Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_50. Jodi


__ADS_3

Bisma menatap wanita yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit itu. Matanya menatap wajah Karina yang tertidur dengan damai. Saat ini, Bisma berharap jika saat Karina bangun nanti wajah damai itu tidak akan berubah menjadi yang ia takutkan.


Jantung Bisma berdetak lebih cepat saat ia merasakan tangan yang ia genggam bergerak pelan. Ia segera bangun dan mencondongkan tubuhnya di atas istrinya. Memeluknya. Menyejajarkan kepalanya dengan kepala istrinya. Bibirnya membisikkan kata-kara pada istrinya yang mengatakan bahwa dia ada di sini.


"Mas." Panggil Karina saat ia mendengar panggilan Bisma yang terdengar menenangkan.


"Iya. Aku di sini sayang." Bisma mengelus kepala Karina.


"Mas." Perlahan-lahan Karina membuka matanya. Di kedalaman matanya masih terlihat ketakutan yang samar.


"Aku di sini menemani kamu. Apa ada yang tidak nyaman? Apa ada yang merasa sakit?" Bisma mengelus perut Karina yang mulai membuncit dengan khawatir.


Karina menggelengkan kepalanya. Ia hanya merasa tidak memiliki tenaga. "Tolong bantu aku ke kamar mandi. Aku pengen pipis." Ucapnya lemah.


"Baiklah." Bisma menyibak selimut Karina dan menggendong istrinya. Karina terkejut saat merasa tubuhnya melambung di udara. Ia segera mengalungkan tangannya di leher Bosma dengan panik.


"Mas ngagetin. Bagaimana kalau jatuh? Aku bisa jalan sendiri." Omel Bisma.


"Maaf maaf. Lain kali mas akan bilang kalau mau menggendongmu." Karina mengerucutkan bibirnya saat ia tidak bisa menjawab.


"Mas keluar dulu. Kalau aku sudah selesai aku panggil." Ucap Karina saat Bisma mendudukkannya di closet duduk.


"Baiklah. Jangan membantah." Bisma mengangguk. Ia mengelus kepala Karina sebelum keluar dari kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar mandi, Bisma berdiri di depan kamar mandi. Jadi saat Karina memanggilnya tidak perlu banyak tenaga dan ia juga bisa langsung masuk ke dalam.


Bisma kembali menggendong Karina kembali ke atas ranjang. Membaringkan Karina dengan hati-hati di sana. Bisma memperhatikan Karina. Sejauh ini sepertinya kondisi psikologis Karina baik-baik saja. Bisma menghela napas lega. Ia sangat khawatir jika Karina mengalami trauma.


"Sayang mas panggilkan dokter dulu ya. Bair dokter memeriksamu nanti." Ucap Bisma sambil mengelus perut Karina.


"Ya." Karina mengangguk. Bisma segera menekan tombol merah di sisi ranjang.


"Lapar mas." Ucap Karina saat merasakan perutnya yang keroncongan. Salah satu alasannya bangun adalah karena ia lapar. Ia hanya sarapan sedikit pagi tadi. Lalu melewatkan siang hari dengan begitu tegang. Penculikmya bahkan tidak berbaik hati dengan memberikannya makanan. Sekarang sudah sore. Tentu saja ia lapar.


"Iya. Biarkan dokter memeriksamu dulu. Baru makan ya?" Karina mengangguk lagi. "Kamu mau makan apa?"


"Jangan tinggalin aku mas." Karina menarik tangan Bisma saat Bisma hendak berdiri.


"Tidak sayang. Bima ada di depan. Aku mau minta dia yang belikan."

__ADS_1


"Oh. Baiklah. Aku pengen makan soto Lamongan." Jawab Karina semangat.


"Ini di Lombok sayang. Apa ada soto Lamongan?" Tanya Bisma bingung.


"Ada. Di resort tempatku kerja dulu ada. Bisa beli di sana."


"Baiklah. Tunggu sebentar di sini. Aku akan keluar sebentar meminta bantuan Bima." Karina akhirnya melepaskan tangan Bisma dengan enggan.


Saat Bisma keluar, bertepatan dengan dokter yang menangani Karina masuk. Dokter itu menyapa Bisma sebentar.


"Karina baru saja bangun dokter. Tolong diperiksa."


"Baik pak." Dokter itu mengangguk dan berjalan masuk bersama seorang asistennya.


"Aku lagi?!" Bima hampir berteriak saat Bisma memintanya untuk pergi membelikan makanan pesanan Karina. Jika saja ia tidak mengingat jika mereka berada di rumah sakit. Terlebih lagi berada di depan ruang rawat Karina yang pasti akan membuat Karina tidak merasa nyaman.


"Dari sini itu jauh Bisma. Butuh satu jam perjalanan." Keluh Bima.


"Kalau tidak beli di sana tidak apa-apa. Yang penting soto Lamongan."


"Kalian ini benar-benar mau mengerjai aku ya. Di sini Lombok. Bukan Lamongan."


"Sekarang ini pasta Italia saja banyak yang jualan di sini. Apalagi cuma soto Lamongan?"


Bisma segera masuk setelah ia melihat Bima pergi. Di dalam dokter sudah selesai memeriksa kondisi Karina.


"Semuanya baik-baik saja pak, bu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ucap doktet itu tersenyum memandang Karina dan Bisma bergantian.


"Syukurlah kalau begitu." Bisma menghela napas lega. "Jadi apakah besok sudah bisa pulang? Sebenarnya kamu harus segera kembali ke Jakarta." Lanjutnya.


"Oh ternyata begitu. Jika kondisi bu Karina tetap stabil, sepertinya tidak akan ada masalah."


"Baiklah dokter, terima kasih banyak."


"Sama-sama. Kalau begitu kami permisi dulu."


"Baik dok." Jawab Karina dan Bisma sambil tersenyum.


"Sambil menunggu Bima, makan ini dulu ya. Kamu mau yang mana?" Bisma mengambil kantong plastik dan menunjukkannya pada Karina. Kemudian menyetel ranjang agar Karina bisa makan dengan nyaman.

__ADS_1


Karina membongkar isi kantong plastik. Ada banyak camilan di dalamnya dengan berbagai jenis yang biasanya dibeli Karina. Juga ada beberapa roti berbagai rasa. Karina tersenyum senang. Ini semua Bisma yang membelikannya untuknya. Ia pun mengambil roti dan membuka bungkus plastiknya.


"Mmm.. ini enak." Ucap Karina sambil memakan roti rasa coklat. Bisma mengusap kepala Karina dengan lembut. Karina tersenyum menikmati sentuhan Bisma.


"Mas mau?" Karina mengedipkan matanya.


"Tidak perlu. Kalau enak kamu makan saja." Bisma menggelengkan kepalanya.


"Ini enak. Tapi masih ada banyak rasa lainnya." Karina menyodorkan roti itu pada Bisma. Meminta suaminya untuk ikut makan. Melihat wajah Karina, Bisma pun akhirnya menggigit roti yang disodorkan padanya.


"Enak kan?" Tanya Karina setelah melihat Bisma menggigit rotinya.


"Ya. Ini memang enak." Bisma tersenyum melihat Karina sudah membuk lagi bungkus roti yang kedua.


Bisma memperhatikan Karina dalam. "Sayang, kalau kita kembali besok, apa kamu tidak keberatan?" Tanya Bisma dengan hati-hati. Ia takut jika Karina merasa tidak nyaman dan memilih tinggal untuk sementara di sini.


"Tidak. Aku tidak mau membuat mama khawatir. Kita sudah tidak pulang hari ini. Mama pasti khawatir sekarang." Jawab Karina menatap Bisma. Meskipun sebenarnya ia ingin tinggal lebih lama lagi, tetapi ia tahu keluarga mereka pasti khawatir. Terlebih lagi jika mereka masih berada di sini, bisa jadi kejadian buruk lain akan terjadi lagi.


"Terima kasih sudah mengerti." Bisma berdiri dan memeluk Karina. Karina juga memeluk Bisma.


"Aish dasar kalian ini! Apa tidak bisa bermesraanya nanti saja kalau sudsh pulang? Ini masih di rumah sakit." Bima berdecak saat melihat keduanya malah bermesraan sedangnkan dirinya yang repot.


"Makanya segera cari istri. Sudah tua masih jodi!" Bisma menjawab dengan santai. Ia segera mendekat.


"Ck. Kamu pikir cari istri itu gampang?" Bima memutar bola matanya malas. "Kamu juga jodi sebelum ketemu Karina!"


"Jodi? Jodi bukannya Jomblo Ditinggal Mati?" Tanya Karina yang dari tadi diam. "Mas kamu pernah punya mantan?" Lanjutnya sambil menatap Karina dengan curiga.


"Bukan sayang. Aku tidak pernah memiliki wanita lain selain kamu. Mana mungkin aku punya mantan?" Jawab Bisma panik. Melihat tatapan Karina yang seperti mencurigainya. "Jodi itu Jomblo Abadi. Ya kan Bim?😊


"Ya. Dan jomblo abadi itu pada akhirnya masih akan menjadi aku." Ucap Bima kesal. "Ini soto Lamongan. Makan jangan sambik membatin aku. Nanti anak kalian bisa jadi Jodi seperti aku." Bima dengan kesal meletakkan soto Lamongan pesanan Karona di atas meja sebelum keluar dari ruangan dengan menutup pintu dengan keras.


"Dia kenapa?" Karina menatap Bisma.


"Entahlah. Sudahlah jangan dipikirkan. Lebih baik makan soto Lamongannya selagi panas." Ucap Bisma mengambil kotak makanan yang diletakkan di atas meja.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir  😊


__ADS_2