
Yuli menahan napas selesai mendengar cerita dari Joni. Salah satu anaknya juga perempuan. Jika sesuatu seperti yang dialami Karina erjadi pada Lisa, ia juga akan sangat marah. Ia tidak menyangka adik sambungnya itu bisa melakukan hal itu. Sudah cukup ia melihat penderitaan para wanita akibat ulahnya dan berharap tidak ada yang mengalami hal yang sama. Tetapi adiknya telah melakukan hal yang menyakiti perempuan meskipun secara tindakan tidak sama dengan bapaknya.
"Jadi sekarang dia tinggal dimana? Aku ingin menemuinya." Ucap Yuli menatap Joni dengan sendu.
"Dia di rumah Nadia. Aku memberitahumu bukan untuk memintamu untuk pergi mengekspos semuanya. Aku memintamu untuk tidak membicarakan masalah Nadia di depannya jika kamu nanti pergi ke sana." Jelas Joni.
"Tapi aku boleh menemuinya kan?"
"Boleh. Tapi harus memiliki cara agar dia tidak mencurigaimu saja. Jangan sampai membuat dia curiga." Pesan Joni.
"Ya sudah. Aku besok akan ke sana. Huh! Nadia sangat beruntung. Dua anaknya sudah mau memberinya cucu. Si Lisa dengan keras kepala untuk hamil lagi. Alasannya anaknya masih kecil. Rian sudah delapan tahun. Sudah waktunya untuk memiliki adik. Bima malah belum memiliki pacar. Boro-boro pacar, setiap gadis yang aku kenalkan padanya malah ditakut-takuti. Bagaimana mau punya istri coba!" Dumel Yuli.
"Aku kesini bukan untuk dengerin curhatmu Yul. Sudah. Aku mau kembali dulu. Tadi aku membelikan sate ayam untuk nak Karina dan Eni. Keburu tidur mereka." Potong Joni cepat sebelum Yuli keterusan mengoceh.
"Huh! Ya sudah sana. Ini pakai uangku saja belinya." Yuli menyerahkan uang seratus ribuan lada Joni. "Kembaliannya kamu belikan camilan untuk mereka." Lanjutnya. Bibir Joni berkedut. Sudah tua, Yuli masih saja perhitungan masalah uang.
Joni keluar dan menyalakan motornya dan meninggalkan rumah besar dengan segera. Pesanan sate miliknya pasti sudah siap.
**
Karina tidak bisa tidur malam harinya. Sate ayam yang dibawakan Joni juga hanya ia sentuh sedikit. Ia tidak berselera makan. Bi Eni hanya bisa mendesah melihatnya. Karina erbiasa makan malam ditemani Bisma. Meskipun kadang Bisma tidak ada, mereka akan melakukan Vidio Call hanya untuk saling menemani makan.
Keadaan Bisma juga tidak lebih baik dari Karina. Ia langsung pulang setelah memastikan Jihan makan dan minum obat dengan benar. Dia juga merasa lega setelah melihat Jihan tidur karena efek obatnya. Bisma segera pulang setelah itu.
Ketika sampai di apartemen, Bisma langsung memanggil Karina dan mencarinya di setiap ruangan. Sampai ia menyadari jika beberapa pakaian Karina tidak ada di tempatnya. Ia pun kalut.
Mata Bisma menangkap dua kartu yang diletakkan di atas meja. Di atas kartu itu ada sebuah cincin yang selalu terpakai di jari manis Karina sejak mereka menikah. Itu cincin pernikahan.
"Kenapa kamu melakukan semua ini Karina? Tidak bisakah memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya?" Teriak Bisma frustasi. Bisma duduk di atas ranjang. Meraba selimut yang memiliki aroma khas Karina.
"Maafkan aku Karina. Aku benar-benar salah. Seharusnya aku jujur padamu sejak awal. Seharusnya aku mengatakan padamu bahwa aku sangat mencintaimu. Bisma menarik selimut dan memeluknya erat seperti ia memeluk Karina.
Andi dipanggil segera. Bisma memerintahkan asistennya itu untuk membantunya mencari Karina. Foto Karina pun disebar pada anak buahnya. Mereka akan mencarinya di seluruh tempat di kota itu. Semalaman mereka mencari Karina. Tetapi mereka tidak menemukannya.
__ADS_1
"Dimana kamu sayang?" Gumam Bisma pelan saat ia merebahkan dirinya di atas sofa. Menyugar rambutnya ke belakang dengan frustasi.
Alex yang menghubunginya beberapa kali tidak membantu sedikitpun. Iparnya itu justru memperkeruh suasana hatinya.
Andi memandang Bisma dengan khawatir. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Dan mereka semua belum istirahat sejak Bisma memberinya perintah.
"Tuan, sebaiknya tuan istirahat dulu." Dengan takut-takut Andi mendekat dan berbicara dengan pelan.
"Pergilah istirahat." Jawab Bisma melirik Andi.
"Tuan juga harus pulang dan istirahat. Kalau tuan sakit bagaimana mau mencari nyonya?"
"Aku pulang atau tidak, tidak ada bedanya. Dia tidak ada di sana." Ucap Bisma dengan suara yang rendah. Andi hanya bisa melihatnya tanpa bisa menghiburnya.
**
Satu Minggu sudah berlalu sejak kejadian itu. Penampilan Bisma sudah tidak bisa dikenali lagi. Pakaian yang dipakainya pun kusut. Wajahnya kusam dan pucat, rambutnya yang biasanya rapi berantakan. Karena rambut Bisma yang keriting, membuat rambut itu mengembang kemana-mana seperti helm.
Banyak upaya yang dilakukan oleh Bisma untuk mencari Karina. Bima yang baru pulang dari luar negeri dua hari yang lalu juga segera didatanginya untuk meminta bantuan.
"Hahahahaha... apa yang terjadi padamu?" Bisma mengejek tanpa henti. Bisma hanya meliriknya tanpa minat. "Aku tidak menyangka jika penampilan aslimu seperti badut." Lanjutnya. Bisma masih diam. "Hei apa kamu tahu jika kamu lebih gemuk sedikit kamu akan sama seperti kakek?" Bima masih mengingat lamat-lamat kakeknya. Apalagi di rumah besar foto kakekny juga ada. "Sekarang aku baru percaya bahwa kamu itu adalah anak kakekku melihat betapa miripnya kalian. Hahaha!"
"Apa sudah selesai tertawanya?" Bisma menatap tajam Bima.
"Eh.. eh... sebentar. Biarkan aku tertawa sebentar lagi."
"Kalau kamu begitu suka tertawa, aku tidak keberatan untuk membuatmu tidak bisa berhenti tertawa." Bima langsung diam. Meskipum Bisma ahli bela diri dan strategi, kemampuan Bisma masih berada di atasnya. Siapa yang akan menyangka jika Bisma bisa melakukan hal gila untuk memenuhi keinginannya.
"Ehem... apa yang membuatmu datang dengan penampilanmu yang uwow ini?" Bima berdehem untuk menghentikan tawanya. Tapi ia masih kesulitan untuk itu.
"Bantu aku mencari Karina."
"Karina hilang lagi? Itu tidak mungkin kan? Aku ke luar negeri untuk mengejar orang itu. Bagaimana mungkin ia bisa bergerak pada Karina?" Tanya Bima tidak percaya. Meskipun orang itu sangat licin, dia tidak akan bergerak dengan begitu cepat.
__ADS_1
"Dia bukan diculik." Jawab Bisma lesu.
"Lalu?"
"Ini salahku." Bisma menundukkan kepalanya dalam sebelum menceritakan apa yang terjadi sebelumnya. Tapi ia tidak tahu bahwa Karina juga mengetahui jika ia menyembunyikan Vera dan Jihan. Jadi Bisma hanya memberitahu Bima apa yang ia katakan di kafe saat itu.
"Itu buruk. Aku tidak bisa menyalahkan dia kalau dia sampai kabur. Jika aku jadi Karina, aku juga pasti akan pergi. Ah tidak. Sebelum pergi aku akan menghajarmu dulu. Mematahkan lengan dan kakimu. Lalu adik kecilmu itu..."
"Kamu bukan Karina." Potong Bisma cepat. Bagaimana bisa Bima memiliki pemikiran seperti itu. Ayolah laki-laki dan perempuan itu tidak memiliki cara pemikiran yang sama.
"Aku kesini untuk meminta bantuanmu mencari Karina. Bukan untuk menambah beban pikiranku." Lanjutnya.
"Oke. Sekarang sampai mana kamu mencarinya?" Tanya Bima mulai serius.
"Aku sudah mengerahkan anak buahku untuk mencarinya di seluruh kota. Aku bahkan sudah datang ke kantormu untuk membantuku memantau CCTV. Tetapi mereka berkata bahwa Karina tidak ditemukan dimanapun." Jelas Bisma.
"Kamu datang ke kantorku?" Bima mengernyitkan alisnya. Kalau Bisma datang dan ada kasus serius seperti itu, kenapa tidak ada yang mengabarinya? Ini sedikit aneh.
"Ya."
Bima tidak mengatalan apa-apa mengenai kecurigaannya. Ia akan menanyakan pada anak buahnya nanti.
"Oh ya, aku dengar kalian punya asisten rumah tangga. Dimana dia?" Mendengar pertanyaan Bima, Bisma jadi menyadari bahwa ia melupakan satu hal yang penting. Bagaimana bisa ia melupakan bi Eni yang begitu penting. Terlebih lagi selama Karina menghilang, Bi Eni juga tidak terlihat dan tidak memberi kabar apapun.
"Bi Eni. Ya! Pasti Karina pergi bersama bi Eni." Bisma sera berdiri dan keluar dari ruangan Bima.
Setelah Bisma menghilang dari hadapannya, Bima menekan interkom di mejanya dan memanggil asistennya yang ada di kantor selama ia pergi ke luar negeri.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😊