Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_61. Pengaturan Bi Eni


__ADS_3

Sebelum adzan subuh berkumandang, Bi Eni bangun dan keluar untuk pergi ke kamar mandi. Setelah itu ia tidak tidur lagi. Tetapi pergi untuk melihat Karina di kamarnya. Setelah memastikan Karina masih tidur dengan nyenyak, Bi Eni kembali menutup pintu dengan hati-hati. Takut jika suara kecil saja akan membangunkan Karina karena selama tinggal di desa, Karina memiliki masalah kesulitan tidur.


Bi Eni terkejut saat melihat bayangan hitam yang menjulur di sofa terlihat di ruang tamu. Bi Eni menenangkan dadanya yang berdetak sangat cepat saat bulu kuduknya merinding. Mulutnya ia bungkam dengan tangannya sendiri agar tidak mengeluarkan suara yang akan membangunkan Karina.


Karena ruang tamu yang gelap, tidak begitu jelas yang terlihat di sana. Dalam sekilas pandang, itu akan terlihat seperti sesuatu yang menjuntai dari sofa. Baru setelah memperhatikan dengan seksama dalam beberapa saat, itu akhirnya terlihat bahwa itu adalah sepasang kaki dengan celana bahan berwarna coklat tua dengan sepatu pantofel hitam mengkilap di kedua kakinya.


Setelah berhasil menenangkan dirinya bahwa yang dilihat benar-benar tubuh manusia, bi Eni berjalan mendekat dan mengambil tongkat kayu yang ada di keranjang di sisi pintu. Ia memgangkat tongkat kayu itu dengan kedua tangannya dan bersiap untuk memukulkannya dengan keras pada sasaran yang sejak awal terkunci di matanya.


Bi Eni dapat mendengar dengan jelas suara dengkuran halus. Itu artinya pemilik kaki itu sedang tidur dengan nyenyak. Bi Eni akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar untuk mengambil ponsel untuk mengetahui siapa yang tertidur di sofa itu. Joni berkata jika rumah ini aman dari maling karena menggunakan kunci terbaik yang sangat sulit untuk dicongkel.


Setelah mendapatkan ponselnya, bi Eni kembali ke ka ruang tamu. Dengan hati-hati ia menyoroti wajah orang itu dengan layar ponselnya. Tongkat kayunya ia pegang dengan satu tangan.


"Tuan Bisma?" Gumam Bi Eni terkejut saat mengenali wajah Bisma. Ia berhenti dan merenung. Apa dia akan memilih untuk memberi tahu tentang kedatangan Bisma atau berpura-pura tidak tahu?


Ponselnya berbunyi. Dan pesan dari Joni menjelaskan semuanya.


Bisma bisa ada di rumah itu karena Nadia sudah mengizinkan. Nadia sudah memastikan jika Bisma telah mendapatkan pelajaran yang setimpal. Dengan itu akhirnya Bi Eni bisa mengambil keputusan untuk membantu Bisma kali ini. Bagaimanapun, sebenarnya Karina juga membutuhkan suaminya pada masa-masa seperti ini. Keduanya masih muda, tentu saja masih perlu banyak belajar pahit manisnya kehidupan.


Dengan hati-hati Bi Eni membangunkan Bisma.


"Bi Eni." Bisma terkejut melihat Bi Eni.


"Suasana hati nak Karina masih belum baik. Jika tuan menemuinya saat ini tidak akan baik." Ucap Bi Eni pelan.


"Lalu aku harus bagaimana bi?"


"Tuan sebaiknya pergi ke rumah Joni dulu. Aku akan mengatur untuk mempertemukan kalian di saat yang tepat." Bisma tidak merasa heran saat bi Eni menyebutkan nama Joni dengan santai. Ia telah mendengar dari Nadia kalau bi Eni adalah teman masa kecilnya, jadi kemugkinan besar Joni juga teman Joni di masa lalu.

__ADS_1


"Kapan bi?" Tanya Bisma tidak sabar.


Bi Eni tersenyum. Ia tahu kalau Bisma sebenarnya mencintai Karina. Tetapi kenapa Bisma malah mengelaknya di depan orang lain dan juga menyembunyikan seorang wanita di belakang Karina? Bi Eni benar-benar tidak bisa memikirkan alasan Bisma.


"Setiap pagi nak Karina akan pergi berjalan-jalan. Kemarin kami berjalan-jalam di sawah dan nak Karina sangat senang. Tuan bisa menunggu kami di sana. Saat waktunya tepat, saya akan meninggalkan nak Karina bersama anda. Anda bisa meminta maaf sekaligus memberinya penjelasan. Saya harap alasan itu cukup bagus." Ucap Bi Eni menatap serius Bisma.


Awalnya Bisma menolak ide itu. Ia sudah tidak sabar untuk menjelaskan pada Karina. Tetapi setelah ia pikir-pikir, ide bi Eni lebih bagus.


Setidaknya, jarak antara rumah itu dengan swah cukup jauh. Dan Karina pasti tidak memiliki tempat untuk menghindarinya. Jadi betapa kerasanya Karina menolak mendengarkan penjelasannya, Karina masih harus mendengarnya karena Karina memiliki telinga yang masih berfungsi dengan baik meskipun telinga itu ditutupi dengan tangan. Berbeda lagi ia memaksa Karina di rumah ini saat ini. Karina jelas menghindarinya dan mengunci kamar pada akhirnya. Itu tidak akan baik.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi ke rumah paman Joni." Bisma berdiri dan menyeret tubuhnya keluar dari rumah. Kemudian menyalakan mobilnya dan pergi je rumah Joni.


Setelah Bisma pergi, Bi Eni segera pergi ke dapur untuk memasak. Ia harus memastikan bahwa Karina sarapan sebelum pergi jalan-jalan pagi ini.


Bi Eni mengerti jika memakan nasi pagi-pagi kadang belum terasa enak. Mungkin karena belum lapar atau karena belum mengeluarkan keringat. Jadi Bi Eni membuat bubur manis.


Pertama-tama Bi Eni menyiapkan santan. Merebusnya dengan menggunakan daun pandan wangi. Sambil menunggu santan mendidih, bi Eni melarutkan tepung beras dengan sedikit air.  Lalu setelah santan mendidih dan bau harum daun pandan tercium, dengan perlahan memasukkan larutan tepung beras kental itu ke dalam santan mendidih dan memasukkan sedikit garam sebelum terus mengaduknya hingga air memyusut dan tepung beras matang dengan sempurna.


Karina bangun ketika air gula merah matang. Mencium aromanya yang manis dan gurih, perut Karina keroncongan.


"Sedang membuat apa bi? Kolak ya?" Tanya Karina dengan suara serak bangun tidur. Ia mengira itu kolak karena aroma santan yang mendidik dan juga air gula merah yang bercampur dengan daun pandan.


"Bukan nak. Ini bubur manis." Jawab Bi Eni sambil tersenyum.


"Kelihatannya enak bi. Baunya harum." Karina menggosok perutnya yang keroncongan. Air liurnya bahkan sudah naik turun di tenggorokan.


"Sebentar lagi siap."

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan ke kamar mandi dan sholat dulu." Jawab Karina sambil berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dapur. Sebenarnya setiap kamar di rumah ini sudah ada kamar mandinya sendiri, tetapi pagi ini Karina terburu-buru keluar setelah mencium arima harum yang menggoda lidahnya. Jadi ia memutuskan untuk ke kamar mandi dapur dan sholat di ruang sholat yang ada di sebelah dapur.


Saat Karina selesai dengan urusannya, semuanya sudah matang. Bi Eni bahkan sudah menyiapkan satu mangkuk penuh berisi bubur dan teman-temannya. Karina segera duduk di meja makan dan menghirup dalam-dalam aroma bubur yang manis dan gurih.


"Bubur ini enak dimakan selagi hangat di pagi hari. Dan enak juga dinikati dingin dengan tambahan es batu di siang hari yang panas." Jelas bi Eni saat melihat Karina menikmati bubur miliknya dengan ekspresi puas.


"Ini memang enak sekali bi." Karina mengacungkan jempolnya. Bubur ini memang enak. Yang paling umum dinikmati adalah bubur ayam yang gurih. Jadi makan bubur manis ini sungguh menghasilak cita rasa yang benar-benar berbeda. Bubur ini jarang ada yang menjual.


Setelah menghabiskan sarapanya, Karina bersiap-siap untuk pergi berjalan-jalan. Beberapa hari tinggal di desa sungguh menbuat Karina merasa sangat segar. Paru-parunya erasa sangat bersih. Ini mengingatkannya pada kampung halamannya yang jauh di sana.


Bi Eni berjalan di samping Karina. Keduanya hanya berjalan tanpa ada satupun yang memulai percakapan. Merkea lebih memilih untuk menikmati suasana pedesaan yang damai. Meskipun ini masih pagi, suasana desa sudah cukup ramai. Sebagian besar warga nya sudah memulai aktivitas mereka.


Di desa, kerjasama dan gotong royong diterapkan mai dari rumah tangga. Setiap penghuni rumah memiliki tugasnya masing-masing.  Para ibu-ibu yang mengerumuni pedagang sayuran. Beberapa yang lain berjalan ke arahnya dan aada juga yang menenteng belanjaan di tangab mereka dan berjalan pulang. Para ibu ini jelas memiliki tugas memasak di rumah. Menyediakan makanan untuk keluarganya.


Sedangkan bapak-bapaknya, mereka bertugas untuk mencari rezeki untuk keluarga. Ada yang sudah pergi ke sawah. Ada juga yang mengendarai motor menyediakan jasa ojek. Dan untuk para pria yang pergi ke kantor dan sejenisnya akan membantu sebisanya sebelum pergi bekerja.


Anak-anak juga tidak ketinggalan. Mereka sudah diajari untuk menerima tanggung jawab. Di desa ini, tidak akan sulit untuk menemukan anak-anak baik laki-laki maupun perempuan mulai usia enam tahun sudah memegang sapu lidi dan menyapu halaman mereka yang kotor karena daun-daun tanaman mereka.


Karina tersenyum menyaksikan pemandangan indah itu. Mengigatkannya pada kampung halamannya.


"Di kota, kita mungkin tidak akan pernah melihat pemandangan seperti ini." Ucao Karina saat mereka sampai di tepia sawah yang luas membentang di depan sana. Tetapi Ucapan Karina bukan merujuk pada pemandangan alamnya saja, tetapi pemandangan bagaimana warga desa menjalani hidup mereka yang sederhana.


"Bi... bi Eni." Panggil Karina saat tidak mendapati suara bi eni menyahutinya. Karina berbalik dan terkejut saat mendapati Bisma berdiri tak jauh di depannya.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😊


__ADS_2