Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_60. Permainan Nadia


__ADS_3

Setiap hari, Bisma mendatangi rumah Bi Eni hanya untuk bertanya pada putra bi Eni mengenai keberadaan ibunya. Tetapi pria berusia dua puluh delapan tahun itu selalu mengatakan bahwa ia tidak mengetahui kemana ibunya pergi. Ia memang sempat menerima chat dari ibunya bahwa ia akan pergi dan melarangnya untuk mencari. Namun sebagai seorang anak, tentu saja ia masih khawatir.


Ia segera pulang setelah mendapatkan chat dari ibunya dan mendapati jika rumahnya sudah kosong. Pria muda bernama Eko itu segera masuk ke kamar ibunya untuk memastikan apakah ibunya benar-benar pergi dengan membawa pakaian fi lemari.  Dan saat Eko mendapati beberapa baju ibunya tidak ada di tempatnya ia pun panik. Ia kembali mencoba menghubungi nomor ibunya tetapi nomor itu sudah tidak aktif.


Eko berniat akan melapor ke polisi untuk meminta bantuan mencari ibunya, tetapi saat ia akan keluar dari kamar ibunya ia menemukan surat yang ditempel di balik pintu. Di dalam surat itu menjelaskan jika ia akan pergi ke desa bersama majikannya. Bi Eni juga mengatakan bahwa mereka pergi untuk menghindari Bisma. Jadi bi Eni meminta pada Eko untuk merahasiakan apapun tentang itu pada Bisma.


Sebenarnya Eko tidak mengerti apa alasan ibunya mejaihi pria muda yang sepertinya seumuran dengannya itu. Bisma terlihat baik meski kadang datang dengan penampilan yang berantakan. Tapi melihat yang dilakukan Bisma setiap kali pria itu datang, Eko tahu sebenarnya Bisma ini adalah orang baik. Jadi ia sering merasa kasihan pada Bisma dan berniat memberikan informasi. Tetapi ia adalah anak berbakti yang menuruti orang tuanya, terutama ibunya yang telah membesarkannya sebagai orang tua tunggal setelah ayahnya meninggal saat ia masih duduk di bangku SMP.


"Maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan sebelumnya. Tetapi aku percaya ibuku tidak akan melakukan apapun tanpa alasan. Jadi aku tidak bisa ikut campur." Eko mendensah pelan saat ia melihat punggung Bisma yang terlihat putus asa. Sudah hampir satu bulan Karina menghilang. Dan sampai sekaranf belum ada satu petunjukpun. Bahkan Bima juga tidak mendapatkan apapun setelah sekian lama.


Setelah pulang dari rumah bi Eni, Bisma pergi ke mansion Mahardika untuk menemui Nathan. Ia ingin memberitahukan perkembangan Gerry selama ini.


Bisma masuk tanpa suara. Ia sudah bisa mendengar suara Nadia dan Nathan. Keduanya sepertinya ada di ruang televisi. Nadia yang terus berkomentar saat melihat adegan yang diperankan setiap tokoh dalam sinetron ikan terbang favoritnya. Sedangkan Nathan beberapa kali berkata agar Nadia menenangkan dirinya.


"Apa kamu tidak merasa kasihan pada Bisma?"


Bisma yang sudah hampir bersuara saat ia mendengar pertanyaan Nathan. Ia menajamkan telinganya. Ia sudah merasa ada yang aneh pada kedua orang tua itu. Mereka terlihat tenang meskipun menantu mereka menghilang. Ini sama sekali bukan mereka yang biasanya. Meskipun Nadia dna Nathan selalu menemuinya dan menekannya untuk segera menemukan Karina, tetapi keduanya terlihat pasif.


Jadi Bisma meminta Andi untuk memata-matai Nadia dan Nathan tetapi mereka sama sekali tidak mencurigakan. Bisma juga sudah curiga kalau Nadia menyembunyikan Karina di desa, tetapi setelah ia menghubungi Joni, Joni berkata bahwa Nadia tidak mengirim orang ke desa. Bahkan Bisma juga meminta Bima untuk menanyakannya pada Yuli. Tetapi Yuli juga berkata bahwa ia tidak tahu. Jadi Bisma tidak lagi curiga kalau Karina ada di desa.


"Kenapa aku harus kasihan padanya?  Dia seharusnya tahu kalau lidahnya itu bisa saja menyakiti orang lain. Jadi ia baru bisa belajar menghargai orang lain." Jawab Nadia santai tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.


"Dia sepertinya sudah belajar sayang. Kasihan dia."


"Ma, apa mama yang menyembunyikan Karina?" Nathan dan Nadia menoleh. Putra mereka memiliki wakah yang rumit menatap mereka.


"Bukan. Kenapa mama harus menyembunyikan Karina?" Jawab Nadia santai. Ia melipat kedua tangannya. Menatap putranya dengan kesal.

__ADS_1


"Beritahu Bisma ma. Dimana mama menyembunyikan Karina?" Bisma memandang Nadia dengan tatapan memelas.


"Aku tidak menyembunyikan Karina. Dia sendiri yang pergi. Karian bahkan tidak pamit pada mama. Dan inu aemua karenamu! Mama seharusnya yang marah padamu karena membuat menantu mama pergi. Kenapa jadi kamu yang marah sekarang?" Ucap Nadia dengan marah. Karina bahkan tidak mau mengatakan apa-apa padanya sebelum pergi. Ia merasa menjadi ibu mertua yang gagal. Dan saat ini Bisma malah menuduhnya menyembunyikan Karina. Meskipun ua tahu tetapi bukan dia yang menyembunyikannya. Itu tidak sama.


"Mama, Bisma tahu Bisma salah. Dan Bisma menyesal sekarang. Bisma akan melakukan apapun untuk mendapatkan maaf itu. Jadi Bisma mohon pada mama untuk memberitahu Bisma dimana Karina."


"Huh! Sekarang baru tahu menyesal."


"Bisma menyesal ma. Sekarang beritahu Bisma dimana Karina?" Tanya Bisma penuh harap.


Nadia masih berpikir. Ia sebenarnya sudah berniat untuk memberi tahu Bisma keberadaan Karina. Sebanarnya ia selalu menanyakan kabar tentang Karina pada Joni. Ketika Karina pergi, Nadia langsung meminta orang untuk membelikannya ponsel dan kartu baru. Ia juga sengaja mendaftarkan kartu itu bukan dengan namanya. Jadi baik Bisma maupun Bima tidak bisa menyadapnya karena ia tahu anak-anak itu cerdas dan memiliki banyak cara. Jadi ia pun harus selangkah di depan.


Setelah ia mendapatkan ponselnya, ia segera memberitahu Joni nomor barunya agar bisa mengabarinya setiap harinya sebelum Bisma dan Bima curiga padanya.


Joni selalu memberinya kabar mengenai Karina. Dan dari sana ia tahu bahwa sebenarny Karina juga bersedih saat ini. Nadia tahu jika Karina kesepian dan ingin berkumpul kembali dengan Bisma, tetapi ia masih harus memastikan jika kali ini Bisma benar-benar menyesal dan kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi.


"Bisma, apakah kamu mencintai Karina?" Tanya Nadia dengan serius.


"Apa kamu pernah mengatakan pada Karina?"


"Tidak." Bisma menggeleng. Nadia kini mengerti akar masalahnya. "Aku pikir dengan perbuatanku dan caraku memperlakukannya ia akan tabu jika aku mencintainya." Lanjut Bisma.


"Inilah perbedaan cara pandang antara laki-laki dan perempuan yang harus kamu tahu. Bagi kalian para lelaki, mungkin masalah mengucapkan kata cinta adalah hal sepele. Tapi bagi kami para wanita itu adalah hal yang sangat penting. Kami para wanita, begitu kami mencintai, kami akan memberikan seluruh cinta dan hidup kami. Jadi kami perlu balasan cinta dalam bentuk perbuatan dan kata-kata cinta yang akan memberi kami perasaan aman. Jadi kami akan merasa dicintai dan dihargai. Apa kamu paham?" Nadia menatap putranya.


"Aku mengerti ma. Aku tidak pernah berpikir seperti itu sebelumnya. Mulai sekarang, aku akan mengucapkan bahwa aku mencintainya setiap hari setiap saat."


"Bagus kalau kamu sudah tahu. Sekarang jemput menantu mama." Nadia tersenyum puas.

__ADS_1


"Dia ada di desa."


"Tapi.... bagaimana dia ada di sana?"


"Dengan Eni. Eni sebenarnya adalah teman masa kecilku dulum kami berasal dari kampung yang sama. Jadi tidak ada yang sukit untuk Karina datang ke sana."


"Tapi paman Joni dan bibi Yuli..." Bisma mulai mengerti semuanya. Ini benar-benar permainan Nadia.


"Tentu saja mereka kana lebih menurut padaku." Jawab Nadia santai.


"Baiklah. Terima kasih mama." Bisma tahu ini salahnya. Jadi ia tidak akan menyalahkan Nadia. Bisma tahu Nadia Nadia melakukan ini demi kebaikannya.


**


Bisma berdiri di depan rumah mereka yang ada di desa. Rumah yang baru akan ia datangi satu tahun sekali. Begitu ia mengetahui dimana keberadaan Karina, ia segera berangkat ke desa. Sekarang sudah pukul satu dini hari. Semua orang sudah tidur. Jadi hanya beberapa orang yang berjaga yang tahu ia datang.


Bisma langsung masuk ke dalam rumah dengan mudah. Ia memiliki kunci yang didapatkannya dari Nadia. Ia membuka pintu dengan sangat pelan. Ia takut membangunkan Karina dan Bi Eni. Ia langsung membuka kamarnya, seperti yang ia perkirakan, Karina ada di dalamnya.


Meskipun ia sangat merindukan istrinya yang sudah satu bulan tidak ia lihat, ia tidak boleh egois. Karina pasti masih marah padanya saat ini. Jika ia muncul sekarang, Karina mungkin akan sangat marah dan kembali pergi. Jadi ia hanya bisa menunggu sampai lagi hingga ia bisa menjelaskan semuanya tanpa mengganggu waktu istirahat Karina.


Dilihatnya lagi tubuh Karina yang sepertinya sedikit lebih kurus. Dan perutnya sudah jauh lebih besar. Anak mereka pasti sudah tumbuh lebih besar di dalam sana. Ingin sekali Bisma menye tuh perut itu menyapa anaknya. Tapi ia harus menahannya meskipun seberapa banyak keinginannya untuk mendekat dan memeluk tubuh itu.


Bisma menutup kembali pintu kamar dengan hati-hati dan pergi ke ruang tamu dan tidur di sofa.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😇


__ADS_2