Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_38. Cie Ada Yang Tidak Bisa Pisah


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu setelah Bisma dan Karina menghadiri acara penyambutan bayi Nara dan Alex yang diberi nama Sakka Darius Juantama. Selama satu bulan ini, seperti yang dikatakan Andra jika ia dan Karina akan sering bertemu. Secara kebetulan mereka terkdang bertemu di koridor, kadang di lobi, dan beberapa kali mereka ada di dalam lift yang sama. Yang paling sering adalah mereka sering bertemu di taman. Karina dan Bisma yang sedang jalan-jalan dan Andra yang sedang jogging.


Di setiap pertemuan-pertemuan itu Bisma lah yang paling tidak suka. Bisma pun mencari cara agar Karina tidak lagi bertemu dengan Andra.


"Tumben sendirian. Dimana Tuan Bisma?" Karina mendongakkan kepalanya.


"Eh tuan Andra. Hari ini ada Meeting penting di luar kota. Jadi pagi-pagi sudah berangkat." Jawab Karina. Saat ini Karina sedang istirahat setelah jalan-jalan di taman. Karina duduk di bangku taman. Dan Andra juga baru selesai jogging dan akan kembali ke apartemen.


"Oh begitu. Karina istirahat di sini?"


"Iya. Masih lelah mau kembali."


"Berapa bulan usia kandungannya Karina?"


"Lima bulan. Doakan agar semoga lancar ya."


"Wah sudah besar ya. Tentu saja. Pasti aku akan doakan."


"Terima kasih."


"Sama-sama. Ya sudah aku kembali dulu ya. Sudah siang. Nanti telat ke kantor. Karina juga segera kembali ya. Jangan lama-lama kena angin." Ucap Andra sebelum meninggalkan Karina sendiri.


Andra menghela napas. Jika saja benar Karina adalah adiknya, ia akan sangat bahagia. Sayangnya, satu bulan yang lalu ia menerima laporan dari detektif swasta yang disewanya bahwa adiknya sudah meninggal.


Saat mengetahui hal itu, Andra ingin sekali tidak percaya. Tetapi saat membaca laporan detektif itu mau tak mau ia harus menerima jika adiknya memang sudah meninggal.


Sebenarnya Andra sudah ingin menjauh dari Karina saat tahu kebenaran itu. Namun ia masih enggan untuk menjauh. Andra terlanjur menyayangi Karina sebagai adiknya.


**


"Kapan pulang?" Tanya Karina saat Bisma menghubunginya melalui vidio call. Biasanya, jika keluar kota Bisma tidak sampai menginap. Namun hari ini Bisma belum juga pulang sampai hampir makan malam.


"Maaf ya. Sepertinya mam ini aku tidak bisa pulang." Entah mengapa Karina tidak bisa menahan air matanya.


"Hei kenapa menangis?" Bisma seketika panik.


"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja ingin nangis." Jawab Karina dengan sudah payah di sela isak tangisnya.


"Jangan nangis dong. Aku kan jadi tidak tega."


"Cepat pulang ya mas."


"Ini masih bisa pulang sayang. Maaf ya. Besok sudah pulang kok." Ucap Bisma penuh rasa bersalah.

__ADS_1


"Iya. Sebenarnya aku tidak apa-apa. Tapi aku juga tidak tahu kenapa aku nangis."


"Itu artinya kamu rindu padaku."


"Mungkin. Nanti malam aku bagaimana? Aku sudah biasa tidur meluk mas."


"Cie ada yang tidak bisa pisah."


"Mas ih. Aku serius ini. Gimana kalau besok pagi aku muntah lagi?"


"Tidak akan. Bayi kita kan sudah besar. Sudah tidak nakal lagi." Karina mengangguk. "Nanti minta bi Eni untuk menemanimu." Lanjut Bisma.


"Ya sudah. Aku masih ada urusan. Kamu jangan tidur malam-malam ya. Besok pagi-pagi aku sudah berangkat dari sini. Begitu sampai aku akan lamgsung pulang."


"Iya mas. Mas juga hati-hati di sana." Bisma mengangguk sebelum mematikan sambungan teleponnya.


Bisma menghela napas. Ia merasa bersalah pada Karina. Andi yang ada di sampingnya hanya memandang Bisma rumit.


"Tuan, bagaimana sekarang?"


"Bagaimana lagi? Sudah sampai sejauh ini." Kata Bisma sambil berjalan mendahului Andi memasuki sebuah ruang yang didominasi dengan warna putih.


Di dalam ruangan itu, seorang anak kecil tiga tahun terbaring di atasnya. Matanya terpejam. Di tangan kirinya terpasang selang infus. Wajah gadis kecil itu terlihat sangat pucat. Di sampingnya, seorang wanita muda sedang menunggunya.


"Kemana saja kamu selama ini? Apa kamu tidak tahu jika semua orang mencarimu?" Bisma berdiri tak jauh dari wanita itu. Ruangan itu sempit. Jadi hanya ada satu kursi di sana. Andi berdiri di belakangnya.


"Aku hamil. Aku malu pada semua orang." Wanita iu adalah Vera. Sahabat Nara yang sudah memghilang sejak lama.


"Dimana ayah anakmu?"


Vera menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu."


Bisma menghela napas. Dulu, ia tidak begitu mengenal Vera. Tapi melihat Vera yang seperti ini membuatnya bersimpati.


"Huh. Lalu apa yang harus dilakukan sekarang?"


Siang tadi, saat baru selesai meeting dengan kliennya Bisma tidak sengaja bertemu dengan Vera yang saat itu tengah menjadi pelayan di restoran tempat Bisma meeting. Vera yang tanpa sengaja menabrak Bisma hingga membuat jas yang dipakai laki-laki itu kotor.


Vera masih beberapa hari bekerja sebagai pelayan di restoran itu. Dan karena kejadian tidak snegaja itu, ia lagi-lagi harus kehilangan pekerjaanya. Sebelumnya Vera bekerja secara serabutan. Setelah melahirkan putrinya tiga tahun lalu, Vera masih bekerja sebagai penjaja kebutuhan laki-laki. Tetapi seiring berjalannya waktu, Vera berpikir jika hal ini tidak akan baik bagi perkembangan putrinya. Setelah itu secara bertahap Vera mulai menjauhi dunia perempuan kurang moral itu.


Vera mulai mencari pekerjaan sampingan untuk memenubi kebutuhannya dan juga putrinya. Baru beberapa bulan lalu Vera benar-benar lepas dari pekerjaan yang tidak halal itu. Vera sudah menemukan pekerjaan yang menurutnya sesuai untuknya. Namun pekerjaan itu hanya bertahan beberapa bulan hingga ada orang yang mengenalinya dan membeberkan masa lalunya yang kelam hingga membuatnya dipecat.


Berulang kali kejadian serupa terjadi hingga Vera sempat ingin menyerah dan kembali ke dunia malam yang telah memberinya putri. Vera berulang kali keluar masuk kerja. Paling lama hanya bertahan tiga bulan. Dan Vera sudah mulai terbiasa akan hal itu.

__ADS_1


Namun takdir seperti mempermainkan Vera. Di saat Vera baru bisa menerima takdirnya, Jihan jatuh sakit dan ternyata setelah diperiksa, dokter menyatakan jika Jihan menderita gejala diabet yang mungkin diturunkan dari ayahnya.


Tentu saja hal ini membuat Vera semakin down dan merasa bersalah pada putrinya itu. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Yang bisa Vera lakukan hanyalah memberi perawatan yang terbaik untuk anaknya.


"Kembalilah ke Jakarta. Semua orang menyayangimu." Ucapan Bisma menarik Vera dari lamunannya.


"Aku sudah sangat malu kak Bisma. Aku hanya akan menjadi beban jika aku kembali."


"Lalu anakmu bagaimana? Siapa yang merawatnya saat kamu bekerja?" Vera diam. Selama ini ia menitipkan anaknya pada tetangganya. Namun beberapa hari yang lalu saat Jihan masuk ke rumah sakit dan dia pulang untuk mengambil keperluan selama di sana, Vera malah diusir dari rumah kontrakan yang selama ini ia tempati. Beberapa hari ini ia tinggal di rumah sakit.


"Begini saja, aku akan menyiapkan apartemen untukmu. Ada cabang Mahardika di sini. Aku akan menyuruh orang untuk menyiapkan pekerjaan untukmu. Datanglah dan bilang jika aku yang menyuruhmu. Mereka akan tahu nanti." Bisma tahu Vera baru saja diusir dari kontrakannya dan selama ini tinggal di rumah sakit. Tapi dia tidak mungkin akan terus tinggal di sana. Setelah Jihan sembuh, mereka juga harus memiliki tempat tinggal.


"Terima kasih kak. Kak Bisma sangat baik. Nara sangat berutung memiliki kakak seperti kak Bisma."


"Kamu sebenarnya juga beruntung. Memiliki teman-teman yang perhatian padamu. Nara dan kedua temanmu yang lain tidak pernah berhenti mencarimu. Mereka masih mencari informasi tentang keberadaanmu."


"Kak, tolong jangan beritahu keberadaanku pada mereka. Aku belum siap menghadapi mereka."


"Baiklah. Tapi kamu tidak boleh terus begini. Mereka menyayangimu tanpa syarat. Mereka akan menerimamu bagaimana pun keadaanya."


"Terima kasih kak."


"Baiklah. Kalau begitu aku pamit. Aku akan tinggal di hotel malam ini." Vera mengangguk. "Ini adalah kartu namaku. Kalau ada apa-apa kamu bisa menelponku."


"Sekali lagi terima kasih."


"Hem." Bisma mengangguk. Lalu keluar dari ruang rawat Jihan bersama dengan Andi.


"Apa kamu sudah mendapatkannya?" Tanya Bisma pada Andi begitu mereka keluar dari ruangan.


"Sudah. Letaknya tidak jauh dari kantor cabang Mahardika."


"Kerja bagus. Jangan lupa hubungi kepala cabang untuk menyiapkan satu lowongan kerja dengan gajinyang besar. Vera butuh uang saat ini. Jika aku memberinya secara langsung, dia akan menolak."


"Saya mengerti." Andi mengangguk paham.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😊

__ADS_1


__ADS_2