Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_74. Hanya Harus Melahirkan Bayi Kita Dengan Selamat


__ADS_3

Kamu selalu bilang aku adalah kakakmu yang dingin. Apa kamu tidak merasa kalau suamimu itu juga dingin?" Nara terkekeh mendengarnya. Memang benar, Bisma dan Alex adlaah dua orang yang dulu ia labeli dengan sebutan pria yang dingin. Balok besi.


"Seorang pria yang dingin itu sebenarnya adalah karena dia masih belum menemukan sesuatu yang mampu menyentuh hatinya. Tetapi, begitu dia menemukan orang yang tepat mendapatkan cintanya, dia akan memberikan semau cinta padanya dan akan memegangnya dengan erat." Alex mengatakan pendapatnya. Mendengar ini, Bisma juga mengangguk setuju.


"So sweet banget sih suamiku.." Nara merapatkan tubuhnya pada Alex dan mencubit gemas pipi Alex.


"Ish kalian kalau pamer kemesraan jangan di depanku donk! Hargai aku yang jomblo ini." Dini, satu-satunya yang single di sana memprotes. Meskipun ia sudah SMA, Nathan tidak mengizinkannya untuk memiliki kekasih.


"Makanya cari pacar donk!" Gerry yang baru saja datang duduk di samping Dini. Mengambil minuman adiknya dan meminumnya tanpa rasa bersalah.


"Itu kan juga gara-gara kakak yang suka gonta ganti cewek. Papa jadi takut karma kakak kenanya aku." Dini mengerucutkan bibirnya. Nathan memang mengatakan hal itu sebagai alasan untuk melarangnya berpacaran.


Padahal, sebagai seorang gadis yang sudah memasuki masa remaja, ia ingin merasakan pacaran seperti gadis-gadis lain seusia nya. Ia juga telah memperhatikan kakak kelasnya yang tampan dan perhatian. Tetapi karena larangan dari Nathan, Dini tidak bisa melakukan apapun.


"Baik jika papa melarangmu. Sekarang ini kamu harus fokus pada pelajaran." Bisma yang sejak dulu memang menentang pacaran mendukung papanya. Apalagi dia sekarang tidak bisa mengawasi dan melindungi Dini seperti yang ia lakukan pada Nara dulu.


"Kak Karina, bantu aku donk." Dini mulai merengek. Ia mengguncang tangan Karina.


"Jangan begitu Dini, nanti kamu bisa menyakiti bayinya." Bisma segera mendorong tangan Dini dari lengan Karina.


"Jangan berlebihan deh mas." Karina menatap Bisma dengan tatapan mengancam. Ia tidak suka Bisma menekan adiknya terlalu keras. Menurutnya, semua orang butuh kebebasan dan privasi.


Adik kakak yang berkumpul Itu membicarakan banyak hal sementara orang tua mereka sibuk dengan cucu mereka. Di tengah obrolan mereka, ponsel Bisma yang diletakkan di atas meja berbunyi. Bisma melihat ID yang memanggilnya adalah Andi.


Bisma menurunkan kaki Karina dengan hati-hati sebelum ia mengambil ponsel dan menerima panggilan.


"Selamat malam tuan." Sapa Andi begitu teleponnya diangkat Bisma.


"Malam. Apa apa?" Tanya Bisma langsung.

__ADS_1


"Tuan, baru saja sekretaris tuan Abimanyu menelpon dan mengatakan bahwa tuan Abimanyu ingin bertemu. Katanya  beliau ingin menjadi investor kita."


"Benarkah?" Tanya Bisma tidak percaya sambil melirik Alex penuh tanya.


"Ya tuan."


"Baik. Atur pertemuannya segera." Bisma mematikan teleponnya. Lalu ia menatap Alex dengan  penuh terima kasih.


"Ada apa mas?" Tanya Karina khawatir. Ia tahu perusahaan Bisma sedang berada dalam masalah. Dan ia merasa sangat sedih karena tidak bisa membantu. Seperti yang dikatakan seorang wanita yang tiba-tiba menghampirinya dapat ia dan Bisma sedang berbelanja di mall untuk membeli perlengkapan bayi.


Wanita itu berkata bahwa jika dirinya tidak cocok dengan Bisma. Wanita itulah yang memberitahukan bahwa perusahaan Bisma sedang dalam masalah. Tidak hanya itu, wanita yang bahkan Karina tidak mengenalnya mengatakan padanya bahwa sebagai istri Bisma, ia sangat tidak berguna. Di saat Bisma ada dalam masalah, ia tidak bisa membantunya. Karina memang miskin dan Tidak bisa memiliki status hebat seperti wanita itu. Dan Karina, hanya tahu membuat masalah untuk Bisma.


"Tidak apa-apa. Andi menelpon dan memberitahu bahwa ada investor yang tertarik dan ingin menjadi berinvestasi pada produk kita."


"Benarkah?"


"Ya. Dan sepertinya ia akan mengizinkan penggunaan merek kita sendiri."


"Ya. Ini berkat doamu, sayang." Bisma mengelus kepala Karina dengan lembut. Lalu mengecup perut Karina. Akhir-akhir ini bayi mereka suka cemburu jika mamanya diberi ciuman sedangkan dia tidak.


"Maafkan aku tidak bisa membantu mas. Andai saja mas menikah dengan orang lain...."


"Aku tidak akan merasa sebahagi ini." Bisma memotong ucapan Karina. Ia tidak suka mendengar Karina merendahkan dirinya.


"Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Aku tidak membutuhkan bantuan dari istriku dalam mengurus hal-hal  semacam ini. Wanita ku hanya harus membantuku mengatur rumah tangga kita. Jangan pernah lagi mengatakan hal itu. Aku tidak mau mendengarnya lagi." Lanjut Bisma dengan tegas.


Mendengarnya, membuat Karina semakin merasa bersalah.


"Karina, pekerjaan adalah urusan mereka. Para laki-laki. Pria di keluarga ini memang harus memperlakukan kita para wanita sebagai ratu mereka. Jadi jangan pernah merasa rendah. Kamu adalah ratu di hidup kak Bisma. Apa kamu tahu bahwa kamu bahkan lebih kaya dari kak Bisma sekarang?"

__ADS_1


"Aku?" Tanya Karina tidak percaya.


"Ya. Kamu. Kak Bisma sudah memindahkan hampir semua asetnya atas namamu. Jadi, kak Bisma tidak akan berani macam-macam denganmu."  Jelas Nara. Ia tahu hal ini karena pengacara yang disewa Bisma adalah salah satu temannya.


"Benarkah mas?" Tanya Karina tidak percaya. Bisma mengangguk. Ia menatap Nara penuh ancaman. Nara yang ditetapkan seperti itu oleh Bisma kembali tertawa terbahak-bahak.


"Mas, kamu sudah melakukan banyak hal untukku. Tapi aku, Aku tidak tahu harus bagaimana aku membalas semua kebaikanmu padaku?"


"Tidak banyak. Kamu hanya perlu melahirkan bayi kita dengan selamat. Lalu merawatnya dengan penuh kasih sayang. Lalu memberinya adik yang lucu." Bisma menatap Karina penuh perasaan.


Karina merasa sangat terharu mendengar ucapan Bisma. Ia merasa beruntung telah menikah dengan Bisma yang sangat mencintainya. Karina membelai perutnya dengan perasaan perasaan yang bahagia. Ia bertekat akan melahirkan bayi mereka dengan sekuat tenaganya.


Bisma di sisi lain, saat ia melihat perut besar Karina, ia selalu takut terjadi sesuatu pada Karina dalam proses kelahiran. Apalagi juga pernah membaca bahwa rasa sakit saat melahirkan itu adalah rasa sakit yang paling sakit. Selain itu, bukan rahasia lagi jika seseorang yang melahirkan ortu adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Ia semakin takut.


Bisma tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk Karina. Membenamkan Karina di dalam pelukannya.


"Jiwa jombloku meronta-ronta jika aku sedikit lebih lama di sini. Aku naik dulu." Dini berkata dengan frustasi  satu ia bangkit dari duduknya dan berlari naik ke lantai atas. Meninggalkan dua pasangan yang saling memandang dengan bahagia.


"Benar kata Dini. Aku juga harus pergi." Gerry juga berdiri dan pergi dari sana am menyusul adiknya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ☆~(^,^)~♡


Jangan lupa menyempatkan diri untuk selaku menyentuh tanda like setiap selesai membaca suatu karya.....

__ADS_1


Satu like dari kalian adalah penyemangat bagi kami para author...


__ADS_2