Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_31. Perlu Dipukul


__ADS_3

"Kalian menerima ini apa tidak? Jika kalian ingin, aku bisa saja membawa kasus ini ke ranah hukum. Aku bisa meminta anak buahku untuk memeriksa apakah tulisan ini ya ga da lebih dulu apa tanda tangannya yang lebih dulu. Dan kalian pasti sudah tahu apa yang terjadi pada kalian jika semua ini terbukti." Bisma mengeluarkan suaranya yang mendominasi.


"Jangan macam-macam. Suamiku ini memiliki perusahaan besar di Jakarta. Dia bisa memasukkan kalian ke penjara jika masih saja mengganggu Fania dengan keluarganya." Karina ikut berkata dengan bangga.


"Huh dasar anak muda sombong." Ucap Herman dengan kesal. Tetapi tangannya meraih tas berisi uang itu dan memegangnya erat.


"Kalian tanda tangani surat pelunasan hutang ini." Bisma mengangsurkan kertas yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Herman juga tidak ingin beradu mulut lagi. Melihat penampilan Bisma memang bisa dilihat jika laki-laki itu mempunyai kemampuan untuk melakukan apa yang dikatakan padanya. Jadi lebih baik tidak memperpanjang urusan ini lagi. Herman segera menandatangani surat itu dna mengembalikannya pada Bisma. Dan Bisma memberikannya pada Fania untuk disimpan.


"Aku harap urusan ini selesai sampai di sini. Jika aku mendengar sekali saja kalian mengganggu teman istriku ini, kalian tunggu saja apa yang akan kami lakukan."


"Semua sudah selesai. Tidak ada lagi apa-apa di antara kita baik itu masalah hutang maupun pernikahan." Fania berkata dengan dingin. Ia berjanji tidak akan lagi datang ke tempat ini apapun alasannya.


"Iya. Aku berjanji tidak akan mengganggumu dan juga keluargamu." Herman berkata dengan terpaksa.


"Baiklah, saya rasa urusan kami sudah cukup. Kami akan pamit." Bisma berdiri diiuti Karina dan Fania. Setelah itu mereka keluar dari dalam rumah diiringi tatapan kesal dua orang paruh baya yang baru saja kehilangan calon menantu idaman mereka.


Bisma dan Karina mengajak Fania untuk pergi ke kota terdekat sebentar untuk membeli beberapa barang. Rencananya, besok pagi mereka akan kembali ke hotel dan sore harinya merkea akan pulang bersama Nara dan Alex. Jadi Karina berpikir untuk membeli beberapa barang untuk ia berikan pada keluarga Fania dan juga para tetangga.


Bisma menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket. Ketiga orang itu segera turun dan masuk ke dalam. Karnea sudah ada Fania yang menemani Karina, Bisma memilih menunggu di luar. Ia juga merasa dua sahabat itu pasti memiliki hal yang perlu mereka bicarakan secara pribadi.


"Kamu mau tinggal di sini berapa lama Kar?" Tanya Fania begitu melihat banyaknya mie instan yang dibeli sahabatnya. Fania bahkan sempat berpikir jika Karina dan Bisma makan mie instan selama tinggal di desa dua hari ini.


"Besok lagi sudah harus kembali ke hotel. Adik iparku dan suaminya menunggu kami di sana. Besok sore kami akan kembali ke Jakarta." Jawab Karona sambil mengambil beberapa sabun cuci dan sabun mandi.


"Lalu beli begini banyak buat apa?" Tanya Fania heran.


"Buat oleh-oleh." Karina tidak memperhatikan wajah keheranan sahabatnya.


"Kamu mau bawa barang seperti ini buat oleh-oleh?" Karina mengangguk lagi. Lalu ia berjalan sambil memasukkan beberapa snack ke dalam troli yang didorong Fania yang sudah hampir penuh.


"Apa kamu ini waras?" Mendengar pertanyaan sahabatnya yang tidak enak di dengar baru Karina memandang sahabatnya dengan heran.


"Memang kenapa jika aku membawa ini untuk oleh-oleh? Apa tidak pantas?"


"Barang-barang seperti ini kan sama saja dengan yang dijual di sana. Di Jakarta bahkan lebih baik. Kenapa membawa barang-barang ini ke sana?"


"Eh siapa bilang yang mau membawa ini untuk oleh-oleh ke Jakarta?" Karina menautkan alisnya. Pantas saja ia dikatakan tidak waras oleh sahabatnya.


"Lalu buat siapa?"


"Buat keluargamu. Buat tetanggaku juga." Jawab Karina santai sambil memasukkan beberapa barang kebutuhan lagi ke dalam troli.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban Karina, Fania tidak bisa bicara lagi. Ia hanya mengikuti Karina yang terus memasukkan barang-barang hingga troli.


"Kar, bagaimana hubunganmu dengan tuan Bisma?" Tanya Fania penasaran.


"Baik." Karina mengangguk sambil tersenyum.


"Itu bagus. Aku senang mendengarnya. Dia juga terlihat sangat menyayangimu."


"Ya. Aku patut bersyukur untuk itu."


"Coba beritahu aku bagaimana rasanya?"


"Rasanya apa?" Tanya Karina tidak mengerti.


"Bagaimana rasanya itu?" Fania mengangkat kedua tangannya dan menyatukan ujung jarinya berulang kali.


"Ih kamu. Jangan bertanya aneh-aneh deh. Nanti kalau sudah punya suami kamu juga bakal tahu." Karina dengan wajah memerah segera meraih tangan Fania dan menurunkannya. Fania terkekeh melihat salah tingkah Karina.


"Baiklah nyonya besar. Aku tidak akan mengganggumu denagn pertanyaan itu. Tapi...ada satu hal yang harus aku katakan." Fania merubah ekpresinya menjadi serius.


"Apa?" Tanya Karina penasaran.


"Kissmark kamu kelihatan." Bisik Fania dan diakhiri dengan suara tawa yang terbahak-bahak.


Karina segera merapikan rambutnya untuk menutupi kissmark yang dibuat Bisma semalam. Wajahnya kian memerah mendengar godaan temannya ini. Dulu mereka berdua selalu penasaran saat mereka melihat kissmark pada tamu resort yang berkunjung. Mereka tidak mengerti bagaimana bisa muncul tanda seperti itu di bagian tubuh. Awalnya mereka berpikir jika itu karena tergigit oleh serangga. Jadi mereka selalu mengolesi tubuh mereka dengan krim anti nyamuk. Berharap serangga yang sama yang menggigit para tamu tidak menggigit mereka juga.


Mereka pun sempat menjadi bahan olokan karena mereka menanyakan pada salah satu senior mereka apakah ada serangga yang sering menggigit para tamu. Dan dari situlah mereka akhirnya tahu jika serangga yang membuat tanda yang mereka anggap menyeramkan itu bernama laki-laki.


"Berhenti tertawa. Ayo kita kembali." Karina dengan tergesa-gesa meninggalkan Fania menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


Fania segera menyusul dan menyerahkan barang yang dibeli Karina pada kasir untuk dihitung. Karina mengeluarkan kartu hitamnya dari dalam dompet untuk membayarnya. Fania dan kasir itu tercengang melihat kartu itu. Fanua bahakn hampir pingsan.


"Widih jadi orang kaya sekaramg kamu Kar?" Fania mengenggol lengan Karina.


"Bukan aku yang kaya. Noh tuan suami yang kaya." Jawab Karina sambil menunjuk Bisma yang kebetulan juga sedang memandang ke arah mereka. Laki-laki itu pun segera masuk dan membantu membawa barang-barang yang dibeli Karina ke dalam mobil.


Bisma dan Karina langsung pulang setelah mereka mengantarkan Fania pulang. Sebelum kembali ke desa mereka juga sudah makan siang di kota. Sekalian membelian makanan untuk Fania sekeluarga.


Setelah bepergian hampir seharian Karina merasa sangat lelah. ia langsung merebahkan dirinya setelah ia membersihkan badannya. Sedangkan barang-barang yag dibelinya Bisma yang menurunkannya dari mobil.


Bisma segera menyusul Karina merebahkan tubuhnya di samping istrinya setelah ia selesai. Mereka akhirnya tertidur menjelang sore baru terbangun saat mendengar ketukan pintu yang cukup keras.

__ADS_1


"Siapa sih?" Tanya Bisma pada Karina yang juga ikut bangun.


"Entahlah. Biar aku lihat. Kamu mandi saja dulu. Sudah sore." Jawab Karina sambil mencepol rambutnya yang berantakan dengan asal.


Karina keluar kamar dan segera membuka pintu rumahnya. Ia mendapati Fania yang tersenyum lebar di sana.


"Astaga Kaaar... masih sore juga sudah main. Ingat tuh dalam perut masih sekecil biji gandum."


"Apa sih Fan. Main apa coba?" Karina tidak paham. Ia masih terbawa hawa ngantuknya.


"Tuh tuh tuh." Fania menunjuk-nunjuk kissmark yang tersebar di leher Karina. Dan ada satu lagi yang baru dibuat Bisma sebelum tidur tadi yang Karinda tidak tahu. Tanda itu masih terlihat sangat jelas.


Karina segera melepas cepolan rambutnya dan menutupi lehernya dengan malu. "Ada apa sore-sore datang kemari?" Sewot Karina.


"Ibu mengundang kamu dan suamimu makan di rumah nanti malam. Itung-iung buat terima kasih sama kamu dan tuan Bisma."


"Oh iya. Katakan sama bibi aku dan Bisma akan datang." Fania mengangguk. Lalu ia pamit dan berbalik untuk pergi. Tapi saat ia berbalik, ia melihat Tora yang berada tidak jauh dari mereka. Sedang memperhatikan mereka, lebih tepatnya sedang memperhatikan Karina.


Fania pun berbalik. "Karina aku pernah membaca jika sedang hamil itu tidak boleh sering-sering berhubungan lho." Ucap Fania dengan keras. Tujauannya tentu saja agar Tora bisa mendengarnya. Karina segera menutup mulutnya dengan panik. Ini di desa. Sangat sopan jika mengatakan hal-hal seperti itu.


Tora yang mendengar dengan jelas ucapan Fania segera mempercepat langkahnya. Menyadari jika ia memang sudah harus menyerah pada Karina. Karina sudah memiliki suami. Bahkan mereka akan segera memiliki anak.


"Dia sudah pergi. Kenapa kamu mengatakan hal itu dengan keras di depannya? Pasti dia sangat canggung tadi." Karina melepaskan tangannya dan tersenyum pada Fania.


"Hem. Dia perlu dipukul baru akan mengerti menyerah."


Karina mengangguk."Memang perlu dipukul biar tahu ada gadis cantik yang mencintainya."


"Hahahaha. Baiklah wanita cantik, gadis cantik ini akan mengejar pemuda tampan untuk membantunya menyembuhkan luka." Ucap Fania semangat.


"Oke. Berjuang gadis cantik." Teriak Karina melambaikan tangannya pada Fania yang sudah melangkah jauh mengejar Tora.


Karina memandang punggung dua orang itu. Pemuda tampan dan gadis cantik. Sudah lama Kania tahu jika Fania menyukai Tora. Tapi dia tidak tahu jika Tora ternyata malah menyukainya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😊

__ADS_1


__ADS_2