
Karina pulang hanya untuk mengembalikan kartu kredit dan debit yang diberikan Bisma padanya. Juga untuk mengbambil baju-baju yang dibelikan Nadia dan Nara untuknya. Sedangkan pakaian yang dibelikan oleh Bisma tidak ia bawa.
"Coba dipikirkan sekali lagi nak Karina." Bujuk bi Eni saat melihat Karima membereskan barang-barangnya.
"Pernikahan tanpa cinta tidak akan berjalan dengan baik bi." Karina dengan tatapan kecewa di matanya.
"Bibi rasa ini hanya kesalahpahaman saja. Pasti tuan berkata seperti itu karena terpaksa."
"Bi, kita berdua ada di sana saat dia berbicara dengan mudah bahwa dia sama sekali tidak mencintaiku. Dan dia menikah denganku hanya karena terpaksa."
"Tolong beri waktu tuan untuk menjelaskannya sekali nak." Bi Eni meraih tangan Karina yang sibuk memasukkan bajunya ke dalam tas. Membuat Karina berhenti dan menatap Bi Eni dengan dalam.
Karina menghela napas. "Bi, awalnya aku juga berpikir pernikahan ini hanya karena anak ini. Tapi setelah semua yang terjadi, aku mulai mencintainya. Aku berharap jika mas Bisma juga merasakan hal yang sama denganku. Tapi ternyata..." sebuah senyuman miris tercetak di bibir Karina. Membuat air mata menggenang dengan cepat di pelupuk mata. Karina menarik tangannya dan menghapusnya dengan cepat.
"Nak, kalian sudah menikah. Akan ada anak yang hadir diantara kalian. Apa nak Karina bisa menanggung anak ini sendirian? Untuk kebuuhan ekonomi, semua orang bisa. Tapi anak ini tidak hanya membutuhkan ekonomi. Anak ini butuh kasih sayang kedua orang tuanya yang tidak akan bisa tergantikan."
Karina berhenti dan berpikir. "Biarkan aku berpikir dengan tenang bi."
Bi Eni berhenti bicara dan mendensah panjang. Bukannya ia tidak mengerti perasaan Karina, tetapi ia hanya ingin Karina memikirkannya dengan kepala dingin. Lagipula, apa yang dilihat dan didengar belum tentu adalah sebuah kenyataan. Tapi memberi sepatah dua patah kata nasihat pada Karina yang saat ini sedang dalam keadaan terpukul tidak akan ada artinya. Malah bisa lebih parah dari sebelumnya jika sampai ia salah mengucapkan kalimatnya. Jadi Bi Eni hanya bisa bersabar dan memperhatikan.
"Bibi pulang saja." Ucap Karina saat Bi Eni hendak mengikutinya masuk ke dalam taksi.
"Nak Karina mau pergi kemana?" Tanya Bi Eni getir. Karina menggelengkan kepalanya.
"Biarkan bibi ikut bersamamu nak. Kamu sedang hamil. Bibi tahu tempat yang aman." Lanjut Bi Eni.
"Apa bibi bisa berjanji tidak akan memberitahu pada mas Bisma?"
"Ya. Bibi berjanji tidak akan memberitahu pada tuan Bisma. Setelah bibi memberitahu anak bibi, bibi akan langsung mengganti kartu simnya. Benar begitu."
"Tapi aku tidak punya cukup uang untuk membayar Bibi."
"Tidak perlu nak. Aku memiliki uangku sendiri. Aku sudah tua. Buat apa menumpuk begitu banyak uang."
"Terima kasih bi." Bi Eni tersenyum. Karina menggeser tempat duduknya mambiarkan bi Eni masuk.
Bi Eni meminta supir taksi untuk berhenti di rumahnya untuk mengambil barang-barang miliknya. Namun tujuan utama bi Eni adalah untuk menghubungi Nadia mengenai hal ini.
"Tolong temani Karina En. Jangan sampai dia kenapa-kenapa ya." Ucap Nadia di telepon.
"Baik Nad. Kamu tenang saja. Aku sudah menganggap Nak Karina seperti anakku sendiri."
__ADS_1
"Terima kasih banyak. Aku akan menghubungi Joni untuk mempersiapkan semuanya di sana nanti. Kamu kalau ada apa-apa jangan ragu untuk memberitahuku."
"Iya. Setelah ini aku akan membuang kartu simnya. Jadi untuk ke depannya mungkin akan sulit."
"Aku mengerti. Yang paling penting adalah Karina. Jangan biarkan dia sendiri." Nadia paham.
"Aku tahu. Ya sudah aku tutup dulu. Jangan sampai Nak Karina curiga karena aku terlalu lama."
"Oke. Sekali lagi terima kasih."
Bi Eni memang berencana membawa Karina pergi ke desanya. Dengan begitu, ia bisa menyembunyikan Karina, sekaligus menjaganya. Nadia juga tidak akan merasa cemas dengan pengaturan seperti itu. Di desa, banyak orang yang akan membantunya.
"Bi, apakah sudah selesai? Jangan sampai mas Bisma menyusul kita." Karina yang duduk di ruang tamu menjadi tidak sabar setelah menunggu beberapa waktu dan bi Eni tidak kunjung keluar.
"Iya nak. Sebentar lagi. Bibi masih mencoba menghubungi anak bibi." Ucap bi Eni. Ia segera meletakkan ponselnya dan menutup tas berisi baju-baju dan peralatan miliknya.
Bi Eni keluar dari kamar dan tersenyum pada Karina. "Anak bibi masih belum bisa dihubungi. Nanti sekalian di jalan saja." Ucapnya.
"Oh... ayo bi kita bergegas. Jika sampai mas Bisma menemukan kita, aku belum siap menghadapinya." Karina berdiri dan berjalan keluar rumah. Bi Eni segera mengikutinya. Menutup pintu rumah dan menguncinya. Ia dan anaknya memiliki kunci masing-masing. Jadi tidak ada masalah dengan itu.
Karina masuk ke dalam mobil. Duduk dengan pandangan mata yang kosong sepanjang jalan. Bi Eni berulang kali memghela napas melihatnya.
"Jangan terlalu dibawa perasaan nak." Ucap Bi Eni pada akhirnya.
"Tidurlah dulu. Nanti begitu kita sampai, aku akan membangunkanmu." Ucap bi Eni setelah melirik Karina.
Sebelum sampai di tempat tujuan, taksi yang mereka tumpangi berhenti satu kali di rest area untuk istirahat dan makan. Pada malam hari merkea baru sampai di desa.
Bi Eni tentu saja tidak memberitahu Karina jika desa ini adalah deaa dimana dia dan Nadia berasal. Jika Karina sampai tahu, dia tidak akan mungkin mau. Bi Eni memberi tahu Karina jika saudaranya tinggal di sini. Dan kebetulan ada rumah saudaranya yang lain yang kosong.
Joni sudah menunggu kedatangan mereka dari sore hari di ujung desa. Sudah puluhan tahun Bi Eni tidak pernah pulang kampung, jadi dia pasti tidak akan mengenali desa itu lagi. Ia sudah diperintahkan oleh Nadia untuk menjaga menantunya. Saat pernikahan Bisma dan Karina, tidak ada orang dari desa yang hadir, jadi mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
"Eni!" Teriak Joni begitu mobil yang ditumpangi Karina dan Bi Eni memasuki desa. Bi Eni segera meminta sopir untuk menghentikan mobilnya.
"Untung saja kamu di sini. Kalau tidak aku takut akan tersesat. Desa ini sudah berubah banyak setelah sekian lama." Bi Eni membuka kaca jendela. Karina ikut melihat keluar. Dia melihat lelaki tua dengan rambut setengah beruban berdiri di depan jendela. Wajah tuanya penuh semangat saat ia tersenyum pada Karina.
"Ini saudara yang kamu maksud di telfon tadi?" Tanya Joni memandang Karina dengan takjub. Bayi yang dulu ia lindungi bersama dengan Nadia ternyata sudah mempunyai istri yang manis dan cantik.
"Iya." Bi Eni mengangguk.
Karina mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Joni.
__ADS_1
"Karina.."
"Joni. Panggil om Joni ya." Sama seperti Bisma memanggilku. Lanjut Joni dalam hati.
"Iya om Joni. Terima kasih." Karina tidak.bisa tidak ikut tersenyum saat melihat senyum tulus pria tua di depannya.
"Baiklah. Kalian ikuti motorku. Aku akan menunjukkan jalannya." Ucap Joni yang segera diiyakan oleh mereka.
Karina menatap rumah minimalis di depannya. Rumah ini terlihat bagus dibandingkan rumah-rumah yang lain di desa ini yang mereka lewati. Sebenarnya rumah ini adalah rumah peninggalam pak Rahmat, bapak Nadia. Rumah itu dibangun ulang. Memang tidak ada yang menempatinya di hari-hari biasa. Hanya Nita dan anaknya yang sesekali datang untuk membersihkan rumah dan halaman. Nadia dan Nathan akan membawa anak-anak mereka tinggal di sana sekali dalam setahun. Pada waktu sebelum puasa. Mereka akan nyekar di sana.
"Nah ini. Kalian bisa tinggal di rumah ini. Daripada rumahnya kosong." Ucap Joni sambil membuka pintu.
Siang tadi, begitu Nadia meneleponnya jika istri Bisma akan tinggal di sana ia sangat senang. Tapi setelah mendengar cerita Nadia tentang apa yang terjadi, Joni merasa sedih. Apalagi saat ia harus melepaskan setiap foto yang menempel di dinding. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mematuhinya. Ia berjanji akan menjaga Karina selama di sini. Ia berharap masalah yang mereka hadapi segera berlalu.
"Ini rumah saudara om. Mereka hanya tinggal di sini sebelum puasa. Jadi kalian bisa tinggal dengan tenang." Jelas Joni.
"Terima kasih om Joni. Lalu bagaimana dengan biaya sewanya?" Tanya Karina ragu-ragu.
"Tidak perlu." Ini adalah milik mertuamu, apanya yang uang sewa? Gumam Joni dalam hati.
"Tapi ini tidak akan nyaman Om."
"Begini saja, om biasanya menyewa orang untuk membersihkan rumah ini. Jadi dengan kalian menjaga dna membersihkannya anggap saja sebagai bayarannya."
"Baiklah kalau begitu om. Terima kasih banyak."
"Sama-sama. Sudah malam. Apa kalian sudah makan?" Tanya Joni.
"Belum Jon. Tadi kami belum sempat makan malam." Bi Eni menjawabnya.
"Baiklah. Kalian tunggu dulu. Aku akan membelikannya untuk kalian." Karina hendak menolak, tapi bi Eni mencegahnya dengan memegan lengannya dan menggelengkan kepalanya.
Joni keluar untuk mencarikan mereka makanan. Sebenarnya di dalam lemari es sudah ia penuhi dengan bahan masakan. Semua perlengkapan juga sudah siap digunakan. Tetapi kedua wanita itu baru saja sampai, jadi mereka pasti lelah.
Sate menjadi pilihan Joni. Setelah memesannya ia pergi ke rumah besar untuk memberitahu Yuli tentang kedatangan Karina dan memintanya untuk membantunya menjaga rahasia.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😊