
Bisma dan Andi baru saja selesai meeting dengan Abimanyu. Kali ini, hasilnya sesuai dengan harapan mereka. Abimanyu bahkan bersedia menggelontor dana yang besar untuk berinvestasi di perusahaan Bisma. Jadi, bisa menutupi semua hutang dan memulai proses yang baru.
Masalah pendanaan sudah dapat diselesaikan. Kini mereka bisa memulai memproduksi ulang dan juga memasarkan produk. Bagian inilah yang paling sulit.
Sebelumnya, citra mereka sudah tercemar meskipun akhirnya dapat dibersihkan. Tetapi untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat adalah hal lain. Dan itu tugas yang sulit.
Itulah alasan beberapa investor menolak proposalnya Bisma dan juga meminta syarat untuk mengganti nama untuk mereka setuju.
Dengan produk yang sama, yang pernah dinyatakan berbahaya, masyarakat tentu akan berpikir dua kali untuk membelinya. Di hati mereka, mereka pasti masih memiliki keraguan bagaimana jika kejadian serupa akan terulang. Jadi, kemungkinan besar masyarakat akan lebih memilih cari aman dengan menghindari produk itu. Memikirkan hal ini, tentu saja para investor akan mundur dengan segera.
Bisma awalnya tidak menduga jika sekretaris Abimanyu akan menghubungi nya dan memintanya untuk bertemu. Tidak lupa, Danu juga berkata bahwa Abimanyu ingin bertemu untuk membicarakan masalah investor produknya. Danu berkata bahwa atasannya tertarik pada produk itu.
Setelah mendengar hal itu, tentu saja Bisma sangat senang. Ia langsung mengabari Andi dan memintanya untuk menyiapkan proposalnya secepat mungkin.
Dan, sore harinya, Bisma dan Andi pergi ke luar kota dimana Abimanyu tinggal.
"Selamat tuan." Andi menoleh ke belakang saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil. Mengulurkan tangan kanannya pada bosnya. Andi tahu betul bagaimana usaha Bisma untuk mendirikan perusahaannya sendiri.
Sebagai anak sambung, Bisma sering dikucilkan dan diremehkan oleh orang lain. Dengan mendirikan perusahaannya sendiri, Bisma ingin membuktikan pada dunia bahwa meskipun ia tidak memiliki darah Mahardika yang melecehkan, ia juga bisa. Ia ingin menampar semua orang yang merendahkan orang lain dengan statusnya.
Terlebih lagi, B-Healt adalah mimpi Bisma. Ia ingin memberikan manfaat kepada masyarakat. Dengan menyediakan sabun kesehatan yang terjangkau, ia bermaksud menjadikan masyarakat di semua lapisan dapat menjaga kesehatannya dengan cara yang paling umum. Mandi dan mencuci tangan.
Dan, merek itu sendiri ia pilih untuk menghormati ibunya kandungnya, Dian. Yang telah memberinya nama. B, untuk Bisma.
"Selamat padamu juga." Bisma meraih tangan Andi dan menjabatnya. Ia beruntung memiliki sekretaris seperti Andi yang setia dan bisa diandalkan.
"Kita kemana lagi tuan?" Andi menanyakan tujuannya.
"Kita kembali. Aku sudah tidak sabar membagikan berita ini pada Karina. Ia pasti senang. Akhir-akhir ini ia selalu mengkhawatirkan aku."
"Baik." Andi mengangguk sebelum ia menyalakan mobilnya. Sedangkan Bisma sudah sibuk dengan laptopnya. Di dalam kepalanya, ia sudah memikirkan rencana masa depan untuk produknya. Yang paling membuatnya khawatir adalah cara meyakinkan masyarakat dan berhasil dalam pemasaran.
__ADS_1
Hari-hari berikutnya, Bisma sibuk dengan pekerjaannya. Dia jarang pulang cepat. Seperti saat ini, Bisma sedang pergi ke pabrik untuk memantau langsung proses produksi.
Untuk kepercayaan masyarakat dan juga pemasaran, Bisma telah menyewa beberapa artis untuk iklannya. Juga, Bisma secara khusus meminta beberapa selebgram untuk mereview produknya. Dengan cara itu, sedikit sedikit-sedikit sedikit demi sedikit akhirnya kepercayaan publik kembali diraih.
Di tempat lain, malam baru tiba, dan Karina tiba-tiba saja ingin makan pecel lele yang dijual di warung pinggir jalan. Dan dia juga ingin langsung makan di tempatnya.
Ini adalah kali pertama Ngidam Karina di rumah Nadia, sebagai ibu mertua yang baik, Nadia akhirnya membawa Karina untuk pergi mencari warung pecel lele yang ada di dekat komplek dengan berjalan kaki. Nadia juga mengajak Dini dan Gerry. Sedangkan Nathan, ia tidak bisa ikut karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Jadi dia meminta pada Nadia untuk membawa kanannya saat mereka pulang.
Keempat orang dengan tiga orang perempuan dan seorang laki-laki berjalan keluar dari komplek. Kebetulan, ada warung pecel lele yang enak yang ada di depan komplek. Nadia memaparkan Karina. Dengan Dini dan Gerry yang berjalan di belakang mereka.
"Pecel lele di tempat ini enak Sayang." Ucap Nadia saat mereka masuk ke dalam estimasi ga yang berupa tenda besar yang sederhana. Beberapa kursi kayu ditata di depan meja panjang ditata mengelilingi gerobak tempat bermacam-macam masakan diletakkan.
Selain lele, warung itu juga menyediakan menu lainnya yang cocok dipadukan dengan sambal yang pedas mantap. Seperti ayam goreng, tempe goreng, telur goreng dan tidak ketinggalan terong goreng. Selain itu, lalapan segar juga disediakan seperti kubis, mentimun, kacang panjang dan daun kemangi.
Begitu memasuki tenda, aroma yang nikmat akan membuat umat perut terasa kosong dan bernyanyi meminta isi.
Karina bersemangat. Ia duduk dengan patuh dan langsung menyebutkan pesanannya. Ia menginginkan dua ikan lele. Ia juga meminta penjual untuk menambah porsi lalapan nya. Tapi ia tidak menginginkan kacang panjangnya. Untuk sambal, Karina menyukai makanan pedas, tetapi Bisma melarangnya memakan banyak makanan pedas setelah terakhir kali Karina sakit perut kebanyakan sambal. Nadia juga diingatkan Bisma untuk mengawasi makanan Karina dan dengan khusus menyebutkan jika Karina dilarang memakan banyak sambal. Jadi, Nadia dengan tegas berkata bahwa untuk Karina, sambalnya hanya setengah porsi.
"Mama, kalau tidak pedas mana enak?" Keluh Karina. Ia berpikir ini adalah kesempatan yang tepat untuk memakan sambal ekstra pedas yang sudah lama tidak ia makan. Kapan lagi Bisma meninggalkannya sendiri? Tapi dia Tidak ia menyangka jika Bisma malah meninggalkan Nadia bersamanya untuk berjaga.
"Kak, aku pernah dengar kalau orang yang hamil dilarang banyak makan pedas. Katanya, anaknya bisa botak lho." Gerry berkata sebelum memasukkan nasi yang sudah ia lengkapi dengan daging lele goreng, sambal. Lalu ia juga memasukkan lalapan lalapan Kebetulan dalam mulutnya. Makan Pecel lele paling enak menggunakan tangan. Itu ia pelajari dari Nadia. Jadi, ia tidak canggung makan menggunakan tangannya.
"Benarkah?" Tanya Karina tidak percaya.
"He'em kak. Apa kak Karina tidak pernah mendengarnya?" Gerry bertanya dengan serius. Ia bahkan menelan makanannya sebelum menatap Karina.
"Tidak. Aku tidak pernah mendengarnya." Karina menggeleng beberapa kali.
"Itu benar kak. Tetangganya tetangganya temanku ada lho yang botak." Ucap Gerry serius. Ia sampai meletakkan tangannya di atas meja. Matanya yang memerah karena kepedasan membuatnya tampak serius sekaligus menyeramkan.
Melihat penampilan Gerry malam ini, Karna menjadi khawatir. Jadi dia dengan patuh memakan nasinya dengan sambal yang hanya ia makan sedikit.
__ADS_1
Nadia memandang tak percaya. Menatap Karina dan Gerry bergantian. Yang satu makan dengan nikmat. Sedangkan Sedangkan Yang lain, makan dengan penuh kekhawatiran dan perasaan tertekan. Yang terlahir adalah Karina. Yang kini tampak tidak bersemangat memakan makanannya. Melihat hal ini, Nadia merasa bersalah.
"Karina sayang, makan pedas itu boleh asal tidak berlebihan. Itu tidak baik untuk perutmu. Jadi, jika makan sedikit tidak apa-apa." Nadia memegang pundak Karina. Lalu Nadia memandang Gerry yang makan dengan tanpa dosa.
"Untuk masalah makan pedas bisa membuat bayi botak itu hanya mitos. Gerry itu tidak tahu apa yang dikatakan. Dia juga tidak Tidak pernah tidak pernah mengandung dan melahirkan. Jangan dengarkan dia ya.?" Nadia menjelaskannya dengan hati-hati.
"Apa itu benar ma? Apa anakku tidak akan botak karena aku sangat menyukai pedas kan?" Tanya Karina dengan frustasi.
"Tidak. Itu tidak akan mungkin. Sudahlah cepat makan." Nadia menggeleng cepat. Ia tidak lupa melototkan matanya pada Gerry.
Empat orang itu menikmati makanan mereka pada akhirnya. Karina dan Gerry bahkan meminta porsi dobel untuk mereka bawa pulang. Jadi Nadia memesan tiga bungkus untuk mereka bawa pulang.
Gerry, Karina dan Dini keluar terlebih dahulu. Setelah Setelah makan pedas, tubuh mereka juga kepanasan. Mereka Mereka bertiga menunggu Nadia.
Mereka tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan sejak mereka keluar dari komplek.
Mobil hitam tiba-tiba berhenti di depan ketiganya. Salah Salah satu dari penumpangnya turun dan mendekati mereka. Mereka berpura-pura untuk menanyakan jalan.
Tapi tidak ada yang menduga jika pria itu menarik Karina dan mendorongnya mmasuk ke dalam mobil dengan cepat.
Gerry dan Dini bahkan tidak menyadari sampai mereka mendengar Karina berteriak sebelum pintu mobil tertutup dan membawa Karina pergi.
"Mama!" Teriak Dini panik. Nadia yang masih di dalam warung segera keluar dan mendapati Karina sudah tidak ada.
"Dimana Karina?" Tanya Nadia panik.
"Kakak Karina diculik ma!"
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir ~《♡,♡》~