
Di atas sebuah ranjang putih, seorang wanita dengan gaun yang juga berwarna putih sedang tertidur damai. Dia tidur dengan sangat lelap seperti dia sudah tertidur untuk waktu yang sangat lama. Rambut hitam panjangnya menyebar di atas bantal. Perpaduan warna yang kontras terlihat indah. Mata wanita itu tiba-tiba mengerjakan saat sebuah suara yang merdu terdengar. Suara yang lirih namun begitu menghanyutkan. Wanita itu bangun dari tidur panjangnya.
Wanita itu adalah Karina.
Dengan bantuan tangannya, Karina bangun dari tidurnya. Ia merapikan gaun putihnya yang lembut. Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang wanita yang sepertinya tidak asing untuknya. Tetapi, ia tidak tahu dimana dan kapan ia pernah mendengarnya sebelumnya.
Karina mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dan baru ia sadari bahwa ranjang tempat ia tidur adalah di sebuah taman yang indah.
Perlahan-lahan, ia menurunkan kakinya dan mulai berjalan menghampiri asal suara itu. Karina berjalan semakin jauh. Air mancur kecil yang berada di tengah kolam yang ada di sisi kanan taman itu menghasilkan suara gemericik air yang menenangkan. Kolam itu memiliki air yang jernih dengan ikan berwarna-warni berenang di dalamnya. Di permukaan kolam, beberapa bunga teratai berwarna putih dan ungu muda bermekaran. Capung dan kupu-kupu beterbangan di sekeliling.
Di sekeliling, bunga-bunga cantik bermekaran menyebarkan aroma harum yang menghanyutkan. Karina melangkahkan kakinya dengan ringan di atas rumput hijau yang terasa sangat lembut menyentuh kaki telanjangnya.
Semakin ia berjalan, semakin jelas pula suara itu terdengar di telinganya. Karina pun mempercepat langkahnya hingga ia merasa bahwa ia sendiri bisa terbang. Ia baru berhenti saat melihat sosok seorang wanita yag duduk di sebuah ayunan yang berayun ringan dan menggantung pada pohon besar dengan daun rimbun yang bergerak seirama seperti mengikuti irama lagu.
Merasakan ada yang mendekat, wanita itu menghentikan nyanyiannya dan tersenyum menatap Karina yang membeku di tempatnya.
"Kemarilah sayang. Kenapa kamu diam?" Wanita itu tersenyum saat ia melambaikan tangannya pada Karina. Ayunan yang dia duduki berhenti berayun.
Karina tidak mengenal wanita itu. Tapi ia sendiri tidak bisa menahan dirinya saat ia tiba-tiba berjalan mendekati wanita itu.
"Kamu sudah dewasa sayang. Tumbuh menjadi gadis cantik dan baik." Karina tidak begitu memperhatikan. Yang dia perhatikan adalah wanita itu memiliki wajah yang sangat familiar baginya. Wajahnya sama seperti wajahnya. Yang membedakan hanyalah tatapan dan aura yang dikeluarkan. Tatapan mata itu begitu lembut dan menenangkan. Dan auranya yang anggun, membuat semua orang akan betah untuk berlama-lama bersamanya.
"Siapa kamu?" Karina akhirnya bertanya karena penasaran.
"Aku ibumu." Wanita itu masih tersenyum. Sama selain tidak marah saat Karina mempertanyakan dirinya.
"Ibuku?"
"Ya. Kemarilah. Biarkan inu melihatmu dari dekat." Wanita itu melambaikan tangannya kembali.
Karina masih belum bisa menerima informasi yang baru ia terima. Tapi tanpa ia sadari, kakinya melangkah dan mendekat. Bahkan saat wanita itu menepuk sisi ayunan kosong di sampingnya, ia duduk dengan patuh di tempatnya.
"Apakah kamu benar-benar ibuku?" Karina mengedipkan matanya manja.
"Ya." Wanita iin mengangguk dan membentangkan tangannya. Karina dengan senang hati membenamkan dirinya di pelukan hangat Maria.
__ADS_1
"Ibu, kenapa ibu meninggalkanku sendiri?" Karina mulai menangis. Di dalam mimpinya, ia tidak pernah bermimpi bertemu dengan ibunya. Ia bahkan tidak pernah melihat bagaimana wajahnya. Jadi, saat ia bertemu dengan wanita yang mengatakan bahwa dia adalah ibunya, Karina tidak bisa menahan emosinya. Dia benar-benar bahagia.
"Maafkan ibu sayang. Itu salah ibu karena tidak bisa menemanimu. Andai ibu bisa bertahan, ibu pasti akan segera menemukanmu. Tetapi ibu lemah saat itu. Ibu hancur saat mengetahui bahwa Kamu tiada. Dan ibu memiliki untuk menyerah." Maria mengelus kepala Karina dengan lembut.
"Sekarang, bisakah aku tinggal denganmu?" Karina menghapus air matanya dan menatap Maria penuh harap.
"Apa kamu sangat menginginkannya?" Maria bertanya dengan serius.
"Ya." Karina mengangguk dengan pasti.
"Bagaimana dengan keluargamu?" Wajah Karina mulai tampak ragu.
"Tapi, aku ingin ikut denganmu bu." Karina menundukkan kepalanya. Maria tersenyum. Ia mengangkat wajah Karina. Membingkai wajahnya dengan kedua tangannya yang lembut.
"Benarkah?" Maria berkata dengan senyum menuntut di bibirnya. "Sekarang coba katakan bahwa kamu ingin tinggal bersamaku dan ikut denganku." Tatapan mata Maria menatap tajam Karina tepat di depannya. Tatapan itu seperti menelanjangi Karina dan melihat apa yang ada di dalam hatinya.
"Aku..."
"Sayang, meskipun ibu tidak bisa menemanimu, tetapi kamu harus ingat bahwa ibu selalu berada di sisimu. Ibu ada di dalam hatimu." Maria menunjuk dada Karina.
Di ujung jalan itu, ia melihat Bisma berdiri mengulurkan tangannya. Seorang bayi yang tampak masih sangat kecil berada di dekapannya. Bibir Bisma melengkung saat ia memanggil Karina untuk mendekat. Di belakang dua sosok itu, sebuah cahaya terang melingkupi. Membuat keduanya tampak indak dalam sorot yang tampak menyilaukan.
"Kembalilah sayang, suami dan anakmu masih menunggumu." Maria menunjuk Bisma dengan dagu nya.
"Tapi..."
"Belum tiba waktunya untuk kita bisa bersama. Kembalilah. Papamu pasti akan senang bertemu denganmu." Maria tersenyum cerah.
"Papa?" Karina menatap Maria sekali lagi.
"Ya...jaga Papamu untuk ibumu ini." Maria meremas tangan Karina sebelum ia berdiri dan mengantarkan Karina untuk mendekati Bisma.
Bisma mengulurkan tangannya untuk menyambut Karina. Senyum itu terlihat hangat dan penuh cinta. Membuat Karina akhirnya ikut tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Bisma.
"Ibu..." Karina menoleh sekali lagi dan melihat Maria melambaikan tangannya ke arahnya.
__ADS_1
"Bahagialah sayang..." Ucap Maria sebelum sosoknya perlahan menghilang menjadi berkas cahaya dan terbang keadaan angkasa yang luas.
"Ibu..."
Bisma yang sudah berjaga di sisi Karina selama dua hari langsung mendekat saat ia mendengar suara Karina. Ia langsung bertanya pada Karina tentang kondisinya.
"Bagian mana yang tidak nyaman sayang?"
Karina tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia meraba perutnya dengan tangan kirinya yang bebas dari selang infus. "Mana bayiku?" Tanya Karina begitu menyadari perut buncitnya telah rata.
"Putra kita baik-baik saja sayang. Dia ada di ruangan khusus bayi saat ini." Bisma mengelus kepala Karina yang berbalut perban.
"Antar aku ke sana mas. Aku ingin melihatnya." Karina meraih tangan Bisma. Matanya yang khawatir tidak bisa ia sembunyikan.
"Tenang lah dulu sayang. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu dulu. Baru setelah itu, Kamu bisa bertemu dengan putra kita." Bisma menenangkan. Ia mengelus pipi Karina.
"Tidak mas. Aku baik-baik saja. Biarkan aku melihat bayiku." Karina bersikeras. Bagaimanapun, ia tahu keadaan sebelum ia tidak sadarkan diri. Mobil itu jatuh dari atas. Kepalanya terbentur. Tubuhnya juga menabrak badan mobil. Meskipun ia melindungi perutnya dengan kedua tangannya, sepertinya itu belum cukup untuk melindunginya. Keadaannya pasti parah. Jadi Jadi ia harus memastikan sendiri bayinya baik-baik saja.
"Bagaimana kalau begini, biarkan dokter memeriksamu, dan aku akan membawa putra kita kesini Hem? "
"Baiklah." Karina mengangguk pasrah. Bisma akhirnya melepaskan tangan Karina dan menekan tombol di dinding untuk memanggil dokter. Setelah menunggu beberapa saat, dokter akhirnya datang.
"Dokter sudah datang mas. Cepat ambil bayi kita." Karina mendorong Bisma bergegas saat dokter baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Baiklah. Dokter tolong periksa keadaan istri saya." Bisma memandang Dokter dan bicara dengan serius.
"Tuan Bisma tenang saja. Saya Saya akan melakukan yang terbaik." Dokter itu mengangguk meyakinkan.
Bisma kembali menoleh pada Karina. Menatapnya hangat sebelum mengecup kening Karina lama. "Aku akan segera kembali dengan membawa putra kita." Ucap Bisma sebelum ia berbalik dan pergi keluar ruangan. Karina mengangguk dengan tersenyum.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~《♡,♡》~