
Bisma datang ke apartemen setelah ia pulang bekerja. Sesuai janjinya, ia akan mengajak Karina untuk menemui Nadia di rumah mereka. Saat Bisma sampai di apartemen, Nara baru saja pulang. Dan Karina juga baru masuk ke dalam kamarnya.
“Karina dimana bi?” Tanya Bisma pada bi Eni.
“Nak Karina baru saja masuk. Tadi ada tamu yang datang.”
“Siapa tamunya? Laki-laki apa perempuan?” Bisma mengernyitkan alisnya. Apartemen ini hanya beberapa orang saja yang tahu. Dan Karina juga tidak mungkin mengajak temannya untuk berkunjung kan.
“Perempuan tuan. Muda dan cantik. Rambutnya sedikit bergelombang. Tadi nak Karina dan perempuan itu mengobrol lama. Sepertinya Mereka berdua sudah akrab.”
“Oh..itu adik saya bi.”
“Saya akan mengingatnya.”
Bisma mengangguk. “Bi tolong panggilkan Karina. Minta dia segera bersiap-siap.”
“Tidak perlu memanggil. Aku sudah siap.” Bisma yang sedang melonggarkan dasinya dan bersiap duduk menghentikan aktivitasnya. Dalam beberapa detik ia terpana melihat penampilan Karina yang sore ini terlihat segar dan cantik. Karina mendekat dan berdiri satu meter di depan Bisma.
“Kenapa? Apa aku terlihat aneh?” Karina membolak balikkan tubuhnya memindai gaun yang ia kenakan. Ia tidak terbiasa menggunakan gaun seperti itu. Ia lebih suka memakai kaos dan celana jins. Tetapi karena saat ini ia akan bertemu dengan calon mertuanya, ia ingin ganti penampilan menjadi lebih baik.
“Tuh kan. Aku sudah mengira jika aku tidak pantas berpenampilan seperti ini. Tunggu sebentar aku akan ganti lagi.” Karena tidak segera mendapat balasan dari Bisma, Karina mengira penampilan barunya terlihat buruk. Karina hendak berbalik. Tapi Bisma buru-buru menangkap tangannya dan menghentikannya.
“Kenapa?”
“Tidak perlu ganti lagi. Kamu cocok berpenampilan seperti ini.” Ucap Bisma canggung. Ia tidak sadar jika ia tengah menangkap tangan Karina.
“Kamu pasti bohong kan? Dilihat dari wajahmu saja terlihat kamu sangat canggung. Ini pasti Karena kamu terlalu memaksakan pendapat kan? Sebenarnya aku tidak pantas kan? Sudah biarkan aku ganti sebentar.”
“Tidak perlu Karina. Kamu...kamu...kamu cantik. Ya kamu cantik dengan penampilan seperti ini.” Bisma tidak pernah memuji seorang wanita dengan tulus dari dalam hatinya Sebelumnya. Jadi lidahnya terasa kaku.
“Kamu pasti bohong kan?” Karina masih tidak percaya. Wajah Bisma menunjukkan itu.
“Tidak. Kamu sebenarnya sangat cantik. Benarkan bi Eni?” Bisma mencari bantuan. Mengalihkan pandangannya pada bi Eni yang berisi canggung tidak jauh dari keduanya.
“Benar nak Karina. Tuan Bisma berkata benar, Nak Karina terlihat sangat cantik.”
“Benarkah bi?” bi Eni mengangguk.
“Baiklah. Karena bi Eni bilang aku cantik itu pasti benar.”
“Hem. Ayo nak Karina cepat berangkat. Kasihan tuan Bisma sudah menunggu dari tadi.”
“Ah bi Eni benar. Kami harus segera berangkat.”
“Hati-hati. Tidak perlu lari-lari seperti itu.” Ucap Bisma saat melihat Karina berjalan dengan cepat di depannya.
__ADS_1
“Maaf-maaf aku lupa.” Karina memelankan jalannya. Ia berjalan dengan anggun.
“Kata bi Eni tadi Nara datang?” tanya Bisma saat keduanya sudah ada di dalam mobil.
“Iya.” Karina mengangguk.
“Dia bicara apa saja?” Bisma melirik Karina.
“Banyak hal.”
“Intinya?”
“Ya banyak. Kamu sekarang jadi wartawan ya?” jengkel Karina.
“Tidak. Aku hanya penasaran. Apa yang gadis manja itu katakan padamu.”
“Tidak ada yang khusus. Dia hanya datang untuk memuji kakaknya.”
“Memujiku?” tanya Bisma tidak percaya.
“Hem.” Karina mengangguk pasti. Dari apa yang dibicarakan panjang lebar oleh Nara tadi, dapat disimpulkan jika Nara ingin dirinya untuk menerima Bisma karena Bisma memiliki banyak kelebihan.
“Kamu tidak berbohong?” sejauh Bisma mengenal Nara, gadis itu hanya bisa mengejeknya dan menemukan kekurangannya di berbagai sisi. Adiknya itu akan selalu menemukan celah untuk mengejeknya.
“Untuk apa berbohong? Tidak ada gunanya untuk ku juga. Menjengkelkan sekali.” Jawab Karina kesal. Belum apa-apa ia sudah dianggap berbohong.
Benar-benar kakak beradik yang saling mengerti.
Tak butuh waktu lama keduanya sampai di mansion Mahardika. Karina turun dengan dibantu Bisma meskipun gadis itu menolak pada awalnya.
Nadia menyambut Karina dengan semangat. Ia segera membawa Karina untuk masuk ke kamar tamu dan mengusir Bisma untuk segera pergi mandi.
Segala perlengkapan untuk pernikahan telah disiapkan oleh Nadia. Semua barang-barang itu ia tunjukkan pada Karina. Mulai dari kebaya putih yang akan dikenakan Karina untuk acara ijab Kabul, juga perhiasan yang akan dikenakan Karina saat acara.
Karena acara hanya akan ada ijab kabul tanpa resepsi, jadi barang yang disiapkan tidakkah banyak.
“Kamu coba kenakan gaun ini. Apakah sudah sesuai.” Nadia menyerahkan kebaya putih untuk dicoba Karina.
Karina menurut. Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi dan memakai kebaya putih yang indah.
Nadia menilai penampilan Karina dengan kebaya. “Ini sudah pas. Tidak ada yang perlu dibenahi lagi. Perutmu juga belum kelihatan besar. Jadi kebaya ini tidak perlu lagi diubah. ” Nadia mengangguk puas. “Sekarang coba cincinnya. Apa sudah pas? Jangan sampai kekecilan atau kebesaran.” Nadia menyerahkan satu cincin dari dalam kotak merah. Cincin pernikahan yang ada sepasang dengan milik Bisma. Karina segera mencobanya. Dan ternyata cincin itu juga sudah pas.
“Wah ternyata putraku itu memang hebat. Sekali lihat saja sudah bisa mengukurnya.” Karina tidak menyangka jika semua itu adalah pilihan Bisma. Wajahnya memerah saat menyadari perkataan Nadia.
“Karina, mulai sekarang panggilah aku mama seperti Bisma dan yang lainnya.” Nadia memegang lengan Karina. “Aku sangat senang memiliki menantu seperti kamu. Maaf jika kemarin perkataan mama menyakiti mu.” Ucap Nadia tulus.
__ADS_1
“Tidak ma. Karina yang salah dalam hal ini.”
“Dasar gadis bodoh! Kamu ini jadi korban di sini. Tersangkanya adalah Bisma itu. Kamu jangan merasa rendah diri seperti itu. Kamu harus ingat, kamu adalah menantu keluarga ini. Kamu tidak ada bedanya dengan Nara dan juga Dini.” Nadia memukul lengan Karina pelan.
“Terima kasih telah menerimaku. Mendapatkan keluarga yang begitu baik adalah anugerah yang sangat indah.”
“Mulutmu sangat manis.” Nadia memeluk Karina dengan hangat.
“Itu memang yang sesungguhnya ma.”
“Baiklah-baiklah menantuku yang baik, sekarang kamu kembali ganti baju. Setelah ini kita akan makan malam bersama.” Nadia menepuk pundak Karina sebelum meninggalkan Karina keluar dari kamar.
Bisma diminta Nadia untuk menjemput Karina di kamar tamu. Sudah cukup lama tetapi gadis itu belum juga keluar dan bergabung di meja makan.
Tok tok tok Bisma mengetuk pintu sambil memanggil Karina.
“Karina kamu tidak apa-apa kan?” tanya Bisma.
“Ada sedikit masalah di sini.” Jawab Karina dari dalam kamar. Bisma yang mendengar Karina sedang dalam masalah langsung membuka pintu yang tidak terkunci dan masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, ia mendapati Karina yang sedang duduk di atas ranjang sambil memiringkan kepalanya. Kedua tangannya juga sepertinya sibuk melakukan sesuatu. Mata Karina beberapa kali menyipit seperti menahan sakit.
“Apa yang terjadi?” tanya Bisma heran.
“Tolong aku. Antingku tersangkut.” Jawab Karina tanpa daya.
Bisma mendekati Karina. Duduk di sebelah gadis itu. Tangannya bergerak berusaha melepaskan anting ya g tersangkut kain brokat kebaya yang Karina kenakan.
“Lepas dulu. Tanganmu mengganggu pandangan ku.” Tangan Karina memegang anting agar tidak menarik telinganya ternyata membuat Bisma kesulitan melihat.
“Maaf. Tapi ini ketarik dan sakit.” Karina menolak.
“Percayalah padaku. Aku akan melepaskan nya dengan segera.” Ucap Bisma yakin sambil meraih tangan Karina dan meletakkannya di atas ranjang.
Setelah tangan Karina menyingkir, Bisma fokus pada anting Karina. Ia harus melakukannya dengan hati-hati agar tidak menyakiti gadis itu.
Karina yang ada tepat di depan Bisma tidak bisa untuk tidak memperhatikan wajah Bisma yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Napas hangat Bisma bahkan menerpa wajahnya dengan aneh. Tanpa sadar Karina menatap Bisma tanpa berkedip.
“Baru tahu jika calon suamimu ini begitu tampan?” Karina mendorong tubuh Bisma dengan keras saat ia sadar.
“Jangan Ge-er. Aku hanya tidak menyangka ada gunung es yang mulai mencair.” Karina mengejek sambil berlalu ke dalam kamar mandi. Bisma hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Karina.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir 😘