Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_13. Sugar Baby


__ADS_3

Karina dan bi Eni sampai di rumah sakit dengan diantar sopir yang disuruh Bisma. Mereka berdua langsung menuju ruangan dokter kandungan itu.


Saat mereka sampai, sudah ada beberapa ibu hamil yang sudah berada di sana. Mengantri menunggu giliran mereka. Karina sudah mendaftar sebelum nya.


Saat Karina dan bi Eni duduk, semua orang yang ada di kursi tunggu menatap mereka berdua dengan heran.


Semua ibu hamil yang datang, semuanya datang dengan suami mereka. Semuanya terlihat bahagia. Sang suami yang sesekali mengelus perut buncit istrinya dengan mesra. Sang istri juga terlihat nyaman dengan semua itu. Ada juga pasangan yang perut sang wanita juga masih kecil sama seperti dirinya. Mereka pasti pasangan pengantin baru yang saling mencintai. Tatapan mata mereka penuh dengan cinta.


Melihat pemandangan ini hati Karina tidak bisa tidak merasa sedih. Bisma yang menjadi ayah dari bayi di kandungannya tidak ada di sampingnya. Ia hanya diantar sopir dan ditemani pembantu.


Ia memang tidak mencintai Bisma. Tapi membayangkan Bisma ada di sampingnya saja membuatnya bahagia. Tapi suaminya itu suami yang sibuk. Ia tahu jika Bisma memiliki posisi yang tinggi di perusahaan. Dan pasti banyak pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.


Ah! Tidak ada gunanya mengeluh. Suaminya bukan laki-laki biasa yang akan menghabiskan sebagian besar waktu untuknya. Suaminya pada posisi ini adalah milik semua orang. Milik perusahaan dengan ribuan karyawan yang menggantungkan diri padanya.


Karina mendesah pasrah. Ia tidak boleh menjadi manja dan menjadi tambahan beban untuk suami pekerja kerasnya.


"Apakah putrinya hamil bu?" tanya seorang wanita dengan perut yang cukup besar. Usia kandungan Karina baru dua bulan, jadi belum terlihat. Jadi Karina tidak terlihat sedang hamil.


"Iya. Tapi ini bukan putri saya. Ini majikan saya." jawab Bi Eni yang merasa tidak enak.


"Oh... kenapa tidak diantar suaminya? Kenapa malah menyuruh pembatunya memeriksakan kandungan?" tanya wanita lain yang juga sudah penasaran dari tadi.


Bi Eni dan Karina belum membuka suaranya saat seorang wanita lain menyela ucapannya.


"Untuk apa ditanyakan lagi? Pasti dia ini gadis salah pergaulan. Hamil di luar nikah dan menjadi sugar baby. Lihatlah. Wajahnya yang cantik itu pasti ia gunakan untuk merayu om-om dan menjadi selingkuhan."


Karina menutup matanya perih. Hatinya terluka mendengar ucapan wanita itu. Ia memang hamil di luar nikah. Tapi dia bukan wanita seperti yang dituduhkan wanita itu.


"Mbak kalau tidak tahu apa-apa jangan berbicara macam-macam. Ingat mbak kamu sedang hamil. Jangan sampai ucapan mbak malah menimpa anak mbak."


"Eh kok ngotot sih! Malah sumpahin anak orang lagi! Ketahuan kalau itu memang benar." wanita itu marah. Suaminya segera menenangkannya dan mengingatkan agar tidak bicara sembarangan karena dia sedang hamil. Ia pun dengan kesal memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Sudah bi, jangan diladeni lagi." Karina segera menyentuh lengan bi Eni yang hendak membalas ucapan wanita itu. Karina mengatakan jika tidak ada untungnya berdebat dengan orang lain yang tidak ada urusannya dengan mereka.


"Orang seperti itu harus diberi pelajaran nak. Kalau tidak dia akan berbicara semaunya tanpa dipikir." bi eni tidak terima.


"Jadi sugar baby saja bangganya minta ampun. Sok suci lagi. Untuk apa menjadi kaya jika hanya menjadi sugar baby. Memalukan para wanita saja. Lebih baik hidup sederhana dengan suami yang baik. Bukan malah menjadi sugar baby. Apa lagi selingkuhan." wanita lain kembali menyela saat mendengar ucapan Karina.


"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali di depan ruangan doker?" semua orang menoleh ke arah suara wanita yang baru datang.


Wanita cantik yang sangat modis dengan perut membuncit dan suami tampan yang membawakan tasnya.


"Ini lho mbak ada sugar baby yang ikut periksa kandungan. Ditegur malah nglunjak." wanita yang tadi berhasil ditenangkan suaminya kembali terpantik dan kembali menyalakan api permusuhan.


"Sugar baby? Mana orangnya?" tanya wanita itu dengan wajah kesal dan tangan yang berkacak pinggang.


"Itu tu mbak. Yang cantik itu. Cantik-cantik kelakuannya nggak baik." kata wanita itu sambil menunjuk Karina yang duduk mengaitkan tangannya dengan Bi Eni.


Wanita yang baru saja datang langsung menoleh dan terkejut. "Karina! Wah bisa kebetulan sekali kita ketemu di sini." ucap Nara bahagia. Ya. Wanita yang baru datang itu adalah Nara yang datang bersama dengan Alex. Ia segera memeluk Karina dengan senang. Perutnya yang sudah buncit tidak bisa membuatnya bebas memeluk Karina dengan puas.


"Bagus-bagus." Nara menganggukkan kepalanya dengan puas. Ia segera mendudukkan dirinya dengan nyaman di samping Karina. Alex duduk di sebelahnya juga.


"Hei tadi ada yang bilang sugar baby. Apakah ini yang kalian bilang sugar baby?" Nara teringat sesuatu. ia segera menatap tajam setiap orang di sana.


"Kalian ini kalau bicara jangan asal ceplos dong. Sebelum bicara cari tahu dulu kebenarannya. Jangan sampai ucapan kalian ini menyakiti hati orang lain. Sikap kalian ini sudah termasuk dalam mencemarkan nama baik. Kami bisa saja memasukkan kalian ke dalam penjara dengan mudah. Enak saja kalian menyebutnya sugar baby. Dia ini istri sahnya kakakku. Kakak ipar aku."


Ucapan Nara membuat semua orang takut. "Maafkan kami. kami sungguh tidak tahu."


"Enak saja minta maaf. Orang seperti kalian kalau tidak diberi pelajaran akan ngelunjak. Bicara seenaknya saja. Kalian tunggu saja, kalian akan segera menerima surat penangkapan dari kantor polisi." ancam Nata semakin membuat mereka ketakutan. Mereka segera meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya.


"Sudahlah Nara tidak apa-apa. Aku juga tidak masalah." Karina merasa kasihan pada wanita-wanita itu.


"Sayang sudahlah. Jangan marah-marah. Kasihan baby kecil kita dengar mamanya marah-marah." ucap Alex sambil mengelus perut buncit Nara.

__ADS_1


Seperti mendapatkan kesadarannya, Nara juga melakukan hal sama dengan Alex. Mengelus perutnya dan meminta maaf pada anak yang ada di dalam kandungannya.


Orang-orang yang melihat Nara sudah tenang segera diam. Mereka benar-benar tidak ingin lagi membuat wanita cantik itu marah.


Karina melihat itu semua dengan bahagia. Dan juga sedikit iri di hatinya. Suami sahabatnya ini meskipun kadang terlihat dingin dan kejam namum di depan Nara selalu penuh perhatian dan cinta.


"Oh ya. Memangnya kenapa mereka sampai menganggapmu sugar baby?"


"Tidak apa-apa." jawab Karina ragu. Ia tidak mungkin mengungkapkan alasan yang sesungguhnya pada Nara. mengingat temperamen Nara yang mudah emosi sejak hamil, ia takut menambah beban pikiran untuk adik iparnya itu.


"Jangan berbohong Kar. Katakan degan jujur." desak Nara. Tidak ada sesuatu yang buruk yang tidak ada sebabnya. Jika ada orang yang berani berkata kasar pada karina pasti ada penyebabnya.


"Ada apa Bi Eni? Jangan menutupinya dari aku." Karena Karina hanya diam, Nara pun ganti bertanya pada Bi Eni.


"Em... itu non. Karena nak Karina datang tidak ditemani tuan." jawab Bi Eni ragu. Ia tidak tahu jika yang dikatakannya benar atau salah.


"Oh ya! Dimana kakak dinginku itu? Kenapa dia membiarkanmu datang sendiri?" geram Nara.


"Jangan marah. Tadi Bisma mau mengantarkanku. Tapi ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggal."


"Dasar kakak bodoh! Dasar ayah tidak bertanggung jawab. Bikinnya aja gercep. Giliran disuruh antar ke dokter ogah-ogahan." Decak Nara. "Tenang saja Karina, nanti aku akan memberinya pelajaran." lanjutnya.


"Eh. Tidak perlu seperti itu. Ini salahku yang tidak bicara sebelumnya. Aku baru bilang tadi pagi. Dan jadwalnya memang tidak bisa diganti. Tapi Bisma sudah berjanji lain kali akan menemaniku." ucap Karina selanjutnya. Ia tidak boleh membiarkan Nara memarahi Bisma karenanya.


"Bagus kalau dia sudah ada niatan seperti itu." Nara mengangguk puas mendengarnya.


*


*


*

__ADS_1


Terima Kasih sudah mampir 😊


__ADS_2