Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_66. Gaji CEO


__ADS_3

Akhir-akhir ini Bisma merasa bahwa keputusannya untuk menuruti permintaan Nadia untuk membawa Karina tinggal di mansion Mahardika adalah sesuatu yang tepat. Bahkan rencana untuk memgunjungu Jihan masih belum tercapai hingga lewat satu bulan lebih.


Pekerjaan Bisma sangat banyak. Apalagi produk sabun mandi yang diproduksi oleh perusahaanya akan segera diluncurkan. Bisma beberpaa kali datang ke pabrik untuk melohat proses pembuatannya. Ia juga berbicara dengan para ahli yang bekerja sama dengannya.


Sabun B-Health adalah produk baru yang menitikberatkan pada kesehatan. Jadi ia mempekerjakan ahli dalam bidang medis juga. Terutama yang berspesialisasi dalam bidang kesehatan kulit. Bisma menekankan produknya harus bisa diandalkan untuk turut serta dalam menjaga kesehatan. Tetapi yang paling penting adalah agar produknya aman digunakan oleh semua usia.


Bisma sering pulang telat. Dia sering pulang saat Karina sudah tidur. Tetapi malam ini, Bisma pulang sedikut lebih awal. Meskipun juga termasuk sudah larut, Karina belum tidur. Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan bathrobe putih yang membalut tubuhnya. Perut buncitnya terlihat mempesona.


"Sudah pulang mas?" Karina sedikit terkejut saat melihat Bisma duduk di tepi ranjang. Ia sampai melupakan bahwa ia tidak memakai apa-apa di balik bathrobe yang dikenakannya. Ia mendekati Bisma.


"Ya. Kesinilah. Aku sangat merindukanmu." Bisma menarik tangan Karina. Membuat istrinya itu duduk di atas pangkuannya.


"Kamu pasti lelah kan? Jangan pangku aku seperti ini." Karina mulai nerasa ada yang salah. Ia merasa tangan hangat yang kontras dengan kulitnya yang segar setelah mandi merayap di balik bathrobenya. Ia baru sadar bahwa ia hanya memakai saru lapis pakaian yang sangat-sangat mudah dilepas. Cukup hanya dengan melepas simpul talinya dengan sekali tarik, tubuhnya yang telanjang pasti sudah terekspose.


"Mas! Jangan nakal deh!" Karina memukul tangan Bisma yang masuk melalui lipatan di pahanya.


"Ahahahaha. Siapa suruh kamu begitu menggoda." Bisma mengabaikan tangan Karina yang mencoba menahan gerakan tangannya. Matanya malah fokus pada gunung kemabr yang mengintip di depannya.


"Oh ya. Aku tadi membawa sabun di bawah. Besok aku akan meminta mama untuk membagikannya pada para tetangga. Aku juga membawakannya untukmu." Bisma meraih paper bag yang ada di sampingnya. Karin membukanya dna menemukan lima kotak sabun di dalamnya.


"Sabun apa ini mas? Sepertinya ini belum ada di pasaran. Karina membuka satu kotak dan mencium baunya. Harum segar. Itulah jesan pertama saar Karina menghirup aromanya.


"Ini memang produk pertama. Yang diproduksi oleh perusahaanku." Karina merasa bingung. Setiap kali Bisma bercerita tentang perusahaan, Bisma tidak pernah menyebut bahwa perusahaan itu miliknya. Kenapa saat ini berbeda?


Bisma mengetahui jika Karina merasa aneh. Jadi dia menjelaskan. "Ini adalah perusahaan yang aku dirikan sendiri. Awalnya namanya adalah BS Industi. Bisma Strong. Tapi sekarang sudah diganti menjadi BK Industri. Bisma Karina."


"Jangan bercanda deh mas. Membuat perusahaan itu tidak mudah."


"Aku tahu. Tapi aku bisa membuktikan kalau aku bisa. Mahardika Grub adalah perusahaan keluaraga papa. Meskipun papa tidak pernah membeda-bedakan aku yang bukan putra kandungnya dan Gerry yang merupakan putra kandungnya, aku juga sadar diri. Jadi aku bercita-cita membuat perusahaanku sendiri. Aku ingin membuktikan bahwa aku mampu bukan karena aku ada di bayang-bayang dan memanfaatkan Mahardika Grub seperti yang semua orang katakan tentangku."


"Dan sekarang mas berhasil. Mas sungguh hebat." Puji Karina. Meskipun ia tidak tahu seperti apa atau seberapa besar perusahaan yang didirikan oleh Bisma secara pribadi, ia sudah sangat kagum pada Bisma.

__ADS_1


"Bukankah aku harus mendapatkan hadiah untuk itu?" Bisma tersenyum mesum. Tanga kanannya mengangkat dagu Karna dna menempelkan bibirnya pada bibir Karina. Tangan kirinya menekan leher belakang Karina untuk mendekat. Karna bukan lagi istri yang polos.


Bisma pandai dalam hal mengajari Karina bagaimana berbuat mesum. Karina belajar dengan cepat. Dengan membuka sedikit mulutnya, Biama langsung menyesap dan menyelinapkan lidahnya. Karina membalas ciuman yang menuntut itu. Keduanya menggerakkan kepala mereka.


Dengan perlahan, Bisma membalik tubuh mereka. Merebahkan Karina dengan hati-hati di atas ranjang. Tangannya sudah berkeliaran sementara bibirnya terus menyesap dan membuat tanda di beberapa tempat.


Bisma mengelus perut buncit Karina sebelum naik ke atas bukit kembar. Bermain-main di sana. Memetik stroberry yang kini semakin tumbuh besar. Benar yang dipikirka Karina, dengan sekali tarik, tubuhnya sudah terlihat. Karina dapat melihat puncah perutnya yang lancip saat Bisma membenamkan kepalaya di dadanya.


Remasan tangan Karina di seprai semakin kuat saat ia merasakan panas di seluruh tubuhnya. Apalagi saat tangan Bisma yang nakal bermain di kedalaman guanya.


"Sebentar lagi papa akan menyapamu. Jangan nakal ya." Bisma mengelus dan mengecup perut Karina sebelum memulai aksinya.


Suara ambigu sepertinya masih menggema. Aroma kamar juga kuat dengan aroma percintaan. Peluh masih mengalir di seluruh tubuh keduanya. Perut buncit Karina juga terasa sedikit tidak nyaman. Bisma membantu Karina untuk mengelusnya. Mungkin oleh raga malam mereka kali ini sedikit berlebihan. Mereka sudah tidak melakukannya hampir dua minggu karena kesibukan Bisma akhir-akhir ini. Jadi saat mereka mendapatkan kesempatan, mereka hampir tidai bisa mengendalikan diri.


"Maaf ya aku agak kasar malam ini." Ucap Bisma penuh rasa bersalah.


"Tidak apa. Tapi jangan diulangi lagi."


"Apa aku panggilkan dokter saja?"


"Tidak masalah. Yang terpenting kita harus memastikan baby kita baik-baik saja." Bisma benar-benar khawatir. Karina tadi mengeluh perutnya sakit saat mereka baru selesai.


"Tidak akan terjadi apa-apa mas. Sekarang sudah tidak terasa sakit lagi. Mungkin dia terkejut melihat kekuatan papanya." Jawab Karina sambil merona.


"Aku sudah lama puasa. Benar tidak apa-apa?"


"Benar. Kamu bisa rasakan sendiri kan gerakanya sudah normal." Bisma menurut. Ia menempelkan tangannya di atas perut Karina. Dan memang benar.


"Hal ini tidak akan terjadi lagi. Aku akan lebih halus nanti." Bisma menarik Karina ke dalam pelukannya. Menyandarkan kepala Karina di dadanya yang polos.


"Mas, kalau di Mahardika posisi mas sebagai apa? Sepertinya semua orang di sana menghormati mas." Karina mendongakkan kepalanya. Sejak tadi ia sudah memikirkan hal ini.

__ADS_1


"CEO. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya?" Bisma memandang Karina yang tampak polos dengan rambut yang berantakan di pelipisnya. Bisma mengulurkan tanganya untuk merapikannya.


"Aku penasaran berapa gaji yang mas terima setiap bulannya?" Tangan Bisma berhenti bergerak. Ia memandang Karina tidak percaya.


"Apa kamu tidak pernah mengecek saldomu?" Tanya Bisma serius.


"Tidak. Memang kenapa aku mengeceknya? Aku tidak memiliki pekerjaaan yang akan membuat rekeningku bertambah karwna gaji yang aku dapat. Jadi aku sudah lama tidak mengeceknya. Lagipula aku jarang membeli sesuatu. Dan yang paling sering adalah mama yang membelikannya untukku." Jawab Karina.


Bisma tersenyum. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi istrinya ini. Ia mengambil ponsel Karina yang diletakkan di atas nakas. Memberikannya pada Karina dan memintanya untuk membuka akun rekeningnya.


Mata Karina melotot tak percaya. Bagaimana bisa di dalam rekeningnya sekarang tiba-tiba ada sepuluh angka. Yang paling depan bahkan angka dua. Siapa yang berbaik hati dan memberinya uang sebanyak itu?


Dengan tidak percaya, Karina menatap Bisma. Seperti yang diharapkan, Bisma tersenyum memastikan apa yang dipikirkan Karina benar adanya.


"Semua gajiku masuk ke dalam rekeningmu semenjak kita menikah. Itu termasuk bonus dari beberapa tender juga." Jelas Bisma. "Apa kamu senang?"


"Aku bingung mas. Uang sebanyak ini digunakan untuk apa?" Tanya Karina dengan wajah linglung.


"Bukankah semua wanita menyukai belanja? Pergi belanja sesekali juga tidak apa. Kamu bisa meminta bi Eni untuk menemanimu." Bisma mengelus kepala Karina.


"Apakah aku boleh memakainya?"


"Tentu saja boleh. Itu adalah nafkah yang aku berikan padamu. Sebagai seorang istri itu merupakan hak dan kewajibanmu. Hakmu mendapatkan nafkah dariku. Dan kewajibanmu untuk mengelola nafkah yang kuberikan padamu. Meskipun kamu menghabiskannya, aku juga tidak akan marah. Tugas suami hanya untuk mencari nafkah. Sedangkan tugasmu untuk menghabiskannya."


"Tidak-tidak. Uang sebanyak ini tidak boleh dihaniskan begitu saja. Meskipun pekerjaanmu baik saat ini, tidak ada yang bisa menjaminnya untuk selamanya. Kehidupan kita masih panjang. Baby kita butuh perencanaan yang matang."


"Kamu memang istri yang hebat." Bisma memeluk Karina. Keputusan untuk menikah dengan Karina tidak pernah ia sesali.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir ~《*,*》~


__ADS_2