
Bima menatap wanita paruh baya yang masih cantik di usianya. Wanita itu adalah Nadia. Sore ini, saat ia sedang berkebun di taman belakang rumahnya, Bima datang mengunjunginya. Nadia melirik pria muda yang secara silsilah keluarga merupakan cucunya meskipun usianya bahkan tujuh tahun lebih tua dari putri kandungnya sendiri. Ia tahu apa yang akan dibicaralan oleh cucunya iu.
Awalnya ia tidak mau menemui Nadia untuk menanyakan keberadaan Karina, ia berencana untuk mencarinya sendiri dengan mempersempit pencariannya. Ia mulai menyadap ponsel Nadia, tapi semuanya normal seminggu ini. Ia juga mengirim mata-mata untuk mengawasi Nadia, tetapi mereka juga tidak mendapatkan hasil. Bima juga sempat menanyakan pada Yuli tentang keberadaan Karina di desa, tetapi hasilnya nihil. Dan dengan terpaksa menemui Karina setelah Bisma datang dan mengejarnya. Membuatnya frustasi.
Nadia mematikan keran dan menggulungnya. Kemudian ia masukkan ke dalam gudang. Bima mengikuti kemanapun Nadia pergi.
"Aku mau ke kamar mandi. Apa kamu mau ikut juga?" Nadia menatap Bima dengan kesal.
"Siapa yang mau ikut?" Bima menggedikkan bahunya. Lalu berdiri menopang dirinya pada batang pohon saat Nadia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di taman. Namun pandangannya menatap lurus ke arah kamar mandi sekaan takut jika ia menoleh sedikit saja, antrian ke kamar mandi ada yang akan menyerobot.
Dengan santai Nadia merapikan baju berkebunnya yang merupakan daster longgar yang nyaman. Ia manatap Bima dengan tajam.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" Tanyanya kemudian.
"Tante sebenarnya tahu dimana Karina kan?" Bima memicingkan matanya. Memandang Nadia dengan tatapan menyelidik.
"Kalau aku tahu memangnya kenapa?" Jawab Nadia acuh.
"Apa tante tahu Bisma mencari istrinya sampai hampir gila?"
"Tahu." Bima terkejut mendengarnya. Jadi ini semua permainannya Nadia?
"Kalau tante tahu, kenapa tante biarkan Bisma seperti itu? Apa tante tidak tahu saat ini Mahardika sedang kacau?"
"Lalu?"
"Apa tante tidak khawatir?"
"Tidak." Nadia menggelengkan kepalanya dengan acuh. Tapi sebenarnya ia berusaha menahan tawanya. Ia merasa Bima lucu dengan penampilannya yang kesal tapi tidak bisa melampiaskannya.
"Oh My God!" Teriak Bima. "Tante tolong beritahu aku dimana Karina." Lanjutnya saat melihat wajah poker Nadia.
__ADS_1
"Tidak akan."
"Apa tante tidak kasihan pada Bisma?"
"Aku hanya ingin membuatnya menyadari bahwa seorang wanita tidak bisa diperlakukan seperti itu. Nyatanya, seorang suami membutuhkan istrinya. Seorang laki-laki tidak akan menjadi laki-laki sejati jika sampai menyakiti istri. Sekarang ia batu merasakan bagaimana jika ia ditinggalkan oleh Karina. Baru dia tahu agar tidak seenaknya saja berbicara seperti itu."
"Tapi tante, Bisma melakukan itu karena terpaksa."
"Tidak ada alasan untuk menyakiti seorang wanita. Apalagi seorang istri. Apapun alasannya, itu salah. Dan kamu, jangan coba-coba untuk membantu Bisma. Jika aku sampai tahu kamu membantunya, aku akan mencarikanmu seorang istri."
"Kenapa semua orang senang mengancamku?" Keluh Bima. Bisma juga mengancam akan menutup perusahaanya. Dan sekarang Nadia bahkan mengancamnya dengan menikahkannya. Mengapa dunia ini tidak adil?
**
Sementata di desa, Karina sudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia selalu berjalan-jalan pagi bersama bi Eni untuk mencari udara segar yang sulit didapatkan di kota.
Bi Eni memperkenalkan Karina pada warga desa sebagai majikannya yang ingin menenangkan diri dan menempati rumah pak Rahmat alih-alih menyebut rumah Nadia. Tapi tidak menyebutkan Karina sebagai menantu Nadia. Karena Joni sudah meminta Yuli untuk merahasiakan tentang Nadia, secara alami tidak ada yang pernah menyangka jika Karina adalah menantu Nadia.
Tapi meskipun ia dikelilingu orang-orang baik, dia merasa kesepian. Bibirnya memang terlihat tersenyum, tetapi bi Eni melihat ada kesedihan di dalam matanya.
"Ayo kita jalan-jalan ke sawah." Ajak Bi Eni saat mereka sedang jalan-jalan di jalan desa. Bi Eni biasanya hanya berjalan di sekitar kamping yang dekat, tapi melihat Karina yang terlihat sedih membuatnya merasa jika melihat pemandangan di sawah akan membuat perasaanya menjadi baik.
"Baiklah Bi." Jawab Karina
Bi Eni memimpin jalan. Ia juga bercerita masa kecilnya di kampung selama mereka berjalan. Karina memperhstikan kampung itu. Ia baru menyadari jika meskipun kampung ini terlalu jauh dari kota, tapi nyatanya kampung ini jauh lebih maju dari desanya.
Tak lama setelah itu, mereka melewati penggilingan beras. Kini Karina tahu apa yang membuat kampung itu begitu maju, ternyata adanya pabrik beras yang besar itu di desa mereka sehingga
"Penggilingan Ini sangat besar" ucap Karina takjub.
"Ya. Penggilingan ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan masih beroprasi sampai sekarang."
__ADS_1
"Bibi sepertinya sangat mengenal lingkungan di sini." Tanya Karina curiga.
"Uhuk uhuk..."
"Itu karena dulu waktu bibi masih muda, bibi sering kemari. Kampung bibi tidak jauh dari sini."
"Oh ya? Kenapa kita tidak pergi ke sana saja?"
"Sebanarnya bibi sudah tidak punya apa-apa lagi di kampung. Rumah peninggalan orang tua bibi juga sudah bini jual untuk membangun rumah di kota." Jelas bi Eni.
"Oh.. itu juga baik bi. Lagipula bibi juga menikah dan tinggal di kota. Jadi daripada membiarkan rumah kosong tidak berpenghuni lebih baik menjualnya saja."
"Kamu benar. Nah akhirnya kita sampai." Ucap bi Eni senang. Sebanarnya ia juga ingin melihat pemandangan sawah. Tetapi ia selalu menamani Karina sepanjang waktu.
Karina memandang pemandangan di depannya. Sangat indah. Sawah dan ladang ditanamu berbagai jenis tanaman. Jadi saat dilihat dari jauh mereka akan tampak  berwarna warni. Karina sering melihat sawah di kampung halamannya tetapi jenis tanah dan apa yang ditanam di sini jelas berbeda.
"Yah. Ini indah." Ucap Karina sambil melipatkan menaylengnya tanganya di depan dada. Matanya memperhatikan pemandangan yang indah. "Apa kita bisa pergi ke sana?" Tanya Karina antusias.
"Tidak bisa nak. Jalan di pematang sawah kecil dan licin. Sangat berbahaya jika kamu berjalan di sana." Karina sangat kecewa mendengarnya. Tapi ia juga sudah melihat pematang sawah itu memang kecil seperti yang dilatakan bi Eni. Jika sampai ia tergerlincir dan jatuh, akan berbahaya bagi kandungannya. Jadi ia hanya bisa mendengus tanpa daya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😊
Mohon maaf telat...
Hari ini di rumah saja dengan hajatan, jadi nunggu semua beres jadi bisa ngelu rua lagi...
__ADS_1
Mohon maaf jika ditemukan typo yang berpengaruh yang kerjanya tergesa-gesa...