Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_52. Nathan Tahu


__ADS_3

Malam harinya saat waktunya makan malam, Karina keluar kamar dengan canggung. Meskipun sebenarnya tidak terjadi apa-apa setelah Nadia memergoki mereka selain tidur dengan berpelukan, tetapi ia masih merasa sangat canggung dan malu. Ibu mertuanya memergoki mereka saat mereka sedang bercumbu, ini benar-benar hal yang memalukan yang pernah terjadi. Apalagi dengan Bisma yang berjalan di sampingnya dengan bangga. Karina mendengus melihat wajah Bisma yang tanpa dosa itu.


Mendengar Karina mendengus kesal, Bisma semakin gemas dan menoel pipi Karina. "Jangan marah-marah terus."


"Bisakah mas punya sedikit rasa malu?" Karina melirik Bisma curiga.


"Kenapa aku harus malu?"


"Ih. Tidak ada gunanya bicara dengan mas. Mas tidak akan mengerti." Karina menghempaskan tangan Bisma yang menggenggam tangannya lalu menuruni tangga dengan sedikit lebih cepat.


"Sayang jangan cepat-cepat. Nanti bisa jatuh." Mendengar peringatan Bisma, Karina akhirnya turun dengan perlahan. Bisma segera mengejarnya dan berjalan di sampingnya lagi.


"Sayang, tidak ada yang perlu dipikirkan. Kamu tidak perlu malu pada mama tentang kejadian tadi. Mama pasti mengerti." Bisma berusaha membujuk. "Atau kamu bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan mama juga tidak melihat apa-apa." Lanjut Bisma.


"Mana mungkin bisa seperti itu mas?"


"Bisa. Mama juga akan berbuat hal yang sama. Jadi kamu tenang saja." Karina menghela napas.


Bisma dan Karina tidak berbicara lagi. Mereka sudah hampir sampai di ruang makan. Nadia, Nathan, dan Dini sudah ada di sana.


"Aku pikir mama bohong jika kak Karina menginap di sini." Dini dengan semangat menghampiri Karina. Karian hanya tersenyum pada Dini.


"Jangan ganggu kakakmu Dini. Hari ini mereka baru saja pulang. Pasti lelah. Biarkan mereka makan." Nathan mengisyaratkan pada Nadia untuk mengambilkannya makanan.


"Iya pa. Habisnya kak Karina jarang main ke sini. Setelah menikah juga langsung dibawa pergi sama Kak Bisma." Dini bersungut-sungut. Tapi ia tidak bisa protes lebih banyak. Jadi dia dengan patuh duduk di kursinya. Karina dan Bisma juga sudah duduk.


"Sudah-sudah. Jangan bicara terus. Ayo makan. Bisma, ambilkan makanan Karina. Dia sedang hamil, jadi kamu harus melayaninya dengan baik."


"Tidak perlu ma. Karina bisa mengambil sendiri." Karina mengambil piring Bisma dan mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Jadi apa? Dia hanya hamil dan bukan sakit. Dia masih bisa memgambil makanan untuknya dan untuk suaminya. Nadia memandang Karina dengan senang. Ia lega akhirnya Bisma mempunyai istri seperti Karina.


"Bisma beruntung memiliki istri seperti kamu Karina. Ini pasti berkat Doa dari Dian." Nadia memandang Karina dengan haru. Karina juga mengetahui siapa Dian itu. Dan bagaimana hubungan Bisma dengan Nadia dan keluarga ini. Ia merasa jika Bisma memang sangat beruntung. Tapi bukan karena menikah dengannya, tetapi karena mendapatkan keluarga yang baik dan membuatnya juga beruntung.


"Bisma, temui papa di ruang kerja setelah makan." Ucap Nathan tiba-tiba. Nathan mengelap bibirnya dengan tisu. Ia sudah selesai makan dan meninggalkan meja makan dengan cepat.


"Ada apa pa?" Nadia segera bertanya. Ia melihat jika wajah Nathan muram.


"Tidak apa-apa ma. Mama selesaikan makan malamnya dengan tenang. Bisma, papa tunggu." Nathan menoleh dan berbicara pada Bisma lagi.


"Iya pa." Bisma juga segera minum dan mengelap bibirnya dengan tisu. "Aku menemui papa dulu. Kamu di sini saja." Bisma memegang lengan Karina yang menatapnya khawatir.


"Iya."


"Kak Bisma tenang saja. Aku akan menjaga Kak Karina." Dini menatap Karina berbinar. Bisma tersenyum dan pergi dengan tenang.


"Jangan khawatir. Pasti ada sesuatu mengenai pekerjaan. Kamu tidak perlu memikirkannya." Nadia juga menenangkan Karina melihat wajah cemas Karina. Ia menduga mungkin menantunya itu takut terjadi masalah yang besar.

__ADS_1


Bisma langsung duduk di depan Nathan saat masuk ke ruang kerja. "Ada apa pa?" Tanya Bisma langsung.


"Ada apa selama di Lombok?" Nathan menatap Bisma dengan tegas.


"Karina diculik pa." Bisma tidak menyembunyikannya dari Nathan. Meskipun jika Nathan tidak memyinggungnya, ia memang berniat memberi tahu hal sebesar itu pada Nathan. "Bisma tidak ingin mama cemas jika mendengar hal ini, jadi aku menyembunyikannya dari papa dan mama." Lanjutnya.


"Tidak apa-apa jika menyembunyikannya dari mamamu. Tapi jangan menyembunyikan hal seperti ini dari papa. Masih baik Karina bisa diselamatkan dengan baik-baik saja. Jika sampai terjadi hal yang buruk,  kamu tidak akan bisa membayangkan konseskuensinya."


"Maafkan Bisma pa. Bisma pikir Bisma bisa menyelesaikanya."


"Huh! Jangan pernah diulangi lagi. Kita tidak boleh mengambil resiko sekecil apapun."


"Maafkan keteledoran Bisma."


"Sekarang ini Gerry sedang belajar. Jangan biarkan dia tahu kelemahan kita. Kita harus membuat Gerry menjadi sosok yang pantas untuk menduduki kursinya nanti."


"Bisma mengerti pa."


"Baiklah. Bagaimana perkembangan Gerry selama ini?"


"Anak itu sudah mulai berubah. Meskipun sifat aslinya sangat sulit dihilangkan, tetapi ia sudah mulai memikirkan tanggung jawabnya."


"Bagus. Jangan kendor. Tekan Gerry."


"Baik pa."


"Selama ini tidak ada masalah yang berarti."


"Bagus. Kamu memang putra kebanggaan papa. Jika Mahardika Grup ada di tanganmu papa tidak akan khawatir seperti sekarang ini. Kamu tahu sendiri Gerry seperti apa." Nathan menghela napas. Ia tidak menganggap Bisma orang lain. Sejak awal, Bisma adalah putra kebanggaannya tidak peduli darahnya tidak mengalir di sana.


"Papa tidak perlu cemas. Bisma yakin Gerry juga akan belajar dengan cepat."


"Huh... papa sebenarnya ragu pada anak itu. Tetapi karena dia ada di tanganmu saja papa bisa yakin."


"Gerry sebenarnya sangat pitensial. Hanya kurang pengalaman."


"Yah. Pengalaman bisnisnya memang tidak banyak. Tetapi pengalaman tentang wanita dialah ahlinya."


"Dia masih terlalu muda untuk begitu serius pa."


"Muda apanya? Dulu kamu seusianya bahkan sudah menjadi manager dengan kemampuanmu sendiri. Dan kamu tidak pernah mengecewakan papa."


"Gerrry hanya belum mengerti pa."


"Sudahlah. Jangan tutupi kesalahannya. Jika dia tahu akan besar kepala dia."

__ADS_1


"Maaf pa."


"Ya sudah. Keluarlah sekarang." Nathan meminit pelipisnya. Ia benar-benar tidak habis pikir mengapa Gerry bisa jauh berbeda dengan Bisma. Bisma sejak kecil sudah bertanggung jawab atas dirinya sendiri bahkan pada saudaranya juga. Tapi Gerry bahkan tidak pernah bertanggung jawab pada dirinya sendiri.


Bisma sedikit terkejut saat melihat Nadia berdiri di luar ruang kerja Nathan. Di tangannya, kopi di atas nampan masih mengepul. Itu artinya mamanya baru sampai dan tidak mendengar pembicaraan mereka tadi. Bisma menghela napas lega.


"Papa bicara apa padamu Bis?" Tanya Bisma.


"Sayang, kalau sudah ada di sana cepatlah masuk. Tolong carikan file untukku." Suara Nathan terdengar dari dalam. Nadia menatap Bisma yang segera tersenyum dan meninggalkan Nadia yang mendengus kesal sebelum masuk ke dalam ruang kerja Nathan.


Bisma langsung mendengar suara Dini yang sedang tertawa terbahak-bahak ketika ia baru saja menginjakkan kakinya di lantai satu rumahnya. Ia melihat adiknya itu bersama dengan Karina di ruang televisi. Bisma segera menghampiri mereka.


"Ada apa?" Tanyanya pada Karina yang tersenyum senang.


"Kak, anakmu sangat lucu." Bukan Karina yang menjawab, tetapi Dini.


"Dia masih di dalam perut. Lucu dari mana?" Bisma mengernyitkan alisnya.


Dini meletakkan tangannya di perut Karina dan bertanya, "Keponakan gemoinya tante Dini yang cantik, bergerak jika ia dan diam jika tidak ya. Tante cantik tanya, apakah mama cantik?" Dini segera tertawa senang saat merasakan bayi di perut Karina bergerak. "Tuh kak! Dia bergerak. Tapi kalau aku tanya apa papanya ganteng, dia diam saja." Jelas Dini.


"Bohong."


"Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Kak Karina." Dini melirik Bisma mengejek.


Bisma duduk di samping Karina dan meletakkan tanganya di perut Karina dan bertanya apa kah dia ganteng. Dan ternyata bayi iu memang diam. Dini yang juga ikt menempelkan tanganya tahu reaksi diamnya keponakannya segera tertawa mengejek Bisma. Karina juga tertawa


"Sekarang biarkan aku yang tanya kak." Dini segera tersenyum. "Keponakan gemoy, apa papa galak?" Tanyanya kemudian. Tak lama berselang Dini kembali tertawa. Bayi di perut Karina bergerak merespon. Bisma cemberut menyadarinya.


"Tuh kak. Anakmu yang masih di dalam perut saja sudah tahu kalau papanya galak." Ejek Dini.


"Biarkan aku beri tahu dia bagaimana yang namanya galaknya papanya." Bisma langsung menggendong Karina dan membawanya pergi.


"Mas turunin aku." Teriak Karina. Ia takut jatuh. Bisma membawanya naik tangga.


"Tidak. Malam ini biar dia tahu bagaimana galaknya papanya." Ucap Bisma tidak mau kalah.


"Dini hanya bercanda mas."


Sedangkan Dini memandang mereka sambil tertawa terpingkal-pingkal.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😊


Maaf kemarin tidak up. Ada acara keluarga, jadinya sibuk bantu2 ☺


__ADS_2