Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_20. Mari Kita Coba


__ADS_3

Pagi harinya, Bisma lagi-lagi terbangun karena mendengar suara Karina yang sedang muntah. Ia segera masuk ke dalam kamar dan langsung membantu Karina di kamar mandi. Dengan telaten ia memijit leher belakang Karina dengan tangan satunya sedangkan tangan lainnya mengelus punggungnya.


Saat Karina selesai, ia juga membantu membersihkan sekitar bibir Karina dengan air.


“Sudah?” Tanya Bisma dan Karina hanya mengangguk.


Bisma segera menggendong Karina kembali ke atas ranjang. Memberikan teh jahe yang rupanya sudah disiapkan di atas nakas. Bi Eni masuk ke dalam kamar saat keduanya ada di kamar mandi.


“Sudah. Terima kasih.” Karina menyodorkan gelas teh yang masih tersisa setengah pada Bisma.


“Masih mual?” tanya Bisma setelah ia duduk di tepi ranjang di samping Bisma. Lagi-lagi Karina hanya menggeleng.


“Kenapa bisa mual lagi? Bukankah kemarin sudah tidak?” gumam Bisma pelan. Tapi Karina masih bisa mendengar nya.


“Entahlah. Padahal kemarin sudah baik-baik saja.” Karina menggeleng pelan. Ia juga tidak mengerti. Semalam ia juga minum obat mual dari dokter Kania. Sama seperti kemarin. Lalu kenapa masih mual tidak seperti kemarin?


“Apa mungkin itu karena benar apa yang dikatakan dokter Kania kemarin.” Bisma berkata setelah berpikir beberapa saat.


“Apa?” Karina menatap Bisma penuh harap. Ia sudah lelah jika harus mual dan muntah setiap hari.


“Mungkin kita harus mencoba sarannya.”


“Maksudmu...”


“Iya. Kemarin kita tidur berpelukan. Dan kamu tidak mual. Jangan-jangan baby kita memang ingin kita dekat dengannya.”


“Tapi mana bisa seperti itu Bisma? Itu pasti alasanmu saja kan?” mengingat kejadian kemarin masih saja membuat Karina malu. Jika harus mengulanginya lagi pasti akan sangat memalukan.


“Bukan begitu. Tapi coba kamu pikir, di kali ganti obat dan masih sama. Yang beda hanya cara tidur kita.”


“Tapi...”


“Apa kamu sangat suka muntah setiap pagi?”


“Tidak mungkin. Aku benar-benar sudah lelah.” Karina dengan cepat menyangkalnya.


“Kalau begitu apa salahnya nanti malam kita coba?” tanya Bisma serius.


“Baiklah jika kamu rasa itu bisa menghilangkan mual yang menjengkelkan ini aku setuju mencobanya.”


“Baiklah. Nanti malam kita bisa coba. Kalau memang masih mual juga, kita bisa cari cara lainnya nanti.” Karina mengangguk menyetujuinya.


Akhirnya, seperti yang disetujui mereka berdua, malam itu akhirnya mereka akan tidur di atas ranjang yang sama.


Selesai makan malam, mereka menghabiskan waktu bersama di ruang televisi. Karina duduk sambil memakan camilannya. Sinetron kesukaannya juga sudah berganti dengan kaset yang dibelikan Bisma untuknya.

__ADS_1


Tidak jauh darinya, Bisma duduk memangku laptop dan mengerjakan pekerjaan kantor yang ia bawa pulang. Untuk menemani Karina, ia tidak mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja.


Sebenarnya Karina sudah mulai mengantuk sejak setengah jam yang lalu. Tapi saat mengingat kesepakatan mereka berdua bahwa mereka akan tidur di atas ranjang yang sama membuat Karina menjadi canggung dan takut untuk pergi tidur.


Kepala Karina sudah terentuk beberapa kali. Mulutnya juga sering menguap. Bisma melirik setiap kali melihat gerakan kecil istrinya itu.


“Kalau kamu sudah mengantuk pergilah tidur.” Ucap Bisma setelah melihat wajah Karina yang sudah terlihat sangat mengantuk.


“Aku belum mengantuk kok.” Karina berusaha membuka matanya yang terasa berat. Bisma menggelengkan kepalanya melihat keras kepalanya Karina.


Beberapa saat berlalu, mata Karina sudah terasa sangat berat. Tanpa sadar ia menutup matanya. Bisma pun menutup laptopnya dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia berdiri dan menggendong Karina.


Namun malam ini tidak seperti biasanya. Karina malah terbangun begitu Bisma membaringkannya di atas ranjang.


“Bisma. Aku ketiduran.” Ucap Karina.


“Tidak apa-apa. Sekarang ayo tidur lagi.” Bisma naik ke atas ranjang. Membaringkan dirinya di samping Karina.


Sebenarnya, Bisma pun juga merasa canggung. Sama seperti Karina saat ini. Tetapi ia dengan keras berusaha menekan perasaan nya. Semua ini demi kebaikan baby mereka.


Karina menatap Bisma dengan wajahnya yang merona.


“Jangan menatap ku seperti itu.” Ucap Bisma.


“Aku malu.” Balas Karina.


Bisma akhirnya mengulurkan tangannya. Menarik Karina ke dalam pelukannya.


“Bisma, aku malu.” Ucap Karina saat wajahnya menempel di dada Bisma. Tangan Bisma melingkar di tubuh Karina. Menepuk punggung istrinya.


“Kalau malu tutup saja matamu.” Karina menurut. Ia menutup matanya.


“Bisma, jantungmu kenapa berdetak kencang?” tanya Karina saat mendengar detak jantung Bisma yang sangat kencang di telinganya.


“Kamu juga sama.” Balas Bisma tanpa membuka matanya. Karina akhirnya menjauhkan dirinya. Ia menarik tubuhnya sampai kepalanya sejajar dengan kepala Bisma.


Matanya berkedip menatap Bisma yang juga membuka matanya.


“Aku sudah tidak jadi mengantuk.” Ucapnya.


“Kenapa?”


“Entahlah.”


“Apa kamu lapar?”

__ADS_1


“Tidak.”


“Ya sudah tidur saja.”


“Tidak bisa tidur.” Bisma diam. Sebenarnya dia juga belum mengantuk.


“Bisma, apakah cara ini akan berhasil?” tanya Karina setelah beberapa saat.


“Entahlah. Tapi tidak ada salahnya kita mencoba. Semoga saja kali ini berhasil.” Balas Bisma. Ia sendiri juga tidak yakin. Tapi melihat bagaimana penderitaan Karina setiap paginya ia akan melakukan apapun untuk itu.


“Kalau berhasil, apakah kita akan seperti ini terus?” Karina menatap Bisma serius. Sekarang saja jantung nya rasanya ingin melompat. Bagaimana jadinya jika ia harus setiap hati tidur dengan Bisma.


“ Tidak masalah. Kenapa?”


“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran.”


“Sudah jangan bicara lagi. Cepat tidur.” Bisma kembali menarik tubuh Karina. Melingkarkan tangannya di pinggang Karina.


“Aku belum mengantuk.” Karina protes dan bergerak ingin melepaskan diri. Tapi Bisma menahan kepalanya tetap berada di dadanya.


“Jangan bergerak terus. Atau ada yang akan bangun nanti.” Ucap Bisma saat merasakan hal lain. Bisma tidak berbohong. Sejak awal tubuhnya sudah seperti dirasuki sesuatu. Membuat adik kecilnya berkedut memberikan sinyal. Tapi dengan kuat menekannya hingga ia kembali tidur sebelum sempat terbangun.


Namun Karina terus bergerak. Gumpalan lembut di dadanya terus menggesek tubuhnya. Membuat adik kecilnya yang dengan susah payah ia jinakkan kembali bereaksi.


“Siapa? Apa ada orang lain di sini selain kita?” tanya Karina yang tidak memahami maksud perkataan Bisma padanya.


“Tidak.” Bisma sedikit kesal. Karina malah semakin bergerak-gerak melongokkan kepalanya melewati dada Bisma. Membuat dua gunung yang dari tadi menggoda Bisma menempel lembut di beberapa tempat dengan sempurna.


“Diam. Adikku yang sudah membuat bayi di perut mu sudah bangun. Jika kamu terus bergerak, aku tidak bisa menjamin kamu selamat malam ini.” Bisik Bisma setelah kembali menarik Karina di dalam pelukannya. Menekan kepala wanita itu dengan tangannya.


Setelah mendengar perkataan Bisma, akhirnya Karina paham maksud suaminya itu. Ia menelan ludahnya dengan kasar.


“Bisma, kamu masih kuat menahannya kan?” tanyanya khawatir. Karina masih ingat bagaimana bentuk adik Bisma. Besar dan panjang. Dan saat pertama kali benda itu menerobos, ia merasa seperti daging dan kulitnya dirobek dengan paksa.


“Diamlah.” Bisma mengeram. Ia masih berusaha menidurkan adiknya. Karina menutup mulutnya dengan patuh. Matanya juga serta ia tutup.


Lama kelamaan akhirnya Karina tidur. Setelah memastikan Karina sudah tidur dengan lelap, Bisma turun dari ranjang. Adiknya itu nakal sekali malam ini. Jadi harus disiram dengan menggunakan air dingin agar dia patuh dan mau tidur kembali.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩

__ADS_1


Jangan lupa tekan like nya sesudah membaca 😘


__ADS_2