
Bisma dan Gerry tidak mengalihkan pandangan mereka dari mobil yang melaju kencang di depan mereka. Untuk m dapat mengejar mobil tersebut, Bisma mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Mobilnya memang sudah dimodifikasi karena Bisma memang menyukai otomotif seperti Satria. Tapi demi membanggakan Nathan, ia mengesampingkan hobinya dan memilih untuk menekuni dunia bisnis.
"Kak, sepertinya mobil itu bermasalah." Ucap Gerry saat melihat mobil yang mereka ikuti tidak stabil. Tepat setelah ia menyelesaikan ucapannya, Mereka dikejutkan dengan pintu kemudi yang terbuka dan seseorang melompat keluar dari sana.
"Kak Bisma di depan adalah fly offer! Mobilnya akan jatuh!" Pekik Gerry histeris.
Mobil yang ditinggalkan sopir nya tentu saja menjadi tidak terarah. Bisma mengencangkan pegangan tangannya pada kemudi. Hatinya sudah tidak bisa dikatakan. Melihat istri dan calon anaknya berada dalam bahaya membuat hatinya terasa sakit.
Tidak lama kemudian, seperti yang diduga, mobil itu akhirnya menabrak pembatas jalan dan terjun bebas dan mendarat di jalan yang ada di bawah dalam keadaan yang rusak parah. Bisma hanya bisa memandangi mobil itu tanpa bisa mencegahnya. Ia meminta Gerry menghubungi rumah sakit untuk segera datang selagi ia segera turun dari mobil dan melihat mobil yang telah membawa istrinya.
Di bawah, semua orang berkerumun. Mereka tentu saja sangat terkejut melihat kecelakaan yang begitu parah.
Bisma memutar kepalanya. Mencari jalan tercepat untuk bisa sampai ke bawah dan memastikan keadaan istrinya dengan mata kepalanya sendiri. Meskipun dia mendengar dari perkataan orang-orang yang ada di bawah yang mengatakan bahwa penumpang mobil tidak selamat, dia tidak ingin mempercayainya begitu saja.
Tidak jauh dari jalan, Bisma melihat ada tiang yang bisa ia gunakan untuk turun.
"Gerry, cari pengemudi itu. Aku yakin dia belum pergi terlalu jauh." Bisma menoleh pada Gerry dan memberi perintah. Gerry segera pergi sedangkan Bisma melompat dan meluncur dari tiang hingga sampai di bawah.
Bisma membelah kerumunan dan bergegas mendekati mobil. Pintu mobil sudah penyok dan tidak bisa terbuka. Bodi bagian depan hancur dan kaca depan sudah pecah. Bisma segera masuk dari sana. Namun saat ia hendak masuk, seseorang menghentikannya.
"Jangan pak. Bahaya." Ucap orang itu sambil memegang tangan Bisma.
Bisma menoleh padanya dan menghempaskan tangannya. "Yang ada di dalam adalah istri saya." Kata Bisma suram. Semua orang membeku. Sebelum akhirnya mereka melihat Bisma masuk ke dalam mobil.
Semua orang mulai berbisik-bisik. Mereka baru menyadari bahwa kursi sopir dalam keadaan kosong. Jadi, mereka tidak bIsa tidak menduga bahwa sopir nya adalah Bisma dan dia sengaja menjatuhkan mobil itu untuk mencelakai orangnya.
__ADS_1
Bisma juga tidak mungkin tidak mendengar perkataan semua orang. Tetapi ia mengabaikannya dan memeriksa kondisi Karina. Karina tidak sadarkan diri dengan darah mengalir dari dahinya. Pipinya juga ******* pecahan kaca. Kedua tangan yang memeluk erat perutnya juga terdapat beberapa goresan yang juga mengeluarkan darah.
Bisma memeluk Karina dengan kesusahan karena posisi Karina. Bisma merasakan detak jantung Karina. Ia merasa sedikit lega dan mulai memikirkan bagaimana cara untuk mengeluarkan istrinya dari sana.
Kaki kiri Karina terjepit kursi depan. Bisma degan jelas melihatnya. Ia kemudian melepaskan Karina setelah ia mencium keningnya dengan lembut. Di dalam hatinya, ia berjanji tidak akan membiarkan Karina menderita.
Bisma mengulurkan tangannya dan mendorong kursi dengan sekuat tenaga. Otot-otot di tangannya mulai menonjol disaat ia mengerahkan semua tenaganya. Tetapi Bisma masih belum berhasil.
Bisma melihat ke luar jendela dan meminta orang untuk membawakannya alat apa saja untuk mencongkel. Meskipun semua orang tidak tahu untuk apa itu, mereka masih mencarikan dan memberikannya pada Bisma. Bisma menerima sebuah linggis dan segera memakainya untuk mendorong kursi.
"Aku akan menyelamatkanmu dan bayi kita sayang." Ucap Bisma sambil terus mencoba. Sedikit demi sedikit, kursi yang menjepit kaki Karina berhasil dicongkel. Kaki Karina berhasil dilepaskan. Bisma menggendong Karina dengan hati-hati dan keluar dari depan seperti saat ia masuk.
Semua orang terkejut saat sekali lagi saat melihat kondisi Karina yang sedang hamil besar. Bisma menoleh pada mereka.
"Ba-ji-ngan itu ada di dalam." Ucap Bisma sambil membawa Karina berjalan menjauh.
Itu artinya, selain wanita hamil yang sudah diselamatkan oleh suaminya, ada korban lain dalam kecelakaan yang dipanggil Ba-ji-ngan oleh Bisma. Mereka buru-buru melihat ke dalam dan benar, mereka menemukan korban lain.
Nki adanya Norman lebih para dari Karina. Wajah Norman sudah pucat pasi dengan darah mengalir dari kepalanya. Sudut bibirnya juga mengeluarkan darah. Mobil jatuh dengan posisi kursi Norman jatuh terlebih dulu. Menyebabkan pria itu menabrak kursi. Tongkat yang dibawanya membuat sekadarnya semakin parah. Ujung tongkatnya yang besar menekan dada Norman. Menyebabkan tekanan yang besar di dadanya. Kedua kakinya juga terjepit semua. Wajah dan tangannya ternoda darah dimana-mana.
"Dia parah sekali."
"Iya. Sepertinya sudah meninggal."
"Kenapa orang itu tidak menolongnya juga ya?"
__ADS_1
"Kamu tidak dengar, bukankah dia menyebutnya Ba-ji-ngan? Dia pasti menculik istrinya dan menyebabkan kecelakaan ini."
Semua orang masih berbicara hingga polisi datang dan memeriksa keadaan. Ambulans yang datang langsung membawa Karina ke rumah sakit dengan Bisma yang tidak mau menurunkan Karina meskipun mereka sudah naik ke dalam Ambulans. Bisma memilih untuk terus menempatkan Karina di pangkuannya. Ia berusaha keras agar Karina tidak merasa terlalu sakit.
Dokter dan perawat yang ada di depannya memandang Bisma dengan tanpa kata. Wajah Bisma begitu datar. Terlihat sangat menakutkan. Apalagi Bisma hanya diam sejak ia masuk ke dalam mobil dan terus membingkai istrinya di pelukannya. Keduanya melihat Bisma seperti melihat patung yang tidak memiliki ekspresi. Satu-satunya tanda bahwa Bisma adalah Soreang manusia yang hidup adalah bahwa dia membuka matanya, dan dadanya yang naik turun.
Dengan cara yang sama, Bisma membawa Karina ke dalam ruang Gawat Darurat untuk mendapatkan pertolongan. Lalu ia keluar setelah memastikan dokter datang dan memeriksa kondisi Karina.
Dokter Kania bergegas saat mendengar kabar bahwa Karina mengalami kecelakaan. Ia segera berlari menyusuri lorong dan menemukan Bisma berdiri bersandar di dinding di depan ruangan.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya nya dengan napas yang tidak stabil.
"Di dalam, dokter memeriksanya."
"Aku akan ke dalam. Segera dapatkan donor darah untuknya." Ucap dokter Kania singkat. Tetapi Bisma mengerti dan mengangguk dengan lemas. Sampai sekarang, ia masih belum bisa mendapatkan satu kantong pun darah. Pun dengan bank darah internasional, dia mendapati bahwa tidak ada darah yang tersedia.
Air mata yang coba ditahan Bisma mulai mengalir dari ujung matanya. Ia merosot dan duduk di lantai. Mulai menangis dan terisak di sana. Mengabaikan citranya. Ia tidak lagi peduli bahwa ia menjadi pusat perhatian saat semua orang berbisik tentangnya. Mengabaikan semua hinaan dan ejekan yang didengarnya. Ia tidak lagi memperdulikan semua itu.
Di dalam, nyawa anak dan istrinya berada dalam bahaya, dia tidak mungkin akan dengan santai memperdulikan harga dirinya.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ☆~(^,^)~♡