
Bima dan anak buahnya sudah sampai di bandara. Namun mereka tidak langsung bergerak. Tapi mereka masih berada di dalam mobil untuk meretas jaringan CCTV di sekitar bandara. Hanya Bima dan beberapa anak buahnya yang masuk ke dalam bandara. Mereka segera menyebar untuk menemukan pelaku yang bahkan mereka sendiri tidak tahu. Mereka mencari orang-orang yang mencurigakan.
Karena kasus penculikan ini tidak dilaporkan dan penculik itu dilaporkan atas kasus perampokan, Bima tidak mengantongi izin untuk mendapaykan data penumpang pesawat. Jadi merkea hanya bisa mendapatkannya dengan cara meretas data.
"Bos, kami menemukan ponsel ini di dalam tempat sampah." Seorang anak buahnya melapor sambil menyerahkan sebuah ponsel kepadanya. Bima menerimanya dan menyalakan ponsel tersebut.
Pesan singkat dan juga riwayat panggilan tidak dihapus. Tetapi Bima tidak menemukan apapun dari sana. Sebab, nomor yang dipakai hanya digunakan untuk menghubungi satu nomor saja yang merupakan nomor penculik itu.
"Cari tahu siapa yang membuangnya." Bima melirik anak buahnya yang masih berdiri di depannya.
"Sudah bos. Tapi kami tidak dapat menemukannya. Tidak ada yang mencurigakan."
"Tidak berguna." Bima melemparkan ponsel itu pada anak buahnya yang langsung menangkapnya. Bima sendiri langsung mengeluarkan ponselnya dan meminta anak buahnya yang menunggu di mobil untuk mengiriminya rekaman CCTV di bagian tempat sampah tempat ditemukannya ponsel itu.
Bima memperhatikan dengan teliti rekaman tersebut. Matanya menatapnya dengan tajam agar tidak ada yang lolos dari pantauannya. Setiap orang yang membuang sesuatu ke tempat sampah itu tidak ia lepaskan dari pengawasannya. Bahkan anak kecilpun ia curigai. Hingga matanya melihat seorang pria tua berjalan dengan santai membuang koran yang dilipat rapi. Namun anehnya, ia tidak langsung membuangnya begitu saja. Melainkan ia membalik terlebih dulu koran itu seperti menjatuhkan sesuatu dari balik koran itu. Setelah membuang koran di tangannya, pria itu bergegas pergi.
"Ketemu." Bima berucap mengejutkan anak buahnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia keluar dari bandara menuju mobilnya.
"Perpesar tampilan orang ini." Bima menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan gambar laki-laki tua yang berjalan mendekati tempat sampah dengan koran digantung di tangannya pada pria di kursi belakang mobilnya.
Seorang pria di dalam mobil segera melakukan apa yang Bima perintahkan. "Sudah bos."
"Cari tahu siapa dia." Perintah Bima lagi.
Tangan pria itu kembali menari di atas layar keyboard. "Namanya Norman Rahardian. Enam puluh lima tahun. Tinggal di jln X kota Y. Pemilik dari RH Perkasa."
"Aku tahu siapa dia. Cari tahu dimana dia sekarang?"
"Maaf Bos. Dia sudah naik pesawat lima belas menit yang lalu."
"Apa kamu bisa menghentikan pesawatnya? Paling tidah tunda keberangkatannya. Aku akan meminta izin untuk mencarinya."
__ADS_1
"Maaf bos. Pesawat sudah hampir mengudara. Tidak mungkin dihentikan atau akan membahayakan."
"Sial kita terlambat lagi! Kita kembali ke rumah sakit." Tidak ada yang berani mengeluarkan suara Bima. Mereka hanya patuh dan mengemudikan mobil kembali ke rumah sakit tempat Karina dirawat.
Dibandingkan keadaan di Lombok yang menegangkan, di ibukota jauh lebih hangat dimana Nadia sekarang hampir setiap hari pergi ke rumah Nara untuk melihat cucu pertamanya.
Meskipun bayi Sakka masih belum bisa apa-apa selain menangis untuk setiap hal, namun kedua neneknya selalu saja berada di sisinya untuk memperdebatkan setiap hal mengenai cucu pertama mereka ini.
"Kakakmu belum mengabari kapan akan pulang Nara? Bukankah seharusnya hari ini mereka sudah sampai?" Tanya Nadia saat ia melihat Karina yang baru saja duduk setelah menidurkan Sakka yang baru saja membuat kedua neneknya kalang kabut karena menangis sejak tadi dan tidak mau berhenti. Bayi itu mengantuk, tetapi tidak bisa tidur.
"Belum ma." Nara mengernyitkan alisnya. "Tadi pagi Kak Bisma bilang mereka sedang siap-siap akan pulang. Tapi belum ada kabar sampai sekarang." Nara ikutan mulai cemas.
"Coba mama hubungi kakakmu saja. Barangkali lupa menelpon saat sudah sampai."
"Bisma dan Karina kemana lagi jeng?" Serena yang dari tadi hanya mendengarkan ikut bertanya.
"Mereka pergi ke Lombok. Teman dekat Fania menikah. Katanya cuma tiga hari di sana. Tapi sampai sekarang belum ada kabar."
"Benarkah? Coba dihubungi saja jeng. Karina kan sedang hamil. Jangan sampai terjadi sesuatu pada mereka. Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk lagi di keluarga kita ya jeng."
"Ya Allah Nara. Bisa-bisanya lupa. Tapi kenapa tidak menghubungi mama langsung? Kenapa malah menghubungi Alex?" Tanya Nadia curiga.
"Soalnya kakak minta tolong Alex untuk menggantikannya meeting dengan kolega dari Belanda." Jawab Nara.
"Oh begitu. Ya sudah mama telepon Bisma dulu. Mama jadi khawatir mereka disana." Nadia mengangguk. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menghubungi Bisma.
Bisma terperanjat saat mendengar suara ponselnya berdering. Ia melihat layar ponselnya yang menunjukkan mamanya menelepon. Ia segera berdiri dan keluar dari ruang rawat Karina. Setelah mendapatkan perawatan di UGD, Karina sudah dipindahkan ke ruang rawat. Secara fisik Karina tidak menderita luka sedikitpun, tapi kondisi Karina masih harus dipantau lagi.
Bima mendongak begitu melihat Bisma keluar dari ruangan dengan ponsel menempel di telinganya. Ia akhirnya tidak jadi menyapa.
"Iya ma. Semua baik-baik saja. Karina hanya kelelahan saja. Jadi kalau Karina sudah enakan besok baru bisa pulang." Ucap Bisma yang berusaha tenang. Ia melirik Bima yang menghela napasnya.
__ADS_1
"Karina sedang istirahat ma." Ucap Bisma lagi.
"Iya ma. Kalau dia bangun nanti aku akan menghubungi mama."
"Oke ma. Assalaamu'alaikum"
Tit... Bisma menghela napasnya panjang setelah ia menutup teleponnya.
"Tante Nadia ya?" Tanya Bima saat Bisma duduk di sampingnya.
"Iya. Aku sampai lupa menghubungi mama. Jadi mama cemas karena sampai sekarang kami belum kembali." Bisma mendesah pelan.
"Bagaimana kondisi Karina?"
"Dokter bilang semua baik-baik saja. Hanya menungg Karina sadar mengalami trauma apa tidak. Kalau tidak Karina sudah bisa pulang besok pagi."
"Baguslah kalau begitu."
"Ya. Bagaimana dengan pelakunya?"
"Identitasnya sudah diketahui. Tetapi dia sudah melarikan diri. Kamu tenang saja. Aku akan urus semuanya. Kamu lebih baik ke dalam dulu. Jangan sampai waktu Karina bangun kamu tidak ada di sana." Bima menepuk bahu Bisma.
"Baiklah." Bisna berdiri. "Terima kasih." Lanjutnya tulus sambil memandang Bima.
"Tidak masalah. "
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😊
padahal udah akoh up dr kemarin lho! tp kq belum selesai review juga ya😦