Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_37. Suami Mesum


__ADS_3

Karina mengajak Bisma untuk membeli hadiah untuk diberikan pada bayi Nara yang akan dibawa pulang besok pagi. Bisma yang memang tidak memiliki banyak pekerjaan segera pulang untuk menjemput Karina.


Saat Bisma datang, Karina sudah siap dengan gaun santai seperti biasa. Sekarang Karina sudah tidak pernah memakai celana dan kaos. Ia selalu memakai gaun santai yang kebanyakan dibelikan oleh Nadia dan Nara.


Karina tampak begitu segar dan cantik dalam balutan dress berwarna kuning gading itu. Perut buncitnya terlihat menonjol namun malah membuatnya terlihat seksi. Flat shoes masih menjadi andalan Karina. Nyaman dan juga simpel.


"Cantik sekali sih istriku sore ini. Jadi tidak rela membagi cantiknya dengan orang lain."


"Gombal!" Cibir Karina. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa jika Bisma sangat pandai merayu. Kata-kata gombalan yang manis juga seringkali dilontarkan suaminya yang dulu anagat dingin dan kaku itu. Perubahan yang besar itu kadang masih membuat Karina tidak percaya.


"Sungguhan sayang. Aku tidak gombalin kamu. Tanya saja pada Bi Eni kalau tidak percaya." Bisma melirik Bi Eni yang sedang mencuci piring.


"Iya nak Karina. Tuan Bisma benar. Nak Karina memang terlihat sangat cantik sore ini." Bi Eni tersenyum. Ia juga harus berkata manis di depan pasangan yang sedang kasmaran ini.


"Bi Eni kok ikut-ikutan sih."


"Ayo ke kamar. Biar aku tunjukin cantiknya kamu." Bisma memgang pergalangan tangan Karina. Bersiap menarik Karina untuk ikut dengannya.


"Tidak perlu tidak perlu. Ayo kita segera berangkat saja." Karina dengan kuat menahan dirinya agar tidak mengikuti Bisma. Jika sampai ia menuruti Bisma, entah sore ini jadi membeli hadiah apa tidak.


"Baiklah. Sesuai permintaanmu sayang." Karina bergidik. Entah sejak kapan Bisma terbiasa memanggilnya sayang. Dan yang menjengkelkan, Karina belum terbiasa dipanggil seperti itu. Padahal dulu waktu ia masih sekolah, ia selalu berangan-angan akan memiliki suami romantis yang akan selalu meamanggilnya dengan sayang.


"Sebentar, aku akan ganti baju dulu. Sepertinya penampilanku yang seperti ini tidak sesuai dibawa jalan-jalan." Bisma segera pergi ke kamar setelah mengecup kening Karina.


**


Karina memandang total belanjaan yang ia habiskan malam ini. Selain membeli hadiah untuk bayi Nara, Bisma juga membelikannya kalung dan gelang yang sangat indah. Harga perhiasan itulah yang membuat Karina tiba-tiba merasa jika kepala dan tangannya itu sangat berat.


Seumur-umur, Karina belum pernah memakai perhiasan seperti itu. Neneknya hanya mampu membelikannya anting. Itupun terkadang harus dijual saat mereka tidak punya uang dan memggantinya dengan barang imitasi. Jadi Karina tidak bisa tidak untuk merasa takut jika barang berharga fantastis ini hilang.


"Kenapa?" Tanya Bisma saat mendapati Karina berulang kali menyentuh lehernya.


"Sampai di apartemen nanti aku copot saja ya."


"Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya? Kalau tidak suka kita beli lagi." Bisma mengernyitkan alisnya. Ia pernah mendengar para wanita menyukai perhiasan.


"Tidak-tidak. Aku sangat menyukainya. Tidak perlu membeli lagi."


"Kalau suka kenapa tidak memakainya saja?"


"Aku takut jika tidak sengaja menghilangkannya."


"Hanya barang yang hilang itu tidak masalah."


"Tapi ini sangat mahal. Kebutuhan kita akan banyak. Apalagi setelah melahirkan nanti. Sebaiknya kita simpan sebagai cadangan."


"Harganya sesuai dengan keindahannya. Sudah ya tidak usah dipikirkan lagi. Urusan mencari uang itu bagianku. Tugasmu adalah menghabiskannya.

__ADS_1


"Tugas macam apa itu menghabiskan uang?"


"Tentu saja tugas istri."


Karina tidak ingin lagi berdebat. Rasanya akan sia-sia membicarakan masalah ini dengan Bisma. Laki-laki tidak akan memgerti apa itu penghematan.


Keesokan paginya, Bisma dan Karina sedang bersiap-siap untuk pergi ke mansion Alex. Hadiah untuk bayi Nara sengaja tidak diturunkan karena sudah dibungkus dari tokonya. Karina sedang menunggu Bisma di kursi samping lift. Handphone Bisma ketinggalan jadi harus mengambilnya, jadi menyuruh Karina untuk menunggunya.


"Hai. Kita ketemu lagi." Sapa seseorang yang membuat Karina mendongakkan kepalanya.


"Oh hai tuan Andra. Tidak menyangka bisa bertemu di sini."


"Aku baru pindah kemari kemarin."


"Jadi anda tinggal di sini?" Andra mengangguk.


"Benar. Apartemenku nomor 1034. Apa Karina juga?"


"Iya. Kebetulan sekali. Apartemenku di sebelah anda nomor 1033.  Setelah menikah, aku dan Bisma tinggal di sini."


Andra ber o ria. "Kebetulan sekali. Duania memang selebar daun kelor." Karina tertawa ringan mendengarnya. "Kenapa duduk sendirian? Tuan Bisma mana?"


"Kembali ke apartemen. Ponselnya ketinggalan tadi. Tuan Andra mau pergi bekerja?" Tanya Karina saat melihat pakaian yang dipakai Andra. Setelan jas dan celana kain. Sama seperti yang dipakai Bisma saat bekerja.


"Iya. Ya sudah aku pamit dulu ya. Takut kesiangan. Sepertinya Karina juga mau pergi."


"Oh... istri Tuan Alex sudah melahirkan. Ya sudah kalau begitu. Sampai jumpa. Sepertinya kita akan sering ketemu." Andra tersenyum ramah


"Benar. Hati-hati di jalan tuan Andra." Karina melambaikan tangannya saat Andra masuk ke dalam lift. Pria itu juga melambaikan tangannya pada Karina.


"Berbicara dengan siapa?" Tanya Bisma saat melihat Kairna tersenyum sambil menatap ke arah Lift.


"Tuan Andra."


"Tuan Andra? Ada urusan apa di sini?" Tanya Bisma tidak suka.


"Dia juga tinggal di sini. Tentu saja ada di sini."


"Tinggal di sini? Aku tidak pernah tahu jika Tuan Andra tinggal di sini."


"Dia memang baru pindah kemarin. Dan kebetulan dia tinggal di samping apartemen kita. Pasti menyenangkan ada yang kita kenal tinggal di sekitar kita."


Berbeda dengan perasaan Karina yang baik, Bisma malah seperti langit mendung yang bersiap akan badai. Penampilan Andra tidak buruk sama sekali. Dibandingkan dengannya juga tak kalah tampan. Jadi Bisma tentu saja khawatir jika istrinya didekati oleh orang sesempurna Andra. Bisma tidak begitu mengenal Andra karena laki-laki itu memang berkepribadian tertutup. Tapi yang ia tahu Andra adalah pria pendiam yang tidak begitu menyukai perempuan. Bahkan yang ia dengar dari Alex, dengan adik kandungnya sendiri ia juga tidak dekat.


Pada tahap ini Bisma menyadari jika Andra memamg sengaja ingin mendekati Karina. Jika tidak, kenapa orang seperti Andra ini mau berbicara pada istrinya? Sepertinya ia harus mencari cara lain agar Karina jauh dari Andra.


Bisma menatap Karina yang duduk di sampingnya. Wajahnya cantik alami. Kulitnya putih bersih. Tubuhnya juga terlihat seksi bahkan dengan perut buncitnya. Senyumnya pun sangat manis. Sikapnya juga baik meskipun dulu ia pernah salah paham padanya. Tapi setelah lebih mengenal Karina, Bisma menyadari jika dirinya salah besar dalam menilai Karina di masa lalu. Bisa dibilang Karina ini adalah wanita yang sempurna. Dalam hati, Bisma berjanji tidak akan pernah membiarkan Karina lepas dari tangannya. Ia akan menggenggam erat tangan wanita itu. Memberinya banyak cinta hingga Karina merasa tidak akan pernah bisa lepas darinya.

__ADS_1


"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Karina saat merasa tatapan Bisma padanya sangat aneh.


"Sayang, jangan dekat-dekat dengan tuan Andra lagi ya."


"Kenapa?" Tanya Karina heran.


"Aku bilang jangan ya jangan."


"Kamu kenapa sih mas? Aneh banget deh. Dia kan orang baik. Kenapa aku tidak boleh dekat dengannya?"


"Kalau aku bilang aku cemburu apa kamu akan percaya?"


Mendengar alasan Bisma membuat Karina tertawa dengan keras. "Kenapa malah tertawa? Apa begitu lucu melihat suami cemburu?" Sungut Bisma.


"Mas, apa yang bisa dilihat dariku? Aku tidak begitu cantik. Banyak wanita di luar sana yang lebih cantik dariku. Aku juga wanita bersuami. Dan yang paling penting adalah di dalam perutku ini ada bayinya. Mana ada laki-laki yang akan melirikku. Kamu ini benar-benar aneh mas. Orang seperti Tuan Andra hanya melihatku seperti teman saja. Tidak lebih. Apalagi sampai melirikku sebagai gadis muda yang bisa dipakai sebagai target cinta. Tidak mungkin."


"Siapa bilang kamu tidak cantik? Kamu ini cantik. Cantik sekali. Tubuhmu juga bagus. Bahkan dengan perut buncitmu itu malah membuatmu terlihat semakin menggoda. Kalau tidak, bagaimana bisa setiap melihatmu aku selalu ingin menidurimu?"


"Eh kok jadi membahas ini? Itu kan beda mas. Kamu adalah suamiku. Tentu saja menganggap istrinya itu selalu baik di matanya. Tapi laki-laki lain itu tidak sama."


"Memangnya kamu tahu apa yang dipikirkan laki-laki? Kalau tahu coba tebak apa yang ada di pikiranku?"


"Aku memang tidak bisa mengetahui apa yang dipikirkan laki-laki. Tetapi aku tahu kalau laki-laki itu tidak akan suka berhubungan dengan istri laki-laki lain apalagi yang sedang hamil seperti aku ini. Tapi jika melihat mas akhir-akhir ini aku sepertinya bisa menebak apa yang ada di otak mesum mas itu."


"Hahahaha. Kamu berpikiran yang sama kan?" Bisma menarik pipi Karina dengan gemas.


"Tuh kan. Aku belum bilang saja sudah ketahuan kalau isi otak mas itu hal-hal mesum."


"Apa kamu pernah dengar jika laki-laki itu seperti orang yang sudah lama tidak memakan daging? Jadi begitu ada daging lezat di depannya, ia tidak akan mudah untuk berhenti."


"Kenapa jadi membahas makanan?"


"Jangan fokus pada makanannya. Fokus pada perumpamaannya saja."


"Jadi?"


"Jadi begitu ia merasakan nikmatnya taman mini wanita, ia tidak akan berhenti. Apalagi jika pemilik taman itu cantik seperti dirimu ini. Bagaimana mungkin aku bisa tahan. Sayang, ayo kita cari hotel."


Karina membuka mulutnya lebar mendengar ucapan suaminya yang sudah berubah menjadi suami mesum ini. Usia kandunganya yang sudah empat bulan membuat Bisma hampir setiap hari meminta jatah. Kadang sampai membuat Karina kualahan.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😊

__ADS_1


__ADS_2