Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_36. Tentu Saja, Kan Aku Yang Membuatnya


__ADS_3

Alex sedang menemani Nara dalam melahirkan putra mereka. Alex awalnya menyarankan agar Nara melahirkan dengan cara operasi saja karena ia tidak tega melihat Nara yang kesakitan saat merasa akan melahirkan. Tetapi Nara tidak mau dan memilik melahirkan secara normal. Alex semakin tidak tega saat melihat Nara yang begitu kesakitan saat melahirkan.


Sepanjang jalannya proses persalinan, Alex selalu berada di samping Nara. Merelakan tangannya menjadi tempar Nara untuk mencakar dan menggigit melampiaskan rasa sakitnya. Mulutnya juga tidak berhenti mengucapkan kata cinta dan memberi semangat pada Nara untuk berjuang.


Alex baru lega saat mendengar suara tangis pertama putra mereka yang terdengar keras. Diciuminya wajah dan tangan Nara yang berkeringat dengan berderai air mata kebahagiaan. Berkali-kali Alex mengucapkan terima kasih karena telah mau mengandung dan melahirkan anak untuknya.


Jerih payah Nara terbayar lunas. Bayi kecilnya lahir sehat dan sempurna. Melengkapi kabahagiaan keluarga kecilnya dan juga keluarga besarnya.


Nadia dan Nathan segera bergegas begitu mendengar jika Nara melahirkan. Bisma dan Karina juga datang tak lama setelah Nadia dan Nathan sampai.


Seorang bayi yang mungil menjadi pusat perhatian. Bayi tampan itu baru saja dilahirkan oleh Nara secara normal. Bayi itu masih tidur di dalam box bayi di salah satu sisi kamar. Nara yang baru melahirkan berbaring lemas di atas ranjang. Alex duduk di tepi ranjang. Pria yang baru saja menjadi seorang ayah dari seorang bayi tampan itu tampak bahagia.


"Cucu mama sangat tampan." Nadia yang dari tadi berdiri di depan box berulang kali mengucapkan kata-kata itu. Menajdi nenek untuk seorang bayi yang baru saja dilahirkan oleh putrinya menajdi kebahagian tersendiri untuknya.


"Ma coba gendong bayinya. Biarkan papa bisa melihatnya." Nathan berkata dengan semangat. Nadia mengangguk lalu dnegan perlahan mengangkat bayi yang terbungkus selimut itu dengan hati-hati. Mendekapnya di depan dadanya. Pipi lembut bayi itupun tidak bisa lepas dari couman Nadia hingga membuat bayi itu menggeliat dan tersenyum.


"Pa cucu kita tersenyum pa. Dia mengenali kitalah kakek neneknya pa."  Ucap Nadia senang.


"Cucuku juga jeng." Serena yang baru saja masuk ikut mendekati Nathan dan Nadia yang di matanya seperti sedang menguasai cucu mereka.


"Iya iya jeng. Ini cucu kita." Nadia tidak mau merusak momen kebahagiaan ini. Jadi dia tidak ingin mempermasalahkan hal ini. Lagipula Serena juga memang nenek bayi imut dan tampan itu. Mendengar ucapan Nadia, semua orang tertawa bahagia.


"Lihatlah jeng, Alisnya sama seperti Alex." Ucap Serena menunjukkan alis bayi.


"Tapi jeng Serena juga lihatlah bibirnya. Ini mirip bibir Nara."


"Sudah nenek-nenek. Bayi ini pintar sehingga dia menuruni wajah orang tuanya dengan adil. Dia tahu bahwa kedua neneknya ini akan sangat menyayanginya." Nathan berdiri di tengah-tengah dan menghentikan perdebatan dua nenek baru itu.


"Bisma cepat sini. Ayo belajar menggendong bayinya." Nadia menoleh dan memandang Bisma.


"Tidak ma. Aku takut. Alex saja yang belajar. Nanti aku juga sekalian belajar." Tolak Bisma. Lagipula ia juga belum melihat Alex menggendong bayi itu dari awal.


"Benar juga. Ayo Lex sini belajar." Nadia ganti memanggil Alex. Sang menantu tentu saja tidak bisa menolak seperti yang Bisma lakukan. Tetapi ini memang diperlukan. Ia memang harus bisa menggendong bayinya. Jadi Alex segera mendekati Nadia.

__ADS_1


Sedangkan Karina mendekati Nara. Mendekati adik iparnya itu dan menanyakan banyak hal yang membuatnya penasaran sejak ia melihat bayi tampan milik Nara yang terlihat mengagumkan.


"Bagaimana kabarmu Nara?" Tanya Karina basa basi sambil memegang lengan Nara.


"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lemas." Jawab Nara sambil tersenyum. Ia tentu saja tahu jika Karina sebenarnya penasaran dan memiliki banyak hal yang ingin ditanyakan di otak cantik kakak iparnya itu.


"Duduklah di sini. Jangan berdiri terus." Nara menunjuk kursi di samping ranjangnyam meminta Karona untuk lebih dekat dengannya. Karina segera duduk.


"Kamu tahu Karina, saat aku pertama kali mengetahui jika aku akan melahirkan, aku sangat takut. Takut sekali." Nara mulai berbicara. Menandang Karina dengan sungguh-sungguh.


"Apalagi setelah merasakan sakit yang perlahan muncul dan lama kelamaan menjadi semakin sakit. Rasanya, aku ingin segera mengeluarkan bayiku dari dalam tubuhku agar semua rasa sakitku segera berhenti."


"Apakah itu sangat sakit?" Nara mengangguk menjawab pertanyaan Karina. Ia tidak bohong. Juga tidak ingin menakuti Karina.


"Aku sempat ingin menyerah. Aku tidak kuat menahan rasa sakitnya lagi. Sampai saat itu aku berpikir jika mama pasti merasakan hal yang sama saat melahirkanku dulu. Intinya, semua ibu pasti merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan. Jika mama dan wanita lain bisa melaluinya, mengapa aku tidak?"


Karina mendengarkan cerita Nara dengan sungguh-sungguh. Lalu melihat Serena dan Nadia yang sedang sibuk mengajari Alex dan Bisma cara menggendong bayi.


"Sakit itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kabahagiaan yang datang setelahnya." Nara juga ikut memandang mama dan mama mertuanya yang tengah berbahagia.


"Benar. Rasa sakit yang aku rasakan selama melahirkan rasanya langsung hilang begitu mendengar tangisan pertamanya. Dan aku merasa ini menakjubkan. Bayi itu sudah kami tunggu sejak lama. Dan kehadirannya adalah kebahagiaan kami."


"Semoga aku juga bisa kuat sepertimu, aku sudah tidak sabar ingin melihat bayiku sendiri."


"Kamu pasti kuat." Nara menggenggam tangan Karina. Memberikan semangat pada calon ibu yang beberapa bulan lagi juga akan merasakan apa yang sama dengannya.


**


Di dalam kamarnya, Karina meraba perut buncitnya. Tersenyum merasakan gerakan bayinya yang semakin lama semakin terasa bergerak aktif. Bisma yang baru saja masuk ke dalam kamar memperhatikan Karina yang sedang tersenyum sendiri dan menghampirinya. Memeluknya dan menempelkN dagunya di pundak Karina.


"Apa yang membuatmu tersenyum semanis ini?" Karina menoleh saat merasakan hembusan napas hangat di lehernya.


"Aku sudah tidak sabar untuk segera melahirkan dan melihat bayi kita sendiri."

__ADS_1


"Untuk apa terburu-buru? Bukankah kita bisa menikmati waktu bersama dulu." Bisma menciumi leher Karina. Membuat wanita itu bergidik geli.


"Melihat lucunya bayi Nara membuatku ingin segera menggendong bayi kita sendiri."


"Bayi kita nanti akan lebih lucu dan lebih tampan dari bayi mereka. Jangan iri."


"Siapa yang iri? Lagipula kamu begitu yakin jika yang ada di dalam sini adalah bayi laki-laki." Karina menoleh dan menatap mata Bisma.


"Tentu saja. Kan aku yang membuatnya." Karina menepuk lengan Bisma yang meraba-raba perutnya.


"Dasar mesum!" Umpatnya. Tetapi ia juga tidak bisa untuk menghentikan bibirnya tertarik ke atas dan tersenyum.


Dulu ia tidak menyangka akan mempunyai bayi di dslam perutnya dalam waktu dekat. Apalagi dengan cara yang sangat tidak ia duga. Jika mengingat bagaimana ia dan Bisma dulu, ia tidak akan menyangka jika hubungan mereka akan sampai di tahap ini. Meskipun sama-sama belum menyatakan cinta, tetapi ia dapat merasakan cinta dari perlakuan Bisma padanya.


"Jika ternyata bayi yang lahir adalah perempuan, apakah kamu akan kecewa?" Karina tiba-tiba bertanya. Bisma selalu berkata jika anak yang ada di kandungannya adalah bayi laki-laki. Padahal dokter Kania saja tidak mengatakan apa-apa pada mereka setiap kali mereka datang periksa.


"Tentu saja tidak. Justru aku akan sangat senang." Bisma tidak berbohong. Ia malah tersenyum lebar.


"Kenapa? Bukankah mas ingin anak laki-laki?"


"Ingin. Tapi jika anak ini nantinya perempuan, aku bisa membuat alasan untuk segera membuatmu hamil lagi." Bisma berkata dengan serius.


Namun wajah seriusnya kali ini sungguh membuat Karina sangat kesal. Dengan segera ia memukul lengan Bisma yang ada di atas perutnya hingga suaminya itu mengaduh.


"Sakit sayang. Ini namanya KDRT." Ucap Bisma dengan wajah memelasnya.


"Biarin! Siapa suruh bicara sembarangan. Satu saja masih ada di dalam perut sudah membicarakan mau membuatkannya adik." Ucap Karina sewot.


"Buat aja tidak masalah kan." Ucapan Bisma sudah disertai dengan tangannya yang mulai menerobos masuk dari bawah gaun Karina. Bibirnya juga sudah menempel di leher istrinya itu.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😊


__ADS_2