
Seperti yang dikatakan Bi Eni padanya, Bisma pergi ke rumah Joni. Meskipun masih gelap, sebagian besar warga desa sudah bangun. Begitupun dengan Joni dan Nita yang mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah mereka. Keduanya saling memandang saat melihat Bisma keluar dari dalam mobil dengan wajah mengantuk dan tak berdaya.
"Baru datang Bis?" Joni bertanya saat Bisma berjalan mendekat.
"Sampai jam satu malam tadi. Awalnya aku tidur di rumah. Tapi kata bi Eni aku harus pergi dulu ke sini." Jawab Bisma sambil meraih tangan Joni dan Nita bergantian. Keduanya sudah seperti orang tua Bisma di desa ini.
"Eni benar. Istrimu masih marah. Begitu ia bangun tidur dan melihatmu ia akan langsung emosi." Nita menyuruh Bisma untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu sebelum ia masuk dan membuatkan kopi untuk Bisma dan Joni yang duduk di ruang tamu.
"Aku tidak menyangka keponakan dinginku bisa dilemparkan sejauh ini oleh seorang wanita." Joni mengejek Bosma dengan senyuman.
"Aku sangat mencintainya om." Ucap Bisma dengan serius.
"Hahahahaha. Menarik. Benar-benar menarik." Joni tertawa terbahak-bahak. Bisma yang selama ini ia kenal dingin dan tanpa perasaan akhirnya mengungkapkan kalau ia mencintai seorang wanita. Ralat! Sangat mencintainya.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya? Melihat istrimu pergi sejauh ini untuk menghindarimu sepertinya ia benar-benar padamu." Joni mengubah nadanya menjadi serius.
"Aku tahu om. Aku memang bersalah padanya. Aku tidak tahu kalau mengatakan kalau aku mencintainya itu merupakam hal yang penting. Aku kira dengan memperlakukannya dengan baik dan memberinya semua cinta yang aku miliki, dia akan tau kalau aku benar-benar mencintainya." Jelas Bisma panjang lebar.
"Makanya jangan terlalu dingin jadi laki-laki. Kamu jadi tidak tahu hal yang paling penting seperti itu." Ejek Joni.
"Aku kan hanya tidak ingin mengumbar cinta." Bela Bisma. Ia sudah diejek karena masalah ini oleh Nadia. Sekarang ini malah Joni menambahnya. Menyiratkan bahwa ia memang tidak mengerti apa-apa.
"Sudah mas. Mas dulu juga seperti itu. Sekarang sudah pintar menasehati orang lain?" Nita masuk sambil mengejek. Ia meletakkan dua cangkir kopi di atas meja. Melirik Joni sambil tersenyum meremehkan. Mendengar ucapan Nita, Joni tertawa terbahak-bahak.
"Lumrah bagi pasangan muda jika ada masalah. Kalian butuh penyesuaian satu dengan yang lain. Apalagi kalian mengenal juga tidak lama. Dan menikah pun tidak seperti pasangan normal pada umumnya. Harus saling pengertian dan memahami. Sama-sama belajar menerima." Nita duduk di samping Joni. Memandang Bisma dengan tatapan yang menenangkan.
"Saat kamu menjelaskan padanya nanti, jangan sekali-kali menggunakan kata-kata yang sombong atau bahkan menyalahkannya. Kamu harus merendah di hadapannya dan mengakui bahwa kamu bersalah. Tunjukkan wajah bersalah fna menyesalmu padanya." Lanjut Nita.
__ADS_1
"Hei jangan ajari Bisma mejadi suami yang takut istri. Menjadi seorang laki-laki harus tegas. Jangan mau ditindas." Joni menolak ide Nita. Joni memasang wajah protsenya
"Nanti malam kamu tidur di luar mas." Suara yang digunakan Nita memang rendah. Tetapi nadanya penuhbdengan ancaman. Belum lagi Nita memutar bola matanya malas sebelum Melirik Joni dengan penuh intimidasi.
"Ampun! Aku salah. Jangan usir aku ya sayang..." tampilan garang penuh semangat Joni barusan menghilang sudah.
"Suda tahu kan sekarang?" Nita tersenyum puas sambil memandang Bisma yang berkesut di bibirnya melihat Joni meringkuk di samping Nita.
Di dalam hati, kini Bisma mengetahui jika sehebat apapun seorang laki-laki, ia akan menjadi orang yang berada di pihak yang salah di dekat orang yang dicintainya.
"Tidak ada cara yang lain. Memangnya harus bagaimana kalau seseorang mengakui kesalahan? Bertindak sombong dan arogan? Yang ada, sebelum mendekat sudah akan ditendang." Bisma memikirkan perkataan Nita. Memang benar. Dia memang yang salah dalam hal ini.
Bisma pergi ke sawah seperti yang dikatakan Bi Eni padanya. Sebelum Bisma berangkat, Nita mengingatkan Bisma untuk bicara dengan hati-hati.
Sesampainya di sawah, Bisma duduk di balik pohon besar yang ada di tepi sawah sambil merangkai kata yang akan ia ucapkan pada Karina nantinya. Setelah menunggu cukup lama, Bisma akhirnya mendengar suara Karina yang sedang berbicara dengan bi Eni. Bisma segera berdiri dan mencoba membuat kontak mata dengan bi Eni yang terlihat juga sedang mencarinya. Saat pandangan keduanya bertemu, Bi Eni memberi kode agar Bisma mendekat sementara ia menjauh.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi mas. Aku tahu aku bukan siapa-siapa untukmu. Aku akan pergi." Karina menggerakkan tangannya berusaha melepaskannya dari cengkeraman Bisma.
"Kamu salah sangka Karina. Aku memang memgatakan aku tidak mencintaimu di depan Fian. Tapi itu karena aku terpaksa."
Karina mengangkat alisnya. "Aku tidak peduli." Ucapnya kemudian. Ia berusaha lebih keras melepaskan dirinya, tetapi Bisma memiliki kekuatan yang jauh lebih besar darinya.
"Tapi aku peduli Karina. Dulu aku pikir dengan perlakuanku padamu kamu tahu kalau aku mencintaimu. Aku tidak berpikir kalau aku juga perlu mengatakannya. Tapi sekarang Karina, aku akan mengucapkannya sebanyak yang kamu mau selama hidup ini." Ucap Bisma serius. Ia berharap Karina bisa memaafkannya kali ini. Namun sepertinya ia salah, Karina malah menatapnya dengan tidak percaya.
"Apa mas kira aku akan mudah dibohongi seperti dulu?" Karina memicingkan matanya.
"Aku benar-benar tidak berbohong padamu Karina. Aku benar-benar mencitaimu. Percayalah padaku. Apa kamu tidak merasakan kalau aku mencintaimu dari caraku memperlakukanmu?" Karina tersenyum sinis.
__ADS_1
"Memang apa yang mas lakukan padaku? Aku akui mas, mas memang memperlakukanku dengan baik. Tapi aku tahu mas memperlakukan orang lain dengan baik juga kan?" Karina tidak menyebutkan secara langsung maksudnya. Tapi dia sedang menyamakan kebaikan Bisma selama ini padanya, dan pada pasangan ibu dan anak di rumah sakit hari itu. Air matanya pun kembali mengalir. Dadanya merasa sesak melihat suaminya begitu perhatian pada orang lain. Apapun alasannya.
"Tidak sayang. Hanya kamu yang mendapatkan kasih sayang dariku. Percayalah."
"Hanya aku? Lalu kasih sayang apa yang mas berikan pada wanita di rumah sakit itu? Mas bahkan terlihat sangat terampil saat merawat anaknya. Atau jangan-jangan dia hiks hiks hiks." Karina tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Ia tak mampu menyebut anak wanita lain sebagai anak Bisma. Dia tidak akan bisa!
Bisma selalu tidak tahan melihat Karina menangis. Ia ingin mendekat dan memeluk Karina untuk menghiburnya. Tetapi Karian langsung melangkah mundur dan menghindarinya. Tidak hanya itu, tangannya juga sigap menepisnya.
Bisma menyerah. Ia sadar Karina masih membencinya. Jadi ia harus terus membujuknya. Dia kemudian mengingat Karina menyebut wanita di rumah sakit. Apakah Karina juga tahu masalah Vera dan Jihan?
"Wanita di rumah sakit?" Bisma mengerucutkan bibirnya. Akhirnya apa yang ia takutkan terjadi. Awalnya ia memang akan membawa Karina menemui Vera. Tetapi keadaan tidak sesuai apa yang ia perkirakan.
"Iya. Siapa dia mas?"
"Dengarkan penjelasanku Karina, namanya Vera. Dan putrinya bernama Jihan. Vera adalah salah satu teman Nara di kampus. Tapi beberapa tahun lalu, musibah melanda keluarga Vera hingga membuat Vera menjauhi semua orang. Nara dan teman-temannya juga mencarinya, tetapi mereka tidak menemukan Vera dimanapun. Dan secara kebetulan aku brtemu dengannya secara tidak sengaja. Dia baru saja dipecat karena menumpahkan minuman pada pelanggan. Karena aku tahu Nara sedang mencarinya, jadi aku menemuinya. Saat itulah aku tahu kalau anaknya sedang sakit. Awalnya aku berniat membawanya kembali. Tapi ia menolak dan membuatku berjanji untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang keberadaanya." Jelas Bisma panjang lebar. Karina mendengarkannya.
"Aku tahu aku salah karena menyembunyikan semua ini darimu. Tapi aku sekarang tahu kalau aku tidak boleh menyembunyikan apapun lagi darimu, istriku." Bisma melunakkan tatapan matanya. Menatap Karina dengan oenuh cinta hingga Karina tidak bisa membalas perkataan Bisma.
"Percayalah padaku Karina sayang."
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😊
__ADS_1