
Ketika Bisma kembali dari kota, Bisma mengendus udara karena merasa ada aroma harum yang menggelitik hidungnya. Bisma merasa aroma itu datang dari rumah nenek Hindun. Ia pun segera mengetuk pintu rumah agar dapat masuk. Sebelum ia pergi ia berpesan agar Karina mengunci pintu.
Karina baru selesai masak saat itu. Wanita itu sedang memindahkan isi dari panci ke dalam mangkuk untuk ia bawa ke meja makan bersama nasi yang juga sudah ia masak. Setelah tidak dipakai lama, Karina beruntung peralatan rumah tangga di rumah neneknya masih dapat digunakan.
Saat mendengar suara ketukan pintu, Karina segera meletakan mangkuknya dan pergi ke ruang tamu. Ia menguntip dari balik korden jendela untuk mengetahui siapa yang datang. Seperti kebiasaanya saat ia masih ada di rumah itu. Ketika melihat bahwa itu adalah Bisma, Karina merasa sangat senang dan segera membuka pintunya.
"Kamu masak?" Tanya Bisma saat melihat Karina memakai apron di tubuhnya. Wanita itu terlihat cantik dengan rambut yang dicepol asal. Keringat di dahinya membuat anak rambut yang ada di sana menempel di kening yang putih itu.
"Iya. Kalau tidak kita makan apa nanti? Eh apa yang kamu bawa?" Karina baru sadari jika Bisma membawa sesuatu.
"Ini makanan." Jawab Bisma sambil melangkah melewati Karina. Ia sudah lelah setelah perjalanan yang cukup lama. Apalagi ia juga langsung kembali setelah mengambil uang dan memberi tahu Alex dan Nara. Bisma juga sempat membelikan baju ganti untuk mereka karena tidak sempat mampir ke hotel.
"Kamu lelah?" Tanya Karina sambil mendudukkan dirinya di samping Bisma.
"Tentu saja lelah. Jadi apa yang akan aku terima untuk kesulitan ini?" Karina berpikir sebentar sebelum mendaratkan bibirnya di pipi Bisma. Itupun dilakukannya setelah mengumpulkan keberanian.
"Apa hanya ini?" Tanya Bisma dengan wajah kecewa meskipun sebenarnya di dalam hatinya sedang berbunga-bunga.
"Apa lagi? Bukankah aku sudah menciummu?" Karina mengernyitkan alisnya.
"Hah sudahlah. Aku lapar. Ayo makan." Bisma berdiri. Mengambil makanan yang ia bawa dan membawanya masuk ke dalam ruang makan.
Karina melihat Bisma dengan bingung. Apalagi yang membuat laki-laki itu tidak senang? Bukankah ia sudah menciumnya? Apa masih kurang?
"Karina apa kamu hanya mau diam di situ?" Teriakan Bisma dari dalam menyadarkan Karina dan bergegas menyusul Bisma.
"Aku tadi juga sudah masak. Entah kamu suka apa tidak." Karina duduk di sebelah Bisma. Kata Karina setelah ia meletakkan makanan yang dibawa Bisma di atas meja. Bisma juga sudah selesai mencuci tangannya.
Karena Bisma hanya diam Karina pikir Bisma tidak igin makan makanan yang dimasaknya. Karina pun mengambil nasi kotak yang dibawa Bisma untuk diberikan pada laki-laki itu.
"Kamu masak untuk dirimu sendiri?" Bisma menatap nasi kotak dengan tidak suka.
"Tentu saja tidak. Aku memasak ini untuk kita." Jawab Karina seketika.
"Lalu kenapa aku tidak diberi?"
"Aku pikir kamu tidak mau."
"Siapa bilang?"
"Tidak ada. Hanya saja kamu dari tadi diam. Aku kan jadi takut." Karina menundukkan kepalanya.
"Takut?" Karina mengangguk.
"Aku pikir kamu marah padaku." Jawab Karina pelan.
"Aku tidak marah Karina. Aku hanya sedikit kesal."
"Maaf jika aku membuatmu kesal. Tapi tolong katakan padaku apa yang membuatmu kesal. Aku kan tidak tahu jika kamu tidak memberitahuku."
"Sudahlah lupakan saja. Aku saja yang terburu-buru. Tunggu apa lagi? Aku sudah lapar."
__ADS_1
"Baiklah." Karina segera mengambilkan Bisma makanan yang ia masak. Setelah itu ia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Keduanya makan dalam diam.
"Makanan ini kuberikan saja pada tetangga di depan ya?" Tanya Karina setelah ia selesai makan.
"Iya. Aku tidur sebentar. Kamu juga segeralah istirahat setelah itu." Karina menganggukkan kepalanya. Ia memasukkan kotak nasi ke dalam tas plastik dan membawanya keluar rumah.
Seperti pesan Bisma, setelah mengantar makanan itu ia juga menyusul Bisma naik ke atas ranjang. Bisma masih belum tidur. Jadi saat merasa gerakan di atas ranjang ia kembali membuka mata dan menatap Karina yang sedang menatapnya.
"Ada apa?" Tanya Bisma menyadari Karina seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Tadi saat aku bertemu dengan bi Kumala, tetangga depan itu. Bi Kumala mengajakku untuk datang ke acara tujuh bulanan Mela. Anaknya nanti malam. Apakah aku boleh ikut?"
"Jauh apa tidak? Aku akan mengantarmu."
Karina menggeleng cepat. "Tidak jauh kok. Kamu tidak lerlu mengantarku. Hanya lima rumah dari sini."
"Baiklah. Nanti hati-hati."
"Terima kasih." Ucap Karina sambil mencium pipi Bisma. Karina hendak menarik wajahnya menjauh. Tetapi Bisma sudah lebih dulu menekan kepala Karina. Tangannya juga merengkuh pinggang Karina dengan erat.
"Seperti itu caranya berterima kasih yang tulus." Ucap Bisma sambil mengusap bibir Karina yang basah. Wajah wanita itu memerah. Bisma sangat menyukai tampilan Karina yang seperti ini. Meskipun setiap hari mereka sudah terbiasa berciuman, wajah malu-malu istrinya ini tidak juga hilang. Membuat Bisma ingin mencium dan menciumnya lagi.
"Aku tidak bisa."
"Harus bisa."
"Baiklah aku akan coba lain kali." Jawab Karina menyerah.
"Aku...emp." Bisma sudah membungkam Karina sebelum wanita itu mengatakan alasan untuk mengelak.
**
Karina duduk dengan tenang di antara ibu-ibu yang hadir. Calon ibu muda itu memakai pakaian yang dipinjamnya dari anak bi Kumala karena baju yang dibelikan Bisma tidak cocok digunakan untuk acara pengajian.
Tanpa diduga, Fania juga datang di acara itu bersama dengan ibunya. Ibu Fania mengicapkan terima kasih pada Karina karena telah membantunya. Sebagai seorang ibu, ibu Fania juga tidak rela jika anaknya menikah dengan anak rentenir dan pembohong itu. Jadi saat ia dan suaminya pulang dari ladang dan mendengar dari Fania bahwa Karina akan membantu mereka, keduanya sangat bahagia.
"Tidak perlu seperti itu Bi." Tolak Karina saat inu Fania berkata bahwa wanita itu bahkan rela menyerahkan nyawanya pada Karina untuk membayar hutang itu. "Aku dan Fania sudah seperti saudara. Bibi juga sudah seperti ibu bagi Karina. Jadi sudah seharusnya Karina membantu kalian." Karina memegang lengan ibu Fania dengan haru.
"Baiklah kalau begitu. Kamu memang anak yang baik. Besok bibi dan oaman juga akan berterima kasih pada suamimu itu. Kamu memang pantas mendapatkan suami yang begitu baik."
"Bibi terlalu memuji."
"Hahaha. Ya sudah. Kalian bicaralah berdua. Pasti banyak yang ingin kalian bicarakan. Orang tua sepertiku juga harus tahu diri dan tidak mengganggu." Karina tersenyum mendengar ucapan ibu Fania. Ibu Fania berlalu dan menjauh. Ia berkumpul dengan ibu-ibu lain seusianya.
Sepeninggal Ibu Fania, kedua orang muda itu bercakap-cakap sebelum acara dimulai. Memang banyak hal yang perlu ia bicarakan.
"Nak Karina, aku dengar kamu kembali bersama suamimu ya?" Seorang wanita mendekati Karina dan duduk di sampingnya.
"Iya bi."
"Dimana suamimu? Kenapa tidak dikenalkan?"
__ADS_1
"Bibi bagaimana? Ini kan acara untuk para perempuan. Memangnya Karina mau pamer suami? Seperti seseorang yang suka pamer menantu." Yang menjawab adalah Fania. Bibi itu mendengus tidak suka dengan jawaban Fania yang menyindirnya. Sebelum Karina dan Fania merantau ke kota, bibi itu sempat memamerkan anaknya yang mendapatkan suami yang kaya. Dan mengejek Fania dan Karina yang tidak mungkin bisa seperti anaknya yang menikah dengan orang kaya.
"Siapa yang pamer?"
"Tidak tahu. Aku kan hanya berkata seseorang. Siapa yang tahu siapa itu." Fania tidak mau kalah.
"Huh sekarang bisa sombong karena memiliki suami orang kaya. Siapa yang tahu sebentar lagi akan diceraikan karena sudah bosan." Bibi itu memandang sinis Karina. Wajahnya itu penuh dengan ejekan pada Karina.
"Bibi tolong jaga ucapan anda. Saya tidak mengatakan satu katapun. Dan anda sudah mengatakan hal-hal yang tidak baik pada pernikahan orang lain." Karina sudah tidak tahan. Jika ia sedang tidak hamil, sudah pasti ia dari tadi sudah membalas mulut pedas bibi itu.
"Diberitahu kok malah nyolot sih. Dasar anak tidak tahu sopan santun!" Ucap bibi itu sebelum pergi dengan marah.
"Sudah Karina jangan dimasukkan hati. Orang iri memang seperti itu. Selalu tidak suka jika orang lain bahagia."
"Aku mengerti. Terima kasih Fan." Fania mengangguk.
Bibi itu sudah berlalu. Tapi perkataan bibi itu tidak.bisa dilupakan Karina begitu saja. Sebelumnya ia tidak memikirkan apapun mengenai rumah tangganya dengan Bisma. Tapi saat mendengar ucaoan dari bibi itu membuatnya berpikir tentang masa depan pernikahannya.
Sampai Karima kembali ke rumahnya, ia masih memikirkan perkataan bibi itu. Bahkan Bisma yang sudah menunggunya di halaman sampai tidak dia sadari.
"Karina tunggu sebentar." Karina baru tersadar saat seseorang memanggilya. Wanita itu menoleh dan sedikit terkejut. Bisma yang berdiri tak jauh dari Karina juga menoleh pada laki-laki muda yang baru saja memanggil istrinya. Pria muda itu bisa dibilang tampan meskipun tidak lebih tampan dari Bisma. Merasa ada saingan, Bisma segera menghampiri Karina. Berdiri di sampingnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Karina.
"Tora. Ada apa?" Tanya Karina. Di masa lalu ia tidak begitu dekat dengan laki-laki itu.
"Aku tadi mendengar kamu kembali dan membawa suamimu. Aku tidak percaya dan kemari untuk memastikannya."
"Benar. Karina kembali dengan suaminya. Kenalkan, namaku Bisma. Suami Karina." Bisma mengulurkan tangannya dan disambut dengan kaku oleh pemuda bernama Tora di depanya. Karina tersenyum canggung melihat interaksi keduanya.
"Oh. Aku tidak pernah mendengar kamu sudah menikah." Tora kembali memusatkan pandangannya pada Karina. Mengabaikan tatapan lermusuhan pria yang mengaku menjadi suami Karina
"Kami yang menikah kenapa kamu harus tahu? Kami.bahkan sudah mau memiliki anak. Karina saat ini sedang mengandung anak kami." Bisma mengelus perut Karina yang sudah sedikit tidak rata.
"Benarkah itu Karina?" Bisma merutuki laki-laki di depannta ini. Benar-benar tidak bisa di beri tahu.
"Iya. Aku sedang mengandung anak suamiku." Karina memgangguk. Wajah Tora seketika semakin muram mendengar jawaban Karina. Bisma sangat menikmati wajah muram saingannya. Sudut Bibir Karina berkedut saat melihat senyum kemenangan yang terukir di bibir Bisma.
"Kalau begitu selamat atas pernimahanmu semoga kamu bahagia. Dan selamat juga atas kehamilanmu." Ucao Tora dengan memaksakn senyumnya.
"Terima kasih Tora. Semoga kamu juga segera mendapatkan jodohmu juga." Karina tersenyum.
"Hm." Tora mengangguk sebelum ia pamit pergi dengan air mata yang hampir menetes dari sudut bibirnya.
"Ada apa dengannya. Aneh sekali." Ucap Karina menatap kepergian Tora. Bisma memandang Karina dengan tidak percaya. Apakah istrinya ini benar-benar tidak peka? Sudah jelas terlihat jika laki-laki ini menaruh hati padanya.
Ah! Lupakan ketidak pekaan Karina terhadap orang lain. Bahkan perasaan Bisma yang setiap hari dan jelas-jelas ditunjukkan saja Karina juga tidak bisa mengenalinya.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😊