuk melunasi hutang mereka. Jadi untuk masalah pernikahan anda tidak bisa lagi memaksa saya." Fania meletakkan tas berisi uang itu di atas meja. "Di dalamnya ada uang sejumlah seratus juta. Anda bisa mengeceknya sendiri."


Herman memberi kode pada istrinya untuk mengambik tas itu dan mengecek isinya. Mereka berdua menghitung dan memeriksa keaslian uang itu dengan teliti.


"Uang itu diambil langsung dari bank." Fania memberikan bukti penarikan uang yang diberikan Bisma untuknya. Selama dalam perjalanan tadi, Karina dan Bisma sudah memberitahu apa saja yang harus Fania katakan pada Herman nanti.


Jika Fania sendiri yang mengatakan semuanya, itu akan menunjukkan jika Fania berani dan mampu melawan mereka. Dengan begitu Herman maupun orang lain tidak akan lagi menggangunya di masa depan.


"Kamu pikir uang ini saja cukup?" Herman meletakkan kembali uang itu di atas meja. Menatap Fania dengan tidak suka.


"Hutang orang tua saya awalnya hanya sepuluh juta. Tapi anda sudah menipunya hingga menjadi seratus juta. Sekarang saya kemari untuk membayar seratus juta. Apa anda masih ingin menipu?" Fania mulai menaikkan nada suaranya.


"Apa kamu memiliki bukti? Kami memiliki bukti. Dan sini bahkan juga ada tulisan jika hutang itu memiliki bunga lima persen setiap tahunnya. Sekarang sudah lima tahun berlalu. Kamu hitung berapa yang harus kamu bayar pada kami?" Herman mengeluarkan surat hutang pada tahun itu. Menunjukkannya pada Fania.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😊

__ADS_1


__ADS_2