Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps_78. Biarkan Keajaiban Datang


__ADS_3

Nadia datang dengan tergesa-gesa datang demi mendapati putranya yang sedang menangis. Ia tidak bisa untuk tidak menangis.  Nathan yang datang bersamanya menepuk pundaknya Nadia.


"Putra kita sedang membutuhkanmu sekarang. Bagaimana bisa sebagai mamanya kamu malah menangis di sini?" Ucap Nathan memberi semangat. Mendengar perkataan Nathan, Nadia segera menghapus air matanya dan menarik napas dalam sebelum ia menghampiri Bisma dan memeluk putra besarnya yang jauh lebih besar darinya itu.


"Mama." Bisma menengadah saat ia merasakan seseorang yang memeluknya. "Karina ma." Ucap Bisma semakin terisak.


"Karina akan baik-baik saja. Kamu sebagai suaminya bukannya berdoa malah menangis di sini. Suami macam apa kamu?" Nadia memukul lengan Bisma. Ekspresi wajahnya cemberut menunjukkan bahwa dia kecewa pada putranya.


Nathan yang mendengar penghiburan istrinya menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa itu disebut kalimat untuk menghibur seseorang?


Namun, tidak ada yang akan memahami anak lebih baik dari ibunya sendiri. Bisma hanya membutuhkan sedikit kepercayaan diri dan dia akan bisa menghadapi semuanya.


Bisma menghentikan tangisnya dan menatap Nadia dalam. Mencari sisa kekuatan dari mata Nadia yang teduh.


"Apa ini yang mama ajarkan padamu? Apa Untuk menyerah pada keadaan? Tidak kan?" Nadia menatap Bisma.


"Aku sudah melakukan semuanya ma. Aku sudah mencari donor darah untuk Karina. Tetapi..."


"Kamu mungkin sudah melakukan semua hal yang kamu mampu. Tetapi kamu melupakan Tuhan yang maha Mampu. Kamu sudah melakukan semuanya. Tetapi kamu lupa untuk meminta pertolongan padanya. Untuk apa menangis?  Berdoalah. Tuhan tidak akan repot-repot mengurusi pria dewasa yang masih menangis." Nadia memotong perkataan Bisma dan tersenyum. Memberi dorongan kekuatan terakhir untuk putranya.


"Mama benar." Bisma kemudian mengmengerjakan Nadia untuk bangun dan duduk dengan tenang dinkursi tunggu. Ia mulai merapatkan doa untuk meminta pertolongan tuhan.


Tak lama berselang, dokter Kania keluar dari ruangan dengan wajah yang suram. Ia menatap Bisma dengan tanpa daya.


"Keduanya baik-baik saja. Tetapi Kondisi Karina kritis. Ia kehilangan banyak darah. Jika tidak segera mendapatkan darah, dia bisa kehilangan nyawanya." Ucap Dokter Kania. Lalu dokter lain yang baru saja keluar dari ruangan itu bergabung. Saat ia hendak berbicara, dokter Kania mencegahnya.


Bisma melihat itu. "Ada apa?  Tolong katakan." Dokter Kania menyerah dan membiarkan rekannya mengatakan apa yang sejak tadi mereka perdebatkan.

__ADS_1


"Kondisi pasien kritis. Dan golongan darahnya sulit untuk didapat. Dia bisa saja meninggal kapan saja." Semua orang menahan napas. Dokter itu memandang semua orang sebelum melanjutkan kalimatnya. Sekali lagi, dokter Kania berusaha menghentikannya.


"Dokter Choki."


"Dokter Kania, kita tidak bisa menyembunyikan kondisi pasien. Mereka berhak mengetahui kebenarannya." Dokter Choki memegang tangan dokter Kania yang menahan tangannya.


"Tidak apa-apa dokter. Tolong katakan." Ucap Bisma menatap dokter Choki.


Dokter Choki mengangguk. "Kondisi pasien benar-benar serius. Pasien kehilangan banyak darah dan kemungkinan mendapatkan donor sampai saat ini sangat kecil. Kami tidak bisa menjamin pasien bisa bertahan sampai berapa lama. Tetapi, kita masih bisa menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungannya. Bayi itu sudah bisa keluar karena umurnya sudah cukup. Tetapi, dengan kita melakukan operasi pada saat ini dengan tidak adanya darah, kita akan kehilangan ibunya."


"Jadi, dokter meminta kami menyerah pada ibunya?" Suara Nadia bergetar.


"Bukan seperti itu nyonya. Kami hanya menjelaskan kondisi pasien dan mencoba yang terbaik. Sejujurnya, kemungkinan sang ibu selamat sangat kecil. Membutuhkan keajaiban untuk itu. Golongan darah yang dimiliki pasien merupakan golongan darah paling langka di dunia. Jadi, daripada kehilangan dua nyawa, kalau kita bisa menyelamatkan satu nyawa, apa itu bukan solusi yang terbaik?" Dokter Choki memandang satu persatu orang di depannya. Sebagai dokter, ia juga tidak berdaya dalam kondisi saat ini.


"Tidak akan. Keduanya harus selamat. Aku tidak akan  membiarkan salah satu dari mereka pergi meninggalkanku." Ucap Bisma dengan nada rendah. Jelas terdengar ia menahan amarahnya. Nathan menepuk pundaknya.


Dug....


Sebuah kepalan tangan yang besar menghantam pipi kanan dokter Choki. Menyebabkan ujung bibir dokter muda itu mengeluarkan darah. Dokter itu terpelanting hingga jatuh di lantai. Ia menatap Bisma dengan takut. Ia tidak menyangka bahwa Bisma akan begitu marah. Dokter Kania berjongkok untuk membantunya bangun. Tetapi ia segera mundur karena takut akan memprovokasi Bisma lagi.


"Beraninya anda mengambil keputusan seolah-olah kamu adalah Karina?! Anda pikir Siapa anda?" Bisma menatap tajam dokter tampan itu.


"Saya hanya menyampaikan apa yang terbaik untuk pasien. Jika kita tidak mengambil keputusan yang tepat dalam waktu dekat, kita bisa kehilangan keduanya." Dokter Choki masih berkeras dengan argumennya.


Nathan menahan Bisma agar tidak menyerang dokter Choki lagi. "Tenang Bisma. Kamu tidak boleh emosi."


"Bagaimana aku tidak emosi pada? Dia pikir dia adalah tuhan yang bisa memutuskan siapa yang akan mati? Konyol! Betapa konyolnya dia mengatakan bahwa aku harus menyerah dan membiarkan istriku pergi!" Teriak Bisma penuh dengan emosi.

__ADS_1


"Tolong pikirkan baik-baik.  Saya tahu ini sulit, tapi memang butuh keajaiban untuk dapat menolong pasien."


"Kalau membutuhkan keajaiban, biarkan keajaiban datang dan akulah yang akan mendatangkan keajaiban untuk Karina." Suara yang dalam terdengar. Diikuti dengan derap kaki yang seimbang. Tegas dan penuh wibawa.


Semua orang menoleh dan mendapati yoga orang pria mendekat ke arah mereka. Bisma mengenal betul siapa ketiganya. Satu adalah Abimanyu yang merupakan Investor nya.  Satunya lagi adalah sekretarisnya. Dan satu yang lain adalah Andra. Yang Bisma kenal sebagai saingan cintanya.


"Tuan Abi. Apa yang anda lakukan di sini?" Nathan maju dan menyambutnya. Menurut status, Nathan lah yang paling sesuai untuk menyambut orang besar seperti Abimanyu.


"Sebelum saya menjelaskan semuanya, lebih baik kita tidak menunda operasi untuk Karina."


"Apa maksud tuan?" Ucap Bisma marah. Ia menatap tajam Abimanyu yang malah tersenyum padanya. "Apa tuan juga menganggap melepaskan Karina adlaah jalan terbaik?" Lanjutnya dengan tidak percaya.


"Tidak." Abimanyu menggelengkan kepalanya. "Bukankah saya tadi sudah bilang keajaiban akan datang pada Karina? Saat ini, kami datang untuk mendonorkan darah pada Karina. Sebenarnya, tiga orang di keluarga kami memiliki golongan darah yang sama."


"Benarkah?" Tanya Bisma tidak percaya.


"Ya, yang satu adalah Andra. Saat ini, biarkan Andra menyumbangkan darahnya untuk menyelamatkan Karina." Abimanyu menoleh pada Andra yang mengangguk yakin. Abimanyu sendiri sudah mengetahui jika Bisma salah paham padanya dan menganggapnya saingan cinta. Jadi Andra sudah memprediksi kemungkinan jika Bisma akan menolak.


Tetapi apa yang dikatakan Bisma ternyata tidak membuktikan hal itu. Ia dengan cepat menyetujui tanpa memikirkan apapun. Andra merasa lega dan melangkah mengikuti perawat yang akan membantunya untuk mendonor.


Sepeninggal Andra, ada kelegaan yang tidak bisa terlukiskan. Meskipun mereka semua tidak mengerti apa yang rohani sebenarnya, mereka akhirnya lega bahwa kemungkinan Karina dan bayinya selamat akan besar.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ☆~(^,^)~♡


__ADS_2