Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_16. Bisma Khawatir


__ADS_3

Sementara itu, Bisma batu saja membaringkan Karina dengan hati-hati di atas ranjang. Melepas sandal yang dipakai wanita itu dan meletakkannya di dekat ranjang. Menarik selimut Karina untuk melindungi tubuh wanita itu.


Bisma keluar untuk menemui bi Eni. Tadi wanita itu memberitahunya jika Nadia membelikan banyak pakaian untuk Karina. Dan sekarang pasti wanita itu menunggunya untuk mengambil semua barang itu.


Bi Eni mengatakan jika Nadia langsung pulang. Dan ia juga segera pamit.


Bisma membawa masuk paper bag yang diberikan padanya sebelum bi Eni pulang. Tanpa Mengeluarkan isinya ia meletakkan semuanya di atas meja. Setelah itu ia mengambil baju tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.


Ketika Bisma hampir memutar kenop pintu saat ia mendengar Karina yang bergerak tidak nyaman. Ia pun kembali mendekati ranjang. Memperhatikan istrinya yang terlihat tidak nyaman itu.


“Karina sepertinya tidak nyaman tidur dengan memakai celana seperti itu. Tapi bagaimana.” Bisma memandang bingung Karina yang masih terus bergerak.


Ia memutuskan untuk mengganti baju Karina dengan baju tidur terusan yang ia ambil dari dalam paper bag yang kebetulan keluar saat ia letakkan di atas meja. Nadia membelikan Karina baju tidur juga.


Dengan ragu ia mengulurkan tangannya. Menarik kaos yang dipakai wanita itu hingga tersingkap dan memperlihatkan perut putih yang masih rata itu.


Tanpa sadar Bisma menelan salivanya. Istrinya ini memiliki tubuh yang menggoda. Buru-buru ia menutup kembali kaos itu. Ia memutuskan untuk membangunkan saja Karina. Ia juga tidak mungkin membiarkan Karina tidur dengan memakai kaos dan celana itu.


“Karina bangunlah sebentar.” Bisma mengguncang pelan tubuh Karina. Namun Karina tidak bergeming. Ia pun kembali mencoba. Kali ini dengan agak kencang dan suara yang agak keras. Namun Karina juga tidak membuka matanya.


Bisma melakukannya sampai beberapa kali dan tetap tidak berhasil membangunkan Karina.


“Huh! Bagaimana lagi. Aku harus melakukannya.” katanya putus asa.


Laki-laki itupun kembali meletakkan tangannya di ujung kaos Karina. Menariknya pelan hingga benar-benar terlepas. Namun Bisma naik turun melihat pemandangan yang indah itu. Dua gunung milik Karina terlihat begitu menantang dari balik bra yang dipakainya. Meskipun dalam keadaan setengah sadar, ia masih ingat bagaimana rasanya saat ia menikmati gunung yang menjulang itu.


Senjatanya benar-benar bangun hanya dengan melihat setengah bagian tubuh Karina yang menggoda itu!


Menghindari sesuatu yang tidak benar, Bisma segera memalingkan wajahnya dan dengan cepat mengambil baju tidur dan memakannya pada Karina. Meskipun Karina adalah istrinya dan wajar jika mengulang hal itu, ia tidak mungkin mengambil kesempatan saat istrinya itu tidur.


Setelah baju tidur sudah selesai ia pakaikan. Masih ada satu hal lagi yang harus ia lakukan. Melepas celana wanita yang tengah tidur dengan sangat nyenyak itu. Itu tugas yang sangat berat.

__ADS_1


Tangan Bisma kaku saat tangannya memegang kancing celana Karina. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ia bahkan bisa mendengar degupan jantungnya sendiri.


Setelah terdiam cukup lama, Bisma pun memberanikan diri menurunkan resleting dan menarik celana Karina turun.


Bisma menundukkan tubuhnya agar ia bisa mengangkat ****2* Karina untuk melepaskan celana wanita itu. Hal itu membuat wajahnya sangat dekat dengan perut Karina. Laki-laki itu menutup matanya dan dengan cepat menurunkan celana Karina.


Napas Bisma naik turun saat berhasil menutup tubuh Karina dengan selimut hingga lehernya setelah membantu Karina berganti baju. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menonaktifkan senjatanya yang sudah berdiri tegak.


**


Seperti biasa Karina bangun untuk makan di malam hari. Ia terkejut saat menyadari jika ia sudah berganti baju. Ia melihat baju tidur yang ia kenakan adalah terusan yang baru dibelikan Nadia.


“Apa mungkin Bisma yang melakukannya?” Karina kemudian berpikir. “Ah tidak mungkin!” lanjutnya. “Pasti Bi Eni yang mengganti bajuku. Iya. Pasti bi Eni dan bukan Bisma.” Karina membesarkan hatinya sendiri. Jika sampai Bisma yang melakukannya, ia akan sangat malu.


Saat melihat Bisma yang tidur di atas sofa di ruang televisi, ia kembali memikirkan jika Bisma yang mengganti bajunya. Ia dengan cepat menggeleng dan berlalu ke dapur.


Bi Eni selalu menyiapkan masakan untuknya di dalam lemari es untuk berjaga-jaga. Jadi saat ia bangun tengah malam untuk makan, ia hanya tinggal memasukkan nya ke dalam microwave sebelum memakannya.


Setelah makan, Karina kembali ke kamar dan langsung tidur.


Tanpa ragu Bisma membantu Karina. Memijit tengkuknya dan juga membasuh mulutnya. Bi Eni yang baru datang juga mendengar suara yang rutin ia dengar setiap pagi sejak ia bekerja di apartemen itu.


Melihat pintu yang sedikit terbuka, bi Eni melongokkan kepalanya untuk mengintip. Ia melihat Bisma sudah ada di dalam dan membantu Karina. Jadi bi Eni tidak jadi masuk dan ke dapur untuk membuat teh jahe untuk Karina.


“Terima kasih Bisma.” Ucap Karina lemas saat Bisma membaringkannya kembali ke atas ranjang. Laki-laki itu bahkan tidak membiarkan nya untuk berjalan. Tetapi menggendongnya hingga sampai di atas ranjang. Membuatnya merasa sangat malu.


“Tidak masalah.” Bisma tersenyum. “Apa kamu selalu seperti ini?” tanyanya khawatir.


“Iya. Setiap pagi aku seperti ini. Tapi setelah istirahat sebentar aku akan baik-baik saja.”


“Sekarang aku tahu kenapa berat badanmu malah turun. Jika begini terus kapan nutrisinya masuk ke dalam tubuh?” Bisma mendesah pasrah.

__ADS_1


Karina juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu hal itu. Tapi bagaimana lagi, rasa mual itu datang tanpa bisa ia kendalikan. Padahal ia sudah meminum obat yang diberikan dokter untuk mengurangi mualnya. Tapi sepertinya tidak berkurang sedikitpun.


Bi Eni mengetuk pintu. Ia mengatakan jika ia membawakan teh jahe untuk Karina.


“Masuklah bi.” Bisma segera berdiri. Ia melihat bi Eni masuk membawa nampan. Sepertinya bi Eni lebih mengerti Karina dibandingkan dirinya.


“Apakah Karina selalu seperti ini bi?” tanya Bisma khawatir.


“Iya tuan.” Bi Eni mengangguk.


“Pantas saja berat badannya malah berkurang. Malam harinya makan dan paginya sudah dikeluarkan lagi.”


“Benar tuan. Kemarin sudah diberi obat untuk mengurangi mualnya. Saya pikir itu bekerja melihat kemarin pagi nak Karina sarapan seperti biasanya.” Bi Eni mengingat kejadian kemarin.


“Memangnya biasanya bagaimana?”


“Biasanya nak Karina tidak akan sarapan hingga hari menjelang siang.”


“Itu juga bukan keinginanku. Aku akan mual setiap mencium aroma menyengat itu di pagi hari.” merasa disalahkan atas keadaannya, Karina segera protes.


“Nanti kita ke dokter lagi. Kita konsultasi masalah ini. Jangan sampai masalah ini berpengaruh buruk untuk perkembangan baby Kita.” Karina mengangguk setuju. Ia juga berpikir hal yang sama.


Bi Eni pamit keluar dan pergi ke dapur untuk memasak.


Bisma memberitahu Andi untuk memundurkan jadwalnya hari ini. Ia akan menemani Karina.


Pagi ini Karina sarapan seperti kemarin. Bahkan lebih banyak dari kemarin karena perutnya memang terasa sangat lapar. Bi Eni dan Bisma yang melihatnya bahkan sampai heran.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 🤩


__ADS_2