Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps. 9. Kerjaan Bisma


__ADS_3

Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Malam sebelumnya, Karina sudah dijemput oleh Bisma.


Sebelum pulang ke rumah, Bisma mengajak Karina untuk makan malam di warung nasi goreng seperti permintaan wanita hamil itu. Dan Karina, menghabiskan dua piring sekaligus.


Meskipun sudah makan dengan banyak sebelum makan, nyatanya Karina tetap terbangun di tengah malam untuk makan. Perutnya terasa sangat lapar.


Karina memberanikan diri untuk keluar dari kamar dan pergi ke dapur untuk mencari makan. Karina berjalan sambil mengendap-endap. Apalagi semua lampu dimatikan. Jadi hanya ada sorot lampu dari luar rumah yang membantunya berjalan di tengah kegelapan.


“Ah!” pekik Karina keras saat lampu tiba-tiba menyala. Ia terkejut dan mengelus dadanya.


“Karina, apa yang kamu lakukan?” Bisma yang turun untuk mengambil minum terkejut saat melihat ada bayangan yang berjalan di kegelapan. Saat ia menyalakan lampu ia terkejut mendapati orang itu adalah Karina.


“Aku...aku...aku lapar.” Jawabnya canggung.


“Oh...” Bisma hanya ber oh ria. Sebelumnya bi Eni sudah memberi tahu kebiasaan Karina yang bangun di tengah malam untuk makan.


Bisma berjalan melewati Karina dengan santai. Melihat Karina yang hanya mematung melihatnya, Bisma menghentikan langkahnya dan berbalik. “Tunggu apa lagi? Tidak jadi ke dapur?” ucapnya.


“Jadi jadi.” Karina mengangguk cepat dan berjalan mengikuti Bisma.


Bisma menyuruh Karina duduk dan dia yang akan mencarikan makanan untuk Karina. Bisma membuka panci di atas kompor. Ia mengira itu adalah makanan. Ternyata yang ada di panci adalah eseng kepala kambing ekstra pedas kesukaan Nadia. Dan Bisma tidak akan membiarkan Karina makan makanan yang pedas itu.


Kemudian Bisma membuka lemari es. Tapi juga tidak ditemukan lauk di sana.


“Apa tidak ada makanan?” Karina yang sudah tidak sabar segera menyusul ke depan lemari es.


“Tidak ada lauk. Hanya ada kue. Hemm..bagaimana kalau kamu makan kue dulu saja? Aku akan memasak untukmu.” Ucap Bisma.


“Kamu bisa masak?” tanya Karina tidak percaya.


“Sedikit. Aku sering bantu mama saat masih kecil.” Jawab Bisma ragu. “Baiklah. Ini kamu makan dulu. Dan duduklah di sana.” Karina mengangguk dan menurut duduk di meja yang ada di dalam dapur.


Bisma pernah memasak. Tapi itu dulu sekali saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Dan sekarang ia tidak lagi bisa membedakan nama bumbu-bumbu dapur itu. Dia memandang isi lemari es dengan bingung. Ada banyak sayuran di dalam. Tapi dia tidak tahu harus memasak apa.


Saat melihat kubis dan sawi, Bisma jadi ingat tadi saat membeli nasi goreng di warung langganan Karina ia sempat melihat bagaimana laki-laki yang dipanggil mang Darman oleh para pembelinya itu memasak pesanannya.


Akhirnya Bisma memutuskan untuk membuat nasi goreng yang tadi terlihat mudah sekali membuatnya.


Ia pun mengeluarkan sayuran pelengkap dari lemari es. Juga paha ayam dan empat butir telur. Bisma juga mengeluarkan dua buah cabai, tomat, bawang merah dan bawang putih.


Saat semua bahan yang ia butuhkan tersedia di atas meja, ia memulai aksinya. Sebelum memasak ia memakai apron untuk menutupi kaosnya agar tidak terkena kotoran.


Pertama-tama Bisma menuangkan minyak ke dalam penggorengan. Sambil menunggu minyak panas, ia mencuci paha ayam yang besar itu dan juga bumbu-bumbu yang akan ia gunakan.


Bisma agak ragu saat hendak memasukkan paha ayam. Ia takut minyak panas akan mengenainya. Jadi dia menggunakan spatula untuk memasukkan ayam itu ke dalam minyak panas.

__ADS_1


Menunggu ayam matang, Bisma menyiapkan bumbu-bumbu yang diperlukan. Bawang merah dan bawang putih ia kupas bersih. Ia potong kecil sebelum ia letakkan di atas cobek. Setelah selesai dengan bawang, Bisma memasukkan cabai dan segera menumbuknya. Setelah bumbu halus, potongan tomat pun ia masukkan dan ia pukul ringan.


“Balik ayamnya. Jangan biarkan itu gosong!” teriak Karina ketika mendengar suara ayam yang sudah agak reda. Bisa mengikuti instruksinya. Dengan takut ia membalik paha ayam itu.


Setelah bumbu ia siapkan, ia potong sawi dan kubis. Mencucinya bersih.


Bisma agak kesulitan saat mengangkat ayam yang sudah matang karena saat ia hendak mengangkatnya, ayam itu malah menciptakan suara percikan minyak yang semakin keras. Akhirnya dengan susah payah Bisma berhasil mengangkatnya.


“Jangan gunakan penggorengan yang sama saat memasak nasinya. Minyaknya nanti kebanyakan.” Tegur Karina saat melihat Bisma hendak memasukkan bumbu ke dalam penggorengan bekas menggoreng ayam.


“Oh.. baiklah.” Balas Bisma yang kemudian mengambil penggorengan baru untuk memasak.


Bisma pun mulai menumis bumbu, sayuran, telur dan ayam. Setelah aroma harum menguar, ia memasukkan dua piring nasi. Setelah semua masuk, Bisma memasukkan kecap, caos, garam dan gula. Bisma juga sempat mengambil Beberapa toples berisi bumbu-bumbu yang berupa bubuk any diberi label nama pada toplesnya. Tapi karena tidak mengetahui kegunaannya, ia mengabaikan dan mengembalikan nya lagi.


Tak butuh waktu lama hingga nasi goreng matang. Bisma menatanya di atas dua piring dan meletakkan telur mata sapi yang ia masak dengan penuh perjuangan. Tidak tanggungjawab, Bisma sampai menghabiskan empat bela butir telur untuk membuat dua karena hampir semua tidak berhasil ia masak.


Bisma menatap nasi goreng buatannya dengan bangga. Ia tersenyum seolah-olah ia adalah chef terkenal yang baru saja selesai membuat hidangan andalannya. Setelah melepas apron yang terpasang di tubuhnya Bisma segera mengangkat piring dan membawanya pada Karina.


“Tidur?” Bisma melihat Karina melipat kedua tangannya di atas meja sebagai bantal. Dengkuran halus juga terdengar dari bibirnya.


Kue yang ada di atas piring juga hanya tinggal satu potong. Bisma pun memutuskan untuk membiarkan saja Karina tidur karena wanita itu pasti sudah kenyang setelah makan banyak kue.


Dengan santai Bisma mengangkat tubuh Karina dan dibawanya ke dalam kamar untuk dibaringkan.


Bisma merapikan anak rambut Karina yang berantakan setelah Karina terbaring dengan nyaman.


**


Pagi-pagi sekali, Karina sudah bangun seperti biasa dan segera pergi ke kamar mandi. Nadia yang sedang lewat kamar tamu yang ditempati Karina mendengar suara Karina yang sedang muntah segera masuk.


Wanita paruh baya itu membantu Karina memijit tengkuk calon menantunya dengan telaten. Ia juga membantu Karina untuk kembali berbaring di atas ranjangnya.


“Terima kasih ma.” Lirih Karina.


“Sama-sama.” Ucap Nadia tersenyum. “Kamu biasa muntah seperti ini?”


“Iya. Setiap hari aku akan muntah seperti ini.”


Nadia mengangguk paham. “Sudah periksa?”


“Sudah. Kata dokter ini normal. Dokter juga sudah memberi obat untuk menghilangkan mualnya. Tapi sama sekali tidak berpengaruh.” Nadia mengangguk kan kepalanya lagi. Sebagai seorang ibu yang pernah melahirkan tiga orang anak, Nadia tentu paham akan hal itu.


“Baiklah tidak apa-apa. Setelah trisemester pertama biasanya akan hilang. Kamu sebaiknya berbaring saja di sini sampai periasnya nanti datang. Mama akan membawakanmu teh jahe panas dan juga makanan.


Karina mengangguk. “Oh ya lupa!” teriak Karina mengingat sesuatu. Ia segera bangkit dan keluar dari kamar. Ia segera pergi ke dapur dan mengambil nasi goreng yang disiapkan Bisma di atas meja makan. Mengabaikan Nadia yang menatapnya bingung.

__ADS_1


Nadia segera mengikutinya. “Ini apa sayang?” tanya Nadia melihat Karina makan dengan lahapnya.


“Nasi goreng. Semalam aku lapar dan Bisma membuatkan ini untukku. Tapi aku malah ketiduran.” Jawab Karina sambil memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


“Emm... Ini enak sekali. Tidak menyangka Bisma pandai juga memasak.” Ujar Karina kagum. Nadia mengelus kepala Karina sebelum berlalu ke dapur.


“Asaga Dapurku! Jadi kapal pecah!” teriak Nadia keras saat melihat keadaan dapurnya yang super duper berantakan dan kotor.


Minyak berceceran. Potongan sayur bertebaran di lantai, noda caos dan kecap di atas kompor. Piring kotor, mangkuk kotor. Semua ada di atas meja.


“Ada apa nyonya?” bi Ida yang baru masuk ke dapur setelah pulang berbelanja terkejut saat mendengar Nadia berteriak.


“Ada apa ma?” Karina juga ikut bertanya. Ia juga ikut berlari ke dapur sambil membawa piringnya.


“Tidak apa-apa sayang. Kamu makan saja dengan tenang ya. Mama akan membuatkan teh jahe untuk mu.” Nadia buru-buru mencegah Karina masuk dan melihat kekacauan yang dibuat Bisma. Ia takut Karina akan merasa tidak nyaman. Karina pun menurut dan kembali makan dengan tenang.


“Bi Ida, tolong bereskan ini.” Bisik Nadia pelan.


“Nona Karina yang membuat dapur berantakan?”


“Bukan, ini kerjaan Bisma.” Jawab Nadia membuat Bu Ida melongo.


Bi Ida dan Nadia pun mulai membersihkan dapur. saat mereka hampir selesai, Karina yang baru menghabiskan satu piring porsi besar nasi goreng masuk ke dapur untuk mengembalikan piring kotor.


"Sini biar mama saja." Nadia meminta piring dari Karina. Karina menyerahkannya sambil tersenyum.


"Aku tidak menyangka Bisma bisa memasak nasi goreng yang sangat enak." puji Karina dengan tulus. bahkan saat nasi goreng itu sudah dingin saja terasa enak.


"Itu bagus. Sudah tidak mual?" Nadia mengangguk ragu.


Karina menggelengkan kepalanya. "Tidak ma. sudah tidak mual lagi."


"Baguslah. Sekarang kamu kembali ke kamar dulu. istirahat saja sambil menunggu periasnya datang." Karina mengangguk dan segera keluar dari dapur dan kembali ke kamarnya.


Nadia melihat satu piring yang tersisa. Ia mendekatinya dan berniat mencoba. "Seperti apa sih nasi goreng buatan Bisma yang kata Karina enak." gumam Nadia penasaran sambil memasukkan satu suapan ke dalam bibirnya.


"Bagaimana rasanya nyonya?" tanya bi Ida penasaran saat melihat wajah aneh Nadia.


"Rasanya hancur seperti dapur ini. entah berapa ton garam dan berapa kwintal bawang yang dimasukkan anak bodoh itu." Nadia berkata setelah memuntahkan nasi goreng itu dan meminum segelas air putih.


"


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 🤩


__ADS_2