
Nadia mengajak Karina untuk ikut arisan ibu-ibu komplek. Rumah yang dijadika tempat berkumpul untuk arisan tidak begitu jauh. Hanya berjarak tiga rumah dari rumah Nadia. Rencananya mereka akan pergi ke sana dengan berjalan kaki.
Tetapi melihat Bingkisan berisi sabun dari pabrik Bisma sudah disiapkan di ruang tamu mereka tidak mungkin bisa membawanya sendiri dengan berjalan kaki. Jadi mereka akan pergi dengan menggunakan mobil.
Karina turun dengan perlahan. Perutnya yang sudah besar tidak memungkinkannya melihat jalan di depannya bahkan ia sudah tidak bisa melihat jari kakinya saat ia berdiri. Setelah melewati trimester pertama, nafsu makan Karina membaik. Karina bisa makan sampai lima kali sehari. Itu bukan termasuk dengan makan camilan dan juga makan buah-buahan.
Apalagi sejak tinggal di mansion Mahardika yang banyak orang tinggal di sana semuanya menyayanginya. Memanjakannya. Setiap Dini pulang dari sekolah, gadis itu selalu membawakan Karina makanan. Gerry juga terkadang membawakan buah-buahan untuknya. Belum lagi Nadia yang sekarang menjadi lebih sering berada di dapur untuk secara pribadi menyediakan makanan untuk Karina.
Pakaian yang dibawa Karina ke rumah itu semuanya sudah tidak muat. Semua pakaiannya sekarang adalah pakaian baru.
"Hati-hati sayang." Nadia menyusul Karina di tengah tangga. Menuntunnya dengan hati-hati. Karina merasa tidak berdaya melihat kasih sayang dari ibu mertuanya ini. Dia bukannya pesakitan yang tidak bisa melakukan apa-apa hingga berjalan saja harus dibantu. Namun perasaan hangat itu begitu menyenangkan.
"Terima kasih ma. Mama sangat baik." Karina tersenyum.
"Tidak perlu berterima kasih. Seperti dengan siapa saja." Nadia bersenandung. Ia menuntun Karina dengan hati-hati.
Sebagai seorang ibu yang akan menjadi seorang nenek adalah sebuah kebahagiaan bagi Nadia. Waktu Nara hamil ia tidak memiliki banyak kesempatan untuk memanjakan Nara saat itu. Ia melahirkan Nara dan merawatnya hingga dewasa. Tetapi saat ia sudah menikah ia dibawa pergi oleh Alex. Bahkan saat hamil, Nara seperti dikuasai oleh Serena.
Sekarang Karina ada di rumahnya. Ia seperti mendapatkan ganti dari Nara. Ia akan memberikan perhatiannya pada menantunya yang tengah hamil ini.
Nadia menyuruh pembantu untuk memasukkan bingkisan ke dalam bagasi mobil. Ia juga membantu Karina untuk masuk ke dalam mobil dan memastikan Karina duduk dengan nyaman di dalamnya.
Tidak berapa lama setelah mobil berjalan, mobil itu sudah berbelok dan masuk ke dalam halaman yang luas. Rumah bergaya Amerika Modern berdiri dengan gagak di depan. Warna putih yang mendominasi terlihat anggun dan gagah.
Saat Nadia membuka pintu, suara tawa menggema dari dalam. Nadia tersenyum mendengar suara teman-temannya.
"Ayo turun. Aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku." Nadia mengulurkan tangannya untuk membantu Karina turun. Bibirnya terus mengulum senyum. Dia sudah tidak sabar untuk memamerkan menantunya yang sedang hamil pada para tetangga. Bulan lalu, saat Karina baru saja tinggal di rumahnya keadaan masih belum stabil. Jadi dia tidak bisa membawa Karina pergi bersamanya. Tetapi sekarang semuanya sudah lebih baik.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
Semua wanita yang sedang berkumpul di ruang tamu rumah itu menoleh saat mendengar salam dari Nadia dan menjawab salam itu bersama-sama. Lalu saat mereka melihat Karina yang diajak oleh Nadia mereka semua tersenyum.
Semua wanita di sana bukannya tidak mengetahui siapa Karina. Mereka semua tahu bahwa Karina adalah istri Bisma. Masing-masing dari mereka pernah melihat atau bertemu dengan Karina. Tetapi mereka belum pernah bertemu secara khusus.
"La gini toh jeng menantunya diajak." Niken, Sang pemilik rumah berdiri dan menyambut kedua tamunya yang baru datang.
"Iya jeng. Mumpung di sini. Makanya saya ajak kemari biar bisa kenalan." Jawab Nadia sambil mengelus lengan Karina. Kemudian membawa Karina menemui satu persatu temannya sambil memperkenalkannya.
"Cantik sekali jeng menantunya."
"Iya dong. Menantu siapa dulu?" Jawab Nadia sombong.
"Jeng Nadia ini sangat beruntung. Semua yang ada di keluarganya cantik dan juga tampan. Bahkan menantunya juga cantik dan tampan."
"Benar. Suami Nara juga tidak kalah tampan dari Bisma dan Gerry."
"Anak muda memang seperti itu. Apalagi yang tampaknya di atas rata-rata seperti Gerry. Pasti banyak yang naksir. Kalau tidak memilih pasangan dengan benar bisa-bisa malah tertipu. Mungkin itu alasan Gerry menjadi playboy. Biar bisa melihat karakter para gadis." Predikat playboy Gerry memang sudah tersebar luas dan menjadi rahasia umum. Meskipun begitu masih banyak gadis yang mau menjadi pacar Gerry entah yang ke berapa.
"Gerry itu suka buat saya pusing jeng. Kalau lagi jalan-jalan di maklum saya sering ditemui oleh gadis-gadis yang baru diputuskan Gerry minta biar saya membujuk Gerry untuk kembali menerima mereka. Hahahaha! Mereka sangat mudah dibutakan ketampanan wajah." Keluh Nadia.
"Kalau saya lebih suka sama Bisma. Meskipun kelihatannya dingin dan tidak berperasaan tetapi sangat menyayangi keluarganya." Salah satu ibu-ibu berkomentar.
"Jangan mimpi jeng. Kalau aku jadi Bisma juga akan memilih Karina daripada anakmu. Karina ini cantik dan lemah lembut."
"Benar juga. Melihat karakter anakku juga tidak cocok dengan Bisma. Anakku yang tidak bisa diam tidak akan cocok dengan Bisma pendiam itu."
__ADS_1
"Benar. Kalau Bisma juga mau saya jodohku sama anak saya. Eh ternyata dia malah sudah menikah duluan."
"Bisma juga sepertinya sangat mencintai Karang. Buktinya sejak menikah Itu jarang pulang. Pasti sibuk ngandon. Hahahahahaha." Semuanya tertawa terbahak-bahak. Hanya Karina yang diam karena malu.
"Sudah jangan bicara lagi. Lihatlah menantuku sudah malu." Nadia menegur teman-temannya. Ia menepuk lembut tangan Karina.
"Tidak apa Karina. Kami semua hanya bercanda. Kamu tidak usah malu. Bisma beruntung mendapatkanmu. Sekali lihat saja sudah tahu kalau kalian adalah pasangan yang serasi. Aku pernah lihat kalian berdua di mall. Aku sudah lama mengenal Bisma dan tahu dia seperti apa. Yah seperti yang dikatakan banyak orang, dingin dan acuh. Tapi saat aku lihat kalian saat itu, Bisma benar-benar seperti orang lain. Dia terlihat hangat dan penuh kasih. Orang seperti Bisma hanya akan bersikap seperti itu pada wanita yang dicintainya."
Karina yang mendengar ini menjadi sangat tidak enak dan malu. Andaikan mereka mengetahui bagaimana ia bisa menikah dengan Bisma mungkin mereka akan memandangnya dengan cara yang lain.
"Oh ya. Tadi ada titipan juga dari Bisma. Sebentar saya minta pak Tarno bawa masuk." Nadia keluar dan kembali lagi bersama pak Tarno lalu membagikan bingkisan pada semua orang.
"Apa ini jeng?" Tanya seorang ibu-ibu lain yang berupa saja menerima bingkisan itu. Ia membuka pameran bagi yang digunakan untuk membungkus sabun.
"Itu sabun produksi pabriknya Bisma yang pertama. Sabun kesehatan jeng. Saat ini kan banyak penyakit yang disebabkan bakteri dan virus. Menurut penelitian, sabun ini mengandung bahan-bahan yang efektif membunuh kuman dan bakteri. Bahkan virus. Selain bekerja sama dengan ilmuwan, Bisma juga bekerja sama dengan ahli kulit yang bisa menjamin kalau sabun ini aman digunakan oleh semua jenis kulit." Jelas Nadia. Sedikit banyak ia tahu tentang produk Bisma ini dari Nathan yang selalu mengawasi langkah Bisma secara sembunyi-sembunyi.
Semua teman-teman Nadia sangat senang. Mereka langsung membuka satu kotak dan memperhatikan sabun itu dengan seksama. Sabun yang tidak terlalu besar pas digenggaman tangan. Memastikan sabun akan nyaman dipegang dan tidak mungkin jatuh. Permukaannya yang tidak rata juga membantu membersihkan permukaan tubuh. Aromanya juga harum dan segar. Ada beberapa Varian aroma yang bisa dipilih.
"Untuk sementara hanya ada sabun batangan. Untuk kedepannya sudah direncanakan ada sabun cairnya juga." Nadia tidak memungkiri jika di zaman sekarang menggunakan sabun batangan sepertinya terlihat kuno. Masyarakat kelas atas akan lebih senang menggunakan sabun cair daripada sabun batang.
"Wah itu bagus. Sabun ini sangat harum dan segar. Saya yakin kalau sabun ini pasti akan laris manis di pasaran mengingat saat ini banyak penyakit. Rasanya Sudah tidak sabar untuk mandi." Bu Niken langsung berdiri membawa bingkisan sabun yang dibawanya.
"Eh eh jeng mandinya nanti saja. Sekarang lebih baik kita mulai Arisannya saja. Kami juga mau mencoba sabun barunya." Seru ibu-ibu yang lainnya sambil tertawa.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir ☆~(^,^)~♡