
Sudah biasa jika dua orang perempuan yang bertemu itu membutuhkan waktu yang lama. Apalagi jika keduanya itu cocok. Itu karena mereka tidak hanya membicarakan hal penting saja, tetapi malah merembet membahas apa saja yang terlintas di pikiran yang sering kali datang. Begitu juga dengan Fania dan Karina. Mereka yang memang sudah lama tidak bertemu dan hanya bertegur sapa jarak jauh tentu saja juga seperti itu.
Karina yang awalnya ingin tahu bagaimana cerita yang menyatukan sahabatnya ini dengan Tora. Saat bertemu dengN Fania malah banyak hal lain yang dibahas. Begitu juga dengan Fania yang sebenarnya memiliki hal penting yang akan dibicarakan dengan Karina malah melipakannya sama sekali dan malah asik meladeni kekepoan sahabatnya.
"Eh kok sudah malam ya." Ucap Karina saat menyadari jika waktu sudah larut. Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam.
Di luar kamar masih cukup ramai. Masih banyak tetangga yang berkumpul untuk membantu membuat makanan yang akan dihidangkan besok. Jadi Fania dan Karina tidak menyadari jika mereka sudah berada cukup lama.
"Iya ya. Nggak nyangka kita bicara lama banget." Sahut Fania.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya. Kamu harus istirahat yang cukup. Jangan gugup." Ucap Karina sambil memeluk sahabatnya itu.
"Hem." Fania mengangguk.
Saat Karina keluar, ia tidak mendapati Bisma. Ia celungukan mencari suaminya yang beberapa saat lalu benar-benar ia lupakan kehadirannya
"Mencari suamimu Kar?" Seorang ibu-ibu yang mengetahui Karina yang celingukan bertanya.
"Iya bi. Kemana ya?"
"Kamu itu sudah punya suami. Malah suaminya dilupain. Gimana sih Kar?" Ibu-ibu lain ikut memandang Karina. Wanita iu menggaruk belakang lehernya meski tidak gatal. Ini memang salahnya. Tapi mau bagaimana lagi jika memang ia benar-benar lupa.
"Suamimu tadi keluar. Membantu para laki-laki yang belerja di luar." Kata ibu-ibu itu yang melihat wajah Karina yang terlihat merasa bersalah.
"Terima kasih ya bi." Karina tersenyum lega.
"Kamu beruntung memiliki suami seperti nak Bisma yang pengertian. Banyak laki-laki yang baik, tapi tidak semuanya perhatian." Tadi ibu itu sempat ingin memanggilkan Karina agar keluar, tetapi Bisma melarangnya karena ia tahu pasti istrinya itu kangen dengan sahabatnya dan ada yang harus mereka bicarakan.
"Iya bi. Kalau begitu Karina keluar dulu ya."
"Ya. Temuilah suamimu itu." Karina mengangguk sebelum keliar dari rumah untuk mencari keberadaan Bisma.
Di luar rumah, halaman yang tadinya kosong kini sudah berdiri sebuah tenda yang akan digunakan untuk menerima tamu. Ada panggung yang dihias indah di salah satu sisinya. Beberapa kursi berwarna putih berhias ukiran berwarna emas ditata di atasnya. Bunga-bunga buatan juga ditata dengan apik di sana. Disempurnakam lagi dengan penataan lampu warna warni menambah keindahan.
Di depan panggung itu, kursi-kursi dan meja-meja di tata berhadapan. Kursi yang terbuat dari plastik itu diberi kain putih yang pas sebagai penutup. Mejanya juga dilapisi kain putih yang sama. Bagian atas tenda juga dihias. Kain-kain ditata dengan apik di atas sana. Dikelilingi dengan bunga buatan dan hiasan menjuntai yang indah. Ada karpet merah yang terbentang dari pintu keluar sampai ke panggung.
"Waah indahnya." Puji Karina saat melihatnya.
"Maaf paman, tahu suami saya?" Tanya Karina saat tidak melihat Bisma diantara orang-orang yang masih sibuk di sana.
"Ada di luar nak."
__ADS_1
"Terima kasih paman." Karina tersenyum. Ia segera keluar.
Di luar, para pemuda sedang berkumpul. Mereka sudah selesai mengerjala tugasnya. Tetapi mereka mesih memiliki tugas lain yaitu berjaga malam mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti pencurian yang memanfaatkan keadaan karena banyak barang bernilai jual yang diletakkan di luar rumah. Yang paling parah lagi, kadang ada orang yang ingin mencoba ilmu hitam.
Karina mendengar suara Bisma yang sedang tertawa bersama para pemuda yang berkumpul di depan rumah warga sambil bermain kartu di sana. Karina dengan segera menghampiri kerumunan itu.
"Mas." Panggil Karina saat ia sudah tiba di dekat kerumunan. Semua orang menoleh saat mendengar suara Karina.
Melihat semua orang yang menoleh ke arahnya membuatnya tercengang. Bukan hanya suaminya, semua pemuda di depannya itu wajahnya sudah tidak lagi bersih. Mereka semua penuh dengan coretan warna hitam dari spidol board marker. Ada yang memiliki garis panjang di dahinya, ada yang memiliki silang di pipi kanannya. Ada yang memiliki lingkaran di pucuk hidungnya.
Dan dari semua orang di sana, Bisma-lah yang paling banyak memiliki coretan di wajahnya. Pria tampan itu sudah berhias tiga garis hitam membentuk kumis kucing di masing-masing pipinya. Garis-garis lain juga digambar di atas alisnya menuju luar. Selain itu lagi titik-titik yang membentuk garis di antara dua alisnya. Ini memberikan kesan sedikit...imut.
"Hei sayang, kamu sudah selesai?" Tanya Bisma dengan ringan.
"Sudah." Karina mengangguk samar. Lalu memperhatikan setiap pemuda yang sedang menyembunyikan rasa bersalahnya padanya.
"Apa yang terjadi mas?" Tanya Karina menyelidik. Ia memperhatikan apa saja yang ada di sana.
"Main kartu. Dari pada tidak ada kerjaan."
"Kenapa kamu membiarkan dirimu dipermainkan seperti itu?" Karina memgangkat alisnya. Melihat wajah para pemuda yang tersenyum jahil sudah jelas bahwa suaminya ini mengalami banyak kerugian. Para pemuda ini pasti bermain curang.
"Tidak apa-apa lah Kar. Kita kan cuma bermain." Seorang pemuda seusia Karina berkata sambil menyenggol lengan temannya.
Teman yang disenggol juga segera mengerti jika ia juga harus membantunya bicara. "Kami bersenang-senang."
"Heeh.." Karina menghela napas pasrah. Menatap tanpa daya Bisma dan semua orang di sana. Biarkan saja suaminya ini sesekali dicurangi.
"Baiklah tapi kami harus pulang." Mendengar ucapan Karina, Bisma segera bangun dari duduknya.
"Baiklah. Ini juga sudah malam. Terima kasih untuk malam ini." Bisma menepuk celananya yang kotor.
"Jika ada kesempatan lagi kita main lagi. Tuan Bisma ternyata menyenangkan."
"Kami pamit dulu." Bisma mengaitkan tangannya di pinggang Karina. Semua mata tertuju pada keduanya.
Di kampung, hal seperti itu sebenarnya sangat tabu diperlihatkan di hadapan umum. Pasangan suami istri lainnya paling-paling hanya akan menggenggam tangan saja. Jadi pemandangan seperti itu membuat wajah para pemuda itu memerah. Namun mereka masih tetap memperhatikan keduanya hingga keduanya masuk ke dalam satu-satunya mobil di sana.
"Karina benar-benar beruntung ya." Ucap salah satu pemuda setelah mobil yanh membaea keduanya sudah hampir tidak terlihat.
"Ya. Padahal beberapa bulan lalu Karina masih bukan siapa-siapa. Apalagi saat neneknya meninggal. Karina seperti tidak memiliki harapan. Dia sangat terpuruk saat itu."
__ADS_1
"Karina adalah gadis yang baik. Jadi tidak heran jika dia mendapatkan nasib yang begitu baik."
"Suaminya tampan dan kaya. Dan yang terpenting dia baik dan sepertinya sangat menyayangi Karina."
"Aku juga baik. Jika aku pergi ke kota nasibku mungkin sama baiknya dengan Karina." Kata seorang pemuda yang langsung membuat pemuda lainnya mendorongnya sambil meneriakinya.
Di rumahnya, Karina dan Bisma baru saja turun dari dalam mobil dan langsung masuk kamar.
"Apa mas begitu bahagia melihat wajah mas yang seperti kucing itu?" Cibir Karina saat melihat Bisma yang tampak tidak masalah dengan wajahnya.
"Memang kenapa? Bukankah ini lucu?" Bisma mengangkat ujung bibirnya dan tersenyum lebar.
"Tunggu di sini." Tiba-tiba ide lain muncul di kepala Karina. Ia keluar kamar menunu dapur. Bisma tidak tahu apa yang direncanakan istrinya itu padanya.
Tak lama kemudian Karina kembali masuk dengan membawa camilan di tangannya. Bisma mengernyitkan dahinya. Semenjak Karina sudah tidak susah untuk makan, istrinya ini sudah tidak begitu ngemil malam hari.
"Duduk sini mas." Karina menepuk ranjang di sebelahnya stelah meletakkan ponsel dan camilan itu di sisi lainnya.
Bisma menurut dan segera duduk. Ia memperhatikan Karona dan membuka camilan berbentuk panjang kecil dengan kefua ujung yang runcing dan mengambilnya beberapa.
"Buka mulut."
Meskipum heran, Bisma menurut saja. Ia pun membuka mulutnya. Karina memasukkan camilan itu dan Bisma langsung memakannya.
"Bukan untuk dimakan mas." Karina berdecak saat melihat Bisma malah menikmati camilannya.
"Lalu?" Tanya Bisma heran.
"Tahan seperti ini." Karina memasang satu camilan di antara bibirnya. Ia pasang membentuk taring. Bisma kini tahu apa yang akan dilakukan istrinya. Namun sudah terlambat untuk menghindar. Jadi dia hanya bisa pasrah saat Karina memasang dua camilan di kedua sisi bibirnya membentuk taring.
"Hahahaha. Sekarang kita ambil gambar." Karina tidak bisa menyembunyikan tawanya. Ia tertawa dengan keras. Ia memgambil ponselnya dan meminta Bisma berpose. Wanita itu mengambil beberapa gambar Bisma dengan tampilan kucing imut. Ia juga memgambil beberapa gambar bersamanya.
"Aku tidak pernah menyangka jika aku akan sangat mencintaimu." Ucap Bisma dalam hati sambik terus berpose sesuai keinginan Karina.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😊
__ADS_1