
Bima mengantar Bisma dan Karina ke rumah sakit. Bagaimanapun Karina harus diperiksa, apalagi kondiri janinnya. Saat hampir sampai di rumah sakit, Karina pingsan hingga membuat Bisma panik. Begitu turun dari mobil ia segera menggendong istrinya dan masuk ke dalam ruang UGD untuk mendapatkan perawatan segera.
Melihat Bisma yang panik itu Bima hanya menggelengkan kepalanya. Ia menuju bagian administrasi untuk mendaftarkan Karina. Bima mendesah. Bisma dan Nara selalu saja membuatnya repot. Sudahlah, jomblo memang selalu dibuat sengsara seperti dirnya.
"Dokter tolong segera periksa istri saya." Bisma menarik begitu saja seorang dokter yang sedang membersihkan luka seorang pria yang baru saja kecelakaan.
"Tolong sabar ya pak. Dokter Mirna sedang mengobati pasien. Saya akan panggilkan dokter yang lain." Suster segera berlari keluar dan memanggil dokter lain. Sebenarnya ada empat orang dokter yang bertugas di UGD saat itu, tapi semuanya sibuk dengan pasien mereka.
"Cepat!" Teriak Bisma. Seorang dokter kemudian datang bersmaa suster yang memanggilnya. Ia segera memeriksa kedaan Karina yang tidak sadarkan diri.
"Mohon anda keluar dulu pak. Biarkan dokter bekerja dengan baik." Suster itu berkata pada Bisma. Dengan temperamen Bisma, ia takut jika itu akan mengganggu dokter dan pasien lainnya.
Bisma keluar setelah memandang Karina sekilas. "Periksa dengan baik." Ucapnya sebelum keluar dari ruangan.
Bima sudah menunggu di luar. Duduk dengan tenang sambil memainkan ponselnya.
"Bagaimana?"
"Masih diperiksa. Semoga baik-baik saja."
"Dia akan baik."
Bisma duduk di sampingnya. Matanya tidak lepas dari pintu yang baru saja ia lewati.
"Aku akan kembali dulu. Menurut keterangan dari anak buahku mereka hanya orang suruhan. Tapi mereka masih belum mau membuka mulut mereka."
"Orang suruhan?" Bisma memiringkan alisnya.
"Ya. Aku akan menanyainya secara pribadi."
"Ok. Aku minta urus semua ini sampai beres. Jika ada orang lain yang menyuruh mereka, Karina bisa saja dalam bahaya." Bisma berkata dengan serius.
__ADS_1
"Aku tahu. Aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa, kamu hubungi aku." Bisma mengangguk. Ia menatap kepergian Bima dengan harapan.
**
Bima tidak akan meninggalkan Bisma dan Karina tanpa penjagaan sekarang ini. Orang dibalik penculikan Karina belum tetangkap. Bahkan motifnya pun masih belum diketahui. Jadi ia tidak mungkin mengambil resiko begitu besar.
Ia menunggu lama di rumah sakit hanya untuk menunggu anak buahnya yang akan menggantikannya menjaga pasangan muda itu. Meskipun keluarga besar mereka tidak tahu apa yang terjadi di sini, tapi jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, ia akan merasa gagal melindungi keluarganya.
Sekarang, anak buahnya sudah datang. Ia bahkan memanggil lebih banyak anak buahnya untuk datang. Setelah memberikan berbagai pengaturan pada anak buahnya, Bima baru bisa sedikit tenang untuk meninggalkan Bisma dan Karina.
Bima sendiri, segera menuju ke sebuah gudang tua yang terbengkalai. Di dalamnya, anak buahnya sedang berusaha untuk menggali informasi dari para penculik yang berhasil mereka tangkap.
"Bos." Anak buah Bima segera menyapa saat melihat bos mereka datang. Bima hanya mengangguk sambil memperhatikan enam orang pria yang diikat tiga dan dua dibiarkan duduk di lantai. Satu orang lagi diikat sendiri tidak jauh dari mereka. Kakinya dibalut dengan kain seadanya. Wajah pria itu lebih pucat dari yang lainnya.
"Mereka belum mau buka mulut." Bisik salah seorang dari anak buah Bima. Bima hanya mengangguk. Namun alisnya terajut tidak suka.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Bima mendekat dengan perlahan. Dia bertanya dengan suara yang tidak keras. Tapi auranya yang mengintimidasi membuat semua orang yang berada di sana ikut tegang bahkan anak buahnya sendiri.
"Kami sudah bertanya sejak tadi mereka menjawab tidak tahu bos." Bima mengangguk mendengar laporan anak buahnya.
"Lalu Dari mana kalian mengenal orang itu?" Bima menatap tajam bos penculik.
"Orang itu yang menghubungi kami lebih dulu. Kami tidak mengenalnya. Bagi kami yang penting kami mendapatkan uang. Tapi mendengar suaranya, sepertinya dia adalah pria paruh baya."
"Pria paruh baya?" Bima mengerutkan dahinya.
"Iya.Aku tidak mungkin salah mengenali."
"Ini ponsel yang mereka gunakan untuk menghubungi orang itu. Tetapi nomornya sudah tidak aktif. Orang itu pasti sudah tahu anak buahnya sudah tertangkap." Bima menerima ponsel itu. Memeriksa ponsel dengan teliti. Menecek riwayat panggilan. Nomor yang digunakan sama.
"Kami juga sudah melacaknya. Nomor itu nomor lokal. Terakhir terdeteksi berada di bandara. Tetapi sebelum kami menyelidikinya lebih lanjut, informasi lainnya mengenai nomor itu sudah menghilang."
__ADS_1
"Bawa mereka ke kantor polisi. Biarkan mereka yang mengurusnya. Lainnya ikut aku menyisir bandara." Bima bicara dengan tegas sebelum ia keluar dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
**
Di bandara, seseorang baru saja pergi setelah membuang ponsel yang berisi kartu sim yang digunakan untuk menghubungi orang suruhannya. Dia adalah seorang pria paruh baya dengan rambut yang sebagian sudah beruban.
Sekitar satu tahun yang lalu, ia datang Lombok untuk urusan bisnis. Saat itu, saat ia batu selesai meering dengan seorang kliennya di sebuah resort, tanpa sengaja ia menyenggol lengan seorang gadis yang sangat mirip dengan seseorang yang dia kenal di masa lalunya yang sudah lama meninggal.
Penampilan gadis itu mengingatkannya pada wanita lain yang jika hidup akan berusia tidak jauh darinya. Gadis itu sama persis. Gadis ini sama dengan penampilan wanita itu di masa lalu.
Dia tertegun sampai beberapa waktu hingga ia menyadari gadis itu sudah berjalan jauh keluar resort. Dia pun dengan tergesa mengejarnya, tetapi ia terlambat dan melihat gadis itu menghilang dibawa oleh ojek yang dia hentikan.
Dengan kekuasaan yang dimilikinya, ia meminta anak buahnya mencari tahu identitas gadis itu. Tapi saat ia telah mendapatkannya, gadis itu sudah pergi dan meninggalkan Lombok entah kemana.
Laki-laki itu pikir, setelah waktu berjalan ia akan melupakan gadis itu, tapi nyatanya justru berbanding terbalik.
Di masa lalu, ia tidak bisa mendapatkan gadis itu di sisinya. Dia tahu bahwa gadis itu mencintai pria lain. Laki-laki itu akhirnya melajang seumur hidupnya. Apalagi saat mengetahui bahwa gadis itu meninggal, ia pun seperti kehilangan hidupnya.
Namun saat ini, ia seperti menemukan kesempatan kedua. Gadis itu sangat mirip dengan gadisnya. Ia tidak akan melepaskannya kali ini dan akan dia miliki gadis itu sekarang. Tidak apa dia melajang seumur hidup, setidaknya ia berpikir jika Tuhan telah mengirimkannya gadis itu untuk menjadi miliknya. Ia bahkan sudah menyiapkan seorang yang ahli yang bisa membuat gadis itu dengan patuh ada di sisinya.
Dan enam bulan yang lalu akhirnya ia memantapkan niatnya untuk menjalankan rencananya bagaimanapun caranya. Ia akhirnya mencari orang yang bisa membantunya mendapatkan gadis yang ia impikan.
"Sayang, aku bahkan tidak bisa melihat mayatmu. Sekarang aku menemukan seseorang yang cocok untuk menggantikanmu."
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😊
__ADS_1