
Karina makan dengan lahap malam ini. Makanan yang dimasak oleh pelayan di mansion Mahardika terasa sangat nikmat. Apalagi hampir semua masakan adalah makanan kesukaannya. Nadia sangat senang melihat Karina yang makan dengan lahap.
Semua orang yang ada di meja makan juga tidak ada yang menegurnya. Semua orang sudah tahu jika wanita hamil seperti Karina akan memiliki nafsu makan yang lebih banyak. Nara juga seperti itu. Jadi mereka sudah tidak heran lagi.
“Pernikahan kalian akan dilaksanakan Minggu depan. Karina, Apakah surat-surat yang diperlukan sudah siap?” Ucap Nathan di sela makannya. Karina dan Bisma sama-sama mendongak memandang Nathan. Karina kini duduk di samping Bisma. Menggeser tempat yang awalnya diduduki Gerry. Oleh Bisma Gerry bahkan dilarang duduk di samping Karina, meminta adik laki-lakinya itu duduk di sebelah Dini.
“Minggu depan?” tanya Karina heran.
“Iya sayang. Apa Bisma tidak memberitahumu?” Nadia bertanya dengan heran.
“Aku belum sempat memberitahunya.” Jawab Bisma.
“Kamu tidak apa-apa kan? Apa ada yang akan kamu undang nanti? Setelah ini kita akan membicarakan nya lagi.” tanya Nadia.
“Tidak ada ma. Aku di sini sendirian. Temanku tidak di sini. Surat-surat yang dibutuhkan juga sudah siap. Nanti aku akan menitipkannya pada Bisma saat mengantarku pulang.” Jawab Karina sendu. Nadia menepuk punggung tangan Karina.
“Hem itu bagus. Bisma juga sudah bilang jika kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi.” Nadia memandang Karina dengan sayang. “Kamu tenang saja, mulai sekarang kamu tidak sendirian lagi. Kamu adalah anggota keluarga ini.” Lanjut Nadia.
“Terima kasih ma. Aku sangat beruntung mengenal keluarga ini.”
“Kami yang beruntung. Jika tidak ada kamu, aku khawatir jika Bisma akan melajang seumur hidupnya. Aku bahkan awalnya bertanya jika putraku belok. Eh ternyata dia berhasil membuat anak gadis orang hamil.” Nadia melirik Bisma dengan kesal.
“....” Karina tidak bisa berkata-kata.
“Mama jangan berpikir macam-macam. Bisa-bisanya mama berpikir seperti itu tentang putra mama.” Bisma mendengus kesal.
“Siapa suruh kamu jomblo sejak lahir.” Nadia memelototi Bisma. Memberi isyarat pada putranya untuk mengalah. Tidak melawannya lagi.
“Baiklah-baiklah. Mama selalu menang. Terserah apa yang mama pikir.”
“Tentu saja.”
“Kak Karina, anak kak Karina nanti laki-laki saja ya.” Kata Dini tiba-tiba.
“Tentu saja Anak pertama kami laki-laki.” Bukan Karina yang menjawab, tetapi Bisma.
“Laki-laki atau perempuan sama saja. Yang terpenting sehat.” Nathan memandang Karina hangat.
“Benar yang papa katakan. Anak itu pemberian Tuhan. Memangnya kenapa jika yang lahir nanti perempuan?”
“Kak Nara dan kak Karina saja sudah menjadi saingan beratku. Jika anak kalian nanti perempuan, aku akan semakin menjadi yang terakhir.” Jawab Dini cemberut. Mendengar jawaban polos Dini membuat Nathan dan Nadia tersenyum.
“Kata siapa seperti itu?” Nathan menopang dagunya. Menatap Dini sambil tersenyum.
“Iya kan? Mama dan papa akan selalu memperhatikan mereka. Aku gimana?”
“Makanya cari pacar woy! Biar ada yang nyayang.” Gerry yang duduk di samping Dini terkekeh melihat wajah cemberut Dini.
__ADS_1
“Aku jomblo sampai sekarang bukan karena aku nggak laku ya! Enak saja!”
“Lalu? Kami jelek kan sebabnya.” Gerry semakin senang mengolok adiknya yang baru menginjak sekolah putih abu-abu.
“Bukan! Aku cantik dan menarik. Jika aku mau, bisa saja aku mengkoleksi cowok sekampung.”
“Dini bicara apa itu.” Ucap Nadia rendah.
“Maaf ma. Habisnya kak Gerry godain aku terus.” Dini yang awalnya bersemangat membalas setiap ucapan Gerry mendadak berubah menciut.
“Kalian ini sudah dewasa kelakuan masih seperti anak-anak.” Gerutu Nathan. Ini Nara masih belum ada. Jika keempat anaknya berkumpul, suasana rumah akan seramai ruang rapat yang sedang berdebat.
“Dengarkan mama Dini, kasih sayang itu semakin dibagi bukannya semakin berkurang. Justru semakin dibagi semakin bertambah. Contohnya, keluarga kita sudah bertambah kak Alex pada awalnya. Apa kamu merasa kasih sayang kami berkurang? Tidak kan?” Dini menggeleng.
“Tentu saja tidak. Justru kamu akan merasakan kasih sayang yang lebih banyak. Kami pasti sudah merasa bagaimana kak Alex menyayangimu kan?” Dini mengangguk. Itu memang benar. Alex menyayanginya seperti menyayangi adiknya sendiri.
“Seperti itu konsepnya. Jadi jangan merasa tersisihkan. Kamu paham?”
Dini kembali mengangguk. “Maafkan Dini Ma, pa.”
“Baiklah. Kita lanjutkan makan malamnya. Jangan asik mengobrol saja.” Nathan menengahi. Semua menurut dan kembali memakan makanan mereka dengan tenang.
Setelah makan malam, Bisma mengantarkan Karina pulang.
“Bisma, bisakah kita mampir membeli nasi goreng sebelum pulang?” tanya Karina ragu.
“Iya. Tapi aku pengen.” Karina menatap Bisma penuh harap.
“Kamu sudah makan sangat banyak tadi. Apa kamu yakin perutmu masih muat?”
“Aku bisa memakannya nanti saat aku bangun tengah malam.”
“Kamu yakin?” tanya Bisma tidak percaya. Karina tadi benar-benar makan dengan sangat banyak. Bahkan dia sendiri tidak mungkin bisa menghabiskan makanan seperti yang dihabiskan Karina tadi.
“Kalau kamu tidak mengizinkan ya sudah.” Ucap Karina lesu. Ia menundukkan kepalanya.
“Bukan aku tidak mengizinkan Karina, aku hanya takut perutmu akan meledak nanti.”
“...” Karina tidak menjawab. Hatinya sedang tidak baik. Di tempat Nadia tadi dia memang makan banyak. Tapi sekarang bahkan dia sudah kembali lapar. Apa ini salahnya?
“Baiklah. Aku akan membelinya untukmu. Tapi kamu jangan memaksa jika ternyata kamu tidak bisa menghabiskan nya nanti.”
“Iya iya.” Karina mengangguk dengan semangat. Kedua matanya berbinar senang.
“Ayo kita pergi ke perempatan gang Duren warung mang Darman.” Ucap Karina semangat.
“Mau apa?” Bisma melirik Karina heran.
__ADS_1
“Beli nasi goreng lah. Di sana rasanya enak. Murah lagi.”
“Tidak boleh. Kamu tidak boleh makan di pinggir jalan. Kita beli di restoran saja.”
“Tidak mau. Itu tidak sama. Aku hanya mau yang dijual di sana.”
“Sama nasi gorengnya juga.”
“Tidak sama. Kalau beli di restoran porsinya kurang banyak.” Karina mengerucutkan bibirnya.
“Kalau satu kurang, aku bisa belikan dua atau tiga porsi. Lebih juga tidak masalah.”
“Tidak perlu. Aku hanya mau yang dijual Mang Darman. Titik!” Karina melipat kedua tangannya. Bisma mendengus kesal. Gadis ini apa tidak bisa tidak mendebatnya.
Bisma membelokkan mobilnya ke sebuah restoran. Dia masih Tidak setuju untuk membeli di warung yang dimaksud Karina.
“Ayo turun.” Ajak Bisma.
“Tidak. Aku di sini saja.”
“Huh terserah.” Bisma menutup pintu dengan kasar. Masuk ke dalam restoran seorang diri.
Tiga puluh menit kemudian Bisma keluar dengan membawa beberapa kotak nasi goreng berbagai rasa. Masuk ke dalam mobil dan memberikannya pada Karina.
“Sudah aku bilang aku tidak mau yang ini.” Karina mendorong nasi goreng pada Bisma.
“Kamu ini! Aku sudah susah-susah membelikan ini untukmu.”
“Apa aku memintanya? Tidak kan?”
“Terserah. Kita pulang sekarang.”
Bisma menyalakan mobilnya. Melaju dengan kencang kembali ke apartemen. Tapi di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Karina menangis.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Bisma bingung.
“Kamu jahat! Aku hanya minta nasi goreng. Tapi kamu begitu pelit.” Ucap Karina di sela Isak tangisnya.
“Aish. Baiklah kita beli sekarang. Dimana tadi?” Bisma akhirnya mengalah. Ia tidak mempunyai pengalaman untuk menghentikan seorang perempuan yang sedang menangis. Jadi dia hanya bisa menuruti keinginannya.
“Perempatan Duren warung mang Darman.” Jawab Karina kembali bersemangat.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 🤩