
Seperti yang dikatakan Alex pada Bisma. Saat ini Nara sudah selesai setelah berkonsultasi pada dokter Kania mengenai kondisinya dan Karina untuk memastikan bahwa mereka bisa melakukan perjalanan jarak pendek. Nara menarik Karina begitu saja hingga Bi Eni yang sedang masak tidak bisa mengikuti Karina seperti pesan Bisma untuk selalu menemani Karina. Karina bahkan tidak sempat mengabari Bisma. Nara mengikutinya samlai di dalam kamar hingga Karina mengga ti bajunya di dalam kamar mandi.
Sesuai yang diharapkan, Karina dan Nara dalam kondisi yang fit dan bisa bepergian menggunakan pesawat. Nara sangat bahagia mendengarnya.
Setelah selesai dari dokter, Nara mengajak Karina pergi ke mall untuk membeli beberapa perlengkapan liburan. Tentu saja yang dipersiapkan Nara adalah untuk penampilan. Sepertu baju, sandal, tas dan aksesoris pendukung lainnya. Melihat banyaknya barang yang dibeli Nara, Karina bahkan berpikir jika mereka tida pergi liburan melainkan untuk fasion show.
"Kamu tahu kan Kar jika perutku ini semakin besar setiap harinya. Jadi harus membeli baju yang sesuai untuk liburan karena baju-baju lamaku tidak muat lagi." Kata Nara setiap kali Karina mengingatkan untuk tidak membeli baju lagi. Nara sudah membeli beberapa. Bahkan untuk dirinya juga yang baju lamanya masih muat untuknya.
"Tapi ini sudah banyak Nara. Sudah ada sepuluh baju. Memangnya kita akan kemana? Berapa hari?"
Ya. Karina bahkan belum mengetahui sedikitpun informasi tentang hal ini. Yang Nara katakan sejak awal mereka bertemu adalah hanya mereka akan pergi liburan. Mengenai kemana dan berapa hari bahkan Nara tidak memberitahunya.
"Oh aku sampai lupa!" Nara menepuk dahinya. Ia sampai melupakan hal penting ini. Ia terlalu bersemangat unuk pergi liburan kali ini.
Ketika melihat iklan saat ia sedang menonton drakor yang beberapa bulan menjadi temannya. Entah dari mana keinginan Nara muncul untuk pergi ke tempat itu. Nara pun langsung membuka aplikasi dan bertanya-tanya dengan pihak pengelola.
Tentu saja sebagai pihak pengelola yang menyediakan jasa lubiran bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mempromosikan programnya. Akhirnya Nara pun semakin tertarik. Apalagi Nara berpikir jika ia sebentar lagi akan melahirkan. Dan pastinya akan semakin banyak yang perlu diperhatikan jika liburan setelah ia melahirkan. Atau mungkin ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk pergi liburan untuk beberapa bulan bahkan beberapa tahun ke depan.
Saat Nara memikirkan dirinya sendiri, ia lun teringat Karina yang juga sedang hamil. Jadi ia memutuskan untuk mengajak Karina ikut serta.
Alex yang mendengar keinginan dan penjelasan Nara tentu saja tidak bisa mengabaikan keinginan istri tercintanya. Ia akan mendukung keinginan Nara asalkan tidak membahayakan dan berdampak buruk.
"Kita akan liburan ke Lombok. Bukankah kamu berasal dari sana?" Tanya Nara sambil mengingat hal penting lainnya. Ia sampai lupa jika Karina berasal dari Lombok.
"Benarkah kita akan ke sana?" Tanya Karina penuh harap. Ia sudah lama meninggalkan kampung halamannya. Ia sudah sangat merindukan temannya. Ia juga sangat ingin mengunjungi makan neneknya.
"Benar. Kita akan di sana selama satu minggu." Jawab Nara semangat.
"Kapan kita berangkat? Apa Bisma sudah setuju?" Tanya Karima sedikit kehilangan semangatnya. Ia ingat bahwa ia belum meminta izin pada suaminya.
"Tenang saja. Aku nanti yang akan mengajakmu. Kakakku itu tidak mungkin menolak keinginannku. Apalagi ada Alex yang akan membantuku meyakinkannya nanti. Kamu tenang saja." Nara menepuk bahu Karina. Ia sekarang tahu perasaan Karina yang sangat berharap pergi ke sana. Ini semakin memberinya semangat untuk pergi liburan.
Nara mengantar Karina pulang setelah merasa semua yang diperlukan sudah cukup. Bi Eni turun untuk membantu membawakan barang-barang Karina. Sampai di apartemen Karin segera tidur karena ia audah lelah.
Setelah bangun, Karina duduk di pinggir kolam renang sambil memasukkan kakinya ke dalam air. Ia sebenarnya ingin masuk ke dalam air dan berenang. Tapi ia takut tenggelam karena tidak bisa berenang.
Sore itu Bisma pulang cepat. Ia ingin segera menemui Karina yang baru saja melakukan pemeriksaan tanpa dirinya. Bisma ingin mengetahui perkembangan keadaan Karina dan bayi mereka.
Selama di kantor Bisma tidak bisa fokus karena memikirkan Karina. Tetapi karena banyaknya pekerjaan membuatnya tidak bisa bertukar kabar dengan Karina meskipun hanya lewat telepon.
"Karina dimana Bi?" Tanya Bisma saat tidak menemukan Karina di ruang televisi seperti biasanya.
"Nak Karina ada di kolam renang tuan." Jawab Bu Eni.
Bisma mengernyitkan alisnya mendengar jawaban Bi Eni. Mereka sudah cukup lama tinggal bersama. Dan sebelumnya ia tidak pernah melihat Karina berada di kolam renang. "Apa ia sedang berenang?" Tanya Bisma.
__ADS_1
"Tidak tuan. Kata nak Karina ia tidak bisa berenang. Jadi hanya ingin bermain air sebentar." Bi Eni menjelaskan. Ia juga beberapa kali melihat Karina untuk memastikan tidak terjadi sesuatu pada Karina mengingat wanita itu tidak bisa berenang.
"Oh begitu. Ya sudah, bibi teruskan pekerjaan bibi. Saya akan ke kamar kemudian menyusul Karina." Ucap Bisma sebelum berlalu meninggalkan Bi Eni yang sedang bersiap-siap untuk masak.
Bisma melihat ke kolam renang sebelum pergi ke kamar untuk meletakkan tas kerjanya dan berganti baju. Setelah mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek, Bisma menyusul Karina.
Saat Bisma sampai di kolam renang, ia mendapati Karina hanya duduk di tepi kolam sambil memasukkan kedua kakinya ke dalam air. Seperti yang dikatakan bi Eni. Bisma pun duduk di sampingnya. Mengabaikan celana dan kaosnya yang ikut basah terkena air.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Karina terkejut saat tiba-tiba saja mendapati Bisma duduk di sampingnya. Tadi ia melamun sehingga tidak menyadari kedatangan Bisma.
"Sudah. Melamunkan apa sampai tidak sadar aku datang?" Bisma menatap lekat wajah Karina.
"Tidak apa-apa. Hanya melihat langit di air." Jawab Karina. Ia berbohong. Siapa yang tidak punya kerjaan untuk melihat langit di dalam air? Ia sebenarnya tengah memikirkan liburan mereka nantinya. Ia berpikir apakah ia bisa menemui Fania? Terlebih lagi apa ia bisa mengunjungi makam neneknya?
"Apa kamu ingin berenang?" Tanya Bisma pada akhirnya. Mengabaikan jawaban Karina yang ia tahu bahwa ia berbohong.
"Ingin. Tapi tidak bisa." Jawab Karina lesu. Awalnya ia memang ingin berenang. Tapi semakin lama ia jadi memikirkan kampung halamannya.
"Aku akan mengajarimu." Ucap Bisma serius.
"Tidak perlu. Aku takut tenggelam." Karina sebenarnya ingin. Tapi ia juga takut. Selama hidupnya ia tidak pernah berenang. Bahkan masuk ke dalam kolam sekalipun.
"Tenang saja. Aku akan menemanimu. Aku janji kamu tidak akan tenggelam."
"Bukankah kamu ingin berenang?" Karina mengangguk pelan. Sejak awal ia datang ke apartemen ini, tempat yang paling ia sukai adalah kolam renang. Taman di sekitar kolam indah. Selain itu ia juga ingin merasakan berenang seperti orang lain. Tapi mengingat ia tidak bisa berenang, ia hanya bisa menatap kolam dari jendela kamarnya.
"Gantilah pakaianmu dulu. Nanti aku ajari." Karina dengan ragu meninggalkan Bisma dan pergi ke mamar untuk berganti baju karena saat ini ia memakai gaun rumahan.
Karina mengganti bajunya dengan kaos dan celana yang biasa ia gunakan untuk tidur.
"Ayo!" Ajak Bisma saat melihat Karina sudah kembali. Ia sudah masukkan dirinya ke dalam kolam. Kolam itu tidak begitu dalam. Hanya sampai pinggang di bagian pinggir kolam. Tangan Bisma diulurkan untuk membantu Karina masuk ke dalam kolam.
Karina sedikit ragu pada awalnya. Namun saat melihat wajah meyakinkan Bisma, ia pun meraih tangan Bisma untuk membantunya turun ke dalam kolam.
Saat menyadari tubuhnya telah masuk ke dalam air, Karina menyusut ke arah Bisma. Memeluk Bisma dengan erat. Mengikis jarak antara mereka.
"Hei kalau kamu memelukku dengan erat seperti ini kita tidak akan bisa bergerak." Kata Bisma. Tapi tanganya juga meli hkar erat di pinggang Karina yang sudah mulai melebar.
"Maaf. Tapi aku takut." Karina merenggangkan tanganya. Menatap Bisma dengan rasa takut.
"Tidak apa-apa. Kamu lihat kolam ini tidak dalam." Karina memperhatikan sekitarnya. Mrmang benar. Kolam ini dangkal. "Satu meter dari tepi kolam hanya sedalam satu meter saja. Setelah itu dalamnya bertahap hingga sampai dua meter sampai di tengah Jadi sejauh ini masih aman." Jelas Bisma. Karina menganggukkan kepalanya. Perlahan ia melepaskan pelukannya. Tetapi ia masih memegang erat tangan Bisma. Bagaimanalun ia masih takut.
"Tenanglahm aku akan memegangmu erat." Bisma merubah posisinya menjadi di samping Karina. Melingkarkan tangan kirinya di pinggang istrinya. Sedangkan tangan kanannya mengenggam tangan Karina.
Perlahan-lahan Bisma menuntuk Karina menyusuri tepian kolam. Setelah Karina merasa rilex, Bisma secara bertahap membimbing Karina untuk menuju ke tengah kolam yang lebih dalam. Kaki Karina mulai tidak bisa menapaki dasar kolam. Membuat Katina panik dan genggangam tangannya semakin erat.
__ADS_1
"Tenang saja. Ada aku." Bisma segera menenangkan. Karina dengan cepat kembali tenang dan menggerakkan kakinya di dalam kolam.
Lama kelamaan Karina sudah semakin bisa menguasai gerakannya. Ia sudah mulai bergerak dengan bebas di dalam kolam meskipun tidak jauh dari Bisma. Karina tersenyum bahagia karenanya.
"Sudah cukup renangnya. Kamu akan kedinginan." Bisma meraih Karina kembali ke sisinya.
"Tidak. Aku belum kedinginan." Tolak Karina. Dia baru saja bisa berenang. Dan ini menyenangkan.
"Bibirmu saja sudah biru seperti ini. Tanganmu juga sudah keriput. Kamu bohong kalau tidak kedinginan."
"Tapi hatcih..."
"Tuh kamu sudah bersin. Masih berani bilang tidak kedinginan?"
"Tapi ini menyenangkan."
"Besok lagi. Sekarang kita harus keluar."
"Baiklah." Bisma membimbing Karina ke tepi kolam. Membantunya keluar dari kolam. Lalu memberinya handuk untuk mengelap wajahnya.
Malam harinya, mereka sudah bersiap untuk tidur. Keduanya sudah berada di atas ranjang. Mereka berbaring berhadapan. Karina mengaku belum mengantuk. Jadi mengajak Bisma mengobrol sebelum tidur.
"Apa kita akan pergi bany moon bersama Nata?" Tanya Karina membuka percakapan.
"Apa kamu ingin pergi?" Bisma memperhatikan wajah Karina.
"Sedikit."
"Bohong. Pasti kamu sangat ingin pergi kan? Kamu sudah lama tidak pulang ke kampung halamanmu. Kamu pasti ingin kembali kan?"
"Sebenarnya iya. Aku ingin mengunjungi makam nenekku." Bisma mengernyit mendengar jawaban Karina. Pasalnya Karina hanya ingin mengujungi makam neneknya. Lalu bagaimana dengan orang tuanya? Seingatnya Karina bilang jika ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di keluarganya. Nama ayah Karina juga sepertinya sedikit janggal karena hanya nama Muhammad. Namun karena Karina sendiri tidak ingin bercerita Bisma pun akhirnya mengabaikannya saja. Menunggu Karina menceritakan sendiri.
"Baikllah. Kalau begitu kita berangkat. Aku pikir ini juga baik." Karina tersenyum senang. Awalnya ia khawatir Bisma tidak akan setuju untuk ikut.
"Sudah sekarang tidurlah." Karina mengangguk dan masuk ke dalam dekapan Bisma.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa like, komen dan vote ya....
__ADS_1