
...STOP!...
...Adegan 21+!!!...
...Yang tidak suka bisa langsung scroll ajah.......
"Bukankah aku sudah bilang kamu seharusnya diam." Bisma berkata dengan frustasi. Ia segera megangkat tubuhnya dan menempatkan dirinya di atas tubuh Karina yang menegang. Tangan kiri Bisma digunakan untuk menahan tubuhnya agar tidak menekan tubuh Karina. Sedangkan tangan kananya ia gunakan untuk menekan kepala belakang istrinya yang kini membelalakkan matanya.
Kedua bibir itu pun bertemu. Saling saling menyesap dan menggigit. Perlahan tapi pasti ciuman yang dalam dan menuntut pun mencipkatan suara-suara decapan diiringi suara binatang malam yang bersahutan dari luar rumah. Kedua kepala itu bergerak ke kanan dan ke kiri seirama. Pada tahap ini, Karina sudah pandai berciuman.
Karina terengah-engah. Ia merasa ciuman Bisma malam ini tidak sama dengan yang biasa mereka lakukan. Setelah puas mencium wajah Karina, bibir Bisma terus bergerak turun. Karina merasakan rasa nyeri di lehernya saat Bisma membuat tandanya di sana. Karina mencengkeram seprei dengan erat saat merasakan rasa sakit yang aneh. Karina kembali menegang saat sebuah tangan me-re-mas gunung kembarnya yang berdiri tegak menantang di balik baju tidurnya.
Bisma menatap lekat Karina yang ada di bawahnya. "Katakan sekarang jika kamu ingin mengakhirinya. Pikirkan baik baik, jangan sampai menyesal."
"Tidak perlu Bisma. Aku siap menjalankan kewajibanku sebagai istrimu." Karina berkata dengan yakin. Ia menatap Bisma dengan serius.
"Apa kamu yakin?" Karina menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu aku tidak akan sungkan. Tapi jangan menyesal karena malam ini aku tidak akan melepaskanmu." Ucap Bisma sebelum kembali men-cum-bu bibir basah Karina.
Di saat bibir Bisma terus bermain di segala tempat, tangan Bisma yang nakal sudah bergerak aktif di balik baju tidur Karina yang longgar. Dan dalam sekali tarikan, baju tidur berbahan kaos itu ia tarik ke atas hingga memperlihatkan gunung-gunung yang menyembul menantang. Tanpa malu Bisma menenggelamkan kepalanya di sana. Meng-hi-sap, men-ji-lat dan meng-gi-git buah cerry merah kenyal yang indah di puncak bukit. Tangan Karina menjambak rambut Bisma yang ada di depan wajahnya. Ia terengah-engah merasakan gelayar-gelayar aneh yang ia rasakan dari setiap sentuhan Bimsa di tubuhnya yang setengah telanjang. Keringat keluar dari seluruh tubuhnya.
Bibir Bisma kembali menyambangi bibir Karina. Sedangkan tangannya bergerak turun. Menelusup ke dalam celana dan menerobos di balik kain segitiga. Menggoda di luar area pribadi Karina. Perlahan-lahan tangan itu masuk ke dalam gua. Bermain di sana dan membuat si pemilik merasa kan kegelian yang tidak dapat dijelaskan.
Karina masih ingat bagaimana saat pertama kali Bisma menyentuhnya saat itu. Ia merasakan sakit yang sangat. Tapi saat ini, rasa sakit itu sudah tidak ia rasakan. Rasanya....ah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan entah sejak kapan ia mengeluarkan suara yang dulu hampir setiap malam ia dengar dari kamar kos sebelah. Karina menggigit bibirnya agar suara-suara yang membuatnya malu itu tidak lagi keluar dari bibirnya.
"Bisma hentikan. Biarkan aku ke kamar mandi sebentar, aku ingin pipis." Ucao Karina panik saat merasa ada dorongan di daerah intinya.
__ADS_1
"Tidak apa. Jangan ditahan." Jawab Bisma sambil tersenyum sebelum kembali membungkam bibir Karina. Tangannya juga bergerak semakin menggila. Membiat bibir Karina yang terkunci rapat kini kembali mengeluarkan suara de-sa-han-nya.
"Bis...ma...aah." Karina merasa sangat lemas. Ia benar-benar merasa lega setelah cairan yang terasa panas itu keluar. Namun mendadak ia membeku, bukankah barusan ia memgompol? Betapa malunya ia! Wajahnya yang berpeluh kembali memerah menahan malu.
"Maaf. Tanganmu kena pipis." Ucap Karina merasa tidak enak. Ia menggigit bibir bawahnya lagi.
"Ini bukan pipis Karina. Ini yang namanya cairan percintaan." Karina semakin malu mendengarnya. "Sekarang giliranku." Bisma kembali memulai aksinya. Men-cum-bu Karina hingga membuat wanita itu hampir menyerah.
"Lakukan Bisma. Aku sudah tidak tahan." Ucap Karina frustasi. Sesuatu di dalam dirinya rasanya ingin meledak kapan saja.
"Aku akan pelan-pelan." Karina mengangguk. Ia sudah tidak kuat lagi untuk menjawab.
Bisma menurukan kembali wajahnya. Menciumi permukaan perut Karina dengan sayang. "Papa janji tidak akan melukaimu." Ucap Bisma sambil mencium perut yang mulai menonjol itu.
Karina mengerang saat adik besar Bisma menerobos masuk ke dalam gua pribadinya. Air mata sedikit mengalir dari ujung matanya. Bisma dengan rasa bersalah segera menciumi kedua mata itu. "Maaf."
Setelah melihat Karina mulai tenang, Bisma bergerak secara perlahan. Ia tentu saja tidak ingin menyakiti Karina. Apalagi di dalam rahim Karina ada baby mereka yang sedang tumbuh.
Bisma bergerak dengan pelan. Karina membekap mulutnya agar suara ambigu yang kini ia tahu bahwa suara itu benar-benar sulit untuk di tahan. Bisma melakukannya lerlahan afar tidak sampai menyakiti baby mereka. Apalagi Dokter Kania juga sudah memberi peringatan agar tidaj terlalu memforsir. Dan juga menunjukkan cara yang aman untuk berhubungan.
"Aku rasa aku mau pipis lagi Bisma..."
"Tahan sebentar."
"Aahh" kedua orang itu mengerang bersama. Tubuh Kairna melengkung. Begitupun dengan tubuh Bisma. Keduanya terengah-engah.
__ADS_1
"Terima kasih Karina." Bisma mencium kening Karina sebelum ia merebahkan dirinya di samping Karina. Memiringkan tubuhnya dan memeluk Karina setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Sedangkan Karina menganggukkan kepalanya.
Pagi harinya, mereka bangun dengan rasa canggung. Keduanya sama-sama tertidur dalam keadaan polos. Dan mereka seperti pengantin yang batu sjaa belah duren semalam. Jadi tentu saja keduanya masih belum terbiasa dan merasa malu.
"Kita harus segera mandi. Matahari sebentar lagi akan muncul." Ucap Bisma sambil menarik tubuhnya dan turun dari ranjang.
Karina mau tak mau melihat tubuh polos Bisma. Dan tanpa sengaja ia melihat adik besar Bisma. Pipinya kembali memanas. Adegan semalam terputar seperti vidio XXX di dalam otaknya. Karina segera menggelengkan kepalanya saat tampilan vulgar menari-nari di otaknya. Apakah ia sudsh berubah menjadi wanita mesum?
Setelah Bisma memakai celana pendek dan juga kaosnya, ia juga memunguti pakaian Karina yang semalam ia lepaskan satu persatu. Dan saat tangan Bisma hendak meraih kain dengan dua bulatan dari atas lantai, Karina segera mencegahnya.
"Tidak perlu Bisma. Biar aku ambil sendiri. Kamu lebih baik segera mandi. Atau kita akan ketinggalan waktu sholat subuh nanti."
Bisma kembali menarik tangannya. Ia tahu jika istrinya merasa malu. Terlihat jelas dari wajahnya yang memerah sampai ke telinga. Tidak ingin membuat Karina merasa tidak nyaman lebih lama lagi, Bisma segera keluar dari kaamar setelah mengambil handuk dan baju gantinya mengingat kamar mandi ada di luar kamar.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😊
Mohon maaf akhir-akhir ini tulisan akoh banyak banget typonya 😯
Pengennya cepet-cepet nulisnya biar bisa update setiap hari. Tapi apalah daya kecepatan dan keakuratan tangannya yg tidak memadai 😯
__ADS_1
Harap dimaklumi atas ketidaknyamanan ini 😉