
Mobil yang dikendarai Bima melaju dengan cepat. Kali ini mereka menggunakan mobil yang dibawa anak buah Bima karena mobil itu lebih cepat daripada mobil Bisna untuk menembus medan yang berat. Apalagi jalanan tidak sepenuhnya diaspal. Meskipun diaspal juga tidak semuanya bagus.
"Bos mereka ada di depan." Anak buah Bima yang menaiki motor merepet mendekat ke mobil.
"Bergerak. Buat mobil itu berhenti. Tapi jangan sampai mereka curiga." Perintah Bima tegas.
"Baik." Setelah menjawab, motor iu melaju dengan cepat. Motor yang lain mengikutinya.
Bisma menatap dua motor yang melaju cepat di depan mereka. "Jangan sampai menyakiti Karina." Bisma melirik Bima.
"Tenang saja. Mereka sudah berpengalaman." Jawab Bima tanpa memandang Bisma.
Tidak jauh dari mobil Bima, dua buah motor mendahului mobil Karina. Karina menatap motor itu sambil menghela napas panjang. Ia kira itu adalah Bisma yang menyelamatkannya.
"Hahaha. Tidak perlu banyak berharap." Bos penculik itu melirik Karina yang putus asa.
"Lebih baik berharap dari pada tidak memiliki harapan." Ucap Karina tenang. Meskipun ia tidak yakin bagaimana cara Bisma menyelamatkannya, tapi ia yakin Bisma pasti menyelamatkannya.
Mobil yang membawa Karina melaju dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba mobil itu oleng sebelum akhirnya berhenti di pinggir jalan.
"Apa yang terjadi? Coba lihat." Mendengar perintah dari bosnya, pria di samping Karina turun untuk melihat.
"Itu bos bannya kempes." Pria itu melapor setelah mengetahui jika ban depan sebelah kemudi kempes.
"Tunggu apa lagi? Cepat turun dan perbaiki." Bos itu kesal. Ia juga ikut turun.
"Kamu tetap di mobil. Jaga perempuan itu jangan sampai melarikan diri." Ucapnya pada anak buahnya yang ada di sebelah Karina.
Karina segera memperhatikan keadaan. Di sekitar tidak ada apa-apa. Hanya ada hutan di satu sisi dan hamparan sawah di sisi lain tanpa ada seorang pun. Jalan yang dilalui mereka juga sangat sepi. Dari tadi selain dua motor yang menyalip mobil mereka tidak ada yang lain lagi.
"Bisakah aku ke luar sebentar? Aku ingin buang air kecil." Kata Karina. Ia menoleh pada pria di sampingnya. Ia meletakkan kedua tangannya di atas paha. Kakinya sengaja digerakkan tidak nyaman.
"Tidak boleh. Kalau mau pipis ya pipis saja di situ. Kamu pikir aku ini mudah dibodohi?"
"Aku tidak bohong. Apa kamu tidak tahu kalau wanita yang sedang hamil itu sering ke kamar mandi?" Karina segera menyangkal.
"Ck!" Pria itu berdecak. Lalu menurunkan kaca jendela dan mengeluarkan kepalanya.
__ADS_1
"Bos! Wanita ini mau buang air kecil." Teriak pria itu keras. Bosnya yang ada di sisi yang berlawanan dengannya segera mendekat.
Karina menundukkan kepalanya malu-malu. Memberikan tampilan bahwa ia sebenarnya terpaksa mengatakan bahwa ia ingin buang air kecil. Di pinggir hutan dan sawah seperti ini tidak mungkin ada kamar mandi. Hanya ada sungai kecil yang digunakan untuk irigasi. Jadi jika Karina ingin buang air, tentu saja itu akan membuat wanita itu malu.
"Ada apa lagi?" Tanya Bos itu saat sudah berada di luar jendela.
"Sepertinya wanita ini sungguhan mau buang air kecil."
"Kamu awasi dia." Bos itu juga tidak bisa apa-apa. Jika sampai Karina mengompol akan ribet urusannya. Mereka sendiri yang akan repot nanti. Karina tersenyum di balik cadar yang dikenakannya.
"Ayo!" Pria itu turun terlebih dulu. Baru kemudian Karina turun dengan tergesa-gesa sambil menjepit pahanya lari ke dalam hutan.
"Mengapa kamu mengikutiku? Aku malu!" Karina berhenti dan berteriak kesal. Apa pria itu tidak tahu sopan santun?
"Bagaimana kalau kamu kabur?" Pria itu tidak mau mengambil resiko.
"Apa kamu pikir aku bisa kabur sekarang? Aku seorang wanita hamil. Dengan bergerak terlalu banyak tidak akan nyaman. Ayolah." Karina menghentakkan kakinya seperti ia benar-benar sudah tidak bisa menahan.
"Ck baiklah. Tapi awas kalau kamu coba-coba lari." Ancam pria itu sebelum melonggarkan pengawasannya. Ia sedikit mendorong tubuh Karina agar berjalan di depannya. Sedangkan ia tetap berdiri mengawasi Karina yang bersembunyi di balik pohon besar.
"Sudah belum?" Tanya pria itu setelah beberapa saat.
"Selain pohon-pohon tidak ada yang lain lagi. Kalau begitu aku akan bersembunyi di ba...hap." sebuah tangan besar membungkam mulutnya saat ia hendak berpindah pohon.
"Sttt.. jangan bersuara, ini aku." Suara itu Karina sangat mengenalnya. Ia segera menoleh dan melihat Bisma di belakangnya. Wajah pria itu tidak bisa menyembunyikan bahwa ia sedang khawatir.
"Aku takut mas." Karina langsung memeluk Bisma sambil mulai terisak. Bisma balas memeluknya dan menepuk punggungnya dengan lembut.
"Jangan takut. Aku sudah datang." Ucap Bisma dengan suara pelan.
"Hei wanita apa belum selesai juga?" Teriak pria itu lagi. Karina mengencangkan pelukannya.
"Jangan coba-coba untuk kabur ya!" Teriak pria itu lagi. Namun Karina masih tidak menjawab. Wanita itu masih terisak di dalam pelukan Bisma.
Pria itu segera menerjang masuk. Menuju ke balik pohon yang tadi ia lihat digunakan Karina untuk bersembunyi. Namun ia tidak menduga wanita itu tidak lagi sendiri. Wanita itu berada di dalam pelukam seorang pria yang terlihat penuh dengan emosi menatapnya.
"Punya keberanian apa kamu berani menculik istriku heh?" Tanya Bisma dengan suara rendah.
__ADS_1
Pria itu menodongkan pisaunya ke arah dua orang itu. "Jangan macam-macam! Atau aku akan melukai kalian!" Ancamnya.
"Mau melukai mereka juga harus tanya aku mengizinkan apa tidak?" Suara pria lain yang baru saja keluar dari hutan. Pria itu berjalan ke arah mereka dengan sebuah belati yang diputar di ibu jari tangan kanannya. Belati itu meskipun kecil tetapi terlihat sangat tajam dan mengintimidasi. Apalagi dipadukan dengan senyum pria itu yang seperti iblis.
Mengerti jika ia tidak akan menang melawan mereka, pria itu segera lari menjauhi mereka keluar dari hutan. Ia berniat memberi tahu rekannya jika mereka sudah ketahuan. Namun belum sampai di tempat mobil yang baru selesai diganti ban mereka terparkir, pria itu sudah mendapati bahwa rekan-rekannya semuanya telah dilumpuhkan. Bahkan bos mereka sudah berwajah jelek di bawah kaki seorang pria muda.
Tidak ada jalan lain. Ia harus kabur. Pria itu merubah rute pelariannya. Bergerak ke samping dengan cepat. Namun dia tidak mengenal Bima sebelumnya, jika ia mengenalnya mungkin ia tidak akan lari dan memilih menyerahkan diri dengan sukarela. Karena, karena jika ia memilih melarikan diri, bukanlah selamat yang ia dapat malah akan mendapatkan kesialan.
"Aargh!" Teriak pria itu yang langsung terjatuh di tanah. Di betis kananya bersarang belati yang tadi berhasil membuatnya menelan ludah dengan sulit.
"Mau kabur juga harus dengan izinku." Ucap Bima santai sambil berjalan ke arah pria yang meringkuk di kakinya sambil mengerang kesakitan.
Bima menekuk lututnya dan dengan senyum jahat di bibirnya yang tebal mencabut belati yang bersarang di kaki pihak lawan dengan tanpa perasaan.
"Aaargh!" Sekali lagi teriakan menggema di dalam hutan. Aroma darah segera menguar bersama dengan genangan darah yang mulai jatuh ke tanah.
"Ampun! Ampuni saya. Saya tidak tahu apa-apa." Pria itu dengan segenap tenaganya menyeret kakinya dan memeluk kaki Bima.
"Tidak berguna!" Bima dengan pelan mendorong pria itu hingga terjerembab. "Segera bersihkan lokasi." Bima menoleh pada anak buahnya. Mereka bergerak cepat. Menahan semua orang ke dalam mobil para penjahat. Sedangkan pria yang terluka tadi tidak mau mengalami hal lain lagi, ia dengan patuh menyeret tubuhnya dan masuk ke dalam mobil sambil meringis kesakitan.
"Bagaimana keadaan Karina?" Tanya Bima setelah mereka masuk ke dalam mobil. Karina masih meringkuk di dalam pelukan Bisma.
Karina syok. Bukan hanya karena penculikan yang baru saja dialaminya, tetapi lebih karena takut melihat Bima yang melukai orang itu dengan mudah. Hal ini membuat tubuhnya gemetar.
"Apa kamu tidak bisa bertindak dengan hati-hati? Bisa-bisanya memperlihatkan kekejaman seperti itu di depan seorang wanita." Dengus Bisma dengan kesal. Ia merasa bersalah karena tidak sempat menutup mata Karina saat Bima yang ada di sampingnya melemparkan belati ke arah pria yang sedang berlari itu. Ini pasti menimbulkan trauma.
"Maaf. Aku sudah lama tidak terjun ke lapangan. Jadi ya... " Bima mengangkat bahunya acuh. "Mungkin seharusnya aku memang lebih sering mengambil kasus seperti ini." Lanjutnya ringan.
"Kenapa tidak sekalian jadi mafia?" Cibir Bisma dengan kesal.
"Ide bagus!"
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😊