
Karina menatap nampan di tangannya dengan ragu. Kemudian ia menoleh pada Nara yang berdiri di sampingnya. Saat ini Karina dan Nara sedang berada di dapur di dalam kamar hotel yang ditinggali Nara. Keduanya sudah sibuk di dalam sana semenjak mereka sampai di hotel.
Bisma dan Alex pun mereka larang untuk masuk ke dalam kamar karena mereka bilang ini adalah kejutan. Jadi kedua orang itu memilih untuk pergi ke kafe yang ada di dalam hotel.
"Apa kamu yakin Bisma akan menyukai ini?" Tanya Karina tidak yakin. Nara mengangguk sambil tersenyum bahagia.
"Tapi bagaimana jika dia tidak suka?"
"Omong kosong. Bukankah kakak memintamu untuk bertanya padaku?" Nara menatap Karina dengan sungguh-sungguh. Karina mengangguk mengiyakan. Memang Bisma yang memintanya untuk bertanya pada Nara.
"Tapi ini tidak seperti cara untuk berterima kasih pada suami kan? Bukankah memasak untuk suami memang merupakan tugas istri?" Karina menatap nampan yang dibawanya. Di atasnya ada masakan yang ia buat khusus untuk Bisma.
"Lalu menurutmu apa? Apa dengan sebuah ciuman?"
"Ciuman?" Nara mengangguk."Lebih baik menggunakan ini saja untuk berterima kasih padanya." Nara mengangguk senang. Diam-diam ia mengejek kakaknya di dalam hatinya. Siapa suruh bersikap buruk padanya di masa lalu. Sekarang terimalah pembalasan Nara.
"Benar." Nara menjentikan tangannya. Kemudian mengambil tutup untuk menutupi masakan yang telah berhasil dimasak Karina.
"Nah ini baru sempurna. Sekarang pulanglah. Dan minta kakak untuk kembali. Setelah ia kembali nanti kamu beritahu dia jika kamu ingin berterima kasih padanya." Nara memberi intruksi. Karina menganguk-anggukkan kepalanya mendengarkan ucapan Nara dengan serius.
"Baiklah. Aku akan kembali dulu. Terima kasih untuk bantuanmu hari ini Nara." Ucap Karina tulus.
"Sama-sama. Pulanglah. Sebelum ini menjadi dingin dan tidak akan enak lagi." Karina mengangguk sebelum berjalan keluar dari kamar Nara menuju kamarnya dengan Bisma.
Sedangkan setelah Karina menghilang di balik pintu, tawa keras Nara tidak bisa ia tahan.
"Siapa suruh meminta Karina bertanya padaku. Apa kakak pikir aku akan memberitahu Karina jika cara berterima kasih cara suami istri itu adalah dengan sebuah ciuman. Cih! Kalau mau cium ya langsung bilang saja pada Karina. Kenapa mesti repot-repot harus aku yang memberitahunya. Rasakan sendiri akibatnya." Nara masih saja tersenyum membayangkan bagaimana wajah sang kakak nantinya. Ia juga harus bersiap jika nanti kakaknya akan protes padanya.
Saat ini Alex dan Bisma sedang berbincang sambil meminum kopi mereka.
"Apa yang Karina tanyakan pada Nara tadi?" Alex tiba-tiba teringat alasan mengapa mereka sampai terdampar di sini. Seperti para jomblo yang duduk bersama temannya yang sama-sama jomblo.
"Aku meminta Karina untk bertanya pada Nara cara berterima kasih pada suami dengan perbuatan."
"Kamu yakin meminta Karina bertanya pada Nara?" Tanya Alex tidak percaya. Bisma mengangguk pasti.
"Kalau begitu bukan hal yang kamu harapkan yang akan kamu dapatkan nanti."
"Apa maksudmu?" Tanya Bisma heran.
"Apa kamu sudah tidak mengenali adikmu lagi setelah menikah? Apa kamu lupa semenjak hamil adikmu itu menjadi sedikit jahil?" Meskipun sedikit yang dimaksud Alex sebenarnya ini sungguh tidak sesuai. Kenyataannya, Nara menjadi pribadi yang sangat-sangat jahil. Alex sendiri sudah sering kali menjadi korban kejahilannya.
__ADS_1
"Tapi aku yakin Nara tidak akan mengajari Karina hal yang bukan-bukan." Bisma berkata setengah tidak yakin.
"Ya sudah kalau kamu begitu yakin. Tapi aku sarankan untuk tetap bersiap menerima yang tidak kamu duga sebelumnya. Bsia saja ini menjadi yang terburuk."
"Itu tidak mungkin. Sudahlah ayo kita naik. Karina sudah memanggilku untuk segera datang." Ucap Bisma setelah membaca pesan dari Karina di ponselnya.
Alex mengangguk setuju. Ia juga sudah menerima pesan yang sama dari Nara.
Di kamarnya, Karina sudah mengatur meja makan dengan sederhana. Dua piring nasi ia atur di kedua sisi. Lalu sebuah mangkuk keramik ada di tengahnya. Dilengkapi dengan dua gelas teh manis dan dua gelas air putih. Karina melihat hasil karyanya sambil mengetuk dagunya dengan telunjuknya.
"Ah aku sampai lupa." Karina berbalik dan menuju ke kamar. Mengambil vas bunga yang ada di meja kamar dan ia letakkan di meja makan.
"Sempurna. Sekarang tinggal menunggu Bisma datang." Karina memandang hasil karyanya dengan puas.
Setelah memastikan semua sudah ditata dengan baik, Karina duduk di ruang tamu menunggu Bisma kembali.
Tak butuh waktu lama, Bisma sudah kembali. Masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Ia sedikit terkejut ketika melihat Karina yang duduk di ruang tamu dengan tersenyum lebar.
Tiba-tiba hatinya berdebar. Ia tidak sabar untuk melihat apa yang sudah Karina pelajari dari Nara. Tapi setelah mengingat ucapan Alex, bulu kuduknya tiba-tiba merinding.
"Akhirnya kamu kembali juga." Karina segera berdiri dan melingkarkan tangannya di lengan Bisma. Sedangkan Bisma yang tiba-tiba menerima perlakuan dari Karina semakin merasa deg'degan.
"Apa kamu menungguku?" Karina mengangguk.
"Aku ingin berterima kasih padamu. Kamu tadi bilang aku harus bertanya pada Nara. Dan aku sudah bertanya tadi."
"Lalu apa kata Nara? Tunjukkan padaku."
"Tapi kamu harus menutup mata ya. Aku takut ini tidak sesuai dengan seleramu." Ucap Karina malu-malu. Bisma yang melihat wajah Karina yang memerah semakin tidak sabar. Bibir Karina yang bergerak-gerak lucu menjadi pusat perhatian Bisma saat ini. Apalagi setelah belajar satu minggu ini Karina sudah semakin pintar berciuman. Istrinya sudah mulai membalas ciuman yang diberikannya.
"Baiklah jika itu maumu." Bisma mulai menutup matanya.
Karina menarik tangan Bisma dan meminta untuk mengikutinya. Bisma dengan patuh mengikutinya. Perlahan-lahan Karina menuntun Bisma hingga ke meja makan. Meminta Bisma untuk duduk di kursi . Bisma pun dengan patuh duduk di kursi.
"Kenapa lama sekali Karina?" Bisma sudah tidak sabar. Jika untuk mencium kenapa mesti membawanya pergi dan memintanya duduk. Apa sebenarnya yang dikatakan Nara pada Karina. Jangan-jangan seperti yang dikatakan Alex bahwa ia harus bersiap-siap untuk hal yang tidak sesuai.
"Sudah, sekarang buka matamu."
Bisma membuka matanya dengan heran. Kemudian memandang Karina yang tengah tersenyum lebar di depannya. Bisma sedikit kecewa saat menyadari jika semua tidak berlangsung seperti yang ia pikirkan. Tapi saat ia melihat di depanya ada masakan yang sepertinya dimasakkan khusus oleh Karina untuknya ia pun sedikit merasa senang.
"Aku sudah memasakkan ini untukmu. Aku tidak begitu tahu kesukaanmu. Jadi semoga kamu menyukainya." Ucap Karina sebelum membuka penutup wadah dengan senyum lebar penuh harap.
__ADS_1
Belum sempat Bisma berbicara untuk membalas ucapan Karina, Bisma sudah berteriak sambil berdiri dengan tergesa. Bahkan kursi yang digunakan Bisma untuk duduk sampai terdorong jatuh. Karina menatap heran Bisma yang terlihat aneh. Karina belum pernah raut wajah Bisma yang seperti ini.
"Kamu kenapa? Apa kamu tidak menyukainya?"
"Tidak." Mendengar jawaban Bisma yang diucapkan tanpa berpikir membuat Karina merasa sedih. Ia segera merubah wajahnya menjadi kecewa.
Melihat Karina yang sedih membuat Bisma merasa bersalah. Ia segera menghampiri Karina dan memegang tangannya.
"Maafkan aku Karina. Bukan maksudku seperti itu. Bukannya aku tidak suka kamu memasak untukku. Aku sangat suka. Tapi aku sangat tidak menyukai apa yang kamu masak." Jelas Bisma.
"Tapi Nara bilang kamu akan menyukainya."
"Huh! Itu salahku yang memintamu bertanya pada Nara. Tidak seharusnya aku memintamu bertanya pada adikku yang jahil itu."
"Jadi?"
"Aku tidak suka sesuatu yang berhubungan dengan ikan lele. Dulu saat aku kecil, aku memancing di sungai bersama dengan Bima, aku mendapatkan seekor ikan lele yang besar. Tapi saat aku mau melepaskan kailnya, ikan itu malah menyakitiku dengan siripnya yang beracun. Aku demam semalaman karena itu. Sejak saat itulah aku tidak menyukai ikan lele." jelas Bisma
"Oh...maaf aku tidak tahu. Aku tidak tahu ada cerita seperti itu."
"Tidak apa-apa. Ini juga bukan salahmu."
"Lalu bagaimana cara berterima kasih yang sebenarnya?"
Tanpa menjawab, Bisma menarik dagu Karina dan mendaratkan bibirnya pada bibir Karina. Sekarang, Karina sudah terbiasa dengan ciuman Bisma. Seperti yang dikatakan Bisma, setiap hari pria itu selalu memberinya kiss morning di lagi hari dan juga melatih Karina berciuman di malam hari. Kalian tahu sendiri lah maksud Bisma yang sebenarnya.
Karina mengalungkan tangannya di leher Bisma. Kepala mereka nergerak mengikuti ritme ciuman. Tangan Bisma juga tidak pasif. Tangan kirinya menekan belakang kepala Karina untuk memperdalam ciuman mereka. Sedangkan tangan kanannya bergerak meraba-raba punggung Karina. Turun ke bawah hingga ke bagian menonjol di belakang Karina. Meremasnya dengan gemas.
"Bisma..." ucap Karina saat merasakan gerakan tangan Bisma yang lebih agresif dari biasanya. Tanpa ia sadari tangan itu masuk ke dalam bajunya dan bersentuhan langsung dengan kulit polosnya. Dan hal itu membuatnya merasakan sesuatu di dalam tubuhnya.
"Maafkan aku. Aku sampai kelewatan." Bisma melepaskan tautan bibir mereka. Mengusap lembut bibir Karina yang basah.
"Sebaiknya kita keluar dulu. Sudah waktunya makan siang." Karina mengangguk setuju. Ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan dalam kondisi yang canggung itu.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Mohon maaf karena tidak sempat membalas komen kalian satu persatu. Tapi akoh selalu membacanya. Terima kasih semuanya