
Halaman kantor polisi yang tadi ramai sekarang sudah kembali lengang. Rombongan teman-teman Nadia sudah pulang. Mereka telah mendapat janji bahwa pihak kepolisian akan menyelidiki kasus ini dengan teliti. Mereka juga telah menerima bukti hasil lab yang bisa dijadikan perbandingan. Hasil laboratorium mereka belum keluar.
Polisi yang bertugas untuk tuk menangani kasus Bisma akan pergi ke pabrik untuk melanjutkan penyelidikan mereka saat Gerry datang bersama dengan Bima dan Andi. Mereka datang untuk memberikan bukti bahwa Bisma tidak bersalah.
Gerry dan yang lainya dipersilahkan masuk. Yang dibawanya adalah bukti rekaman cctv yang didapat oleh Bima. Di pabrik memang dipasang banyak cctv yang ditempatkan di tempat strategis dan di pasang secara tersembunyi. Dengan pengaturan Bima, hampir tidak akan bisa menemukan titik buta yang akan tersembunyi dari pandangan cctv.
Di dalam rekaman itu terlihat dengan jelas bahwa ada seorang karyawan dengan seragam karyawan pabrik yang bertugas untuk mengoperasikan mesin bernama Dani dengan sengaja memasukkan bahan berbahaya ke dalam bahan-bahan yang sedang diproses saat tidak ada yang mengawasi saat proses yang kedua. Sedangkan yang dibawa pulang Bisma adalah hasil dari proses yang pertama jadi itu masih aman.
"Kami juga mendapatkan laporan dari ibu-ibu yang menjadi. Gak bahwa mereka adalah tetangga komplek perumahan tuan Bisma yang juga mendapat sabun dari pabrik yang sama. Dan mereka berkata bahwa mereka tidak bermasalah setelah menggunakan sabun ini."
"Ibu-ibu datang kemari?" Gerry sangat terkejut. Bukan hanya Gerry. Andi dan Bima juga merasa terkejut. Apakah ini artinya mereka kalah Start dari emak-emak komplek?
"Ya. Mereka datang. Bahkan mereka juga membawa bukti hasil lab dari sabun yag telah mereka gunakan selama ini. Dari hasil laporan dari sabun yang kami kirim ke laboratorium, ia ingin jelas ada perbedaan dalam komposisi. Jadi ini menegaskan bahwa salah satu karyawan telah berkhianat dan menambahkan bahan berbahaya dengan sengaja untuk merusak reputasi pabrik dan mencelakai tuan Bisma."
Apakah tersangka ini termasuk karyawan di pabrik?" Tanya polisi itu saat mereka selesai melihat rekaman.
"Ya. Anak buah kami masih Mengawasinya. Berjaga-jaga agar dia tidak kabur." Jawab Gerry.
"Baiklah. Kami akan mengirim anak buah kami untuk menjemputnya."
"Inilah adalah data-data orang ini."
"Terima kasih atas kerjasamanya. Setelah kami membuktikan bahwa transaksi Bisma tidak bersalah, tuan Bisma sudah bisa pulang."
"Apa bukti yang kami bawa ini masih belum cukup?" Gerry menggerakkan meja dengan marah. Ia melihat bagaimana kesedihan seluruh keluarganya karena hal ini. Setelah bekerja keras masih belum bisa membebaskan Bisma!
Bima menahan tangan Gerry. Menganggukkan kepalanya pelan dengan tatapan mata meyakinkan. "Sabar Ger. Kita tidak boleh bertindak gegabah. Jika Bisma dibebaskan sekarang malah itu tidak akan baik untuknya. Berita yang tersebar sangat buruk. Dan akan bertambah buruk jika tiba-tiba Bisma dibebaskan begitu saja. Di luar wartawan masih mengawasi. Begitu ada pergerakan, mereka akan segera bertindak. Jadi memang lebih baik jika Bisma menunggu di sini sementara kasus ini dijelaskan. " Ucap Bima yakin. Lalu menoleh untuk berbicara pada polisi. "Tolong selidiki kasus ini dengan seksama."
Gerry menggertakkan giginya. Tetapi ia masih diam menuruti Bima.
__ADS_1
"Tenang saja tuan. Kami akan menangani kasus ini dengan baik." Polisi itu berkata dengan tegas. Kasus ini hampir bisa diselesaikan. Bisma sudah dapat dipastikan kalau dia bukanlah tersangkanya. Tinggal menangkap pelaku sebenarnya yang sudah ketahuan identitasnya dan semuanya akan selesai.
Tapi sebenarnya, yang dikhawatirkan polisi adalah bahwa kasus ini tidak sesederhana yang terlihat. Jika dipikirkan dengan seksama, seorang karyawan kecil seperti itu tidak akan mengambil tindakan yang begitu besar. Apalagi dia juga berkerja di sana dan menggantungkan rizkinya pada pabrik ini. Jadi jika bukan karena perintah dari orang lain, dia tidak akan berbuat yang merugikan dan menghilang resiko besar.
Bukan hanya polisi. Bima dan Andi juga berpikir yang sama. Hanya saja mereka masih belum berani mengungkapkannya pada Bisma dan Gerry karena mereka belum makin dan tidak memiliki seseorang yang patut dicurigai.
"Bolehkah kami menemui Bisma sekarang?" Tanya Bima.
"Tentu saja. Mari." Polisi itu berdiri dan membawa Gerry, Bima dan Andi untuk menemui Bisma.
Di sebuah rumah, seorang Dani mondar mandir di ruang tamu rumahnya. Di atas meja, sebuah rasa besar diletakkan di sana. Berisi baju-baju dan beberapa perlengkapannya. Dia berniat untuk kabur. Setelah apa yang dilakukannya, dia tentu saja tidak akan berani berada di kota ini lagi. Saat ini, ia sedang menunggu orang yang dikirim orang yang memerintahkannya mengacau di pabrik dan mencelakai Bisma untuk menjemputnya dia mengantarkannya sampai ke tempat persembunyian.
Selain upah tinggi yang ditawarkan padanya membuatnya tergiur. Dani juga diberi jaminan keselamatan untuknya. Dia akan diberi tempat untuk bersembunyi sementara waktu dan dijamin kehidupannya. Jadi, meskipun dia tahu resiko yang akan dia ambil dan lagi dia tidak tahu tujuan apa yang dimiliki orang yang mau memberinya bayaran mahal itu memiliki tanya melakukan hal itu dia tetap bersedia. Lagipula di zaman sekarang, tidak ada yang akan menolak uang.
Pintu diketuk. Ia segera mengintip dari balik tirai jendela. Di depan pintunya dia melihat seorang wanita cantik. Dani tersenyum senang. Perantaraan dengan bos besar itu sudah memberitahukan bahwa orang yang akan membawanya pergi adalah seorang wanita.
Dengan tergesa ia membuka pintunya.
"Kenapa kamu masuk?" Tanya Dani penasaran.
"Ada sesuatu yang harus aku tunjukkan padamu." Wanita itu membuka tasnya. Dani maju dengan tas di kedua tangannya.
"Ada apa?" Tanya Dani penasaran. Namun, tiba-tiba rasa sakit yang tak tertahankan dia rasakan saat sebuah jarum menusuk lengannya.
"Apa.. yang.. kau.. lakukan? Udh!" Dani memuntahkan darah hitam dari mulutnya saat ia merasa dadanya terasa panas dan tertekan.
"Hanya orang mati yang akan menutup mulutnya." Wanita itu mencibir saat ia mencabut jarum yang baru saja ia gunakan untuk memasukkan racun mematikan pada Dani. Ia menatap Dani dengan pandangan penuh ejekan.
"Breng...sek." Dani menggeram saat ia merasa organ dalam tubuhnya seperti diremas. Wajahnya pucat seketika saat ia menjatuhkan tubuhnya yang tidak berdaya. Tak lama kemudian ia mengenang sebelum terdiam untuk selamanya.
__ADS_1
"Menyusahkan." Wanita itu menendang tubuh tak bernyawa Dani saat ia mengambil ponselnya dan membawanya pergi. Di dalam ponsel itu pasti menyimpan bukti yang dapat melacak keterlibatan bosnya.
"Bos, tugas selesai." Ucapnya di telepon saat ia berjalan keluar dari dalam rumah. Dia tersenyum saat menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.
Saat ia keluar dari rumah, ia memesankan perannya sekali lagi. Ia tampak seperti berbicara dengan seseorang. Dia tahu betul jika tempat itu sudah diawasi. Tetapi ia memanfaatkan adanya terasa dengan dinding yang tinggi yang menghalangi pemandangan. Apalagi rumah itu juga sempit. Jadi dilihat dari jauh, tidak akan dapat melihat keadaan yang terjadi dengan jelas.
Setelah beberapa saat, ia melambaikan tangannya dan berbalik pergi dari rumah itu. Terlihat sangat santai seperti pembunuhan yang baru saja terjadi tidak ada hubungannya dengannya sama sekali.
Keadaan begitu tenang. Tidak ada yang menyangka bahwa orang yang ada di dalam rumah telah menjadi mayat dan tergeletak di lantai begitu saja. Anak buah yang diatur Bima pun tidak mengetahui apa yang terjadi. Tugas yang diberikan pada mereka hanyalah untuk menjaga agar dia tidak meninggalkan rumah. Dan bukan mengawasi orang yang datang dan pergi.
Polisi datang satu jam setelahnya. Anak buah Bima melapor saat mereka datang. Dan Bima mengintruksikan agar mereka tetap mengawasi.
Sudah beberapa kali polisi mengetuk dan mencoba memanggil Dani namun tidak ada jawaban dari dalam. Rumah Dani terletak di tengah rumah penduduk lainnya. Tidak ada jalan keluar lain selain pintu masuk utama yang ada di depan. Jendela pun hanya berupa lubang ventilasi kecil yang tidak akan bisa dilewati seseorang untuk melarikan diri. Jadi polisi hanya berjaga di depan rumah.
Salah satu polisi akhirnya berinisiatif untuk memutar knop pintu dan menyadari bahwa rumah itu tidak terkunci. Polisi itu menoleh pada rekannya yang dengan pelan menganggukkan kepalanya. Para polisi lain memasang langkah waspada dengan mengambil pistol mereka dan bersiap menyerang jika ada sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Dengan sebuah kode anggukan kepala, polisi yang sudah menempelkan tangannya di knop pintu mendorong pintu dengan pelan. Namun ia tidak menyangka jika apa yag dilihatnya pertama kali adalah tubuh Dani yang sudah tergeletak di lantai.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~《♡,♡》~
Mohon maaf lama tidak up...
Tapi Akoh janji novel ini akan sampai tamat 😊
__ADS_1
Mohon bersabar ya☺