Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_12. Ingin Ditemani Suami


__ADS_3

Akibat acara ngidam tengah malamnya Karina, Bisma baru bisa kembali tidur hampir menjelang subuh. Pria itu begitu saja menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang tamu begitu ia kembali. Karina juga langsung masuk ke dalam kamar dan tidur tidak lama setelah ia masuk.


Pagi hari, seperti biasa Bi Eni datang saat jam lima pagi. Ia langsung masuk karena ia juga sudah mengetahui password apartemen itu. Saat wanita paruh baya itu masuk, ia sempat terkejut saat melihat Bisma yang tertidur di ruang tamu.


"Bukankah mereka baru menikah kemarin, kenapa tuan malah tidur di luar? Ah sudahlah. Aku seharusnya tidak perlu ikut campur." gumam Bi Eni. iapun segera berlalu ke dapur.


Huek..


Huek..


Bi Eni yang mendengar Karina sedang muntah di dalam kamar segera masuk dan membantu Karina memijit belakang lehernya. Jika ia tidak melihat Bisma ada di luar, ia tidak akan berani masuk kamar begitu saja.


"Terima kasih bi." ucap Karina setelah bi Eni membantunya kembali berbaring di atas ranjang.


"Sama-sama. Bibi kembali ke dapur dulu. Nak Karina istirahat saja sebentar."


"Iya bi. Terima kasih."


Bi Eni tersenyum dan segera keluar. Kembali ke dapur untuk membuatkan teh jahe hangat untuk Karina.


Bisma bangun saat bi Eni baru keluar dari kamar untuk mengantarkan teh jahe. Ia segera menghampiri bi Eni.


"Karina sudah bangun bi?"


"Sudah tuan. Saya baru saja mengantarkan teh jahe untuk nak Karina." Bisma mengangguk dan masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya mengetuk pintu dan diizinkan masuk oleh istrinya.


"Sudah sholat?" tanya Bisma saat melihat Karina yang masih duduk di atas ranjang dengan selimut yang menutup setengah tubuhnya.


"Belum."


"Mau sholat bareng?" tanya Bisma.


"Ya." Karina mengangguk setuju. Ia pun segera turun dan memakai mukenanya. Sedangkan Bisma juga masuk ke dalam kamar mandi.


Karina menjadi makmum Bisma untuk pertama kalinya. Ia tidak menyangka ternyata suami yang dinikahinya ternyata taat beribadah. Terlihat dari bacaan Bisma saat menjadi imamnya. Fasih dan lancar.


Setelah selesai sholat, Bisma menengadahkan tangannya untuk berdo'a. Karina yang ada di belakangnya mengaminkan do'a yang diucapkan dengan bahasa indonesia. Hatinya menghangat mendengar setiap do'a yang dipanjatkan Bisma. Do'a untuk keluarga dan yang paling membuat Karina bahagia adalah Bisma juga tidak lupa mendo'akan dirinya dan anak mereka yang masih berada di dalam kandungan.

__ADS_1


Bisma menoleh dan memberikan tangannya untuk dicium Karina. Karina segera meraih dan menciumnya dengan takdzim. Bisma juga memberikan kecupannya di kening Karina. Membuat pipi wanita itu memerah karena malu.


"Bis, hari ini aku mau ke dokter untuk periksa kandungan." ucap Karina sebelum Bisma beranjak.


"Jam berapa? Aku akan menjemputmu dan mengantarmu nanti."


"Tidak perlu. Aku bisa pergi dengan bi Eni saja. Bukankah kamu ada banyak pekerjaan di kantor?"


"Tidak masalah. Nanti aku akan meminta Andi untuk menyesuaikan jadwalku agar aku bisa menemanimu."


"Baiklah kalau begitu. Aku sudah membuat janji temu jam sepuluh pagi."


"Oke. Nanti aku akan pulang sebelum itu." Bisma segera berdiri dan meninggalkan Karina. Ia harus segera bersiap untuk berangkat ke kantor.


**


"Apa jadwalnya tidak bisa dirubah?" tanya Bisma geram. Di jam yang sama dengan jadwal Karina, dirinya ada meeting penting dengan klien dari luar kota untuk perusahaan yang baru dibangunnya untuk pengajuan investasi. Dan jika meeting ini tidak jadi, belum tentu dalam waktu dekat bisa membuat janji meeting dengan klien ini.


Bisa saja Bisma meminta Nathan untuk menjadi investornya. Nathan juga sudah mengajukan diri. Tapi Bisma ingin mandiri sejak awal bisnisnya. Ia tidak mau bantuan dari orang lain yang bukan karena kemampuannya.


Bisma memutar bolpoinnya di udara sambil berpikir dan menimbang. "Huh baiklah. Kali ini saja. Lain kali aku akan meminta Karina untuk memberitahuku jadwalnya ke dokter sebelumnya." Gumam Bisma dalam hati.


"Ya sudah tidak apa-apa. Tapi ingat untuk mengirimkan mobil dan sopir ke apartemen untuk menjemput Karina jam sembilan. Pastikan untuk mengantarnya ke dokter dengan selamat." putus Bisma akhirnya.


"Baik tuan. Saya permisi." Andi membungkuk dan keluar dai ruangan. ia segera malaksanakan perintah dari Bisma.


Bisma juga segera menghubungi Karina untuk meminta maaf karena tidak bisa mengantarnya. Ia juga mengatakan bahwa nanti akan mengantarnya ke rumah sakit.


"Iya tidak apa-apa. Kan aku sudah bilang tadi aku bisa pergi bersama Bi Eni." balas Karina dengan nada sendu. Tidak dapat dipungkiri jika ia juga merasa kecewa. Meskipun ia awalnya tidak berharap untuk bisa pergi bersama Bisma, tapi setelah mendengar perkataan Bisma pagi tadi ia juga memiliki harapan agar Bisma bisa menemaninya.


"Sekali lagi maafkan aku ya. Lain kali aku janji aku akan mengantarmu pergi. Tapi tolong beritahu beberapa hari sebelum jadwalnya agar Andi bisa mengatur jadwalnya nanti."


"Mm. Baiklah."


"Hati-hati di jalan. Jangan berjalan terlalu cepat." Bisma memberi Karina pesan. Ia ingat jalan istrinya itu terkadang sangat cepat.


"Iya aku tahu." Karina mengangguk meskipun Bisma tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


"Jangan lupa untuk meminta jadwalnya sekalian untuk bulan depan. Dan pastikan segera mengirimnya padaku juga."


"Iya."


"Dengarkan nasihat dokter. Minta vitamin untuk menjaga daya tahan tubuhmu. Ingat itu jangan sampai lupa."


"Iya, aku akan ingat itu. Kamu cerewet sekali." Karina berdecak kesal.


"Baiklah. Aku tutup teleponnya."


"Mm." lagi-lagi Karina mengangguk. Dan setelah itu terdengar suara sambungan yang putus.


"Apa tuan tidak jadi mengantar nak Karina?" bi Eni yang sedang mengepel lantai di ruang televisi tempat Karina duduk langsung bertanya.


Awalnya Karina memberitahunya dengan bahagia jika Bisma akan mengantarnya ke dokter. Tapi syelah menerima telepon wajah cerianya benar-benar menghilang.


"Iya. Bisma ada pekerjaan penting yang tidak bisa ia tinggalkan. Jadi nanti bibi saja yang menemaniku ya?" Jawab Karina dengan sendu. Sejak hamil perasaanya selalu saja sensitif. Ia akan dengan mudah sedih dengan hal yang sangat sepele.


"Iya nak. Tuan Bisma pasti bisa menemani nak Karina lain kali." hibur bi Eni. Ia sedikit mengerti perasaan Karina. Saat seorang ibu hamil pergi unuk memeriksakan kandungannya, tentu saja orang yang paling diharapkan ada di sisinya adalah suaminya.


"Iya bi. Meskipun aku ingin ditemani suami saat periksa kandungan, tapi bagaimana lagi jika memang Bisma tidak bisa. Ini juga bukan salah Bisma sepenuhnya. Aku yang tidak memberitahu sebelumnya."


"Baiklah. Jangan bersedih lagi. Nanti dedeknya juga ikut sedih jika mamanya sedih. Sekarang sudah hampir jam sembilan. Lebih baik nak Karina bersiap. Bibi juga sebentar lagi akan selesai dan segera bersiap juga."


"Bibi benar. Ya sudah aku ke kamar dulu Bi." Karina mengangguk dan turun dari sofa. Ia berjalan dengan hati-hati karena lantai yang masih setengah basah meskipun bi Eni langsung memberikan lap agar lantai cepat kering.


Biasanya, Bi Eni akan mengepel terlebih dahulu sebelum masak karena Karina memang terbiasa sarapan agak siang. Jadi saat Karina keluar dari kamar, lantai sudah bersih dan kering. Jadi tidak membahayakan calon ibu muda yang menjadi majikannya itu. Tapi karena ada Bism mulai hari ini, Bi Eni akhirnya mengubah urutan pekerjaannya.


Yang lebih mengejutkan, Karina juga sarapan dengan santainya tanpa ada keluhan mual atau semacamnya seperti sebelumnya jika wanita itu sarapan di pagi hari.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😊

__ADS_1


__ADS_2