
Siang ini Karina pergi ke kantor Bisma. Wanita itu membawakan makan siang untuk suaminya. Tadi Bisma menelponya dan memintanya untuk mengantarkan berkas ya g ketinggalan di ruang kerjanya . Jadi Karina berpikir untuk membawakan makanan untuknya.
Dengan menaiki taksi, Karina pun akhirnya sampai di depan kantor. Ia hanya sekali datang ke kantor suaminya. Itu adalah saat Nara mengajaknya pergi ke sana. Dan setelah menikah, Karina belum pernah datang lagi.
Saat Karina memasuki lobi, petugas resepsionis segera menanyakan tujuannya datang.
"Maaf mbak, Ada keperluan apa?"
"Saya mau menemui Bisma."
"Apa sudah membuat janji sebelumnya?"
"Belum." Karina menunjukkan Berkas yang dibawanya.
"Mohon maaf. Kalau belum membuat janji tidak bisa bertemu."
" Tapi Bisma tadi memintaku mengantarkan dokumennya yang ketinggalan."
"Lebih baik anda pulang saja. Banyak wanita yang melakukan trik ini untuk menipu dan bertemu dengan tuan Bisma. Apa lagi mbak nya kan sedang hamil. Masih mau merayu tuan Bisma? Dasar tidak tahu diri!" Wanita itu memperhatikan penampilan Karina yang apa adanya. Tidak ada riasan berlebihan di wajahnya. Hanya sapuan bedak tipis dan juga liptin untuk membuat bibirnya lembab. Bajunya pun hanya baju santai yang biasa dipakai di rumahm
"Tapi saya tidak menipu. Bisma tadi menelponku dan memintaku untuk mengantarkan berkasnya. Kalau mbak tidak percaya bisa periksa berkas ini." Karina menyerahkan berkas itu. Tapi wanita di belakang meja resepsionis itu menolaknya.
"Saya sudah berusaha sopan sejak tadi karena melihat mbak sedang hamil. Tapi kalau mbak terus keras kepala saya akan meminta security untuk mengusir mbak."
"Mengusir? Siapa yang mengusir siapa?" Kedua wanita yang berdebat itu menoleh dan mendapati Bisma dan Andi berjalan ke arah mereka.
"Kamu tidak apa-apa kan?" Bisma mendekati Karina dan memeluknya dan juga mengecup keningnya. Lalu mengambil alih kotak nasi dan berkas yang dibawa Karina dan memberikannya pada Andi.
Semua karyawan yang ada di sekitar memperhatikan gerakan Bisma terlihat sudah sangat terbiasa. Tidak ada kesan canggung maupun kaku. Tatapan penuh kasih sayang juga diberikan pada wanita hamil yang siang ini datang ke kantor mereka. Selama ini mereka tidak pernah melihat bahkan mendengar jika Bisma berhubungan dekat dengan wanita. Namun beberapa minggu ini mereka memang mendengar kabar bahwa Bisma sudah menikah. Namun mereka semua tidak ada yang percaya pada berita itu. Tapi sekarang, setelah melihat apa yang terjadi di depan mata mereka, mereka mau tak mau tentu saja percaya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Memangnya kenapa?" Suara Karina menyadarkan semua orang dari keterkejutan mereka. Kini semua orang memperhatikan penampilan Karina.
Dilihat dari penampilannya, Karina jauh dari kata sempurna untuk menjadi pasangan atasan mereka yang sempurna. Yah meskipun tidak dapat mereka sangkal jika Karina ini cantik. Tapi penampilan Karina sangat tidak berkelas. Gaun sederhana berwarna biru muda bermotif bunga. Wajah Karina juga sepertinya tidak dipoles dengan benar.
"Kamu ini hampir diusir dari kantor suamimu sendiri, masih bilang tidak apa-apa?" Suara Bisma memang rendah. Tetapi terdegar begitu mengintimidasi.
"Tidak apa-apa. Hanya kesalahpahaman sedikit tadi."
"Ini tidak bisa dibiarkan. Andi tolong pecat bagian resepsionis sekarang. Dan jangan lupa beritahu semua orang di kantor ini untuk memperlakukan Istriku dengan benar. Seenaknya saja memperlakukan istriku." Mendengar perkataan Bisma, semua orang tercengang. Bisma biasanya tidak akan mencampurkan masalsah pribadi dengan kerjaan. Bahkan jika Gerry yang masih belajar melakukan kesalahan pun Bisma tidak segan-segan untuk menegurnya.
"Baik tuan." Andi segera mengangguk. Sedangkan petugad resepsionis yang tadi mengusir Karina segera meminta maaf dan memohon agar tidak dipecat.
"Mas ini keterlaluan. Ini hanya masalah kecil. Todak perlu dibesar-besarkan." Karina merasa kasihan. Bagaimana pun ia tahu jika mencari pekerjaan di zaman sekarang sangat sulit.
"Tidak menghormatimu sama saja tidak menghormatiku. Mana bisa dibiarkan begitu saja."
"Sudahlah mas. Ayo kita ke ruanganmu saja. Aku sudah lapar." Karina segera mengalungkan tangannya di lengan Bisma. Ia harus segera membawa Bisma pergi untuk menyelamatkan resepsionis yang baru saja mau mengusirnya.
Bisma mengajak Karina masuk ke dalam ruangannya. Ruangan yang dulunya milik Nathan. Karina dibimbing untuk duduk di sofa. Meletakkan kotak makanan yang sempat diminta Bisma dari Andi di atasnya. Seketika, meja yang tadinya hanya ada vas bunga dan kotak tisu kini sudah penuh dengan makanan.
"Lain kali kalau mau datang langsung naik saja ke lantai ini." Ucap Bisma di sela-sela ia menyuapi Karina. Bi Eni membuat ikan goreng. Dan Bisma tidak ingin jika Karina sampai terkena duri ikan. Jadi ia melarang Karina untuk makan sendiri meskipun Karina sudah menolaknya.
"Iya. Tadi aku kan belum tahu."
"Maaf ya kamu sampai hampir diusir tadi. Seharusnya aku memperkenalkanmu pada semua orang. Jadi semua ini tidak akan terjadi."
"Sudahlah tidak apa-apa. Lagipula dulu hubungab kita juga tidak sebaik ini."
"Kamu benar." Bisma memeluk Karina. "Ayo kita berjanji jika hubungan kita akan selalu baik." Karina menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang." Ucap Karina saat Bisma hendak menyuapinya lagi. Ia mengusap perutnya yang terasa penuh.
"Satu lagi ya?"
"Tidak mas. Aku sudah sangat kenyang." Tolak Karina. Ia mendorong pelan tangan Bisma yang memegang sendok.
"Baiklah kalau begitu." Bisma akhirnya memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya sendiri.
Di lain tempat, Andra sedang memandang sebuah potret satu keluarga. Keluarga dalam foto itu adalah keluarganya. Foto itu diambil duabelas tahun lalu.
Dalam foto itu terlihat seorang laki-laki yang tampan. Wajahnya mirip dengan wajah Andra saat ini. Itu adalah Abimanyu dua belas tahun lalu. Masih muda dan juga tampan. Di sampingnya, seorang wanita yang terlihat cantik duduk dengan anggunnya. Wanita itu tersenyum manis memperlihatkan lesung pipitnya. Wanita ini adalah Amanda Friska Alanta. Istri dari Abimanyu.
Selain dua orang dewasa yang merupakan pasangan suami istri, di dalam foto itu ada empat orang anak. Yang paling besar adalah anak laki-laki. Terlihat imut dan juga tampan. Mirip dengan Abimanyu. Itu adalah Andra. di samping Andra, gadis kecil berusia enam tahun yang manis sedang tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong. Wajahnya lonjong dan tidak terligat mirip dengan ibunya yang berwajah bulat. Wajah lonjongnya dia dapat dsri ayahnya, yaitu Abimanyu. Gadis kecil itu adalah Megan. (Masih ada yang ingat siapa Megan? Gadis muda yang pernah suka dan menejar Alex.)
Di samping Megan, gadis kecil lain yang berwajah bulat seperti ibunya. Wajahnya sedikit berbeda dengan Megan. Gadis cilik ini bernama Marsya Desyanti Abimanyu. Marsya berdiri di samping pria kecil yang tingginya hanya beberapa senti lebih tinggi darinya yang merupakan saudara kembarnya. Marcel Leonard Abimanyu. Wajahnya juga tampan. Tetapi wajahnya ini seperti perpaduan dari Abimanyu dan Amanda.
Andra mengelus foto itu dengan binar kerinduan di matanya. Itu adalah foto terakhir yang diambil mereka sekeluarga karena beberapa bulan setelahnya, Marsya hilang saat mereka sedang liburan di Lombok. Marsya hilang karena diculik oleh saingan Bisnis Abimanyu. Saat itu, Abimanyu baru saja berhasil mengembangkan usahanya. Padahal, ia meritisnya satu tahun setelah ia menikah. Dan untuk merayakan pencapaian yang membanggakan itu, Abimanyu mengajak keluarganya untuk berlibur.
Siapa yang menyangka disanalah akhir dari kehidupan bahagia keluarganya. Marsya diculik dan tidak pernah ditemukan hingga sekarang. Polisi bahkan menyatakan jika Marsya kemungkinan telah meninggal. Tentu saja hal itu merupakan pukulan keras bagi Amanda. Mulai saat itu Amanda sering jatuh sakit. Dan dua tahun berikutnya Amanda pun meninggal dunia karena sakitnya.
Setelah hilangnya Marsya dan juga kematian Amanda, kehidupan keluarga mereka jauh dari kata bahagia. Abimanyu hanya memikirka pekerjaanya sebagai bentuk pengalihan agar tidak dirundung kesedihan memikirkan Istri tercintanya. Andra, Marcel dan Megan tumbuh tanpa kasih sayang. Abimanyu hanya memenuhi kebutuhan mereka tanpa memberi merkea kasih sayang.
Andra tumbuh menjadi pribadi yang tertutuo dan dingin. Marcel tumbuh menjadi anak yang nakal dan menganggap semua hal adalah permainan. Sedangkan Megan tumbuh menjadi gadis manja yang haus kasih sayang.
Andra menghela napas. "Sudah dua belas tahun berlalu. Dan kehidupan keluarga kami tidak pernah kembali seperti saat itu."
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir 😊