
Bisma menutup mata Karina begitu mereka hampir sampai kampungnya. Karina yang mudah penasaran tentu saja menolak untuk ditutup matanya saat Bisma mengatakan bahwa dirinya mempunyai kejutan begitu mereka tiba di kampung. Namun Bisma terus memintanya untuk menutup mata dan mengatakan bahwa ia tidak akan menjalankan mobilnya jika istrinya itu tidak menurut untuk menutup mata.
"Baiklah aku akan mentup mataku." Sungut Karina dengan kesal. Ia menutup matanya sendiri. Bisma tersenyum menyadari bahwa Karina tidak bersungguh-sungguh menutup matanya. Wanita itu masih sesekali membuka sedikit matanya.
Bisma menyunggingkan bibirnya dan meraih kain hitam yang sudah ia siapkan untuk menutup mata Karina.
"Mas kenapa harus pakai ini sih?" Keluh Karina sambik meraba matanya yang tertutup kain hitam. Dirinya mendadak kesal karena sudah tidak bisa mengintip lagi. Ia bahkan tidak bisa membuka kelopak matanya.
"Karena kamu tidak mau menurut." Bisma mengusap kepala Karina. Membuat istrinya mendengus kesal. Niatnya mengintip gagal sudah.
"Menurutlah sebentar, oke?" Tangan Bisma ganti membelai pipi Karina.
"Baiklah. Cepat ya mas." Ucap Karina tidak sabar.
"Iya- iya." Bisma langsung melajukan kembali mobilnya. Kali ini mobil yang disewa Bisma lebih mahal dari yang pertama kali ia sewa.
Suasana saat mobilnya memasuki kampung masih sama sepertu biasa. Banyak anak kecil yang menyapa mereka lalu mengejar mobil yang melaju pelan saat memasuki jalan kampung.
"Mas biarkan aku membuka mataku ya. Aku mau memberikan oleh-oleh pada mereka." Karina menemukan ide agar ia bisa terbebas dari penutup mata itu.
"Tidak perlu. Nanti saja kalau sudah sampai di rumah."
"Kasihan mas mereka jalannya jauh."
"Bukankah dulu ada yang bilang jika anak kampung sini kuat berjalan jauh? Apa ada yang mencoba membual?"
Karina tidak bisa menjawab. Ia lupa jika otak suaminya ini di atas rata-rata yang sangat mudah mengingat setiap hal. Tidak seperti dirinya yang mudah sekali lupa. Akhirnya Karina mendengus dan melipat kedua tangannya.
Bisma tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyadari kapan ia mulai sangat mencintai istrinya ini. Meskipun Karina ini cantik, tapi kelakuannya kadang ajaib.
"Anak-anak tunggu di rumah kak Karina ya!" Bisma membuka kaca jendelanya dan berteriak pada anak-anak yang langsung senang mendengarnya. Mereka segera saja berlari mendahului mobil dan berlomba untuk sampai terlebih dahulu.
"Wah-wah anak di kampung ini memang sangat hebat." Bisma berkata sambil melirik Karina yang mendengus kesal. Ia pun menambah sedikit kecepatan mobilnya.
__ADS_1
Masih cukup jauh dari rumah Karina, mereka sudah terdengar teriakan dari anak-anak yang tadi berlari mendahului mobil mereka. Sekarang anak-anak itu sudah semakin banyak karena anak-anak itu mengajak anak lain yang mereka jumpai di jalan.
"Kita sudah sampai ya?" Tanya Karina penasaran karena ia sama sekali tidak bisa melihat.
"Sebentar lagi." Ucap Bisma tidak berbohong. Masih ada sekitar sepuluh rumah lagi di sebelah kiri dan kanan yang harus mereka lalui.
"Tapi mereka sudah terdengar."
"Apa kamu tidak ingat jika selain bsia berlari cepat, mereka juga bersuara keras?" Karina tidak bisa menjawab. Karena mobil masih terus melaju yang membuktikan jika ucaoan Bisma memang benar. Mereka masih cukup jau dari rumah.
Tak lama berselang Bisma berhenti dan mematikan mesin mobilnya. "Kita sampai." Serunya Kemudian. "Tunggu, aku akan membantumu turun." Lanjutnya sebelum ia turun dan meminta anak-anak untuk diam sebentar.
Karina heran saat anak-anak diam menuruti permintaan Bisma yang meminta mereka untuk diam. Padahal mereka biasanya tidak sepatuh itu.
Bisma membantu Karina untuk turun dari mobil. Juga menuntunnya berjalan hingga sampai di depan pagar rumah yang terbuat dari bambu. Karina berhenti saat Bisma memintanya untuk berhenti.
"Ada apa sih mas?" Tanya Karina semakin heran. Di benaknya ia pikir jika Bisma mungkin memberikan hadiah untuknya. Tapi ia benar-benar tidak bisa menebak, karena selama ini Bisma belum pernah memberikan hadiah untuknya karena semua kebutuhannya sudah tercukupi.
"Siap-siap. Aku akan membuka mata kamu." Ucap Bisma sambil berdiri di belakang Karina dan membuka ikatan kain yang menutup mata Karina.
"Mas..." Karina tidak bisa berkata-kata melihat pemandangan indah di depannya. Rumah peninggalan neneknya yang dua bula lalu terlihat buruk dan seperti hampir roboh sekarang terlihat indah.
Bisma sengaja merenovasi rumah itu tanpa mengganti bentuknya. Bisma hanya meminta membangunnya ulang tapi tanpa meninggalkan bentuk lamanya.
Mata Karina terpana memandang halaman rumah itu. Pagar bambu yang hampir roboh digantikan baru. Terbuat dari stenlis yang dibentuk dan dicat seperti bambu agar terlihat seperti aslinya. Bunga-bunga di dalamnya juga tertata rapi sekarang. Dua bulan lalu saat mereka datang, banyak bunga di halaman yang tumbuh tak terawat di tanah. Sekarang bunga-bunga itu sudsh ditata di dalam pot.
"Mas yang melakukan semua ini?" Karina menoleh pada Bisma yang ada di belakangnya. Karina bahkan tidak menyadari jika Bisma memeluknya dan mengelus perut buncitnya.
"Ya. Apa kamu suka?" Tanya Bisma sambil tersenyum hangat pada istrinya.
"Suka. Sangat suka." Karina mengangguk dengan semangat. Dan tanpa sadar, Karina mendekatkan wajahnya dan hampir mencium Bisma jika suaminya itu tidak menghentikannya.
"Kita masih di luar. Jangan berikan anak-anak tontonan gratis." Ucap Bisma sambil melirik anak-anak yang sedang cekikikan melihat mereka berdua.
__ADS_1
"Ayo kak Karina! Kenapa tidak jadi dicium?" Salah seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun bertanya penuh harap.
"Jangan harap! Kalian belum boleh melihat. Ayo antri. Kakak punya banyak hadiah untuk kalian semua." Ucap Karina sambil berjalam kembali ke mobilnya mengikuti Bisma yang sudah lebih dulu membuka bagasi mobil.
Kali ini Karina tidak hanya membawa banyak camilan, eyapi juga membawa boneka dan juga mainan lainnya. Selain itu ia juga menbawa banyak buku bacaan yang akan ia sumbangkan di perpustakaan yang dibuka Karina di balai desa.
Semua anak bahagia mendapatkan hadiah dari Karina. Mereka memeluk mainan baru mereka dan menenteng kantong plastik berisi camilan.
"Terima kasih kak Karina. Terima kasih kak Bisma." Ucap mereka serempak.
"Sama-sama. Ya sudah kalian sekarang saja. Sudah siang." Ucap Karina. Anak-anak pun memgiyakan dan segera bubar dari halaman rumah Karina.
"Mereka sudah pulang. Kita juga harus masuk. Ada kejutan lagu di dalam." Ucap Bisma membimbing Karina masuk ke dalam rumah.
Karina kembali terkejut saat melihat isi rumah. Sama dengan bantuk bagian rumah di luar tadi, tatanan di dalam rumah juga sama meskipun dengan barang-barang yang barus. Pajangan berupa foto-foto juga kembali dipasang di tempat yang sama.
"Barang-barang yang lama sudah aku suruh orang berikan pada orang lain yang membutuhkan. Barang-barang itu masih bsia digunakan. Sayang jika dibuang begiu saja. Aku harap kamu tidak marah." Ucap Bisma saat Karina masih memperhatikan setiap sudut rumah yang ia jelajahi.
"Tidak mas. Aku tidak marah. Aku malah ingin berterima kasih padamu. Aku tidak pernah menyangka akan melihat rumah ini dnegan begitu indah. Aku merasa aku kembali ke masa kecilku dulu."
Bisma tersenyum dan memeluk Karina dengan erat. "Kamu tahu kan bagaimana kamu harus berterima kasih?" Bisik Bisma di telinga Karina yang langsung membuat wajah Karina memerah.
"Masih siang mas." Karina memalingkan wajahnya. Ia takut jika menatap Bisma terus ia juga akan terbuai dan kehilangan kontrol.
"Oke. Tapi aku harap penampilanmu malam ini tidak mengecewakan." Bisma menatap ke arah bukit kembar Karina yang semakin lama semakin terisi. Membuatnya terlihat menggoda meskipun tertutup kain pakaian yang dipakai Karina.
Kruyuuuk....
"Hehehe ayam jago peliharaan cacing di perutku sudah berbunyi mas." Karina tersenyum mengelus perutnya yang baru saja berbunyi.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir 😊