Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_32. Ketahuan Nara


__ADS_3

Karina memilih untuk memandang pemandangan di luar mobil selama perjalanan. Mencoba merekam pemandangan kampung halamannya yang akan kembali ia tinggalkan dan entah kapan ia akan dalat kembali ke tempat penuh kenangan ini. Tempat dimana ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh neneknya. Meskipun mereka Karina dan neneknya hidup dalam keadaan yang serba kekurangan, tetapi keduanya hidup dengan bahagia. Bagi pasangan nenek dan cucu itu sepertinya hanya cukup ada mereka berdua dan mereka akan bahagia. Yah! Hidup akan terasa membahagiakan jika dalam hati merasa cukup.


Tanpa sadar Karina menghembuskan napasnya saat pemandangan sabana dan juga sawah sudah mulai berganti dengan bangunan-bangunan. Hidupnya akan kembali dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang bahkan lebih tinggi dan lebih megah dari semua yang ada di sini.


"Kenapa? Masih ingin tinggal?" Karina menoleh dan tersenyum pada Bisma yang sedang menyetir di sampingnya.


"Tidak. Hanya saja aku akan merindukan semua ini saat kita kembali ke Jakarta nanti." Karina menggelengkan kepalanya.


"Kita bisa kesini lagi lain kali jika kamu sudah melahirkan dan anak kita sudah bisa melakukan perjalanan jauh." Bisma mengelus kepala Karina.


"Hem. Benarkah?" Karina sedikit tidak percaya. Kampung halamannya yang sangat sederhana, rumah peninggalan neneknya yang sudah hampir roboh yang entah masih dapat digunakan saat mereka ke sana lagi atau tidak. Dan Bisma berkata mereka bisa mengunjungi tempat penuh kenangan ini.


"Tentu saja. Tempat ini adalah tempat bersejarah untuk kita." Bisma melirik Karina dan mengerlingkan matanya. Karina tersipu melihat Bisma yang bersikap genit seperti itu.


"Di tempat yang sederhana ini kita telah memantapkan diri untuk memulai rumah tangga kita dengan sungguh-sungguh." Bisma kembali berkata dengan serius.


"Ya. Aku harap keputusanku ini adalah yang terbaik untuk kita." Karina mengangguk setuju. Meskipun ia masih belum yakin apakah Bisma mencintainya, apakah ia juga mencintai Bisma. Yang ia yakini adalah bahwa Bisma adalah suami yang terbaik untuknya. Dan ia tidak akan sulit untuk mencintai suaminya itu.


"Bisma.."


"Mulai sekarang panggil aku mas." Potong Bisma cepat. "Aku ini suami kamu. Apalagi umur aku lebih banyak dari umurmu."


"Hem..."


"Apa kamu mau panggil aku sayang saja?" Bisma menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Karina segera menggelengkan kepalanya. Untuk memanggil mas saja rasanya sangat canggung karena terbiasa memanggil namanya langsung. "Aku akan panggil kamu mas."


"Bagus!" Bisma tersenyum puas. Ia kembali mengelus kepala Karina.


"Tadi kamu mau bilang apa?" Bisma ingat bahwa ia tadi memotong perkataan Karina.


"Tidak jadi. Aku sudah lupa." Ucap Karina sambil kembali memalingkan wajahnya ke luar mobil. Bisma tahu jika istrinya sedang berbohong. Tapi ia tidak mungkin memaksa Karina jika wanita itu memang tidak mau memberitahunya. Mungkin Karina butuh waktu untuk sepenuhnya percaya padanya.


Sisa perjalanan itu Karina habiskan dengan melamun. Apa yang dikatakan Fania padanya malam tadi setelah makan malam membuatnya mau tidak mau memikirkannya meskipun seberapa pun ia berpikir tidak mengetahui bahkan menebak apa yang terjadi sebenarnya.


"Karina bangun, sayang." Ucap Bisma yang lamat-lamar didengar oleh Karina. Karina tidak sadar jika ia tertidur.


"Aku ketiduran ya? Maaf." Karina membuka matanya perlahan. Menguceknya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya ia gunakan sebagai tumpuan untuk menegakkan tubuhnya.


Karina dan Bisma turun. Bisma menyuruh pelayan hotel untuk mengantarkan barang-barang mereka di dalam mobil ke dalam kamar mereka.


Pagi ini sebelum Karina dan Bisma berangkat, Fania dan ibunya datang untuk memberikan mereka beberapa barang. Pakaian dan beberapa perlengkapan bayi. Mereka berkata bahwa mereka tidak akan bisa memberikan barang-barang itu secara langsung saat Karina melahirkan nanti. Jadi mereka memberikannya saat ada kesempatan. Ibu Fania juga membawakan mereka beberapa masakan khas untuk merkea makan bersama Nara dan Alex saat mereka tiba di hotel.


Nara segera menghampiri Karina begitu mendengar bahwa mereka sudah sampai di hotel. Wanita dengan perut buncit itu sengaja keluar dari kamarnya dan menunggu Karina di lobi. Mengabaikan Alex yang memintanya untuk tenang dan menunggu di dalam kamar.


Kemarin, Bisma mengatakan bahwa mereka akan menginap di desa karena ada masalah yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu. Jadi Nara tentu saja tidak bisa tidak untuk merasa khawatir. Selain itu, Nadia juga mewanti-wanti Nara untuk ikut menjaga dan mengawasi Karina mengingat dialah yang mengajak Karina untuk pergi liburan nadahal udia kandungan Karina masih dalam masa-masa riskan. Jadi jika sesuatu terjadi pada Karina maupun bayinya, ia pasti merasa bersalah.


Nara memutar tubuhnya untuk memeriksa keadaan Karina setelah ia memeluk erat iparnya itu. Memeriksa apakah ada yang salah padanya. Tetapi yang ia dapati justru kenyataan yang sangat tidak ia duga. Ia melihat bekas kissmark yang sudah memudar di leher Karina.


Mengetahui itu Nara merasa lega. Dalam pikirannya, kakak dan kakak iparnya ini sengaja tidak pulang karena terjadi yang iya-iya selama mereka berada di desa dan menghindarinya agar tidak melihat jejak yang mereka tinggalkan. Tanpa sadar Nara tersenyum menertawakan kesimpulan yang ia buat sendiri.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba tersenyum seperti itu? Lex sepertinya istrimu itu perlu dibawa ke spikiater. Tadi saja wajahnya itu terlihat sangat. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum seperti orang gila." Ucap Bisma yang langsung mendapat pukulan dari adinya yang cerewet.


"Apaan sih kak. Kakak tuh yang perlu pergi ke spikiater. Udah tahu istrinya masih hamil muda. Udah...hemp." Karina menutup mulut Nara yang ember. Mereka sedang berada di lobi hotel dan Nara berbicara dengan sangat keras. Akan sangat memalukan jika ada yang mendengarnya.


"Mulutmu itu perlu dipasang rem cakram biar bisa dikontrol." Bisma menyentil kening Nara.


"Kamu apakan istriku!" Alex dengan kesal menarik Nara ke dalam pelukannya. Ia menatap Bisma dengan tatapan permusuhan.


"Istrimu itu ajarin biar tidak ceplas ceplos kalau ngomong." Bisma masih ingin terus bicaram tetapi Karina dengan cepat memotongnya.


"Sudah-sudah lebih baik kita masuk dulu. Tidak enak dilihatin banyak orang." Alex dan Bisma mendengus. Tapi mereka tetap berjalan menuju lift.


"Karina kamu hutang cerita apa yang terjadi di kampung halamanmu." Nara menoleh ke belakang dan berbicara pada Karina.


"Iya. Nanti setelah makan siang. Tadi aku bawa banyak makanan khas dari sana. Ibu dari temanku yang memasakkannya. Kalian pasti suka. Masakannya sangat enak." Ucap Karina bersemangat. Sejak di dalam mobil ia sudah dapat mencium aroma yang menggiurkan yang menggoda selera.


Nara juga sepertinya sebelas dua belas dengan Karina. Jika sudah mendengar kata makan, maka dunianya akan kembali baik-baik saja meskipun sebelumnya ia merasa dunianya akan segera hancur.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😊

__ADS_1


__ADS_2