
Di sebuah ruang kerja yang didesain dengan gaya yang elegan namun menampakkan tampilan yang begitu Agung, seorang pria paruh baya dengan rambut keperakan duduk dengan angkuh di kursi kebesarannya. Kedua tangannya berada di atas meja dengan sebuah pena menari di tangan kanannya. Dalam sekejap, tumpukan kertas di balik dan sebuah tanda tangan dibubuhkan di atasnya setelah pertimbangan yang cermat namun dalam waktunya cukup singkat. Dunia bisnis sudah ada di tangannya sejak puluhan tahun yang lalu. Dalam sekali pandang, ia tahu keputusan apa yang harus ia ambil. Tidak diragukan lagi, pengalaman adalah guru yang paling baik.
Di sampingnya, berdiri tegak pria yang tampak lebih tua dari tuannya meskipun sebenarnya usia mereka bahkan terpaut lima tahun jauhnya dan dirinya yang ada di posisi bawah. Rambutnya hampir memutih. Namun auranya masih sama saat dia masih muda. Tegas dan penuh keyakinan. Tidak heran, tangan kanan seseorang akan memiliki aura pemiliknya itu sendiri. Dia telah mengikuti tuannya puluhan tahun lamanya. Dan melihat uban keduanya, mereka dapat dipastikan akan pensiun di waktu yang sama.
"Tuan, sebuah perusahaan yang baru saja berdiri belakangan ini mengalami krisis yang cukup menarik." Pria dengan rambut putih itu bernama Danu. Pria itu memperhatikan ekspresi tuannya sebelum ia memutuskan untuk melanjutkan ucapannya saat melihat tuannya hanya diam.
"Produknya sangat bagus. Tetapi ada orang yang sengaja memfitnahnya dan menghancurkan citranya bahkan sebelum produk itu beredar di pasaran." Lagi-lagi, Danu melirik demi memperhatikan tuannya yang tetap tak bergeming. Jadi dia tahu bahwa bahkan meskipun tuannya hanya diam, dia memperhatikan dan, itu juga memiliki arti jika tuannya tidak merasa keberatan dengan tema yang sedang ia bicarakan.
"Apanya yang menarik? Dalam bisnis, trik seperti itu sudah biasa terjadi. Dia hanya sedang tidak mujur dan bertemu dengan orang licik yang entah dia singgung entah bagaimana. Kamu juga bukan setahun dua tahun mengikutiku. Bukan hanya satu jenis trik yang pernah kita hadapi." Suara dalam tuannya akhirnya terdengar. Tetapi bukan itu yang dia harapkan. Jadi Dani segera bersemangat saat ia menjelaskan berita menarik yang ia ingin sampaikan.
"Itu memang hal biasa. Tetapi yang menarik adalah, meskipun memiliki sumber daya yang cukup dari latar belakang keluarganya, dia masih memilih jalan yang keras dengan mencari investor lain daripada memilih meminta orang tuanya mendukungnya."
"Dia pasti pria yang gigih." Danu dengan cepat mengangguk setuju. Tetapi kalimat berikutnya yang dia dengar membuat usahanya menggiring cerita seperti telah gagal. "Sudah cukup ceritanya hari ini."
"Tuan tuan! Ini masih belum mencapai inti ceritanya." Danu dengan cepat menyela.
"Ooh... aku akhirnya tahu bagaimana bisa uban yang kamu miliki bahkan tiga kali lebih banyak dari milikku. Isi kepalamu itu penuh dengan cerita dan gosip." Pria itu memicingkan matanya melihat wajah sekretarisnya yang terlihat jauh lebih tua darinya itu.
"Tuan, jangan menganiaya saya. Uban yang saya miliki ini adalah bukti pengabdian dan dedikasi saya." Danu mulai memainkan perannya sebagai seorang sekretaris yang ditindas dengan begitu banyak pekerjaan.
"Sudahlah, aku tahu hal itu. Kamu tidak perlu merajuk, tunggu sebentar lagi, setelah aku menyerahkan posisi menyebalkan ini pada putraku yang keras kepala itu, kita akan dapat menikmati masa tua kita. Aku akan membawamu pergi keliling dunia."
__ADS_1
"Tapi tuan, daripada berkeliling dunia dengan tubuh renta kita, bukankah akan lebih baik meminta salah satu putra tuan untuk membiarkan kita menimang anak mereka."
"Kamu benar. Tapi anak mana yang dapat aku andalkan? Kamu sendiri malah melarang sampai saat ini."
"Tuan, bukankah anda masih ada satu putri lagi?" Danu berkata dengan hati-hati. Ia tahu topik yang paling tahu dibicarakan di depan tuannya adalah tentang putrinya yang hilang. Tetapi, sepertinya apa yang mereka coba yakini saat ini telah menemukan akhirnya.
Seperti yang diperkirakan Danu, Abimanyu menjadi diam. Warna wajahnya juga suram. Wajahnya yang berwibawa juga sudah menghilang. Berganti dengan aura gelap yang penuh dengan kesedihan. Begitu dingin dan begitu jauh tak tergapai. Menyendiri.
"Kita sudah berusaha meyakinkan diri kita bahwa nona Michel telah tiada. Tapi tuan, Kita tidak pernah menemukan jasadnya. Bukankah tuan juga masih memiliki keyakinan bahwa nona Michel sebenarnya masih hidup?"
"Danu, apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan?" Suara Abimanyu rendah. Tapi terdengar suram dan mengintimidasi.
"Beberapa bulan yang lalu, saya menemukan bahwa tuan Andra telah membawa sampel rambut seorang wanita ke lab untuk diuji kecocokannya. Tetapi hasil dari tes DNA itu ternyata adalah negatif." Danu menghela napas. Ia mengerti niat Andra tidak memberitahukan hal itu pada Abimanyu adalah karena tidak ingin pria tua itu kecewa. Tetapi setelah beberapa usaha yang ia lakukan, ia baru menemukan jika hasil itu enak disabotase.
"Tuan, wanita yang telah menjalani tes DNA dengan tuan Andra bernama Karina, istri dari pengusaha muda yang perusahaannya sedang dalam masalah itu. Dan dia, memiliki wajah yang sangat mirip dengan nyonya. Wanitapi itu memiliki golongan darah yang sama dengan nyonya dan juga tuan muda Andra. Beberapa hari yang lalu, tuan Bisma memberi pengumuman untuk mencari orang dengan golongan darah yang sama. Saya rasa itu untuk istrinya. Hasil tes sebelumnya adalah negatif. Tetapi saya akhirnya menemukan jika hasil itu telah disabotase oleh tuan Norman. Adik tuan. Saya berpikir jika nona Karina dan Nona Michel adalah orang yang sama." Danu menatap Abimanyu denga ragu-ragu.
Abimanyu membeku di tempatnya. Bahkan pena yang dipegangnya jatuh di atas kertas. Tidak semua orang memiliki golongan darah yang sama. Apalagi golongan darah seperti yang dimiliki oleh istri dan dua anaknya. Andra dan Michel. Apalagi dengan kemiripan seperti yang pernah dia lihat sebelumnya. Besar kemungkinan jika Karina memang benar adalah putrinya.
"Tuan..."
"Hubungi Alex. Mintak kontak Bisma dan atur pertemuan dengannya secepat mungkin." Ucap Abimanyu setelah ia mendapatkan ketenangannya.
__ADS_1
"Baik tuan." Danu mengangguk sebelum ia keluar dari ruangan Abimanyu untuk melaksanakan perintah tuannya. Lagipula tugasnya bisa dikatakan hampir selesai. Kini dia hanya bisa Berdoa pada Tuhan agar apa yang dia harapkan dapat terwujud.
Salah Danu keluar dari ruangannya, Abimanyu mengeluarkan sebuah foto dari dalam lacinya. Potret seorang wanita cantik dengan rambut panjangnya yang hitam. Fitur wajah yang halus dan elegan. Wanita itu cantik, meskipun bukan kecantikan yang dapat mengguncang dunia atau membalikkan bumi, namun kecantikan sederhana itu akan membuat orang yang melihatnya tidak akan merasa bosan dan memiliki niat untuk melindunginya. Memeluknya di dalam perlindungannya.
Sampai saat ini, itulah perasaan Abimanyu saat dia melihat wajah di dalam foto itu. Rasa cintanya tidak pernah berkurang pada mendiang sang istri tercinta yang telah pergi darinya bertahun-tahun yang lalu.
"Sayangku, apakah sekarang kamu akan membuktikan keyakinanmu bahwa akulah yang salah? Apakah benar putri kita Michel masih hidup?" Abimanyu membelai wajah kecil di dalam foto.
"Kamu selalu bilang padaku bahwa Michel masih hidup. Dan aku selalu bilang bahwa dia sudah tiada. Tetapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku memiliki keyakinan yang sama denganmu. Namun, aku tidak ingin menyiksamu dengan memberikan harapan palsu." Gerakan tangan Abimanyu berhenti. Dia memandangi foto itu dengan sendu.
"Saat ini, seseorang yang sangat mirip denganmu memiliki darah yang sama denganmu, apakah kamu akhirnya ingin menunjukkan bahwa memang dialah putri kita?"
"Jika memang benar, sepertinya kita akan mendapatkan cucu. Putri kita telah menikah dan kini tengah mengandung." Sorot matanya berubah. Kini penuh kebahagiaan saat membagikan kabar yang sangat ingin ia yakini.
"Aku berjanji, aku akan membawa putri kita kembali. Kita akan mendapatkan putri kita lagi."
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~《♡,♡》~