
Pulang dari kantor Bisma, Karina meminta izin untuk pergi ke mall. Bisma lun meminta Andi untuk mengantar dan menjaga Karina karena Bisma sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan.
Karina sedang memilih buah-buahan saat seseorang menyapanya. Karina segera menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Bi Eni dan Andi juga menoleh.
"Beli buah ya?"
"Iya tuan Andra. Anda sendiri?" Karina tersenyum pada pria berpakaian rapi di depannya. Pria itu tidak datang sendirian, seorang pria lain yang juga berpakaian rapi berjalan di belakangnya.
"Saya hanya iseng-iseng berkeliling saja." Jawab Andra yang sangat jelas berbohong. Ini masih jam kerja, dengan pakaian rapi dengan santai berjalan-jalan. Ini tidak masuk akal.
"Tuan Andra apa kabar?" Andi yang mengenali Andra sebagai saingan cinta bosnya segera berjalan dan berdiri di tengah-tengah keduanya. Menghalangi pandangan Andra pada Karina. Pria itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Andra.
"Oh hai tuan Andi." Andra juga segera menjabat tangan Andi dengan tatapan tidak suka. "Sedang apa di sini? Apa bersmaa dengan Tuan Bisma?" Andra mencari keberadaan Bisma. Namun suami Karina tidak dapat ditemukan.
"Tuan Bisma ada pekerjaan di kantor yang tidak bisa ditinggal. Jadi saya diperintahkan untuk mengawal Nyonya." Jawab Andi.
"Karina, buah apel ini terlihat segar." Mengabaikan tatapan permusuhan Andi, mengambil keranjang dan memilih beberapa apel dan buah-buahan lainnya. Ia juga menerobos Andi dan bergerak di sisi Karina.
"Biar aku yang bayar." Andra menyerahkan kartunya pada kasir di bagian buah. "Sekalian dengan yang ini ya mbak." Lanjutnya sambil menyerahkan keranjang belanjaannya yang penuh dengan buah-buahan.
"Tidak perlu. Aku akan membayarnya sendiri." Karina menolak. Ia menyerahkan kartu miliknya pada kasir. Tapi Andra merebutnya dan mengembalikannya dengan paksa pada Karina.
"Kita sudah lama tidak bertemu. Ini juga tidak banyak." Ucap Andra. Karina pun menyerah. Lagipula kasir juga sibuk saat itu.
"Terimankasih tuan Andra." Ucap Karina setelah mereka meninggalkan kasir.
"Sama-sama. Ini sedikit tambahan." Andra menyerahkan kantong belanjaanya.
"Tidak usah tuan Andra. Saya tadi kan juga membelinya." Tolak Karina. Ia merasa tidak enak. Lagipula ia dan Andra juga tidak dekat. Mereka hanya sekedar tetangga dan bahkan jarang bertemu.
"Tidak apa-apa. Biar buat tambah simpanan. Kalau kamu tidak mau lebih baik dibuang saja." Ucap Andra serius.
__ADS_1
"Jangan. Sayang kalau dibuang. Ya sudah saya menerimanya. Terima kasih banyak." Karina menerima kantong belanjaan. Bi Eni segera mengambilnya karena kantong itu berat. Belanjaan Karina juga dibawakan Andi.
"Sama-sama. Ya sudah Kalau begitu aku permisi dulu ya. Hati-hati di jalan." Andra segera pamit. Sebenarnya, mall itu adlaah salah satu milik keluarganya. Dan dia sedang ada pekerjaan untuk meninjau perkembangan mall satu bulan terakhir.
"Tuan Andra baik ya Nak Karina." Ucap Bi Eni setelah Andra meninggalkan mereka.
"Ya. Dia memang baik." Sahut Karina. Sedangkan Andi hanya mendengarkannya tanpa berniat memberikan pendapatnya yang pasti bertolak belakang dengan dua wanita yang berjalan di depannya.
Selesai berbelanja, Karina mengajak mereka untuk pulang. Andi mengantarkan mereka hingga di apartemen. Andi juga membawakan belanjaan Karina sebelum pamit untuk kembali lagi ke kantor.
Sore harinya, Bisma pulang saat Karina sedang memakan potongan buah-buahan yang dibelinya bersama bi Eni tadi. Sedangkan yang dibelikan Andra ia berikan pada Bi Eni. Ia tidak mau sampai Bisma salah sangka padanya.
Bisma duduk di sampingnya. Memeluk Karina dan mencium keningnya. "Bagaimana belanjanya tadi?" Tanya Bisma memandang curiga buah-buahan di piring Karina.
"Baik. Aku tadi membeli beberapa daster lagi mas. Yang lama sudah agak sesak dipakai."
"Tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa. Kamu kan juga sudah membeli. Kalau terlalu banyak yang disimpan malah tidak akan baik. Jadi lebih baik membeli seperlunya saja." Bisma tersenyum senang karena Kairna sudah mau berkata jujur padanya. Bukannya ia tidak percaya pada Karina, tetapi ia tidak percaya pada Andra. Mengingat sifat Andra, pasti tidak sesederhana karena mereka tetangga hingga membuatnya repot sampai menghampiri istrinya yang sedang berbelanja.
"Eh sayang, sepertinya makan rujak buah enak juga ya." Ucap Bisma saat tiba-tiba melintas gambaran rujak buah yang memggoda di matanya.
Karina menatap Bisma tidak percaya. Apakah suaminya ngidam? Karina pun pergi ke dapur untuk membuatkan rujak buah seperti yang diminta Bisma padanya.
Malam harinya, saat sedang makan malam, Andi menelepon Bisma. Bisma awalnya mengangkatnya di depan Karina. Tetapi saat mendengar bahwa itu mengenai Jihan dan Vera, Bisma segera berdiri dan berjalan menjauhi Karina. Melihat itu, Akrina tidak bisa tidak curiga. Apalagi siang tadi saat ia sednag menunggu Andi di lobi, ia dan bi Eni mendengar gosip tentang Bisma.
Karyawan itu baru pergi ke kantor cabang. Dan ia mendengar kabar itu di sana. Di kantor cabang, dia mendengar jika Bisma memasukkan wanita cantik ke kantor itu dan memberinya perlakuan istimewa. Kabar disana mengatakan jika antara Bisma dan Karyawan baru itu memiliki hubungan khusus. Mereka berbicara karena mereka tidak tahu jika Karina ada di sofa tak jauh dari mereka yang dapat mendengar dengan jelas perkataan mereka.
Hati Karina merasa sakit saat mendengar semua gosip tentang suaminya. Wanita mana yang tahan mendengar jika suaminya ada main di belakangnya? Karina juga seperti itu.
Melihat air mata yang hampir lolos dari mata Karina, Bi Eni segera menenangkannya. "Itu hanya gosip nak. Menurut bibi, tian Bisma tidak akan melakukan itu."
__ADS_1
"Lalu siapa perempuan itu bi? Kenapa mas Bisma memperlakukanya dengan spesial? Dulu saat kami pertama bertemu saja ia sangat dingin padaku. Hanya beberapa bulan belakangan ini sikapnya berubah." Karina tidak ingin percaya. Tetapi mendengar semua itu membuatnya sakit.
"Mungkin saja itu temannya dulu nak. Percayalah pada tuan Bisma. Bukankah tuan Bisma sangat mencintaimu?"
"Tapi dia tidak pernah mengatakanya padaku bi..." ucap Karina sendu.
"Kadang cinta tidak perlu diucapkan nak. Apalagi orang sperti tuan Bisma yang tidak banyak bicara. Pria seperti itu lebih suka mengungkapkannya dengan perbuatan. Bukannya selama ini Tuan Bisma memperlakukanmu dengan baik?" Karina mengangguk. "Nah itu tandanya tuan Bisma mencintaimu."
Karina hanya diam tanpa menjawab. Bagaimanapun sebagai seorang perempuan, ungkapan cinta sangat penting.
Dan sekarang melihat Bisma yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya membuatnya mau tidak mau menjadi kepikiran.
"Sayang. Sayang." Bisma mengguncang tubuh Karina saat melihat istrinya melamun.
"Eh eh. Ada apa mas?" Tanya Karina panik.
"Kamu kenapa melamun?"
"Tidak apa-apa mas." Karina menggelengkan kepalanya.
"Katakan saja jika ada yang membuatmu tidak nyaman."
"Tidak ada." Karina menggelengkan kepalanya lagi.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau bilang. Selarang ayo makan lagi." Bisma tersenyum. Ia menyentuh lengan Karina dengan lembut.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😊