
Vera begitu panik saat mendapat telepon dari orang yang membantunya mengurus Jihan jika putrinya itu sedang kambuh dan dibawa ke rumah sakit. Tak memperdulikan apapun, Vera langsung meminta izin untuk pulang dan menyusul putrinya tersebut. Pihak HRD juga tidak bisa melarang Vera untuk pergi karena alasannya memang kuat. Tetapi kabar mengenai Vera izin pulang lebih awal segera tersebar di kantor dengan bumbu-bumbu pedas yang bertaburan.
Kabar mengenai Vera izin karena anaknya sakit memang tidak ada yang tahu. Vera tidak begitu dekat dengan rekan-rekannya, jadi dia tidak mengatakan apapun selain pada pihak HRD yang bertanggung jawab mengenai karyawan. Jadi alasan Vera izin menjadi simpang siur dan menjadi bahan gosip dalam sekejap.
Saat gosip-gosip tentang dirinya menyebar di kantor, Vera masih dalam keadaan cemas. Setengah jam telah berlalu, tetapi Dokter masih merawat Jihan masih belum keluar sampai sekarang.
"Kenapa Jihan bisa kambuh lagi bu Lina?" Tanya Vera pada pengasuh Jihan.
"Hari ini sebenarnya Jihan baik-baik saja. Bahkan lebih ceria dari biasanya. Saya mengajaknya untuk bermain di taman. Di sana banyak anak-anak sebayanya yang juga sedang bermain. Jadi dia bermain dengan mereka. Sebenarnya tidak lama kami di sana, hanya setengah jam. Tapi begitu pulang, keadaan Jihan sudah tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat. Jadi saya bawa ke rumah sakit. Dan dokter bilang jika Jihan kambuh. Maafkan saya Bu Vera."
"Saya tidak menyalahkan bu Lina. Memang Jihan yang fisiknya lemah. Apalagi di umurnya yang sekarang sedang aktif-aktifnya bermain. Jadi dia pasti juga ingin bermain dengan teman-temannya."
"Tapi tetap saja saya merasa bersalah. Saya tidak bisa menjaga Jihan dengan baik."
"Tidak apa-apa bu. Memang sudah nasibnya Jihan. Yang penting sekarang kita doakan Jihan supaya kondisi Jihan tidak parah."
"Tentu Bu."
Sedangkan di kantor Bisma, Andi juga mendapat kabar dari kepala cabang bahwa hari ini Vera meminta izin pulang karena anaknya masuk ke rumah sakit. Andi segera meminta anak buahnya untuk pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya sebelum ia pergi untuk memberi tahu Bisma.
"Saya sudah meminta orang untuk membantunya di sana." Lapor Andi.
"Kerja bagus. Suruh orang itu melaporkan keadaan di sana. Vera seorang diri di sana. Minta kepala cabang memberi izin Vera cuti untui beberapa hari."
"Ini... sepertinya tidak baik."
"Kenapa?"
"Vera adalah karyawan baru. Dengan perlakuan yang istimewa ini takutnya malah membuat Vera menjadi sasaran karyawan yang lain." Ucap Andi yang memang sudah mendengar gosip yang beredar di kantor cabang mengenai Vera.
"Lalu bagaimana?"
"Orang yang mengasuh putri Vera kompeten. Saya rasa dengan dia membantu Vera mengawasi keadaan putrinya itu sudah cukup."
__ADS_1
"Baiklah kau begitu. Lakukan seperti yang kamu katakan saja."
"Baik tuan." Andi segera keluar dari ruangan Bisma. Saat Andi keluar, ia melihat Karina yang baru saja keluar dari lift. Karina tersenyum ke arah Andi.
"Apakah mas Bisma ada di dalam?" Tanya Karina.
"Ya. Saya akan membukakan pintu." Ucap Andi sambil memutar knop dan membuka pintu.
"Terima kasih Andi." Andi hanya mengangguk dan menutup pintu kembali.
Bisma tidak menyadari jika yang masuk ke dalam ruanganya adalah Karina. Saat itu ia sedang fokus dengan dokumen di tangannya. Jadi ia mengira itu adalah Andi.
"Minta anak buahmu untuk membayar biaya rumah sakit Jihan." Ucapnya dengan tidak mengalihkan pandangannya dari berkas di depannya.
"Jihan? Jihan siapa mas?" Bisma terlonjak saat mendengar suara Karina.
"Kamu datang sayang! Kenapa tidak memberi tahu dulu?" Bisma segera berdiri dan berjalan menghampiri Karina dan mengajaknya duduk di sofa. Karina bukan orang yang buta dan bodoh yang tidak akan melihat dan mengerti jika Bisma sengaja tidak menjawab pertanyaannya. Tetapi Karina mencoba berpikir positif dengan meyakinkan dirinya jika Bisma bukannya tidak mau menjawab, tetapi sesuatu itu bukanlah hal penting dan ada hubungannya dengan dirinya. Jadi Karina juga akan mencoba untuk tidak memikirkannya.
"Tadi bi Eni memasak ayam kecap kesukaanmu. Jadi aku pikir aku akan membawakanmu juga. Apakah aku mengganggumu mas?" Tanya Karina hati-hati. Ia masih melohat wajah Bisma yang kaku. Jadi ia takut menyinggungnya.
"Iya. Tapi bi Eni langsung pergi belanja bulanan."
Bisma menganggukkan kepalanya. "Apa kamu sudah lapar?" Bisma bertanya dengan memandang Karina. Tetapi tangannya mengelus perut istrinya. Karina mengangguk mengiyakan. Sebenarnya ia belum begitu lapar sekarang. Tetapi ia tidak bisa tinggal lama dengan situasi yang canggung ini.
"Baiklah, aku akan meminta seseorang untuk membawakan kita minuman dan juga piring." Bisma berdiri dan menekan telepon di mejanya untuk meminta staf sekretarisnya untuk membawakan dua minuman dan dua piring ke ruanganya.
"Apa yang kamu lakukan hari ini?" Tanya Bisma setelah ia sudah kembali duduk di samping Karina. Memegang tangan istrinya.
"Tadi setelah kamu berangkat, aku pergi untuk senam hamil bersama Bi Eni. Minggu depan bisakah meluangkan waktu untuk ikut mas? Kata instruktur minggu depan waktunya senam berpasangan."
"Oke. Aku akan minta Andi mengosongkan jadwalku untuk menemanimu."
Karina sangat senang mendengar jawaban Bisma. Sejak pertama ia ikut kelas senam hamil, Bisma hanya sekali menemaninya. Padahal kebanyakan dari teman-temannya yang lain diantar atau bahkan ditemani suami mereka. Ia segera memeluk Bisma. "Terima kasih mas. Aku senang sekali."
__ADS_1
"Apa hanya ucapan terima kasih?" Bisma berkata dengan tidak senang. Karina tersipu-sipu.
"Ini di kantor mas. Kalau tiba-tiba ada yang masuk ke dalam ruangan bagaimana?" Mata Karina menatap pintu tertutup yang tidak dikunci. Ia cukup trauma dengan itu. Sudah cukup dia dibuat malu dipergoki oleh Nadia, jangan sampai ada orang lain yang memergokinya lagi.
"Siapa yang berani masuk ke ruanganku tanpa izin? Ayo berikan hadiahnya." Bisma mengetuk pipinya dua kali. Meminta Karina menciumnya di sisi itu.
Karina memberanikan diri untuk mencium pipi Bisma. Memang sudah tidak terhitung lagi mereka berciuman, tetapi biasanya Bisma yang paling banyak bertindak, dan dia hanya tinggal mengikutinya. Jadi jika setiap kali ia mengambil inisiatif, dirinya masih malu.
Tepat saat bibir Karina hendak menempel di pipi Bisma, Bisma menolehkan wajahnya hingga membuat bibirnya yang mendapat ciuman.
"Mas! Kenapa bergerak?" Teriak Karina kaget setelah ia menarik wajahnya.
"Habisnya kamu kelamaan. Jadinya leherku pegal. Ayo cium sini. Yang tadi tidak dihitung."
"Tidak bisa. Aku sudah menciummu mas." Tolak Karina.
"Kamu yang cium apa aku yang cium?" Tanya Bisma dengan senyuman mencurigakan.
"Aku aku!" Karina menjawab dengan cepat. Jika ia membiarkan Bisma yang menciumnya, maka bukan hanya akan ada ciuman nantinya.
"Baiklah. Silahkan nyonya mencium pipi saya. Kalau bukan pipi tidak dihitung."
"Makanya jangan bergerak. Biar tidak meleset." Ucap Karina dengan kesal. Ia kembali mendekatkan wajahnya. Dan Bisma segera memalingkan wajahnya dan mendekatkan pipinya. Namun lagi-lagi Bisma dengan sengaja memalingkan wajahnya dan membuat bibirnya yang dicium Karina.
"Ih mas! Kamu sengaja ya?" Tanya Karina dengan kesal.
"Hehehe..."
"Rasain!" Karina mencubit perut Bisma dan membuat pria itu berteriak kesakitan.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir 😊