
Bisma, Karina dan Bima tidak menunda kepulangan mereka begitu kondisi Karina dinyatakan stabil dan bisa bepergian dengan pesawat. Jika Bisma dan Karina menunda kepulangan mereka lagi, bisa-bisa Nadia akan menyusul mereka ke sana demi memeriksa keadaan menantu perempuannya itu seperti yang dikatakan di telepon pagi tadi.
Nadia sendiri yang mengusulkan untuk menjemput anak dan menantunya. Itulah sebabnya Bima tidak bersama dengan mereka atau Nadia akan curiga.
"Sayang bagaimana keadaanmu?" Nadia segera memutar dirinya mengelilingi Karina setelah memeriksa dahi Karina untuk memastikan kondisi tubuhnya yang normal.
"Aku baik-baik saja ma. Jangan khawatir." Karina memegang lengan Nadia dan menahannya agar tidak mengelilinginya lagi.
"Yang benar? Kamu tidak berbohong hanya agar aku tidak khawatir kan? Jangan menyembunyikan dari mama jika Bisma melakukan hal yang buruk padamu." Nadia bertanya menyelidik. Dia melirik Bisma dengan curiga.
"Ma, Karina tidak apa-apa. Kemarin hanya kecapekan setelah acara. Aku suaminya, kalau Karina tidak baik-baik saja aku juga tidak akan membawanya pulang dulu." Ia tidak terima dituduh seperti itu oleh Nadia.
"Baiklah kalau begitu. Tapi hari ini kalian harus menginap di rumah. Mama akan khawatir jika Karina di apartemen. Dan mama tidak ingin dibantah kali ini." Mama menatap Bisma dan Karina serius.
"Baiklah ma. Seperti yang mama mau." Bisma menggandeng Nadia. Menuntunya untuk berjalan keluar dari bandara. Mereka harus segera keluar jadi Bima juga bisa keluar karena mereka berada dalam pesawat yang sama tadi.
Bukannya tidak percaya pada puyranta sendiri, tetapi , hubungan antara Karina dan Bisma bisa terjalin tidak seperti pasangan pada umumnya yang menikah karena cinta. Nadia tidak ingin hal yang sama yang pernah terjadi pada dirinya dialami oleh wanita lain. Apalagi dulu Bisma dan Karina memiliki kesepakatan nikah yang ia tidak setujui. Jadi meskipun selama ini ia tidak pernah menemukan atau mendapat laporan jika Bisma berbuat buruk pada Karina, Nadia masih khawatir.
Di dalam perjalanan, Nadia tidak berhenti menanyakan apa yang tidak nyaman yany dirasakan Karina. Meskipun Karina akan menjawab baik-baik saja, tetapi Nadia akan bertanya lagi tidak sampai lima menit kemudian.
"Ma, jika mama bertanya terus seperti itu pada Karina, Karina bukan lagi kecapekan. Karina akan stres karena ditanyai terus oleh mama." Bisma yang duduk di kursi depan melirik Nadia yang ada di belakangnya. Melihat wajah Karina yang sepertinya frustasi mendengar pertanyaan Nadia yang diulangi hingga puluhan kali Bisma merasa kasihan.
"Yang benar? Jangan menakuti mama Bisma!" Tanya Nadia panik.
"Gimana Karina nggak stres jika mama menanyakan pertanyaan yang sama hingga puluhan kali." Karina meringis mendengar ucapan Bisma. Memang seperti yang Bisma katakan.
"Apakah seperti itu sayang?" Nadia mendengus sebelum menoleh pada Karina dan bertanya dengan lembut.
"Tidak ma. Tapi Karina akan memberitahu mama jika Karina baik-baik saja. Karina hanya kelelahan kemarin. Mas Bisma suami yang baik ma." Ucap Karina tulus. Selama ini Bisma memang selalu memperlakukannya dengan baik.
"Dengar sendiri kan ma? Aku anak mama. Mama selalu bilang untuk menghargai perempuan. Bisma akui jika dulu Bisma memang sempat membuat mama kecewa. Tetapi mama bisa yakin sekarang jika Bisma tidak akan mengecewakan mama." Ucap Bisma yakin. Dulu Bisma tidak pernah berpikir untuk menikah. Dia hanya memiliki tujuan untuk menjaga dan membahagiakan mama dan saudarinya. Sekarang, dengan Karina ada di sisinya, tujuan hidupnya sudah berbeda. Ia ingin membuat wanita yang menjadi istrinya itu bahagia.
"Mama bisa yakin sekarang. Tapi jika suatu hari nanti mama mendapati kamu menyakiti Karina, mama sendiri yang akan membawa Karina pergi dari kamu. Dan mama tidak akan membiarkanmu dengan mudah menemukan Karina. Ingat itu!" Ancam Nadia dengan serius.
__ADS_1
"Mama kejam banget sama anak sendiri." Bisma cemberut.
"Biarin. Biar kamu bisa hati-hati. Jangan sampai menyakiti Karina."
"Iya ma iya. Mama bisa pegang kata-kata Bisma. Jika Bisma sampai menyakiti Karina, mama boleh menghukum Bisma sesuai keinginan mama." Nadia tersenyum penuh kemenangan. Ia mengelus perut Karina.
"Kamu dengar sendiri janji papamu nak. Jika papamu nakal, jangan segan untuk memberinya pelajaran." Ucap Nadia pada bayi di perut Karina.
"Ma, anak aku jangan diajarin gitu dong. Nanti kalau dia menolak kunjungan Bisma gimana?"
"Ih dasar tidak sopan! Beraninya bicara seperti itu di depan mama." Nadia memerah. Karina juga tak kalah merahnya. Ia tak menyangka Bisma bisa berkata seperti itu di depan Nadia.
"Sekarang gantian yang muda yang bercinta ma. Dulu mama dan papa juga tidak tahu malu. Di depan anak-anaknya." Bisma berkata dengan acuh. Masih dia igat dengan jelas bagaimana kemesraan Nadia dan Nathan di depannya dan tiga sudaranta yang lain. Sekarang ini, mereka beruda sudah memiliki cucu. Bahkan sebentar lagi akan bertambah, mereka tidak akan lagi berani memamerkan kemesraan mereka lagi kan?
Nadia tidak bisa menjawab. Itu memang benar. Tapi dengan adanya Karina di sini, dia masih saja malu.
"Ah! Akhirnya sampai." Ucap Nadia mengalihkan situasi. Bisma segera turun. Dia dengan cepat berlari di depan pintu mobil di sisi Karina hingga saat istrinya itu membuka pintu, ia bisa menggandeng tangannya.
Bisma mengajak Karina nasuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sudah lama sekali tidak ia tinggali. Tapi meskipun begitu, kamar ini tetap bersih dan rapi. Setiap hari akan ada pelayan yang membersihkan kamar itu.
Karina memindai kamar yang didominasi hitam dan abu-abu itu. Dia baru pertama kali masuk ke dalam kamar ini. Perabotan di dalamnya terlihat simple dan elegan.
"Kita akan menginap di sini beberapa hari. Jadi buat dirimu nyaman. Jika ada yang tidak sesuai, kamu bisa bilang. Aku akan atur untukmu."
"Tidak tidak. Ini sudah sesuai. Yang penting nyaman mas."
"Kamu benar. Sayang ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Duduklah di sini." Bisma duduk di atas ranjang dan menepuk sisi sebelahnya. Karina datang dan dengan patuh duduk di samping Karina.
"Ada apa?" Bisma tidak menjawab. Tetapi meraih kedua tangan Karina dan menggenggamnya erat.
"Ada apa mas?" Tanya Karina cemas.
"Masalah di Lombok, maafkan aku. Semua terjadi kerena kesahanku. Aku gagal menjadi suami yang baik. Aku gagal melindungi kalian." Ucap Bisma sendu.
__ADS_1
"Mas tidak boleh berkata seperti itu. Kejadian di Lombok itu adalah suatu musibah. Tidak ada yang menginginkannya terjadi. Dan kamu juga sudah berhasil menyelamarkanku kan mas. Akulah yang harus mengucapkan terima kasih." Karna mengucapkannya dengan tulus.
"Mau berterima kasih? Lakukan dengan benar."
Karina tersenyum malu-malu sebelum ia berdiri dan duduk di pangkuan Bisma. Lalu dengan gerakan yang elegan mengalungkan tangannya di leher prianya. Bisma sangat sneang menerima ucapan terima kasih dari Karina yang seperti ini. Dia melingkarkan tanganya di pinggang Karina yang sudah sedikit sulit ia raih.
"Tutup matamu mas." Ucap Karina sebelum mendekatkan wajahnya yang kemerahan. Bisma menutup matanya dengan tersenyum. Membayangkan bibir kenyal dan manis milik Karina menyambangi bibirnya. Dan saar bibir itu mendekat, ia sudah akan menerkamnya. Tidak akan melepaskannya sampai ia menyesapnya kuat hingga membuat bibir tipis itu membengkak karenannya.
Melihat Bisma dengan patuh menutup matanya, Karina mulai mencium Bisma. Awalnya ia berniat hanya ingin memberinya kecupan. Siapa yang menyangka jika tangan Bisma dengan cepat menekan tengkuknya hingga bibirnya tidak bisa ia tarik melainkan malah masuk semakin dalam. Meskipun awalnya Karina ingin melepaskan diri dengan cepat dan segera memberi pelajaran pada Bisma tetapi akhirnya ia kalah. Ia mulai membelas ciuman Bisma yang semakin menuntut.
Menyadari bahwa Karina sudah tergoda olehnya, Bisma mulai menurunkan ciumannya. Tangannya menekan pinggamg Karina untuk lebih dekat dengannya.
Keduanya larut dalam suasana yang semakin panas dan menuntut.
Brak! Astaga kalian ini! Baru turun dari pesawat. Astaga...!" Nadia yang baru saja menerobos masuk segera kembali dna menutup pintu dengan keras.
"Lain kali pastikan jika pintunya dikunci dengan benar." Teriak Nadia di luar kamar yang masih bisa didengar Karina dan Bisma yang ada di dakam kamar dengan canggung.
"Setelah kalian selesau turun dengan cepat untk makan siang." Teriak Nadia lagi.
"Kami sudah makan ma. Sekarang kami masih kenyang." Bisma menjawab dengan berteriak pula.
"Ah terserah kalian saja. Yang penting mama tidak akan suka kalau cucu mama kelaparan."
"Tidak akan ma. Aku akan memberinya oleh-oleh saat mengunjunginya nanti." Jawab Bisma sambil tersenyum. Namun detik betikutnya ia terpukul
"Ah kalian ini tukang pemer!" Teriak Nadia sambil bergegas turun dengan kesal.
*
*
Terima kasih sudah mampir 😊
__ADS_1