Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_39. Belum Bisa Jujur


__ADS_3

Karina bangun saat mendengar suara yang sangat ia rindukan. Wanita itu bergegas turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Matanya tidak bisa menahan air mata yang tiba-tiba jatuh saat melihat suami yang hampir seharian kemarin tidak bersamanya itu berdiri tak jauh darinya dengan kemeja yang lengannya sudah digulung. Jasnya ia sampirkan di tangan. Dasi yang kemarin pagi terpasang rapi di lehernya juga terlihat menjuntai dari saku kemejanya.


"Hei kok nangis?" Bisma segera menghampiri Karina. Memeluknya dengan erat sambil menghapus air matanya.


"Mas kapan pulang?"


"Barusan sampai. Maaf ya." Karina menganggukkan kepalanya. Menghirup dalam-dalam aroma suaminya yang begitu ia rindukan.


"Kenapa perginya lama? Katanya hanya pergi sebentar?"


"Ada sesuatu hal tak terduga mendesak yang harus aku lakukan. Tapi kan sekarang aku sudah pulang. Jangan menangis lagi ya, aku jadi tidak tega melihatnya."


"Baiklah. Aku tidak akan menangis lagi." Karina mengangguk dengan patuh.


"Sayang aku lelah, bisa temani ku sebentar?" Bisma menatap wajah Karina yang ada di depannya.


"Hem." Bisma dan Karina masuk ke dalam kamar untuk melepaskan rindu mereka yang baru kali ini terpisah.


**


Bisma memandang sendu Karina yang sedang terlelap.di pelukannya. Hari ini Bisma tidak pergi ke kantor dan bekerja dari rumah. Siang harinya Bisma menemani Karina untuk menonton bioskop lalu jalan-jalan di mall membeli susu hamil dan beberapa camilan. Setelah pulang, Bisma mengajak Karina untuk berenang.


Setelah menjalani hari ini, Bisma banyak merenung dan berpikir. Ia menimbang apakah ia harus memberitahu Karina tentang Vera apa tidak. Karina sempat bertanya padanya apa yang membuatnya kurang fokus seharian ini. Tetapi Bisma yang masih belum bisa menentukan sikapnya hanya bisa menutupinya dengan berkata jika ia sedang ada banyak pekerjaan. Tentu saja Karina langsung percaya. Dan hal ini semakin membuat Bisma merasa bersalah menutupi masalah ini dari Karina.


Meskipun antara Bisma dan Vera tidak terjadi apa-apa, Bisma merasa harus memberitahu istrinya. Tetapi setelah memikirkan bahwa Karina dan Vera tidak akan pernah bertemu membuat Bisma memutuskan untuk tidak memberitahunya. Lagipula, Bisma juga tidak akan bertemu lagi dengan Vera.


"Maafkan aku sayang. Untuk sementara ini aku masih tidak bisa memberitahumu hal ini. Nanti jika semuanya sudah membaik, aku akan mengatakannya padamu."


**


Sama dengan Bisma yang sudah hidup normal bersama Karina, Vera juga sudah mulai bisa bekerja. Jihan juga sudah diperbolehkan pulang satu minggu yang lalu. Dan mulai hari wanita itu pergi ke kantor untuk wawancara. Tapi karena itu adalah rekomendasi dari Bisma, Vera melakukan wawancara hanya untuk mengetahui posisi yang tepat untuknya bekerja. Hari itu juga Vera sudah bisa mulai bekerha.

__ADS_1


Bisma biasanya tidak pernah ikut campur mengenai pekerja di perusahaan cabang, Bisma hanya melakukan inspeksi satu bulan sekali. Dan meminta pertanggung jawaban dari pimpinan cabang untuk melaporkan hasil kerja dalam rapat rutin di perusahaan pusat setiap awal bulan. Jadi saat Bisma secara pribadi memasukkan orang ke dalam perusahaan cabang, ada banyak gosip yang beredar.


Meskipun Andi yang mengatur segala sesuatunya untuk Vera, tetapi semua orang di perusahaan tahu jika Andi hanya akan bertindak sesuai perintah Bisma. Jadi karena itulah mereka mulai membicarakan hubungan Bisma dan Vera.


Gosip-gosip di kantor tidak mungkin Vera tidak mengetahuinya. Ia tidak mau membuat masalah untuk Bisma yang telah membantunya. Jadi ia berusaha untuk beketja dengan sungguh-sungguh untuk membuktikan kemampuannya. Membuktikan bahwa ia layak mendapatkan rekomendasi dari Bisma. Selain itu, Vera juga tidak lagi menghubungi Bisma. Ia hanya akan menghubungi Andi memberitahu bahwa dirinya dan juga Jihan baik-baik saja.


"Eh apa kamu sudah pernah bertemu dengan wanita itu?" Vera yang sedang nerada di kamar mandi mendengar pembicaraan beberapa karyawan wanita yang sedang memperbaiki risasan mereka.


"Belum"


"Sudah. Aku pernah sekali berpapasan dengannya. Dan menurutku dia itu sombong. Dia bahkan tidak melirikku."


"Benarkah? Aku jadi penasaran apa yang dimilikinya hingga ia mendapatkan perhatian dari tuan Bisma."


"Apa dia itu cantik?"


"Lumayan. Dia memang cantik."


"Pasti dia menggunakan dirinya untuk merayu tuan Bisma."


"Eh jangan tertipu dengan penampilan luar. Saat ini banyak gadis berwajah polos yang malah lebih agresif. Memangnya kamu pernah bertemu dengannya?"


"Aku pernah bertemu dia di kafetaria. Dan dia cukup sopan sebagai karyawan baru."


"Aku jadi penasaran dengan penampilannya."


"Tapi sebaiknya kita tidak perlu ikut campur urusan tuan Bisma. Dia adalah orang yang berkuasa. Tidak masalah jika dia memiliki perempuan yang bertugas untuk menemaninya. Aku yakin wanita itu adalah salah satu simpanan yang ada di kantor cabang ini. Dan pasti masih ada wanita lain di kantor cabang yang lain. Jadi saat melakukan kunjungan akan ada yang menemani."


Braak....


Semua wanita terkejut saat salah satu pintu yang tidaj jauh dari mereka dibuka dengan begitu keras. Mereka tambah terkejut saat melihat siapa yang keluar dari pintu itu. Wajah Vera, wanita yang sedang mereka gosipkan terlihat tidak bersahabat. Wajahnya memerah dengan mata yang juga merah dan penuh dengan emosi.

__ADS_1


Vera menatap keempat wanita di dalam toilet itu dengan tatapan garang.


"Kau..kau siapa? Kau gila ya?" Seseorang bertanya dengan panik saat melihat wajah Vera yang terlihat menakutkan.


"Dia wanita itu, Vera." Bisik wanita di sebelahnya yang pernah bertemu dengan Vera.


"Oh rupanya kau wanita pel2cur itu?" Rasa panik yang ditunjukkan tadi hilang dan seketika berganti dengan wajah penuh ejekan.


"Kalian di sini untuk bekerja, bukannya malah bergosip. Apalagi membicarakan bos kalian dengan seenaknya." Vera menunjuk keempat orang itu dengan tajam.


"Hei kenapa kamu nyolot? Bukankah itu menandakan bahwa itu semua adalah benar? Heh!"


"Apakah karena menyangkal tuduhan itu bisa membuktikan bahwa tuduhan itu benar. Dan kalian ini beraninya membicarakan Tuan Bisma dengan sembarangan. Kalian tidak tahu apa-apa tentang tuan Bisma."


"Kalau itu tidak benar kenapa kamu ngotot?"


"Apakah jika aku menuduhmu bahwa kamu seorang Pel2cur apa kamu akan diam saja!?" Vera semakin melototkan matanya pada wanita itu.


"Kamu! Beraninya kamu!" Wanita itu hendak menyerang Vera. Tetapi ditahan oleh teman-temannya.


"Kalian tidak berhak mengatakan apapun tentang Tuan Bisma. Jadi jangan katakan apapun yang tidak kalian mengerti. Jika aku mendengar kalian berbicara hal buruk ini lagi, aku tidak aka segan-segan untuk membuat perhitungan pada kalian." Vera mengancam keempat orang itu sebelum ia keluar dari kamar mandi dengan suasana hati yang buruk.


Bagi Vera, Bisma bukan hanya kakak sahabatnya, tapi Bisma itu seperti malaikat penolong yang telah Tuhan kirimkan untuk menjawab semua doa-doanya. Dia sudah lelah menjalani hidupnya selama ini, saat terakhir ia dipecat, Vera sudah putus asa. Dia pun memiliki niat untuk menitipkan Jihan di panti asuhan agar anaknya itu mendapatkan kehidupan yang layak. Sedangkan dirinya sendiri akan kembali masuk ke dalam dunia hitam yang dwngan susah payah ditinggalkannya.


Namun Bisma datang memberinya bantuan. Tidak hanya membantunya menemukan dokter terbaik dan membayar semua biaya pengobatan Jihan yang masih terus berjalan, Bisma juga memberikan tempat tinggal dan juga pekerjaan yang baik. Apalagi setelah ia tahu bahwa gaji yang seharusnya ia dapat tidaklah sebesar itu. Bisma memberinya uang tanpa mau ia tahu. Vera semakin merasa berhutan budi pada Bisma.


Sekarang, ada yang menjelekkan Bisma karena dirinya. Tentu saja Vera tidak terima. Mereka boleh saja menggunjingnya. Ia sudah terbiasa digunjing, diejek dan juga dihina. Tidak apa jika harus menerimanta lagi. Tapi mereka menggunjingkan Bisma dengan sesuatu yang sangat jahat. Ia tidak bisa tidak membela.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😊


__ADS_2