
Penyakit Jihan semakin parah sehingga Bisma menyuruh Andi untuk mencari rumah sakit terbaik untuk merawatnya. Dan rumah sakit yang paling sesuai adalah rumah sakit di ibu kota. Awalnya Vera menolak untuk pergi. Dan mencari rumah sakit lain untuk merawat Jihan. Tetapi kondisi Jihan semakin memprohatinkan dan dokter menyarankan agar Jihan segera dipindahkan ke rumah sakit yang memiliki peralatah dan dokter yang berpengalaman. Vera pun menyetujuinya.
Sekarang, satu bulan sudah Vera dan Jihan ada di ibu kota. Bisma datang beberapa kali untuk menjenguk mereka. Vera tinggal di rumah sakit sepanjang waktu untuk menemani Jihan. Dia sudah meminta cuti di kantor cabangnya. Sedangkan untuk biaya rumah sakit, ia mau tidak mau merepotkan Bisma namun ia akan menghitungnya sebagai hutang.
Selama dirawat satu bulan di rumah sakit, kondisi Jihan sudah semakin baik. Gadis itu sudah ceria da bersemangat. Ia sangat suka jika Bisma dan Andi datang menjenguknya.
Sebagai seorang anak yang belum pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, ia selalu merindukan sosok ayah. Dan ia seperti mendapatkan kasih sayang ayah dari Bisma dan Andi. Tetapi dari keduanya, yang mengherankan adalah Jihan lebih menyukai Bisma daripada Andi. Padahal, Bisma yidak terlalu berinteraksi dengannya. Dia datang hanya dengan sepatah dua patah kata dan kebanyakan hanya akan diam sibuk dengan ponselnya. Meskipun begitu, Jihan sudah merasa puas.
"Bagaimana keadaan Jihan?" Tanya Bisma saat dia dan Andi menjenguk Jihan. Saat itu Jihan sedang tidur, jadi Bisma bertanya pada Vera.
"Sudah cukup baik. Dokter bilang jika kondisi Jihan terus stabil seperti ini dia akan bisa segera pulang." Jawab Vera.
"Baguslah kalau begitu." Jawab Bisma menatap lega gadis kecil yang terbaring di atas ranjang.
"Om Bisma datang?" Suara kecil Jihan membuat ketiga orang dewasa memandang ke arahnya yang baru saja membuka matanya.
"Iya sayang. Om Bisma datang untuk menjengukmu."
Bisma hanya tersenyum menanggapinya. Andi lah yang berbicara dengan gadis kecil itu pada akhirnya.
Tak lama kemudian, dokter yang merawat Jihan masuk ke dalam ruangan. Dokter itu berkata untuk membawa Jihan melakukan rontgen.
"Om Bisma temani Jihan ya. Kalau ditemani om Bisma, Jihan tidak akan merasa takut." Ucap Jihan malu-malu.
"Jihan jangan seperti itu. Om Bisma sibuk sayang. Mama akan menemanimu ya." Cegah Vera ia tidak enak jika terus menerus merepotkan Bisma.
"Tidak apa-apa. Aku ada waktu senggang. Aku akan menemani Jihan." Jihan sangat senang mendengar persetujuan Bisma.
Bisma mendorong kursi roda Jihan. Di sampingnya ada Andi dan Vera. Vera memegang tabung infus di tangannya. Mereka mengikuti dokter menuju ruangan khusus.
Di saat yang bersamaan, Andra yang sedang chek up kesehatan melihat mereka. Hatinya merasa sakit saat melihat Bisma mendorong kursi roda gadis kecil yang baru pertama kali ia lihat. Apalagi di samping Bisma, seorang wanita cantik berjalan bersamanya. Andra mengira bahwa mereka adalah satu keluarga. Dan gadis kecil itu adalah anak Bisma dari wanita cantik itu.
__ADS_1
Saat Andra hendak menghampirinya, dokter sudah memanggilnya. Ia pun masuk dan berniat untuk menegur Bisma nanti.
Bisma pulang larut malam. Ia tidak menyangka jika rontgen Jihan akan memakan waktu hingga tiga jam lamanya. Jadi ia harus lembur karena pekerjaannya belum selesai. Karina menggeliat saat merasa gerakan di atas ranjangnya.
"Sudah pulang mas?" Tanya Karina dengan suara parau khas bangun tidur.
"Iya. Maaf sudah membangunkanmu. Masih malam. Ayo tidur lagi." Bisma memeluk Karina dan mendekapnya di dadanya. Bisma mencium kening Karina berulang kali.
"Ada apa mas? Apa ada masalah?" Tanya Karina yang merasa Bisma sangat aneh.
"Tidak apa-apa sayang. Hanya saja tadi pekerjaan menumpuk di kantor."
"Mas pasti lelah. Mau aku pijitin?" Karina membuka matanya. Ia bersiap untuk bangun, tetapi Bisma melarangnya.
"Tidak perlu. Aku akan baik-baik saja setelah istirahat. Sudah, kamu harus segera tidur." Bisma menarik Karina lagi. Memeluknya dengan erat hingga mereka tidur.
**
"Saya harap tuan Andra bisa menjaga jarak dengan istri saya. Akan tidak baik jika ada orang iseng menyebarkan gosip." Ucap Bisma tidak senang.
"Sebelum anda berbicara hal omong kosong, lebih baik lihat apa yang anda lakukan. Apa pantas anda mengucapkan hal itu setelah melakukan hal yang begitu buruk." Sarkas Andra. Ia awalnya mengajak Bisma bicara di tempat lain, tetapi Bisma malah membuatnya emosi.
"Apa yang saya lakukan tidak ada hubungannya dengan anda."
"Memang awalnya tidak ada hubungannya. Tetapi karena anda sudah menyakiti Karina, itu menjadi urusanku."
"Urusan anda? Karina bukan siapa-siapa anda. Dan lagi, saya tidak menyakitinya." Sangkal Bisma.
"Dengan selingkuh di belakangnya itu tidak dinamakan menyakitinya? Anda sungguh hebat!" Andra sangat kesal. Ia memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Karina, tetapi ia telah menganggap Karina sebagai adiknya terlepas bahwa berdasarkan laporan DNA, Karina bukanlah saudaranya yang hilang.
"Apa maksud anda? Jangan menyebarkan hal omong kosong seperti ini!" Bisma berteriak marah.
__ADS_1
"Anda masih mengelak? Pria yang selingkuh adalah pria yang paling tidak bertanggung jawab!" Teriak Andra juga. Ia sudah lehabisan kesabaran menghadapi Bisma.
"Saya sungguh tidak mengerti apa yang anda bicarakan. Saya sibuk hari ini. Tidak ada waktu untuk meladeni omong kosong anda. Permisi." Bisma dengan kesal meninggalkan Andra dan masuk ke dalam lift.
Andra mengepalkan tanganya. "Beraninya dia membohongi Karina. Jelas-jelas aku melihatnya kemarin di rumah sakit ia bersama dengan wanita lain. Bahkan ada anak di antara mereka. Sungguh keterlaluan." Geram Andra sebelum ia juga pergi dan masuk ke dalam lift yang lainnya.
Tidak ada yang tahu bahwa Karina mendengarkan percakapan Andra dan Bisma di balik pintu apartemen yang tidak tertutup sempurna. Awalnya Karina hendak menyusul Bisma untuk meminta izin pada Bisma kalau dia akan pergi bersama dengan Nadia untuk membeli perlengkapan bayi mereka. Siapa yang sangak bahwa ia akan mendengar sesuatu yang membuatnya begitu sakit.
"Nak Karina ada apa?" Tanya Bi Eni yang kaget melihat Karina menangis. Ia segera menjatuhkan sapunya dan menghampiri Karina.
"Apa yang terjadi? Apa ada yang merasa sakit? Biar bibi panggilkan tuan ya? Tuan pasti masih belum jauh." Ucap Bi Eni panik.
"Tidak...tidak perlu bi. Bi Eni bantu aku ke dalam kamar saja." Ucap Karina di sela isak tangisnya yang sulit untuk ia hentikan.
"Ada apa? Kalau nak Karina ada sesuatu bisa bicara pada bibi kalau tidak keberatan." Ucap Bi Eni setelah memberikan segelas air putih untuk Karina.
"Tidak apa-apa bi. Entah kenapa aku merasa sedih. Mungkin karena aku merindukan nenekku saja." Bi Eni jelas tahu bahwa alasan Karina hanyalah kebohongan karena ia tidak mau membaginya dengannya.
"Baiklah, kalau begitu nak Karina istirahat saja dulu. Bibi keluar dulu melanjutkan menyapunya ya. Kalau nak Karina butuh apapun, jangan ragu untuk memberi tahu bibi."
"Iya bi. Terima kasih. Oh ya bi, tolong katakan pada mama bahwa hari ini aku tidak enak badan. Jadi kalau bisa perginya besok saja." Ucap Karina sebelum bi Eni keluar. Jika ia yang memberitahu Nadia, pasti Nadia akan sadar jika ia habis menangis. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan pada mama mertuanya nanti.
"Baiklah." Bi Eni mengangguk mengerti. Ia menghela napas sebelum keluar dari kamar Karina.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~°>《*,*》<°~
__ADS_1