Pernikahan Paksa Karina

Pernikahan Paksa Karina
Eps. 28. Perkataan Bibi Bermulut Pedas


__ADS_3

Bisma dan Karina sudah bersiap untuk tidur. Keduanya sudah berada di atas ranjang. Waktu memang masih menunjukkan pukul sembilan malam. Masih sore memang jika dibandingkan dengan jam tidur mereka yang biasanya. Tetapi karena saat ini mereka sedang ada di desa dan tidak ada sinyal yang dapat ditangkap oleh ponsel pintar mereka, mereka jadi bingung harus melakukan apa. Terlebih lagi, televisi kecil yang ada di rumah itu tiba-tiba mati saat sore tadi mereka lihat. Jadi mereka tidak  bisa memikirkan apa yang bisa mereka lakukan di tengah kebosanan yang melanda selain untuk pergi tidur segera.


Namun karena memang waktu yang masih terbilang sore, mereka masih kesulitan untuk mulai menyelam di lautan mimpi.


Bisma memang menutup kedua matanya. Tetapi tangannya yang ia lingkarkan di pinggang Karina masih sesekali bergerak, menandakan pria itu belum tidur.


Begitu juga dengan Karina. Meskipun matanya menutup, tetapi pikirannya sedang berjalan-jalan tak tentu arah. Apalagi tangan Bisma yang bergerak di pinggangnya membuat perasaan aneh yang mau tidak mau membuat tubuhnya merinding.


"Eh." Karina membuka matanya. Bisma juga demikian. Laki-laki itu menatap Karina khawatir.


"Ada apa? Apa ada yang tidak nyaman?" Bisma memegang bahu Karina dan bertanya.


"Tidak. Tapi sepertinya tadi gerakannya sudah semakin terasa. Akhir-akhir ini aku semakin sering merasa ada yang bergerak di dalam perutku." Karina memegang tangan Bisma di pundaknya. Ia merasa bersalah karena membuat Bisma khawatir.


"Syukurlah jika tidak ada apa-apa. Kita tidur lagi." Bisma menutup matanya. Tetapi Karina memanggilnya.


"Ada apa?" Bisma sekali lagi membuka matanya. Menatap heran Karina yang malam ini terlihat sangat aneh.


"Apa kamu tidak ingin menyentuh perutku?" Karina menggigit bibirnya.


"Apa boleh?" Selama ini Bisma juga penasaran. Tapi ia tidak berani bertanya pada Karina.


"Tentu saja boleh. Kamu kan ayah dari anak ini." Kata Karina senang. Ia meraih tangan Bisma dan menariknya untuk menyentuh perutnya. Bahkan Karina tanpa ragu memasukkan tangan Bisma ke dalam baju tidurnya agar Bisma dapat merasakan gerakan kecil baby mereka.


Seperti tahu jika papanya menyapa, janin yang masih sangat kecil itu menunjukan keberadaanya dengan gerakan kecilnya yang masih hanya sebatas getaran. Bisma yang merasakan gerakan kecil itu untuk pertama kalinya merasakan sangat takjub. Ia memandang Karina yang balas menatapnya dengan senyuman.


"Dia bergerak." Karina mengagguk.


"Dia sudah mulai bergerak. Masih tidak begitu sering. Hanya sesekali saja. Kata Nara memang seperti itu. Jika sudah bertambah usianya nanti semakin jelas gerakannya. Bahkan aku pernah melihat perut Nara menonjol. Katanya dedek bayinya sedang menendang. Aku sudah tidak sabar ingin merasakan hal yang sama dengan Nara." Karina bercerita dengan antusias. Ia mengelus perutnya hingga kulit mulus iu terlihat dengan jelas karena kaos longgar yang dipakainya tersibak.


Bisma tanpa sadar menelan salivanya. "Ayo kita segera tidur." Bisma menarik tangannya yang masih bertengger nyaman di permukaan Karina. Tak lupa ia juga menarik baju Karina agar menutupi perut putih mulus yang seakan memang sedang menggodanya.

__ADS_1


Karina memandang heran Bisma yang menutup matanya dengan paksa. Lalu ia juga ikut menutup matanya. Menyusul Bisma.


Namun seberapa kuat pun Karina mencoba untuk tidur, ia tidak juga bisa tidur. Perkataan bibi bermulut pedas itu masih mengganggunya. Apalagi tema ceramah pada pengajian malam ini adalah tugas menjadi seorang istri. Karina sudah sering mendengar ceramah seperti ini. Tapi dulu. Dulu sekali saat ia belum merantau ke kota bersama dengan Fania. Dan saat itu, Karina masih sendiri. Jadi dia tidak begitu memasukkan apa yang dikatakan Kiai dalam ceramahnya. Ia dan Fania malah memilih mengobrol membahas hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Ah masa muda memang waktu untuk menjadi sedikit 'bandel'.


Dan sekarang, saat mendengar lagi, Karina mulai memasukkannya ke dalam hati. Memikirkan setiap kata yang diucapkan Kiai dan membandingkannya dengan sikapnya selama ini. Memikirkan itu, ia benar-benar jauh dari kata 'istri yang baik'.


"Ada apa?" Tanya Bisma yang ikut membuka matanya saat menyadari mata bulat Karina yang menatapnya.


"Bisma apa aku boleh bertanya padamu?" Karina menatap Bisma. Wanita itu menggigit bibir bawahnya.


"Mau tanya apa?"


"Menurutmu...apa aku ini istri yang buruk?"


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan ini?" Bisma merasa heran mendengar pertanyaan Karina. Rumah tangga mereka selama ini berjalan dengan baik-baik saja. Ia juga tidak merasa ada yang salah akhir-akhir ini. Kenapa istrinya menanyakan hal ini?


"Tadi di pengajian, pak Kiai mengatakan bahwa ternyata menjadi seorang istri itu memiliki banyak sekali tanggung jawab." Karina menundukkan kepalanya. "Sepertinya setelah aku pikir-pikir, aku tidak pernah melakukan tanggung jawabku."


"Memang apa yang dikatakan kiai itu?"


Malu? Tentu saja. Tetapi apa yang dikatakan bibi bermulut pedas itu benar-benar mengganggunya. Bagaimana jika ia tidak melakukan kewajibannya dengan baik, Bisma akan bosan menunggunya dan berselingkuh darinya? Meskipun saat ini ia tidak bisa menentukan bagaimana perasaanya pada suaminya itu, tetapi membayangkan diselingkuhi saja sudah membuat hatinya sakit.


Sedangkan Bisma yang mendengar pertanyaan Karina yang seakan memancingnya mendadak tidak bisa mengeluarkan suaranya. Ia bingung harus menjawab apa.


"Bisma tolong jawab pertanyaanku. Apa kamu tidak mau menyentuhku karena tidak ingin, apa karena ada perjanjian itu?" Tanya Karina setelah tidak mendapatkan jawaban yang dinantinya dari Bisma. Ia mengguncang lengan Bisma.


"Karina, apa kamu benar-benar ingin mendengar jawabanku?" Karina mengangguk yakin.


"Kenapa?"


"Aku tidak mau menjadi istri yang tidak berbudi. Aku menerima uang darimu. Menerima kebaikanmu. Tapi aku tidak melakukan kewajibanku untuk melayanimu dengn baik."

__ADS_1


"Karina, aku akui aku memang bukan laki-laki yang baik. Aku pernah melakukan kesalahan padamu. Awalnya aku menikahimu memang karena terpaksa untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku dulu. Tapi aku benar-benar ingin merubah diriku. Aku juga tidak mencintaiumu saat itu. Tapi itu dulu. Sekarang, aku sudah benar-benar menerima pernikahan ini. Bukan hanya demi baby kita. Tapi demi kita juga. Aku sendiri, kamu juga sendiri. Jadi aku rasa baik juga jika kita terus bersama."


"Apa kamu sungguh-sungguh dengan semua perkataanmu ini?"


"Iya." Bisma mengangguk. "Aku tahu kamu belum mencintaiku. Jadi aku tidak ingin memaksamu melakukan hal itu. Aku tidak menyentuhmu sampai sekarang bukan karena aku tidak ingin, atau karena ada perjanjian itu. Tetapi karena aku tidak ingin memaksamu. Itu saja. Sudah pernah sekali aku memaksamu. Dan aku tidak akan melakukannya lagi." Bisma mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Karina dengan sayang.


Setiap malam mereka tidur berpelukan. Terkadang bangun dan menyadari bagian tubuh yang menggoda terlihat jelas di depan mata. Selain itu, setiap membuka mata disambut dengan wajah cantik polos yang menawan. Siapa yang lama-lama tahan untuk tidak menyentuhnya? Tetapi Bisma menyadari jika ia memaksa Karina melakukan hal itu, mungkin bisa saja pelukan hangat dan wajah polos itu tidak akan dapat Bisma lihat lagi.


"Jika aku mengizinkannya, apa kamu akan menyentuhku?" Bisma terdiam.


"Karina, aku harap kau sadar apa yang kamu katakan?" Karina memgangguk yakin.


"Kata orang, melakukan itu membuat ketagihan. Awalnya aku tidak percaya. Tapi setelah aku sendiri mengalaminya, aku tahu jika itu benar." Bisma mengelus pipi Karina yang kini memerah. "Aku sudah lama ingin mengulang malam itu denganmu. Tapi aku selalu takut menyakitimu lagi. Jadi sebisa mungkin aku menahan semuanya."


"Maafkan aku yang tidak peka. Seharusnya aku tidak egois sejak awal. Seharusnya perjanjian konyol itu tidak pernah ada."


"Tidak apa. Sudah jangan dipikirkan lagi. Kita harus tidur sekarang. Besok, kita harus ke rumah temanmu itu untuk mengantarkannya membayar hutang."


"Tapi aku belum mengantuk." Karina menggerakkan tubuhnya yang mulai gerah berada di dekapan Bisma sejak awal.


"Jangan bergerak Karina. Adikku yang pandai membuat adik sudah bangun."


"Apa kamu masih bisa menahannya?"


"Aku usahakan. Makanya kamu diam saja." Bisma merengkuh kembali tubuh Karina. Menenggelamkan kepala Karina ke dada Bisma. Karina dapat mendengar dengan jelas detak jantung Bisma yang sangat cepat.


"Kalau kamu memang ingin, aku bersedia menjalankan tugasku malam ini." ucap karina yakin ia menandang wajah Bisma ya g balsa memandangnya. Tanga Karina juga bergerak membelai dada Bisma. Bergerak di sana dan merasakan detak jantung yang terdengar sangat merdu.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😊


__ADS_2